
"AAAAAAAA" teriak Minyan terkejut.
Guyzu mendengar teriakan itu dan langsung menoleh ke arahnya.
Dia melihat Minyan dan Meunjo sedang berpelukan, dia salah sangka dan pergi tak ingin melihat itu.
__________________________________________
"Aku bangga padamu hari ini. Tidak kusangka kaubisa membuat design seindah ini" ujar Meunjo memuji.
"Tidak, ini bukan hasil karyaku. Ini berkat Guyzu yang menata tempat ini sampai indah begini. Aku juga tidak menyangka dia dapat menyulap tempat sejelek sampah seperti ini, menjadi sebuah istana... Upss" jawab Minyan keceplosan mengatakan yang sebenarnya.
Meunjo tidak senang mendengar bahwa Guyzulah yang menata tempat itu.
"Oh, jadi ini hasil kerja si pengacau itu?" kata Meunjo arogan.
"Kenapa kaubicara begitu? Dia memang menghancurkan acara makan siang kita waktu itu. Tapi dia melakukan itu karena dia punya alasan," sebut Minyan tak ingin mempersalahkan Guyzu.
"Aku tidak peduli apa pun alasannya. Yang penting dia adalah pengacau." ujar Meunjo tak peduli akan perkataan Minyan.
Minyan hanya terdiam membisu mendengar keangkuhan Meunjo.
"Ini gajimu, dan ini upah untuk si pengacau itu. Aku tidak ingin berhutang apa pun padanya." kata Meunjo megeluarkan amplop kuning dari sakunya sebagai gaji Minyan dan mengeluarkan seluruh uang didompetnya sebagai gaji Guyzu.
Kemudian Meunjo pergi meninggalkan Minyan di lokasi itu.
"Kenapa dia berubah menjadi arogan? Haaa, sudahlah yang penting upah untuk Guyzu sudah beres." kata Minyan berfikiran positif.
"Waahhh banyak sekali uang ini, aku bahkan dapat membeli mobil baru dari uang ini. Kenapa pekerjaan seperti ini tidak datang dari dulu," ucap Minyan seraya melihat-lihat uang itu.
Sesudah meyelesaikan semua projeknya. Akhirnya Minyan dan Guyzu pulang kerumah.
Setelah sampai di rumah, Guyzu langsung duduk disofa dan menyederkan kepalanya disenderan sofa hinga benar-benar nyaman.
Minyan duduk di sebelah Guyzu dan menyenderkan kepalanya juga pertanda kelelahan.
"Apa itu tadi? kenapa mereka berpelukan? Apa hubungan mereka sudah sejauh itu?" batin Guyzu mengingat kejadian tadi, dimana Minyan terjatuh tepat didada Meunjo. Namun Guyzu tidaklah tahu jika itu adalah ketidak sengajaan.
"Guyzu, aku ada sesuatu untukmu." ucap Minyan sambil meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu.
"Taraaaaa" sebut Minyan megeluarkan amplop dan uang tadi.
Guyzu heran melihatnya dan bertanya. "Apa ini?" tanya Guyzu mengambil amplop dan uang itu.
"Itu gaji kita hari ini. bayak sekalikan? Hehehe, aku tidak menyangka dia akan memberikan sebanyak ini. Tapi aku mau yang di amplop itu, jumlahnya lebih banyak hehehe. Lagi pula dia memang menyerahkan yang diamplop itu padaku." ucap Minyan memanjangkan muncungnya.
"Apa ini dari Meunjo?" tanya Guyzu
"Tentu saja itu darinya, perusahaannya yang memberi pekerjaan ini padaku." jawab Minyan.
"Ambil," ujar Guyzu tak ingin menerima uang itu.
"Apa? Sebagian dari uang itu adalah gajimu, kausudah lelah bekerja seharian penuh. Lagi pula, bukannya kauyang meminta diberikan gaji?" ucap Minyan menegaskan.
"Tidak perlu," jawab Guyzu pendek.
Melihat tingkah Guyzu yang seperti ini sangatlah membuat Minyan kesal, apa lagi tadi siang Meunjo juga bertingkah seperti itu.
"Apa maksudmu?!! Kauingin aku memakan uang ini sendirian?!! Aku memang ingin memiliki uang yang banyak, tapi aku tidak ingin serakah akan uang, jadi ambillah," omel Minyan kesal.
"Tidak mau," jawab Guyzu lagi.
Itu membuat emosi Minyan naik hingga seratus persen. Tidak, bahkan sampai dua ratus persen.
__ADS_1
"DENGAR YA GUYZU, MAU TIDAK MAU KAU HARUS MENERIMA UANG INI. BAGAI MANA PUN INI HASIL KERJA KERAS MU." teriak Minyan blak-blakan.
"Ayolah Guyzu, tolonglah untuk membuatku lega sedikit." lanjut Minyan memeles.
Guyzu hanya terdiam dan menyederkan kembali kepalanya di senderan sofa sembari memejamkan matanya.
Melihat respon dari Guyzu, Minya bertambah stres dan mengacak-acaki rambutnya hingga benar-benar acak.
"Kepiting saus tiram," ucap Guyzu cepat yang masih memejamkan matanya.
Sontak Minyan berdecak mendengar itu. "Itu yang kau inginkan? Ha-hanya itu?"
"Cepat bawakan saja aku kepiting saus tiram," lanjut Guyzu masih memejamkan mata.
"Baiklah kalau kaumemang hanya butuh itu, tapi jangan meyalahkanku jika aku tidak akan meberimu uang itu lagi setelah ini." ujar Minyan sambil berdiri dan bersiap untuk pergi membelikan kepiting saus tiram untuk Guysu.
Sebelum Minyan pergi keluar, tiba-tiba saja dia teringat bahwa dia tidak tahu restoran kepiting saus tiram disekitar rumah Guyzu.
"Tapi, aku tidak tahu restoran kepiting saus tiram disekitar sini. Boleh tidak kau mengantarku? hehehe" Wajah memeles Minyan terlihat lagi.
"Itu sama saja aku yang membelinya sendiri," ujar Guyzu dengan mata melotot.
"Baiklah, karena aku memang ingin keluar, aku akan memakannya disana saja." lanjut Guyzu.
"Kita, akan pergi makan malam diluar?" tanya Minyan ceria.
"Makan malam? Ini makan siangku. Aku belum makan dari tadi siang." jawab Guyzu kesal.
"Senangnya" ujar Minyan tersenyum lebar.
"Kenapa kausebahagia itu?" tanya Guyzu.
"Bagaimana pun ini adalah makan malam berdua pertama kita," jawab Minyan kesenangan.
~Sesampainya di restoran~
"Wahhh, enak sekali... Aku baru kali ini memakan kepiting saus tiram, tidak kusangka ternyata rasanya seenak ini. Kepitingnya juga sangat merah. Nyummm," kata Minyan sembari menyantap kepiting itu.
"Benarkah, hahaha... reaksimu sama seperti aku waktu pertama kali memakan kepiting sua tiram." ujar Guyzu sambil melihat tingkah Minyan yang rakus.
Mereka sangat menikmatai makan malamnya. Setelah mereka menghabiskan makannannya, mereka pun berencana untuk pulang.
"Sudah siap? Ayo pulang," ajak Guyzu sambil berdiri.
"Emm, ayo pulang," jawab Minyan.
Tiba-tiba mata Minyan terarah pada sebuah botol hitam diatas meja dekat kasir itu.
Minyan langsung pergi ke arah botol itu dan menanyakannya pada kasir itu.
"Apa ini? Aku pernah melihatnya dibeberapa tempat. Aku melihat mereka minum dari botol ini kemudian mereka hilang kesadaran seperti orang gila." ujar Minyan sambil menunjuk botol itu.
"Apapun itu, aku mau satu. berapa harganya?" tanya Minyan seraya mengeluarkan uang dari tas kecilnya.
Guyzu langsung menarik tangan Minyan. "Apa yang kau lakukan?!! itu adalah bir, kau bisa mabuk meminumnya." jelas Guyzu memegang tangan Minyan.
"Ya sudah, aku cuman mau satu," jawab Minyan melepaskan tangannya.
"Oh, aku mengerti sekarang. Botol inilah yang kauminum sampai kaukehilangan kesadaran waktu itu. Yang aku kira kau meminum racun." lanjut Minyan.
"Sudahlah, Pak aku beli satuya," pinta Minyan pada kasir itu.
"Ayolah Guyzu, temani aku meminumnya." ucap Minyan seraya duduk kembali dimeja mereka tadi.
__ADS_1
Guyzu hanya menuruti perkataan Minyan saja. Itu karena dia malas berdebat di depan umum.
"Minumlah," sebut Minyan menawarkan pada Guyzu.
"Tidak mau. Kausaja yang minum," jawab Guyzu.
"Baiklah, mari kita cicipi bagaimana rasa racun ini. Kenapa Orang-orang begitu meyukainya?" ucap Minyan sambil meminum bir itu langsung dari botolnya.
Melihat Minyan langsung meminumnya dari botol, Guyzu langsung menarik botol itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa kaumenariknya? Aku bahkan belum meminum setetes pun" kata Minyan.
"Minumlah dari gelas, jika kaulangsung meminum dari botolnya kaubisa langsung mati karena minum terlalu banyak." jelas Guyzu sembari menuangkan bir itu pada gelas kecil yang telah di sediakan di meja itu.
"Minumlah secara perlahan." anjur Guyzu.
Kemudian Minyan melakukan tegukan pertama dari gelas kecil itu. Dan...
"Ahkhuk... uhuk... uhuk..." Minyan langsung terbatuk.
"Apa ini?!! Baunya sangat menyengat." Minyan.
"Begitulah rasanya bir." Guyzu.
"Tapi enak sih, terasa asam-asam dikit dilidah." kata Minyan sambil meneguk segelas lagi.
Minyan terus saja melakukan tegukan demi tegukan. sampai membuatnya mabuk bahkan benar-benar mabuk.
Minyan mulai bicara tidak jelas. Kepalanya mulai tidak tegak.
"Kenapa kaudari tadi tidak minum segelas pun? Bukannya kausangat menyukai racun ini?" tanya Minyan brantakan dengan kalimatnya yang tidak jelas.
"Sudahlah, kausudah mabuk. Ayo pulang," kata Guyzu seraya membantu Minyan berdiri.
"Tidak mau. Aku mau disini saja. Nampaknya disini sangat nyaman," jawab Minyan kembali duduk.
"Ayo, kausudah mabuk." Guyzu.
"Tidak mau, kalau kaumau pulang ya sudah pulang saja. Dasar anak kucing" jawab Minyan tidak menyadari apa yang dia katakan.
Melihat Minyan mulai tidak sadar dan mulai mengatakan semua perkataan yang ada diotaknya.
Kemudian Guyzu berniat untuk menanyakan sesuatu pada Minyan yang akan dijawab jujur olehnya ketika mabuk begini.
"Minyan, boleh kutanya satu hal?" ucap Guyzu.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja. Jangan bilang kauingin bertanya apa aku masih memakai segi tiga bermula itu. Haaa, aku tidak tahan memakainya, itu sangat ribet." kata Minyan tidak jelas.
Guyzu berdecak mengetahui ternyata selama ini Minyan tidak pernah memakai celana dalam.
"Tidak, bukan itu yang ingin kutanyakan. Aku ingin tahu sebenarnya apa hubunganmu dengan meunjo?" tanya Guyzu.
"Apa? Kenapa kaupenasaran dengan hubungan kami? Oh, apa kau meyukaiku? Hahahaha" ujar Minyan dengan pandangan kabur.
"Jawab saja"
"Kami hanya berteman, tapi kurasa Meunjo akan menembakku dalam waktu dekat ini. DDU DDU DDU" ucap Minyan sambil memperagakan gerakan tembakan.
Guyzu berdecak dan terkejut mendengar itu.
~Bersambung~
Jangan lupa like dan vote ya...
__ADS_1