
Aldrich mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Ia tahu, Zenith tidak suka jika ia kebut-kebutan di jalanan meski, jalanan saat itu tidak sepadat biasanya. Tidak, lama kemudian mereka pun sampai di rumah Zenith. Zenith, memencet bel 3x.
Flinch membuka pintu bersama Ziqi dan Ziqo yg sedang mengekori di belakang Flinch. Ketika pintu di buka dan "Tadaa"
Ziqi dan Ziqo : "Mamaaa...!!!" teriak mereka bersamaan yg membuat Aldrich jadi terkejut mendengarnya. Belum lagi, ia melihat Flinch sahabatnya dulu sewaktu SMA di Australia. Ia jadi bertambah semakin kaget saja.
Aldrich : "Flinch???"
Flinch : "Aldrich???"
Ternyata, bukan hanya Aldrich saja yg kaget tetapi juga Flinch. Mereka pun saling berpelukan.
Aldrich : "Apa, kabarmu Flinch?"
Flinch : "I'm okey and you???"
Aldrich : "I'm Alright too!"
Sementara, Aldrich dan Flinch sibuk bertanya kabar. Zenith di sibukkan oleh kedua anak kembarnya.
Ziqi : "Mama! Kak Ziqo, tadi nakal! Masa, dia lebut mainan Ziqi tadi?"
Zenith : "Apa? Ziqo, rebut mainan kamu?"
Ziqi mengangguk.
Zenith : "Ziqo, sayang? Kenapa, kamu rebut mainan Ziqi?"
Ziqo : "Siapa, yg lebut mainan Ziqi? Ziqo, kan cuma pinjem ma?"
Zenith : "Ziqi sayang? Katanya, kak Ziqo cuma pinjem kok?"
Mendengar, ucapan Zenith barusan yg dinilai membela Ziqo, Ziqi pun menangis kencang.
"Huwaaaaa...."
"Mama, jahat!"
"Mama, gak belain Ziqi!!!"
"Huwaaaa...."
Suara tangisan Ziqi terdengar begitu berisik di telinga Aldrich. Langsung, saja ia menghampiri Ziqi lalu menggendongnya.
Aldrich : "Kenapa, kamu menangis? Hm?"
Ziqi mengadu.
Ziqi : "Tuh, mama jahat paman? Mama, belain Ziqo? Hiks....hiks....hiks...!!!"
__ADS_1
Aldrich : "Oh, mama gak belain siapa-siapa kok? Mama, sayang kalian berdua? Jangan, nangis lagi ya?"
Ziqi mengangguk. Ia pun menyembunyikan wajahnya di balik dada Aldrich. Terasa nyaman baginya. Seperti, ia sedang berada dalam gendongan ayah kandungnya.
Zenith menarik nafas lega. Memang, Aldrich merupakan seorang lelaki yg bisa diandalkan menurutnya. Ia bisa menenangkan anak kecil yg sedang menangis.
Aldrich : "Sweetie? Siapa, namamu?"
Aldrich bertanya pada Ziqi siapa namanya.
Ziqi pun menjawab.
Ziqi : "Namaku, Ziqi paman?"
Aldrich : "Oh, Ziqi ya?"
Ziqi mengangguk.
Aldrich : "Lalu, yg ganteng ini siapa namanya?"
Ziqo : "Namaku, Ziqo paman!" ucap Ziqo kencang dan sangat tegas.
Aldrich : "Oh, yang ini Ziqo ya?"
Ziqo tersenyum.
Aldrich : "Ayo, kita semua masuk ke dalam!" ajak Aldrich pada kedua anak kembar Zenith sambil menuntun tangan Ziqo.
Flinch berbisik di telinga Zenith.
Flinch : "Apa, kau yakin akan menyimpan ini selamanya?"
Zenith : "Ssstt...diam!!!"
Flinch yg mendengar kata sakti dari Zenith pun jadi mendadak diam.
Flinch : "Oke! Aku tutup mulut!" ucapnya seraya menaruh satu jarinya di bibirnya.
Zenith menarik nafas lelah, melihat tingkah Flinch yg selalu ingin dia segera menyudahi drama keluarga sialan yg menyebalkan itu. Flinch, ingin Zenith atau Rosalina bahagia bersama Aldrich dan anak-anak mereka.
Tapi, Zenith sebaliknya ia malah tidak ingin mengatakannya dulu. Sebab, ia tidak ingin keselamatan keluarga dan orang-orang terdekatnya terancam atau bahkan kemungkinan terburuk adalah mati di tangan Jessica. Hal, itulah yg inginnia hindari. Meski, Jessica sudah tahu siapa dirinya. Dia akan tetap waspada dengan membayar orang untuk selalu memantau gerak gerik Jessica.
Zenith pergi ke dapur sementara Flinch dan Aldrich sedang mengobrol di ruang tamu. Namun, tak lama kemudian Aldrich menyusulnya ke dapur. Adrich memeluknya dari belakang.
Aldrich : "Sedang, apa sayang?"
Rosalina/Zenith : "Sedang, membuat teh dan camilan buat pak Jeff dan juga kak Flinch!"
Aldrich tersenyum.
__ADS_1
Aldrich : "Sayang?"
Rosalina/Zenith : "Hm?"
Aldrich ingin tahu, mengapa Zenith mempunyai anak kembar tapi tak mengatakan padanya.
Aldrich : "Kau, memiliki sepasang anak kembar yg lucu dan imut. Lalu, kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
Rosalina/Zenith : "Em? Soal, itu maaf aku belum sempat bilang pada pada pak Jeff?"
Aldrich : "Lalu, dimanakah ayah biologis mereka?"
"Deg"
Jantung Rosalina bagaikan di hantam palu godam yg besar. Ia bingung harus menjawab tentang ayah kandung Ziqi dan Ziqo. Karena, kenyataannya Aldrich sendiri adalah ayah kandung dari sepasang anak kembar itu.
Melihat, Zenith bingung harus menjawab apa tentang pertanyaannya barusan. Akhirnya, Aldrich pun mengerti bahwa Zenith tidak ingin mengatakan tentang ayah biologis Ziqi dan Ziqo.
Aldrich : "Ya sudah! Jika, kamu tidak mau mengatakannya! Aku mengerti, kok!"
Zenith merasa tak enak hati mendengar kata-kata Aldrich barusan.
Rosalina/Zenith : "Ehh? Maksud, saya bukan begitu pak Jeff? Bukan, saya tidak mau mengatakannya?"
Aldrich tersenyum.
Aldrich : "Sayang??? Aku cukup paham dan mengerti dirimu! Memang, terkadang ada hal yg tak ingin kita bagi dengan siapa pun! Termasuk, itu dengan orang terdekatmu! Jadi, jika kau belum bisa membaginya denganku tidak apa-apa! Aku bisa menunggu! Okey?" ucap Aldrich sangat lembut di telinga Zenith.
Zenith pun merasa lega. Memang, seperti itulah Aldrich. Merupakan, seorang sosok laki-laki yg baik hati dan pengertian meski, terkadang nafsunya saja yg tidak bisa di kontrol. Dan, Zenith harus siap-siap sedia jika, Aldrich memintanya untuk bercinta dengannya. Meski, ia takut hamil lagi. Sebab, ia sudah memiliki tiga anak sekarang.
Sementara, Ziqi dan Ziqo yg tak sabar menunggu di ruang tamu. Datang, ke dapur untuk melihat mama mereka di dapur sedang membuat teh dan camilan. Saat, mereka ke dapur ternyata mereka melihat Aldrich juga ada di dapur. Langsung, saja mereka sibuk berceloteh.
Ziqo : "Aih...aih...!" ucap Ziqo polos mengagetkan Aldrich dan juga Zenith. Membuat, pelukan Aldrich terlepas.
Aldrich : "Ehh, Ziqi sama Ziqo?"
Ziqo : "Mama, paman ganteng! Lagi, ngapain? Kok, rapet gitu?"
Rosalina/Zenith : "Ehh, mama sama paman ganteng gak ngapa-ngapain kok! Sayang, kalian ngapain ke dapur?"
Ziqi : "Mama lama banget di dapur! Ziqi sama Ziqo dah lapel ma!"
Rosalina/Zenith : "Ohh, sayang-sayang mama lapar ya? Tunggu, sebentar ya? Sebentar, lagi juga selesai kok? Ziqi sama Ziqo tunggu di depan ya?"
Ziqi dan Ziqo pun mengangguk. Lalu, mereka pun menggandeng tangan Aldrich. Mengajaknya, untuk menunggu di depan.
Ziqo : "Ayo, paman ganteng! Kita ke depan aja, yuk? Temani, paman Plin di depan!"
Aldrich mengiyakan ajakan sepasang anak kembar tersebut. Dan, mengikuti langkah kecil kaki mereka. Aldrich merasa senang dengan kedua anak kembar Zenith itu. Yang, selalu saja berkutat di sekelilingnya. Dan, mencari perhatiannya. Tanpa, ia ketahui sesungguhnya sepasang anak kembar itu adalah darah dagingnya sendiri. Terkadang, ia memperhatikan wajah si kembar dan ia merasa ada kemiripan wajah diantara dia dan kedua anak itu. Aldrich menjadi bingung sendiri karenanya. Untuk, itu ia berniat untuk menyelidiki siapa Zenith sebenarnya.
__ADS_1
❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤
💦💦💦ROSALINA 2💦💦💦