
"Da-da" ucap Meunjo sambil melambaikan tangannya.
Minyan tersenyum dan melambai.
Meunjo berbalik dan pergi. "Akhirnya aku menemukanmu" batin Meunjo.
" Untung tadi dia datang, aku jadi bisa memainkan ponsel ku tanpan menunggu Paman Tieh. Aku hanya perlu membiarkannya dicharge selama satu setengah jam," sebut Minyan seraya tiduran di kasur menunggu batrai ponselnya penuh.
Setelah batrai ponselnya penuh, Minyan langsung mencabut kabel USB itu dari ponselnya dan menyalakannya.
Minyan pergi keruang tengah dan meminkan ponselnya itu.
"Kita lihat ya... Apa yang berbeda dari ponsel ini," ucap Minyan sembari melihat-lihat fiture yang ada di ponselnya.
"Aku pulang," Paman Tieh masuk dan melihat Minyan sedang asik memainkan posel di tangannya.
"Jadi kau sudah membelinya bersama Guyzu? Berapa harganya?" tanya Paman Tieh sembari duduk di samping Minyan.
"Iya, kami sudah membelinya, tapi Paman jangan terkejut ya berapa harga ponsel ini," kata Minyan pada Paman Tieh.
"Iya, berapa harganya?" lanjut Paman Tieh bertanya.
"Harganya adalah de-la-pan-se-te-ngah-ju-ta," sebut Minyan sambil mempraktekannya dengan jarinya.
"Oh 8,5jt," ucap Paman Tieh datar seolah tak ada yang mengejutkan.
"Pa-paman tidak terkejut?" tanya Minyan heran pada Paman yang seolah sudah biasa pada angka tersebut.
"Itu sudah biasa," jawab Paman singkat.
"Ternyata kau pintar juga ya, bisa menyalakan ponselmu sendiri," ujar paman Tieh.
"Sebaiknya aku tidak mengatakan kalau Meunjolah yang membatuku menyalakan ponsel ini. Karena Paman bisa saja mengatakan itu semua pada Guyzu" batin Minyan.
"Ah, iya aku hanya menebak-nebak saja yang mana yang harus kutekan," jawab Minyan mencari alasan agar Paman tidak mengetahui yang sebenarnya.
"Oh begitu ya-"
"Ini Paman bawakan daging dan juga bumbu-bumbunya ayo kita memasak makanan yang sangat enak," ujar Paman Tieh sambil membawakan daging dan juga bumbu-bumbu itu ke dapur.
"Benarkah? asik. daging... daging... daging... daging," ucap Minyan penuh semangat memasak daging itu.
Namun daging itu adalah daging mentah, dan daging itu juga masih berlumuran sedikit darah.
Minyan tidak memerhatikan dan langsung memegang daging itu.
Sontak Minyan terkejut dan melemparkan daging itu.
"Kenapa kaumelemparnya?" tanya Paman heran.
Minyan bengong dan sangat cemas, kalau dia tiba tiba berubah menjadi seekor rubah di depan Paman tieh.Matanya melebar hinga membentuk bulat.
Bulu-bulu mulai tumbuh disekitar telinga Minyan dan telinganya mulai meruncing.
untung saja rambutnya yang panjang masih menutupi telinganya.
Tiba-tiba saja ekor rubah tumbuh di bokongnya yang membuat Paman Tieh terkejut, sontak Minyan langsung mendepani Paman Tieh agar Paman Tieh tidak melihat ekornya itu.
Namun Paman Tieh tetap curiga dan berjalan ke belakang Minyan melihat ada sesuatu yang janggal.
"Apa itu? Apa kaupunya ekor?" tanya Paman tieh.
Ketika Paman Tieh ingin melihat ke belakang Minyan, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu depan dari luar.
"Tok... Tok... Tok... "
__ADS_1
"Paman ada yang mengetuk, boleh kaulihat sebentar," kata Minyan menyuruh Paman agar Paman tidak jadi melihat ke belakang Minyan.
Suara ketukan itu semakin keras.
"Baiklah akan kulihat," kata Paman sambil berjalan membukakan pintu.
Setelah Paman pergi membukakan pintu, dalam sekejap Minyan langsung berubah menjadi seekor rubah.
Untung saja Paman tidak sempat melihatnya melihatnya.
"Siapa itu?" tanya Paman sambil membuka pintu dan melihat wajah orang yang mengetuk itu.
Ternyata orang itu adalah Meunjo. Namun Paman Tieh tidak mengenalnya.
"Kau siapa?" tanya Paman Tieh pada Meunjo.
"Aku hanya orang lewat dan tersesat boleh kutanya arah jalan padamu?" tanya Meunjo.
Minyan mendengar suara itu dan mengenalinya.
"Meunjo? Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia sudah pulang? Kenapa kehadirannya tepat waktu? Apa arti semua ini?" Tanya Minyan sedikit curiga.
Jika disaat tidak terduga seperti ini. Minyan hanya perlu menunggu sekitar 10 menit agar ia kembali ke wujud manusia.
Dan Meunjo seakan tahu hal itu. Meunjo terlihat seperti mengulur waktu. Dia terus bertanya dan bertanya Pada Paman Tieh agar Paman Tieh tidak masuk kerumah dan melihat seekor rubah di dalam rumah itu.
10 menit berlalu dan Minyan kembali berubah menjadi manusia.
saat itu juga Meunjo selesai bertanya dan pergi.
Paman Tieh masuk dan menemui Minyan dalam ke adaan biasa saja.
"Aneh, sepertinya tadi aku melihat Minyan memiliki ekor. seperti ekor Rubah," batin Paman Tieh.
Paman Tieh kemudian memeriksa keadaan Minyan dari atas sampai bawah, dari depan sampai belakang.
"Aneh sekali," ucap Paman Tieh dengan suara kecil sambil menggaruk-garuk rambutnya.
Malampun tiba. Minyan masuk kekamar dan berbaring di tempat tidur.
"Rasanya ada yang aneh, kenapa Meunjo selalu ada di saat aku membutuhkannya? dia juga terlihat sudah biasa padaku. Dia sama sekali tidak risi pada sikapku yang aneh, dia tidak risi dan merasa aneh ketika aku bertanya padanya tentang hal-hal sederhana yang harusnya diketahui oleh manusua seumuranku. Guyzu dan Paman saja merasa risi pada pertanyaanku itu. Aneh sekali," kata Minyan sambil merapikan posisi tidurnya.
"Oh iya, aku belum menemukan cita sejatiku. Aku harus tetap ingat kalau tujuanku kesini adalah mencari cinta sejatiku agar aku terbebas dari kutukan ini," lanjut Minyan sambil duduk dan bersender ke dinding.
"Tapi siapa? Haaaaaaaa kepalaku sakit sekali," ucap Minyan sambil menjatuhkan kepalanya ke kasur dan tidur.
Ditidurnya yang panjang itu dia bermimpi sedang berciuman dengan cinta sejatinya namun dia tidak melihat wajahnya dengan jelas dan mendengar suara. "Aku berada di dekatmu"
Tiba-tiba Minyan terbangun dan mimpinya itu terhenti.
"Didekatku? Dia berada di dekatku?" tanya Minyan spontan terduduk.
"Siapa pria yang selama ini dedekatku? Haaaa!!!! Guyzu? Tidak mungkin. Tidak mungkin aku berjodoh dengan kecoa ingusan itu, Haaaaaaaaaaa," ucap Minyan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Minyan keluar dari kamar dan melihat Guyzu sedang makan di meja makan sambil memainkan ponselnya. Raut wajah berkerut tercetak di wajah Minyan. "Bagai mana mungkin aku berjodoh dengan setan mematikan ini," batin Minyan.
"Guyzu boleh kutanya sesuatu?" tanya Minyan sambil duduk disebrang Guyzu.
"Sudah kubilang kautidak boleh bertanya apa-apa lagi padaku! kenapa kaumasih bertanya?!" kata Guyzu ketus.
"Kau benar, lupakan saja," jawab Minyan dengan suara kecil tanpa nada dan pasrah.
"Sudahku duga setan kecoak ini bukanlah cinta sejatiku," batin Minyan dengan wajah lemas.
Paman datang dari kamar selepas mengganti baju bersiap untuk pergi bekerja sebagai polisi.
__ADS_1
"Guyzu, tolong nanti kau pergi ke toko roti didekat salon kecantikan sana, belikan kue ulang tahun berukuran sedang dan antarkan ke kantorku sekitar jam 10 pagi."
"Untuk apa?" Guyzu.
"Temanku sedang berulang tahun sekarang. Kami merencanakan membuat suprise padanya."
"Tidak boleh, aku akan menagih hutang hari ini" jawab Guyzu sambil meminum teh di depannya.
"Ayolah, hanya sebentar saja. Tidak akan lama," kata Paman Tieh mambujuk Guyzu.
"Tidak bisa," Guyzu.
"Aku saja Paman," kata Minyan
"Memangnya bisa? Kau kan tidak hafal jalan. kaujuga belum pernah ke kantorku," ucap Paman meragukan Minyan.
"Bisa kok Paman, nanti aku cuman butuh bantuan google map saja," ujar Minyan tersenyum kecil menyipit kan matanya.
"Oh ia, kaukan sudah punya ponsel. ya sudah lakukan saja," kata Paman mempercayai Minyan.
~Di toko roti~
"kue yang mana ya?... kata Paman kue ulang tahun yang ukurannya sedang. Ah yang itu saja, sepertinya itu cocok. Yang ini tolong di bungkus ya pak,!" kata Minyan pada staf toko roti itu.
"Berapa harganya?" Minyan.
"350rb," Staf toko roti.
"Mahal sekali, ya sudahlah, aku lagi malas berdebat " kata Minyan sambil mencari uang di tas kecilnya
Ternyata Minyan tidak membawa uang sama sekali, dia belum memintanya pada Paman Tieh.
"Bagaimana ini?" kata Minyan dalam hati.
"Apa ada masalah?" tanya salah seorang dari belakangnya.
Minyan sibuk mencari-cari uang di tas kecilnya, tanpa melihat wajah orang yang bertanya itu.
"Tidak aku hanya kelupaan membawa.............. Meunjo?" Minyan terkejut ketika melihat orang yang bertanya itu adalah Meunjo.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Minyan sedikit heran.
"Ini toko rotiku, senang bertemu denganmu di sini,"
"Eee... sepertinya kita semakin sering berjumpa," ucap Minyan sambil tersenyum kecil.
"Begitu rupanya,... Kau bilang kelupaan membawa apa?" Meunjo.
"Eee... A-aku kelupaan membawa u-uang hhhh," kata Minyan gugup bercampur malu.
"Kalau begitu kauboleh mendapat diskon 100% kali ini," sebut Meunjo sambil tersenyum manis.
"I-itu tidak perlu, aku akan pulang dan mengambil uang," jawab Minyan tidak enak.
"Kalau begitu kauboleh berhutang padaku, kauboleh membayarnya kapan saja,"
"Begitu ya, baiklah." Minyan.
"Setelah itu kaumau kemana?" tanya Meunjo.
"Aku akan pergi ke kantor Paman Tieh mengantar kue ini," Minyan.
"Mari kuantar" kata Meunjo sambil mengambilkan kunci mobil dari sakunya.
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya...