Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 2


__ADS_3

"Bagaimana rasanya," tanya Minyan penasaran.


Lalu Paman menjawab. "Tentu saja rasanya sangat enak, apalagi daging Rubah, eumm rasanya sangat gurih,"


"Ahukuhkhuk.... uhuk...uhuk...uhuk," Minyan spontan terkejut dan tersendak.


"Matilah aku, dia pasti akan memakanku. Dia terlihat sangat lapar. Dia mungkin akan merebusku dan memakanku, atau dia akan memakanku mentah-mentah . Tidak, dia bahkan bisa memakanku hidup-hidup," brontak Minyan dalam fikirannya.


Minyan begitu memperhatikan bagaimana cara mereka memakan semua makanan dimeja itu.


Dia terkadang menutup mata ketika Paman dan Guyzu mengunyah daging itu, sepertinya naluri kehewanian Minyan berkumandang.


Minyan bahkan belum memakan sedikit pun makanan di depannya itu.


Reaksi Minyan yang bolak balik menutup mata sangat membuat Guyzu tidak nyaman dan berkata.


"Kau kenapa? Kenapa kau bolak balik menutup mata? Kenapa kau dari tadi tidak memakan makananmu? Apa kau menolaknya? Tidak usah sok jual mahal........., cepat makan!" kata Guyzu sambil mengambil shushi dengan sumpit.


"Apa dia gila? Dia menyuruhku memakan sesamaku, hey kanibal aku tidak akan tega sepertimu. Dasar kanibal," batin Minyan.


Melihat Minyan dari tadi tidak memakan apa-apa, paman menawarkannya untuk mencoba shushi terlebih dahulu. "Cobalah, ini terbuat dari nasi, bayam, dan nori. Kau pasti suka," kata Paman sambil mengambilkan shushi dan menaruhnya dipiring Minyan.


"Tu-tunggu dia bilang ini terbuat dari nasi, bayam dan nori. Itu tidak masalah. Dicoba saja lagi pula aku sudah sangat lapar," batin Minyan.


"Sudahlah dimakan saja, perutmu sudah sangat berisik dari tadi," anjur Guyzu dengan nada datar.


"Dia benar, perutku sudah sangat lapar, tapi apa bunyi perutku sekuat itu? sampai dia bisa mendengarnya?" batin Minyan.


Minyan mulai mengambil sumpit dan menjepit shushi itu, ketika Minyan melakukan gigitan pertama expresi wajahnya berubah drastis menandakan shushi itu sangat enak.


"E-enaknya.......rasanya aku ingin makan satu lagi, dua tidak masalah, baiklah mungkin tiga ahhh kenapa ini rasanya sangat enak." batin Minyan.


Guyzu dapat menebak expresi wajahnya, yang menadakan shushi itu sangat enak. Kemudian Guyzu menyodorkan daging ke hadapan Minyan. "Makanlah," kata Guyzu sambil berfikir. "Dia tidak akan menolaknya," Fikir Guyzu.


"Apa ini dia menyuruh ku memakan sesamaku? Tidak aku tidak akan memakannya. Bagaimana pun kami sesama hewan, walau pun aku tidak tahu itu hewan apa,.....mmmmm tapi kelihatannya daging itu enak. Aku ingin tahu bagaimana rasanya, apakah sama seperti batang bambu itu?(shushi) atau bahkan lebih enak dari itu," batin Minyan.


Setelah membiarkan sedikit lama Minyan belum memakan daging itu, Guyzu pun berniat mengujinya.


"Oh tidak mau ya, ya sudah kumakan saja," kata Guyzu sambil nengambil daging itu dari piring Minyan.


Guyzu tahu sebenarnya Minyan sangat menginginkan daging itu. "Hehehe kita lihat sampai dimana kau mampu menahan diri," Batin Guyzu.


Minyan terlihat sangat menginginkan daging itu, bahkan ketika Guyzu mengambil daging itu Minyan terlihat ingin menghalanginya tapi tidak jadi.


Lama kelamaan Minyan terlihat tidak tahan lagi, apalagi daging itu hampir habis dimakan mereka berdua.


"Ee.. ee.. ee Aku..." Minyan terlihat gugup meminta daging itu.


"Makanlah" kata Guyzu sambil memberinya piring berisi daging itu. Guyzu benar-benar tahu kalau Minyan sudah tidak tahan lagi.


Minyan masih bingung apakah dia akan memakan daging yang sangat menggugah selera itu atau tidak.


Dua Malaikat dan Iblis bertarung didalam fikiran Minyan.


"(Iblis : Makanlah, Itu bukan daging rubah ...


Malaikat : Jangan, Tapi kalian sama-sama hewan.......


Iblis : Sudah dimakan saja di hutan sana juga banyak yang ingin memakan mu, sekarang dimakan atau memakan.


Malaikat : Jangan, jangan ,jangan)


Minyan berhenti berfikir. "Mungkin kalau satu tidak apa apa" batin Minyan.


Minyan pun memakan daging itu, dan ketika dia memakannya. "Aaaaaik" suara jeritan kecil tidak sengaja keluar dari mulutnya karena daging itu rasanya sangat enak.

__ADS_1


Paman Tieh dan Guyzu langsung melihat Minyan karena jeritannya itu.


Minyan hanya diam dan nalanjutkan makannya.


"Nyum, nyum, nyum kenapa rasamu sangat enak, dangingmu juga sangat empuk, aku jadi tidak bisa berheti memakanmu, mungkin aku bisa tambah satu,dua atau tiga haaa semua juga tidak apa-apa," batin minyan tidak bisa berhenti bicara.


Minyan terlihat sangat rakus, dan lapar dia terlihat lebih seram dari pada Singa yang kelaparan.


"HAAAAAAAA...... KENYANGNYA," ujar Minyan kekenyangan.


Paman menoleh kebelakang lagi dan melihat jam. "Wah, tidak terasa ternyata ini sudah jam 9 malam. Sudah waktunya untuk tidur. Guyzu tolong antarkan Minyan ke kamarmu,"


Guyzu pun pergi mengantarkan Minyan ke kamarnya dengan wajah sedikit cemberut.


"Ini kauboleh tidur disini, tapi ingat jangan menyentuh barang-barangku. Awas saja kalau nanti ada yang hilang, aku akan langsung mengusirmu,"


"Siap, "


"kau juga tidak boleh membuka lemariku"


"kenapa? apa kau takut aku melihat segitiga bermula mu? Atau ada benda lain yang kau sembunyikan?"


"hisskk...Pokoknya aku bilang jangan ya jangan!!!"


Guyzu langsung pergi dari kamar itu dan menutup pintu dengan keras.


"Plakkkkkkkkkk"


"Aneh sekali,...... Dia baik tau jahat?" kata Minyan sambil duduk di kasur.


"Dibilang baik, dia jahat. Dibilang jahat, dia baik.....Lagian kenapa sih dia harus bersikap cuek. Sepertinya dia mudah marah dan tersinggung.....Eahhhgggkk," suara sendawa Minyan. "Aku makan terlalu banyak...................


Tunggu,,,,,,,,,,,! Dosa apa yang akan ku terima atas perbuatan ku ini. Aku sudah memakan sesamaku sendiri. Aihhhhh....... lagian kenapa sih daging mu sangat enak?"


Minyan tertidu lelap, ketika tengah malam tepat pukul 12 dia pun berubah menjadi seekor Rubah. Dan akan kembali lagi menjadi manusia setelah pagi hari tepat pukul 6 pagi.


.................................................................................


~Pagi hari....


"Guyzu!!!........Guyzu!!!........Bangunlah. Apa kauingin tidur seharian? Jika kaubelum bangun, aku akan menyirammu dengan sup panas" teriak Paman Tieh dari dapur.


"Beraninya kau, kau yang membuatku tidak bisa tidur semalam. kaumengorok sangat kuat dan kaujuga menendangku dari tempat tidur. Kauberkali-kali berguling ke arahku sampai aku terjatuh dari tempat tidur," omel Guyzu sambil kembali melanjutkan tidurnya.


Minyan keluar dari kamar.


"kenapa Paman? Apa ada masalah?"


"Ah... tidak hanya masalah kecil,"


"kenapa dia belum bangun?"


"Mungkin semalam aku terlalu bersemangat untuk tidur sehingga membuatnya tidak nyaman hahaha,"


Minyan melihat Paman sedang memasak dan berniat untuk membantu.


"Siniku bantu"


"Tidak usah...Tidak usah.... ini pekerjaan Paman, lagi pula Paman sudah terbiasa melakukan ini setiap pagi,"


"Tidak apa-apa, sini biarku bantu,"


Minyan melihat kotak berlidah api yang menyala. "Apa ini? Apa kau sengaja membakarnya?" tanya Minyan menunjuk benda itu


"Kau tidak tahu? Itu kompor...... Semua orang menggunakanya untuk memasak," jelas Paman Tieh.

__ADS_1


"Yang ini?" tanya Minyan menunjuk benda bulat cekung.


"ini kuali," jawab paman.


"kau ini kenapa? Apa kau tidak pernah masuk kedapur? Kau memang tidak punya rumah, tapi bukan berarti kau tidak tahu apa-apa," lanjut Paman Tieh.


"Ada apa ribut ribut," kata Guyzu dengan suara mengantuk dan lingkar hitam melilit dimatanya, keluar dari kamar karena dia tidak dapat melanjutkan tidurnya lagi.


"Tidak apa-apa dia hanya bertanya sedikit tentang benda-benda dirumah ini. Anehnya dia menanyakan benda yang biasa digunakan orang banyak.," jawab Paman Tieh pada Guyzu.


"Oh dia memang begitu, aku rasa ada gangguan diotaknya yang membuat dia lupa akan benda-benda disekitarnya," kata guyzu sambil menguap.


"kalau itu apa, kenapa bisa tembus pandang?" tanya Minyan sambil menunjuk arah jendela.


"Itu jendela kaca. Sudahlah jangan bertanya lagi," kata Guyzu ketus sambil melihat betapa tidak cocoknya Minyan memakai baju pria.


"Satu lagi," kata Minyan menatap Guyzu.


"Mmmm cepatlah,"


"Benda bercahaya itu apa? Apa itu Matahari yang ditangkap dan ditempelkan disitu?" tanya Minyan menunjuk ke atas.


"hahaha...... hahaha.... hahaha...... Nona kata-katamu itu sangat berlebihan hahaha...."


kata Paman Tieh sambil tertawa.


"Itu lampu, sudah?" jawab Guyzu cuek dan pergi ke kamar.


Tiba-tiba semua diam dan hening


"Kenapa dia?" tanya Minyan dengan suara kecil.


"Eeee tidak usah dipikirkan, dia memang sering begitu," lanjut paman.


"Kalau kau sudah siap dengan urusanmu kita akan pergi ke mall untuk membeli baju mu!!!"


teriak Guyzu dari kamar.


"Entah bencana apa yang akan terjadi di mall nanti," Batin Guyzu.


~teng teng teng~


selamat datang di mall hokie hokie


~teng teng teng~


"Guyzu!! benda apa itu?"


"Guyzu!! kenapa tangga ini bisa bergerak?"


"Guyzu!! yang itu benda apa?"


"Guyzu!! Kamar ini akan jatuh selamatkan diri!


"Guyzu!! kenapa disini sangat dingin,"


"Guyzu!! kenapa orang ini tidak bergerak?"


"Guyzu!! Tunggu aku,"


"SUDAHLAH KAU BERISIK SEKALI,"


"Cobalah yang ini," kata Guyzu sambil mengambilkan baju wanita.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya...


__ADS_2