
Ya... Guyzu adalah buronan Polisi itu, sebagai Depkolektor, tetapi dia bukanlah depkolektor biasa. Bisa dibilang dia adalah depkolektor lintah darat. Dikejar Polisi sudahlah biasa.
Mereka langsung berlari ke parkiran, masuk ke mobil dan bergegas pulang kerumah.
Untung saja tidak ada yang tahu.
Sesampainya di rumah..............
"Kenapa kita buru-buru pulang? Siapa yang tadi itu? Kenapa mereka mengejar kita? Apa yang terjadi?" tanya Minyan berulang kali.
Minyan memang selalu bertanya banyak, itu karena dia belum tahu apa-apa di dunia manusia ini. Tetapi itu membuat Guyzu risih dan tidak nyaman.
Guyzu tidak suka orang yang begitu ikut campur atas hidupnya, dia juga tidak suka orang yang banyak bicara dan banyak bertanya.
"Kau ini sangat banyak bicara ya,....mereka polisi dan mereka mengejarku. sudah puas?!!"
Guyzu membentak sedikit emosional dan pergi kekamar.
"kenapa dia? Dia kembali ganas," kata Minyan.
"Tapi yang direstoran tadi....... Kenapa jantungku berdebar?" lanjut Minyan sambil memegang letak jantungnya.
Setelah hari mulai malam, Guyzu keluar dari kamar dan melihat Minyan duduk di sofa sambil termenung. Dia juga melihat Minyan masih belum memakai baju yang mereka beli tadi.
"kenapa kaubelum ganti baju?........ soal yang tadi, tidak usah difikirkan," kata Guyzu sambil menggaruk kepalanya mengingat kajadian tadi siang dimana dia membetak Minyan.
"Bukan itu yang aku fikirkan, yang aku fikirkan kenapa tadi jantungku berdebar?" batin Minyan.
Guyzu mengambil kantong belanja tadi yang di letak di meja kemudian mengambil sepotong baju dan celana. "pakailah" Guyzu memberi baju itu pada Minyan.
Minyan mengambil baju itu dan pergi kekamar untuk memakainya dengan wajah lesu.
Setelah Minyan masuk kekamar, Minyan membuka pintu sedikit dan mengeluarkan kepalanya dari rongga pintu itu dan berkata.
"Bagaimana dengan segitiga bermula tadi? Kau bilang semua orang harus memakainya,"
"I-i-iya kau memang harus memakainya," Guyzu.
"Yasudah berikan benda itu padaku kaubelum memberi benda itu padaku," Minyan.
"Aku belum memberinya padamu ya?" Kata Guyzu sambil mengambilkan benda itu dari kantong belanja tadi.
"Ini pakailah" Guyzu
Minyan menerimanya dan menutup kamar, tak lama kemudian dia membuka pintu sedikit dan mengeluarkan kepalanyan lagi.
"Bagaimana cara memakai yang ini?" tanya Minyan sambil menunjkan Buste Houder/BH
"Ahkkk... kenapa kau menunjukkan yang itu? Mana ku tahu," Guyzu.
"Jadi untuk apa kita membeli ini?" Minyan.
"M-m-mungkin mereka memakainya dibagian dada," Guyzu.
"Dibagian yang mana?" Minyan.
"Ya-ya-ya di dada," Guyzu
"Di dada yang mana?" Minyan
"Di-di-dibagian yang ada itunya," Guyzu.
"Itunya apa?" Minyan.
"Begini saja, menurutmu benda itu mirip dengan apa? Yang ada di badanmu," Guyzu.
Minyan berfikir sejenak.
"Aaaaaaaa... Ternyata manusia membuat ini untuk bagian payudara?!" teriak Minyan terkejut.
"I-i-iya, begitulah," sambung Guyzu.
__ADS_1
"Lalu yang segitiga ini dipakai di bagian mana?" tanya Minyan.
"Akan sangat sulit jika aku mejelaskannya, mendingan langsung kuberi tahu saja namanya," Batin Guyzu.
" Itu dipakai dibagian **********!!!!!!!" kata Guyzu.
"Aaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!! Memalukan sekali," teriak Minyan.
Setelah memakai semua pakaian yang dibutuhkan, Minyan pun keluar dari kamar.
Betapa terkejutnya Guyzu melihat penampilan Minyan sekarang.
"I-i-itu benar kau?" tanya Guyzu.
Seorang wanita tomboy sudah kembali menjadi Dewi cantik. Itu istilah yang cocok diberikan pada Minyan.
"Guyzu kenapa baju ini pendek sekali?" tanya Minyan.
"Tidak, itu hanya diikat dibagian bawahnya agar perutnya terlihat sedikit. Itu masih bisa di buka, tenanglah," ujar Guyzu.
"Aku pulang," suara Paman terdengar dari pintu depan.
Setelah Paman masuk kedalam rumah, Paman juga terkejut setelah melihat penampilan Minyan.
"Wah, wah, wah ternyata dirumah ini sedang kedatangan seorang bidadari cantik hahaha," kata Paman sambil tertawa.
"Baiklah mari kita makan, Paman sudah bawakan makanan dari luar," lanjut paman
Paman pun menghidangkan makanan di meja makan.
"Selamat makan," ujar Minyan
Kelihatannya Minyan sudah semakin akrab dengan mereka, apalagi kalau tentang makanan. Sepertinya Minyan sangat menyukai makanan didunia manusia.
"Sssst...... Ssssst....... Ssssst....."
Ponsel Guyzu bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Dia melihat ponselnya. Ternyata pesan itu adalah tagihan kartu kredit.
"Apa?" Minyan kaget.
"KARTU TADI,,,,, KARTU ITU,,,,, KAU MENGGUNAKANNYA SANGAT BANYAK.
APA YANG KAU BELI....... KAU MENGHABISKAN UANG KU," Guyzu
"Aku hanya membeli celana dalam yang kau suruh," jawab Minyan kebingungan.
"KAUMEMBELI CELANA DALAM BERMEREK INTERNATIONAL.......ITU SANGAT MAHAL!!" Guyzu.
"Tenaglah, memangnya berapa yang dia habiskan? Berapa haraga celana dalam itu?" Tanwya Paman santai.
"HARGA CELANA DALAM ITU BAHKAN LEBIH MAHAL DARI MOBIL YANG BARU KU BELI ITU" Guyzu.
"ahkhuk... huk... huk.. " Paman Tieh tersedak mendengar itu.
"Le-le-lebih mahal dari mobil?" PamanTieh heran seribu heran.
"SEBENARNYA AKU SUDAH MENCURIGAINYA, KENAPA KAU BISA SEGAMPANG ITU MEMBELI CELANA DALAM ITU, ..." Guyzu.
"Aku hanya meminta diambilkan pakaian dalam wanita pada seorang pekerja di mall itu tadi," jelas Minyan.
"ITU DIA.....KAU DITIPU OLEH PEKERJA ITU, DIA MEMBERIMU MEREK PAKAIAN DALAM TERMAHAL SEDUNIA......... " Guyzu.
"Uangku............ " kata guyzu dengan suara dan raut wajah lemas.
Tak lupa Guyzu pun membicarakan soal kejadian di mall tadi. " Paman, terimakasih soal yang tadi. Paman sudah mengirimku pesan kalau mall itu akan didatangi polisi. Sekali lagi Paman menolongku,"
"Ah, tadi aku ingin bertanya. Apa itu polisi?" tanya Minyan.
"Polisi adalah penjaga keamanan negara," jawab Paman singkat.
"Lalu kenapa mereka mengejar Guyzu? Apa yang dilakukan Guyzu? Sampai membuat mereka harus mengejar Guyzu?"
__ADS_1
Tiba-tiba Guyzu kehilangan selera makan dan pergi kekamar. Itu wajar saja, karena Guyzu tidak ingin orang lain mencampuri dan mengetahui semuanya tentang dirinya. Apalagi kalau itu membahas tentang pekerjaannya. Termasuk Minyan,
"Dia melakukannya lagi," kata Minyan dengan suara kecil.
"Guyzu sebenarnya orang baik, semenjak ibunya meninggal dia menjadi lebih tertutup dan dingin pada orang lain," jelas Paman.
"Oh jadi itu yang membuat dia menjadi seperti itu," batin Minyan.
"Tapi kenapa dia tidak mau membicarakan pekerjaannya? Apa dia malu dengan pekerjaannya?" tanya Minyan pada Paman.
Paman menjelaskan sedikit tentang kehidupan Guyzu. " Semenjak ibunya meninggal, Ayahnya tidak pernah memerhatikan Guyzu. Ketika hari kelulusan, Ayahnya tidak datang sama sekali untuk melihatnya. Ayahnya sibuk dengan bisnisnya. Setiap hari Ayahnya hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Sampai-sampai Ayahnya lupa kalau dia masih punya anak untuk diurus. Itu membuat Guyzu menjadi seseorang yang tidak peduli terhadap orang lain. Dia mulai tinggal bersamaku saat dia memutuskan untuk kabur dari rumah. Dan tentang pekerjaannya, dia akan melakukan semua hal untuk mendapatkan uang banyak selain mencuri. Ambisinya adalah mengalahkan Ayahnya dan membuat Ayahnya berlutut padanya. Itu memang sangat aneh, tapi itulah yang ingin dilakukan Guyzu,"
Minyan masuk ke kamar untuk tidur. "Hhhhhhhh" Minyan menarik nafas. "Hari ini aku melakukan banyak hal, aku juga mendengar banyak hal.... Hhhhhh" ujar Minyan sambil menarik nafas lagi.
"Tapi.... Hhhh kenapa aku selalu memikirkannya? Dan kenapa jantungku berdebar? Apa ini?"
.....................................................
"Guyzu..............!!!!!!!!!!!!!"
"Guyzu bagunlah!!!!.... Apa kauingin tidur selamanya?.......baiklah tidurlah untuk selamanya!!!" teriak Paman membangunkan Guyzu sambil memasak untuk sarapan pagi.
Minyan keluar dari kamar. "Dia belum bangun?..... Paman tidak tidur terlalu semangatkan semalam?" tanya Minyan.
"M-mu-mungkin saja," jawab Paman sedikit malu.
Guyzu keluar dari kamar dengan mata mengantuk, sweter kusut dan wajah murung.
"Kausudah bangun?" Minyan.
"Jangan bertanya," Guyzu.
"Minumlah.....Air hangat akan membuatmu segar," kata Minyan sambil memberinya segelah air hangat.
"Aku sudah tidak tahan tidur denganmu!" kata Guyzu melihat Paman.
"Hey.... Baru dua hari, sudah tidak tahan," balas Paman.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur di sampingmu," Guyzu.
"Kau ini....... Mau tidak mau kauharus menerima semuanya dengan lapang dada" Paman Tieh.
"Tapi aku tadinya punya kamar sendiri, gara-gara dia...," Guyzu.
"Gara-gara siapa? Kauyang menerima Minyan pertama kali masuk ke rumah ini, jadi kautidak boleh mengganggu gugatnya lagi. Kami hanya melaksanakan perintah darimu," Paman Tieh.
"PAMANNNNNNNNNNN," teriak Guyzu terpojok.
"Selamat makan," Minyan.
"Wah,... Masakan Paman selalu enak-enak, aku jadi tidak bisa berhenti makan," kata Minyan sambil memakan makanannya.
Sebenarnya Paman sangat terpuji dengan kata-kata itu. Dia selalu menyombongkan diri di dalam hatinya, tetapi dia selalu merendah di hadapan orang lain.
"Tentu saja enak, masakanku bahkan lebih enak dari masakan koki ternama" batin Paman Tieh.
"Eee, biasa saja. Aku hanya memasak dengan seadanya" ujar Paman Tieh.
Sementara itu Guyzu langsung pergi ke kamar mengganti baju, lalu pergi keluar.
"Kemana dia?" tanya Minyan dengan mulut penuh makanan.
"Mungkin dia ada urusan," Jawab Paman
"Apa dia pergi gara gara aku?" tanya Minyan.
"T-te-tentu saja tidak, dia mungkin hanya ada urusan mendadak saja," kata Paman Tieh tak ingin membuat Minyan cemas
~Bersambung~
jangan lupa like dan vote ya...
__ADS_1