Rubah Noid

Rubah Noid
Episode 12


__ADS_3

"Tapi tingkah Meunjo semakin aneh saja... Seakan-akan dia tahu kalau aku adalah seekor Rubah," kata Minyan sambil mengingat kejadia waktu ia memasak bersama Paman dan juga kejadian barusan di reatoran.


"Meunjo.......... Aku tidak akan lengah," batin Minyan.


__________________________________


~Pagi hari~


"Kring.... kring.... kring.... "


Ponsel Minyan berdering. Minyan mengambil ponselnya itu dan melihat panggilan dari Meunjo.


"Meunjo? Kenapa pagi-pagi begini dia menelfon?" ucap Minyan melihat ponselnya.


"Halo" Jawab Minyan mengangkat telfon itu.


"PAGIIIIIIIIIIIIIIIII" teriak Meunjo.


Minyan berdecak kaget menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Pelankan sedikit suaramu. Kau membuat telingaku berdenyut," ucap Minyan di telfon itu.


"Aku tahu... Minyan, boleh nanti kita bertemu?" Meunjo.


"Bagaimana dengan Guyzu?" Minyan.


"Tidak usah dihiraukan. Dia hanya emosi sesaat." Meunjo.


"Ba-baiklah." Minyan.


"Nanti tempatnya aku shere padamu. Sampai jumpa disana. Da-da" ucap Meunjo mematikan telfon itu.


"Bagaimana ini? Masalah apa yang akan timbul jika Guyzu tahu tentang ini? Aku tidak mengerti kenapa Guyzu melarang ku bertemu dengan Meunjo. Dia bilang Meunjo hanya memanfaatkanku saja. Tapi memanfaatkan apa? Aku tidak punya uang, aku juga tidak punya harta. Apa yang mau di manfaatkan? Haaa... kepalaku semakin sakit saja. Tapi sebaiknya aku berhati-hati dengan Meunjo, aku juga merasa ada yang aneh." Kata Minyan dangan penuh percaya diri.


Minyan keluar dari kamar dengan pakaian rapi, ingin beranjak ke luar rumah. Dia berjalan penuh hati-hati agar Guyzu tidak mengetahuinya.


Dia milahat Guyzu tidak ada dirumah. Mendapati itu Minyan merasa tenang dan aman.


Ketika Minyan membuka pintu depan, ternyata Guyzu berada di sana. Tepat di depan pintu itu.


Sontak Minyan terkejut dan melompat kecil.


"Kaumau kemana?" tanya Guyzu dengan tangan berada di dalam saku celana.


Minyan terlihat gugup dan mencari alasan yang tepat.


"A-aku, i-ingin membeli nasi goreng keluar."

__ADS_1


"Kauingin pergi membeli nasi goreng dengan pakaian serapi ini?"


"Eee I-iya, memangnya kenapa?"


"Aku bilang jangan bertemu dengannya lagi!"


" Apa? Bagaimana kau? M-mungkin itu dapat didiskusikan terlebih dahulu. Kau tidak boleh membuat ke putusanmu sendiri."


"Kau fikir aku melakukan ini untuk siapa?"


"Apa maksud mu? Aku tidak pernah memintamu untuk mengawasi ku."


"Dasar. AKU BILANG TIDAK BOLEH YA TIDAK BOLEH. AKU MELAKUKAN INI KARNA AKU SUㅡ, lupakan saja. Kautidak akan mengerti." kata Guyzu langsung masuk kerumah.


"Apa maksudnya suㅡ, apa itu?" tanya Minyan pada dirinya sendiri lalu pergi.


"Sebentar lagi Minyan akan datang. Pokoknya, aku harus membuatnya luluh padaku hingga menyerahkan seluru hidupnya padaku. Dan dengan sendirinya pria pengacau itu akan angkat kaki menjauhi Minyan. Dan yang paling penting, aku akan menguasai dunia dari kekuatan yang ada pada tubuh Minyan," kata Meunjo sambil mempersiapkan buket mawar besar yang akan diberikannya pada Minyan.


Sementara itu Minyan mencari-cari alamat yang diberikan Meunjo kepadanya lewat pesan singkat.


"Sepertinya ini tempatnya. Ini sesuai dengan alamat yang diberi Meunjo. Tapi dimana Meunjonya?" ucap Minyan seraya melihat-lihat gedung tinggi dan pesan singkat dari Meunjo yang memberinya alamat tempat untuk bertemu.


Dia melihat ada pria bertopi sedang berdiri membelakanginya didekat loby gedung itu. Hanya pria itu seorang yang berada disana. Minyan berniat untuk menanyakan alamat itu pada pria itu.


Minyan berjalan menuju pria itu dan bertanya "Permisi, apa kau tahu alamat ini?"


"Taraaaaaaaaa"


Minyan berdecak kaget. "Meunjo? Ahk.. ahk... ahk... kau mengkagetkan aku lagi," ucap Minyan sambil tertawa kecil.


"Ini untukmu," sebuket mawar merah di todongkan pada Minyan. Suasana menjadi berbeda. Minyan merasakan kembang dari mawar itu masuk kehatinya yang membuatnya terbawa perasaan.


"Mawar? Aaaaaaa... Kau orang pertama yang memberiku mawar. Ini indah sekali," ucap Minyan seraya menerima buket mawar itu.


"Ayo pergi!!" ucap Meunjo.


"Kemana?" Minyan.


Meunjo langsung menarik tangan Minyan dan membawanya masuk ke gedung itu.


Ternyata semua adegan manis itu terrekam oleh mata Guyzu yang membuat Guyzu seakan tak ingin mereka bersatu, lebih tepatnya ia cemburu.


Guyzu masih berada di dalam mobilnya selama adegan itu berlangsung.


Tanpa melakukan tindakan apa-apa Guyzu langsung pergi dengan meninggalkan suara mobil yang sengaja dibuatnya mengeras.


Meunjo membawa Minyan samapai ke puncak gedung. Mereka berjalan sampai ketepi gedung, dengan pemandangan jalan raya dibawahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Minyan sambil mengaitkan rambutnya ke daun telinganya. Itu karena angin berembus kencang disana dan mengacak-acaki rambutnya.


"Ini tempat yang indah bagiku. Gedung ini memiliki 67 lantai. jadi ketika kita berada di atasnya kita akan melihat pemandangan perkotaan tiada batas." jawab Meunjo memasukkan tangan ke saku celananya.


"Tapi aku takut ketinggian," ujar Minyan sambil berusaha tetap melihat datar agar dia tidak melihat kebawah.


"Kalau begitu kemarilah, pegang tanganku. Kau akan aman bersamaku."


Minyan mendekati Meunjo dan memengang tangannya. Tak di sangka Meunjo langsung menghentakkan tangannya yang membuat Minyan terjatuh ke pelukannya.


"Tenanglah," kata Meunjo sambil membelai rambut Minyan dan menyandarkan lepala Minyan ke bahunya.


Suasana penuh romantis tercipta kala itu. Ketenangan dan kesejukan merasuk sampai ke hati yang paling dalam.


Sementara itu Guyzu pergi ke club untuk menghilangkan rasa stresnya setelah melihat adagan demi adegan tadi.


Dia sudah menghabiskan 2 botol bir. Namun itu belum cukup menghapus ingatan tentang adegan tadi.


Dengan suara yang mulai tidak karuan. Dia berbicara pada dirinya sendiri.


"Minyan itu bodoh, dia norak, polos, dan tidak tahu apa-apa. Seharusnya aku menghiraukannya saja. Tapi kenapa tadi jantungku rasanya sakit dan hancur?Disini..... Disini.... Disini.... " ucap Guyzu sambil menepuk-nepuk dadanya.


Setelah Meunjo dan Minyan menyelesaikan semua kegiatan yang ingin dilakukan, akhirnya Minyan pun diantar pulang kerumah oleh Meunjo.


Ketika Minyan diantar oleh Meunjo menggunankan mobil, Paman Tieh juga tepat baru pulang waktu itu.


Paman Tieh melihat seorang pria yang beberapa hari lalu menanyakan alamat jalan padanya. Kemudian Pria itu membukakan pintu mobil yang bagian seberangnya lalu Minyan keluarlah dari pintu itu.


Paman Tieh Pun Menghampiri Mereka dan bertanya. "Minyan? Darimana saja kau? Siapa dia?"


"Tunggu, sepertinya aku mengenalmu. Kau yang waktu itu menanyakan alamat jalan padaku kan?" tanya Paman Tieh pada Meunjo.


Meunjo terlihat kebingungan mau menjawab apa. "Eee... Iya, A-aku yang waktu itu tersesat disekitar sini. Namaku Meunjo. Maaf waktu itu aku tidak sempat memperkenalkan diri."


"Lalu... Kenapa kalian bisa saling mengenal? Kelihatannya kalian sangat akrab." tanya Paman Tieh kembali.


"Kami bertemu secara tidak sengaja. Dia juga sudah sangat sering membantu ku," jawan Minyan.


"Baiklah aku rasa aku sudah harus pulang," ucap Meunjo mempermisikan diri.


"Iya, Kauboleh pulang" jawab Minyan.


"Sampai jumpa."


~Bersambung~


jangan lupa like dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2