
"Setelah itu kau mau kemana?" tanya Meunjo.
"Aku akan pergi ke kantor Paman Tieh mengantar kue ini," Minyan.
"Mari kuantar" kata Meunjo sambil mengambilkan kunci mobil dari sakunya.
"Tidak usah, aku sudah sering merepotkan mu."
"Tidak apa-apa, ayolah. Jika kaumenolak, maka aku berhenti berteman denganmu, " kata Meunjo beranjak ke arah parkiran toko rotinya itu.
Minyan mengikutinya dengan wajah kusut. "Kenapa kau sangat baik padaku?" wajah kusut itu terlihat lagi.
Meunjo membukakan pintu mobil pada Minyan. Membuatnya merasa seperti ratu inggris.
"Ah, kau ini. Itu tidak perlu, kau mebuatku tidak nyaman."
"Benarkah hahaha."
"Bummsssssssssssttt" suara mesin mobil terdengar. Mereka pergi menuju kantor Paman Tieh.
Semua berjalan lancar. Minyan memberi kue itu pada Paman dan langsung pergi. Meunjo mengajaknya makan siang bersama, dan Minyan tidak enak menolaknya.
Ketika di restoran mereka berbincang banyak seraya menyelipkan lelucon dan senyuman kecil di tengah perbincangan mereka.
Namun Guyzu datang berniat untuk makan siang juga di tempat itu.
Tak sengaja dia menoleh kekanan dan melihat Minyan sedang asik berbincang seraya menyantap makanannya. Dia juga melihat pria yang duduk di sebrang meja Minyan itu adalah Meunjo. Seketika Guyzu menjadi emosi dan langsung menghampiri mereka berdua.
"Minyan?"
"G-guyzu?"
Seketika suasana menjadi tegang dan seram.
"Harus berapa kali kubilang pada mu jangan menemui dia lagi!!!!" kata Guyzu dengan marah. Matanya melebar dan alisnya terangkat.
"Dia hanya membantuku saja tadi," jawab Minyan heran.
"Membantu apa?!!! Apa kautidak boleh melakukannya sendiri?!!!" lanju Guyzu.
"Tenaglah. Jangan terlalu emosi," kata Meunjo berdiri menatap wajah Guyzu.
"Kau ini. Kenapa kauterus mencampuri urusan yang bukan urusanmu?!!!!!" suara Guyzu mulai melengking.
"Urusanku? Kau yang harusnya tidak mencampuri yang bukan urusanmu!," jawab Meunjo menentang Guyzu.
"Kau fikir kau siapa? HAAA!!! " Guyzu.
"Guyzu sudahlah," kata Minyan pada Guyzu sambil berdiri.
__ADS_1
"Diam!!!!!" Guyzu mendorong Minyan hingga terduduk lagi di kursi meja itu.
"Jangan mendorong wanita, kausangat kasar," kata Meunjo sambil memeriksa keadaan Minyan.
"Aku bilang jangan menyentuhnya!!!!!!!!!!"
"Memangnya kenapa?!! Memangnya kenapa kalau aku menyentuhnya. Kenapa aku harus mendengarkanmu?!! Kau bukan siapa-siapanya Minyan. Kau adalah lelaki yang hanya berani memarahi dan mendorong wanita saja. Apa aku salah?!!!!!
Sontak Guyzu tersulut emosi dan langsung memukul Meunjo dengan tangan dikepal erat. Pukulan itu mengenai wajah Meunjo.
Tidak terima akan pukulan itu Meunjo lalu membalasnya. Pertengkaran antar lelaki tak terhindarkan lagi. Mereka saling memukul satu sama lain sampai-sampai menarik perhatian semua pengunjung restoran itu.
Mereka bertengkar hebat sampai-sampai menumpahkan darah. Darah itu menetes kelantai dan memercik mengenai kaki Minyan.
Sontak Minyan bedecak kaget. Takut kalau sampai dia berubah menjadi Rubah di tengah orang banyak.
Seolah paham akan situasi itu Meunjo langsung menarik tangan Minyan dan membawanya kekamar mandi.
Minyan masuk kekamar mandi tidak lama kemudian dia berubah menjadi Rubah.
Sekali lagi Minyan terselamatkan oleh Meunjo. Entah dari mana Meunjo memiliki naluri itu.
Sementara itu Guyzu dibawa pergi oleh satpam keluar restoran dan diusir pergi.
Sepuluh menit berlalu, Minyan kembali berubah menjadi manusia lagi. Ia pun keluar dari kamar mandi itu.
Ketika ia keluar, ia mendapati Meunjo yang terduduk dilantai bersandar di dinding kamar mandi itu dengan wajah lebam.
"Kau terluka. Kita harus mengobatinya"
Minyan langsung mengulurkan tangannya membantu Meunjo berdiri dan membantunya berjalan.
"Kautidak apa-apa? Apa kau sanggup berjalan?" tanya Minyan mengerutkan dahinya pertanda dia sangat khawatir.
"Kita pulang saja. kita akan kerumahmu dulu untuk mengobatimu! Apa kau sanggup menyetir?" ucap Minyan.
Meunjo tersenyum kecil dan mengangguk.
Sesampainya di rumah Meunjo, Minyan langsung memintakan semangkok air hangat dan satu handuk kecil pada asisten rumah tangga di sana.
Minyan pun membersihkan luka lebam Meunjo dan mengompresnya.
"Awwww....Pelan-pelan Minyan sakit sekali. Awww" jerit Meunjo menahan rasa sakit dari luka lebam itu.
"Kenapa sih kalian harus bertengkar? Gara-gara aku? Aku peringatkan kau ya, jangan pernah bertingkah bodoh seperti ini lagi!!! Kauharus mengutamakan keselamatan mu!!!" Minyan.
"Memangnya kenapa? Aku hanya menegakkan keadilan saja. Apa itu salah? Kata pepatah, kita harus berani mengatakan yang benar," Meunjo.
"Tapikan ini masalah sepele." Minyan.
__ADS_1
"Meskipun sepele, tapi kita tetap harus menegakkannya." Meunjo.
Tiba-tiba Minyan teringat ketika ia ingin berubah menjadi rubah tadi. Yang dengan tiba-tiba Meunjo membawanya ke kamar mandi.
"Meunjo, bo-boleh kutanya satu hal?" Minyan.
"Tanya saja." Meunjo.
"I-itu, yang tadi kenapa kau tiba-tiba menariku ke kamar mandi?" gugup Minyan bertanya.
Spontan mata Meunjo terbuka lebar karena terkejut akan pertanyaan itu.
"Oh, itu. A-aku merasa tidak tahan lagi beradu fisik dengan Pria bagkeㅡ maksudku Guyzu, jadi aku melarikan diri saja." Meunjo mencari alasan.
"Ohh... aku pikir tadi itu kau... Hhhh lupakan saja." Minyan menenangkan diri agar tidak keceplosan.
"Oh iya aku harus pulang, mungkin Guyzu sudah menunggu ku dirumah," kata Minyan sambil mengambil dan memakai tas sampingnya.
"Sini ku antar." ucap Meunjo.
"Tidak perlu, beristirahatlah. lagi pula kalau nanti Guyzu melihatmu, nanti kalian bisa bertengkar lagi."
"Begitu ya... "
"Aku pergi..."
"Ternyata pria ingusan itu lebih keras dari yang kukira. Ini tidak akan mudah" batin Meunjo.
"Aku pulang," ucap Minyan sambil membuka pintu dan melihat Guyzu duduk menunduk di meja makan.
"Gu-Guysu"
"Dia bukan pria baik. kalau kauingin selamat, jauhi dia," kata Guyzu singkat dan masuk ke kamar.
"Apa? Dari mana dia tahu kalau Meunjo bukan pria baik? Dia bahkan tidak pernah bertemu dengannya selain di toko ponsel itu. Dasar sok tahu," ucap Minyan tidak percaya pada perkataan Guyzu.
"Entah dari mana datang firasat ini, tapi instingku mengatakan pria itu hanya memanfaatkan Minyan saja," batin Guyzu gelisah.
Sementara itu Meunjo di rumahnya tengah membuat strategi baru.
"Aku butuh rubah itu untuk rencanaku selanjutnya. Tapi ini tidak akan mudah, pria ingusan itu akan menghalangi rencanaku. Jika aku semakin keras menyingkirkan pria ingusan itu, Dia akan semakin keras untuk melawan. Sssstttt...... Sepertinya dia memiliki perasaan pada Minyan. Ya... aku dapat memanfaat kannya, hahaha... Bukan aku yang akan menyingkirkannya, tetapi perasaannya yang akan menyingkirkannya."
Minyan terlihat gelisah di kamarnya. Dia berfikir tentang peristiwa yang membuatnya tiba-tiba berubah menjadi Rubah.
"Seharusnya aku lebih berhati-hati lagi. Bagaimana kalau aku sampai ketahuan orang banyak? Haaaaa Tidak, tidak itu tidak boleh terjadi."
"Tapi tingkah Meunjo semakin aneh saja... Seakan-akan dia tahu kalau aku adalah seekor Rubah," Kata Minyan sambil mengingat kejadia waktu ia memasak bersama Paman dan juga kejadian barusan di restoran.
"Meunjo.......... Aku tidak akan lengah," batin Minyan.
__ADS_1
~Bersambung~
Jangan lupa like dan vote ya...