Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 15


__ADS_3

"Hati-hati Minyan..." ucap Meunjo.


"Apa dia orangnya?" tanya Ayahnya Meunjo dengan serius pada Meunjo.


"Iya, dialah orangnya." jawab Meunjo dengan mata tajam.


_________________________________________


Guyzu sedang berada di luar kota. Seharusnya dia tidak perlu menginap disana untuk beberapa hari. Tetapai dia terpaksa melakukannya untuk menenangkan diri karena dia mulai merasakan ada yang aneh pada dirinya. Dia mulai merasakan hatinya terisi oleh seseorang, yang membuatnya tidak nyaman atau merasa tidak enak pada dirinya sendiri.


Selama diluar kota, dia hanya menginap di hotel dan tidak pernah keluar dari hotel. Dia hanya terbaring lesu menenangkan diri berharap dia bisa melupakan perempuan itu.


"Halo, Guyzu. Kapan kau akan pulang? Paman sudah merindukanmu. Apa urusanmu belum selesai?" ujar Paman Tieh ditelfon merindukan Guyzu.


Guyzu duduk dan menunduk sembari menjawab Paman Tieh. "Baiklah, aku akan pulang besok."


"........................." telfon itu terdengar sunyi.


"Guyzu... Katakan pada Paman. Paman akan megerti masalahmu." ucap Paman Tieh melihat ada yang berbeda dari sikap Guyzu.


"Apa yang Paman katakan? Aku tidak punya masalah." jawab Guyzu singkat.


"Paman sudah merawatmu sejak kelas 1 SMP, tentu saja Paman sangat mengenal sikapmu. Tanpa kauberi tahu saja Paman sudah tahu apa masalahmu. Ingat waktu kaumencuri apel di pasar? Waktu itu kaupulang dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Paman bertanya apa yang terjadi, tetapi kaumemilih untuk diam tanpa menceritakan apa pun pada paman. Kemudian Paman pergi mencari tahu apa yang terjadi, dan ternyata kautelah mencuri apel bibi luyen si penjual buah di pasar. Apa kauingat itu? Hahaha... Aku berharap kautidak melupakannya. Hahaha......" cerita Paman Tieh panjang lebar di telfon itu.


Guyzu pun ikut tertawa mendengar cerita Pamannya itu.


"Hhh kenapa Paman masih mengingatnya? Aku kan sudah menyuruh Paman untuk melupakannya! Hhhh.... Paman ini..." jawab Guyzu sambil tersenyum geli mengingat masa kecilnya.


Mereka berdua saling tertawa mengingat hal-hal lucu yang terjadi di masa lalu.


"Baiklah Guyzu, tertawanya cukup sekian dulu. Sekarang katakan pada Paman apa masalahmu!!!!" lanjut Paman Tieh memotong ketawa Guyzu.


"Ke-kenapa Paman ingin tahu sekali?... Lagi pula kata Paman, Paman bisa mengetahui masalahku tanpa menanyakan nya padaku." ucap Guyzu menghindar dari pertanyaan Paman Tieh.


"Baiklah karena kau memaksaku, maka aku akan mengatakannya secara langsung," ujar Paman Tieh.


"Siapa dia? Kenapa kautidak mengenalkannya padaku?" lanjut Paman Tieh menerka.


"A-a-apa maksud Paman?" ucap Guyzu berdecak kaget.

__ADS_1


"Jangan sok tidak tahu! Wanita itu. siapa wanita itu?!!! Paman sudah tahu seduk beluk pria yang sedang jatuh cinta." ujar Paman Tieh menerka masalah Yang dialami Guyzu.


"Bagai mana Paman bisa tahu, Paman saja tidak pernah bercinta." jawab Guyzu menyangkal perkataan Paman Tieh.


"Hey, Paman tidak menikah bukan berarti Paman tidak pernah bercinta. Asal kautahu saja, waktu Paman seumuranmu Paman sudah memiliki 19 mantan." kata Paman Tieh melakukan pembelaan terhadap percintaannya.


"Tidak mungkin," jawab Guyzu lagi meremehkan Paman Tieh.


"Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang yang penting adalah kenapa kaujadi begini? Pasati gara-gara perempuan itu. Apa dia menyakiti mu? Haaaa..... Beraninya dia. Lihat saja, kalau Paman bertemu dengannya Paman akan mengambil ginjalnya dan menjemurnya ditengah jalan raya." kata Paman Tieh sedikit lebay terhadap situasi dan kondisi.


"Paman tidak akan melakukannya jika Paman tahu siapa dia." jawab Guyzu seraya menjawab pernyataan Paman Tieh.


"Kenapa Paman tidak akan melakukannya? Siapa pun dia, Paman akan tetap menghajarnya. Bahkan jikalau dia putri presiden sekali pun Paman akan tetap menghajarnya. Berani-beraninya dia menyakiti perasaan keponakanku." jelas Paman Tieh dengan penuh percaya diri.


"Lupakan saja... Itu tidak penting. Pokoknya aku akan pulang besok. Tolong Paman masakkan makanan kesukaanku. Sampai jumpa besok Paman," ujar Guyzu seraya menutup telfon.


Setelah mendengar permintaan dari keponakan semata wayangnya itu, Paman Tieh langsung pergi untuk berbelanja bumbu masakan makanan kesukaan Guyzu.


"Haaa... Sudah lama aku tidak memasak untuk keponakanku. Baiklah, Aku akan memasak dengan penuh sungguh-sungguh agar keponakanku itu tidak kecewa." ucap Paman Tieh dangan semangat yang membara.


"Minyan....!!! tolong tutup pintu ini, Paman akan pergi berbelanja." panggil Paman Tieh seraya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan.


"Baiklah..." jawab Minyan menuju pintu depan.


Tak lama kemudian Paman Tieh pun pulang setelah membeli semua keperluannya. Paman Tieh langsung kedapur dan menyiapkannya.


Minyan datang untuk membantu Paman, namun dia tidak bisa membantu Paman tieh banyak karena dia tidak terlalu pandai dalam memasak.


"Haaaa... Paman sangat bergairah saat memasak. Aku jadi iri sama Pamam," ujar Minyan sambil memotong-motong bawang putih dan daun sop.


Seperti biasa Paman Tieh selalu menyombongkan dirinya didalam hatinya, namun dia selalu bersikap rendah hati didepan orang lain.


"Tentu saja aku sangat bergairah dalam memasak. Akukan shef terjago didunia ini. Semua masakanku rasanya pasti diatas rata-rata. Tidak, tidak semua masakanku bahkan memiliki rasa yang sempurna." batin Paman Tieh.


"Tidak juga, masakan seperti ini sudah biasa." kata Paman Tieh sok merendah.


"Paman memang sangat rendah hati. Aku salut pada Paman," lanjut Minyan.


"Ngomong-ngomong Paman Akan memasak apa?" tanya Minyan penasaran.

__ADS_1


"Oh, Paman Akan memasak makanan kesukaan Guyzu. Dia akan pulang besok. Makanan kesukaan Guyzu adalah Kepiting Saus Tiram. Jadi, Paman akan memasakkan itu untuknya." ujar Paman Tieh.


Mendengar Guyzu akan pulang Minyan terlihat sangat senang dan ceria.


"Benarkah? Guyzu akan pulang besok?" tanya Minyan meyakinkan.


"Iya, dia sudah menelfon Paman," jawab Paman Tieh.


"Tapi kenapa Paman memasaknya sekarang? Apa tidak akan basi untuk besok?" tanya Minyan pada Paman Tieh.


"Tidak, hari ini Paman hanya memasak saus tiramnya saja. Jadi besok tinggal memasukkan kepitingnya." Kata Paman Tieh menjelaskan.


"Paman memang sangat cerdik dalam memasak." puji Minyan.


"Ah, jangan begitu. Paman jadi tidak enak," ucap Paman Tieh sok merendah lagi.


"Kring..... Kring..... Kring.... "


Ponsel Minyan berdering. Minyan kemudian mengangkat telfon itu.


"Halo Meunjo ada apa?" kata Minyan dalam telfon itu.


"Besok aku ada presentasi penting di kantor. Ini menyangkut masa depan bisnis Ayahku. aku sangat bangga pada diriku sendiri. Boleh kita merayakannya besok? Seperti makan siang atau sebagainya. Aku tidak ingin mendengar kata 'tidak' darimu." ucap Meunjo.


Minyan sangat tidak enak menolaknya, karena itu adalah hari penting bagi Meunjo. Tetapi besok juga adalah hari penting bagi Paman Tieh dan Guyzu.


Minyan sangat bingung akan memilih yang mana.


Mendengar Minyan tidak menjawab telfonnya, Akhirnya Meunjo membuat keputusan sendiri.


"Kautidak menjawab, aku anggap kausetuju. Samapi jumpa besok," lanjut Meunjo dan menutup telfon.


"Apa? Meunjo? Halo?... Halo?....Haaa... dia menutup telfonnya. Bagai mana ini?" kata Minyan spontan.


Mendengar itu Paman Tieh langsung bertanya pada Minyan. "Apa kau ada urusan besok?"


"Eee... Sepertinya begitu. Maaf ya Paman." kata Minyan sedih.


"Kenapa kaumeminta maaf? Tidak apa-apa pergilah. inikan cuman hari biasa, Guyzu hanya pergi beberapa hari dan pulang. Itukan biasa saja." kata Paman Tieh menegarkan.

__ADS_1


~Bersambung~


Jangan lupa like dan vote ya...


__ADS_2