Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 17


__ADS_3

"Sudah, jagan diambil hati. Aku hanya bercanda. Yang penting sekarang kausudah pulang dan baik-baik saja." ucap Minyan lembut.


"Sikapmu sangat membuatku jijik." jawab Guyzu dan langsung masuk kekamar.


__________________________________________


"Halo, ini dengan Minyan sendiri. Anda siapa ya?" tanya Minyan ditelfon itu yang tidak mengenal siapa penelfonnya.


"Saya dari perusahaan Meunjo XY Group, ingin memberi tahukan pada Anda bahwa direktur Meunjo menunjuk Anda sebagai penata lokasi untuk event besok malam. Mohon kerja samanya."


Minyan kebingungan mendengar telfon itu. Perasaan sebelumnya dia tidak pernah melamar pekerjaan di perusahaan itu. Kenapa tiba-tiba ada pemberi tahuan seperti ini.


"A-a-apa? Bagaimana? Kenapa aku?" Minyan berdecak kaget dan bingung.


"Sekian dari saya, selamat siang."


"Ha-Halo... Halo... Halo.... Hhh.. Dia menutup telfonnya. Haaaa... Kenapa aku? Meunjo juga belum bilang padaku sebelumnya." ucap Minyan kebingungan dan menerka.


"Sssttt... Sssttt... Sssttt..." pesan dari Meunjo.


"Kau pasti sudah menerima telfon dari perusahaanku, aku berharap kaumenjalankannya dengan baik.


Kaujuga bisa membawa seseorang sebagai asisten pribadimu. Supaya kautidak terlalu repot.


disana juga sudah ada beberapa orang yang siap membantumu. Selamat bekerja, aku tahu kauahli dibidang ini.


semangat"


"HAAAA, Kepalaku sakit sekali. Katanya aku ahli dibidang ini. Ahli apanya? Aku bahkan tidak pernah menata suatau tempat selama di dunia ini. Dan aku harus menyelesaikannya besok hari? Matilah aku." ucap Minyan stres dengan mengerutkan dahinya.


Guyzu datang dari luar untuk beristirahat, Minyan langsung berfikir tentang asisten pribadi tadi.


"Guyzu... Apa kausedang tidak repot? Apa kauboleh membantuku? Tidak, tidak kaumemang harus membantuku." kata Minyan sebari merangkul tangan Guyzu dan membawanya keluar.


"Tunggu, kita mau kemana?" tanya Guyzu melepaskan tangannya.


"Guyzu, bantulah aku. Hanya kauyang dapat membantuku," ucap Minyan mengatupkan kedua tangannya bermohon kepada Guyzu.


"Bantu apa? Aku harus membantumu apa?" tanya Guyzu tidak mengerti.


"Begini saja, anggap aku sedang melamar pekerjaan disuatu perusahaan ternama, lalu aku diterima secara mendadak dan aku diberi proyek besar yang harus diselesaikan sampai besok." jelas Minyan dengan wajah berkerut dan memeles.


"Ayolah Guyzu, bantu aku" lanjut Minyan.


"Tidak mau" jawab Guyzu cuek.

__ADS_1


"Guyzu, bantulah aku. kali ini saja, plissss" Kata Minyan benar-benar meminta tolong.


"Baiklah, tapi kauharus mejelaskannya dulu padaku," jawab Guyzu menerima permohonan itu.


"Aku akan jelaskan diperjalanan. Cepat bawa mobilmu kita pergi"


Sembari mereka diperjalanan Minyan menjelaskan apa yang akan mereka kerjakan. Sesampainya di lokasi, mereka di sambut maneger pelaksana event itu dan membuat permintaan menata tempat kosong itu.


"APA?!!!! KAU INGIN AKU MEMBUAT PANGGUNG DI TEMPAT INI? TEMPAT INI MEMANG CUKUP LUAS DAN INI DI LUAR RUANGAN ITU AKAN MEMUDAHKAN, TAPI DENGAN WAKTU YANG SESINGKAT INI, ITU TIDAK AKAN MUNGKIN...!!!!!" ucap Minyan terkejut akan pekerjaan yang baru ia dengar itu.


"Tapi pihak perusahaan menjamin itu semua mungkin. Sudahlah, lakukan apa yang akan kaulakukan. Jangan sampai kami kecewa. Oh iya, acara ini bertajuk 'Pentas Seni Akhir Semester Siswa'. " ujar maneger itu lalu pergi.


"Hey, kaumau kemana? Aku sama sekali tidak mengerti. Hey....!!!!! Hhhh... Dasar maneger sombong." ucap Minyan kesal dan cemberut.


"Baiklah, apa idemu?!!!" tanya Minyan pada Guyzu sambil melipat tanganya setara dengan dada.


"Apa? Kenapa aku?" Guyzu heran dan bingun.


"Jadi kaukesini untuk apa? Bukankah kaubilang akan membantuku? Cepatlah Guyzu, hanya kau harapanku." ucap Minyan memohon lagi.


"Kau ini.... Ehemm, baiklah karena aku orang baik dan aku adalah orang yang paling berbakat, aku akan memberi tema sederhana saja. Dimana pengunjung akan melihat pemandangan yang rapi dan tertata. Jangan terlalu banyak ornamen, jika terlalu banyak akan membuat penglihatan menjadi semak dan kotor. Panggungnya juga jagan terlalu besar, cukup diberi hiasan lampu yang memegahkan pemandangan. Akurasa, tidak perlu dibuat tenda, supaya tidak menghalangi pemandangan Dan sudut penyorotan kamera juga akan menjadi lebih luas. Di daerah sana juga cukup diberi ornamen bunga saja, disana akan diberi meja tempat makanan dan minuman, jadi pengunjung bisa bebas untuk mengambilnya. Itu akan lebih kekinian." jelas Guyzu panjang lebar.


Minyan hanya terbengong mendegar penjelasan Guyzu yang begitu ditail.


"Apa yang kautunggu? Cepat hubungi perusahaanmu, dan mintalah properti-properti yang dibutuhkan. Dan Jagan lupa untuk menelfon pembuat panggung aku sarankan untuk memercayakannya pada yang profesional." suruh Guzyu dengan jelas.


"Ba-baiklah," jawab Minyan segera menelfon.


Mereka megerjakan projek itu dengan baik. Mulai dari membuat panggung, menata panggung, menghias tempat event, melakukan penataan lighting, dan lain sebagainya.


Guysu terlihat sangat menjiwai projek itu, dia terlihat mahir dalam melakukannya. Bahkan dia terlihat sangat profesional.


Minyan sangat tercengang melihat kemampuan Guzyu dalam melakukannya. Minyan tidak mengira Guyzu akan membantu banyak, bahkan hampir membantu semua.


Akhirnya projek itu hampir selesai, tinggal beberapa sentuhan lagi maka projek itu akan selesai.


Minyan dan Guyzu sedang berada diatas panggung sambil menghias dan memberi sedikit ornamen.


"Hhhh,...... Aku tidak mengira ini akan siap. Terimakasih Guyzu, kalau tidak ada kau, aku tidak tahu harus kuapakan pekerjaan ini." ucap Minyan sambil menempatkan vas bunga dipinggir panggung yang ia kira itu akan terlihat bagus jika diletakkan disana.


"Tidak, tidak jangan diletak disana. Itu akan menghalangi penglihatan penonton. Sebaiknya diletak di bawah saja, itu akan terlihat indah tanpa menghalangi penglihatan penonton." ucap Guyzu mengomentari dan menyarani Minyan.


"Begitukah? Oh baiklah, aku akan meletakkannya disana. Tapi kaubelum menerima ucapan terimakasihku." ucap Minyan menatap Guyzu.


"Terimakasih saja?" kata Guyzu.

__ADS_1


"Maksudmu apa?" tanya Minyan tidak mengerti.


"Gaji. Kauharus menggajiku. Aku sudah bekerja keras untuk ini, aku bahkan belum makan siang. Jadi, kauharus menggajiku." ujar Guyzu tersenyum kecil sambil memasukkan tangannya disaku celana, sengaja membuat Minyan gelisah


"Apa?" Minyan berdecak.


"Aku bahkan tidak tahu, apa aku akan di gaji atau tidak." kata Minyan dengan suara pelan hampir tidak terdengar.


"Aku harap kaumempertimbang kannya. Aku sudah bekerja keras untuk ini." Sebut Guyzu sembari memindahkan vas bunga tadi.


"Tapi kenapa kaubegitu ahli dibidang ini? Aku bahkan tidak pernah melihatmu menata suatu tempat termasuk rumahmu sendiri." tanya Minyan penasaran.


"Aku pernah menata tempat ulang tahun dibeberapa tempat waktu kecil, aku melakukannya untuk megumpulkan uang. Aku melakukan apa saja untuk mengumpulkan uang waktu itu." jelas Guyzu menceritakan sedikit masa lalunya.


"Tapi kenapa kaumelakukan itu? Apa dulu kalian orang susah?" tanya Minyan lagi.


"Tidak, aku hanya melakukannya untuk membuktikan pada seseorang bahwa aku bisa hidup dan menjadi orang kaya tanpanya." ucap Guyzu dengan mata tajam dan pergi.


"Ini memang sangat bagus, penataannya sangat rapi dan terencana. Tapi apa aku harus membayarnya? Haaa, aku bahkan tidak punya uang," ucap Minyan cemberut dan negerutkan wajahnya higa benar-benar berkerut.


Kemudian maneger penyelenggara event itu datang memeriksa perkembangan projek itu. Dia berjalan menghapiri Minyan.


"Ehemm, ini sangat indah. simpel dan rapi. Terlihat modern dan kekinian. Proses pengerjaannya juga sangat cepat. Selamat Nyonya, kau berhasil membuatku takjub." ucap manager itu berdecak.


Minyan terdiam sejenak dan menyadari bahwa ini bukanlah hasil kerjanya, dia hanya membantu disitu.


"Apa aku digaji untuk ini?" tanya Minyan polos.


"Ahk... Kanapa kau menayakannya padaku? Tanyakan saja pada perusahaanmu." jawab manager itu lalu pergi.


"Hhhh... Dasar" ujar Minyan sambil berjalan mundur dan tidak meyadari bahwa dia sudah dipinggir panggung dan terjatuh.


Ketika Minyan terjatuh ternyata dibawah panggung ada Meunjo yang ingin memeriksa projek itu sendiri dan langsung menangkap Minyan.


Minyan terjatuh tepat didada Meunjo yang membuat posisi mereka mirip seperti berpelukan.


"AAAAAAAA" teriak Minyan terkejut.


Guyzu mendengar teriakan itu dan langsung menoleh ke arahnya.


Dia melihat Minyan dan Meunjo sedang berpelukan, dia salah sangka dan pergi tak ingin melihat itu.


"Bersambung"


Jangan lupa like dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2