Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 20


__ADS_3

Minyan berdecak kaget. "Apa harus sampai segitunya?"


"Apa maksudmu? Tentu saja harus sampai segitu . Bagaimana bisa kekasihku tinggal satu atap dengan pria lain. Pokoknya aku akan menjemputmu besok, ingat itu."


Minyan hanya terdiam dan masuk kerumah.


__________________________________________


~Siang hari~


Guyzu mempersiapkan diri untuk mengutarakan perasaannya pada Minyan. Tapi itu tidak akan mudah, karena dulu mereka sering saling berantam dan saling membuat kesal.


Guzyu juga masih mempertimbangkan apakah dia akan megutarakan perasaannya sekarang atau tidak. Dia gugup dan merasa malu pada dirinya sendiri.


Maklum saja, ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Itu pun dengan gadis yang dulu ia benci. Akan sangat sulit baginya untuk megutarakan perasaannya.


Dengan segenap jiwa dan tenaga, Guyzu memberanikan diri pergi menemui Minyan dikamarnya, karena Minyan dari tadi belum keluar dari kamarnya.


Guyzu mengetuk pintu perlahan " Tok... Tok... Tok..."


"Masuklah," jawab Minyan dari dalam kamar itu.


Guyzu membuka pintu dan melihat Minyan sedang mengemasi barang-barangnya, termasuk pakaiannya kedalam koper besar.


"Kaumau pergi kemana? Kenapa membawa semua pakaian?" tanya Guyzu bingung dengan tingkah Minyan.


Guyzu juga melihat cincin manis tersemat dijari Minyan.


"Aku... Aku... Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan menginap dirumah meunjo mulai hari ini. Kautidak perlu khawatirkan aku. Mulai sekarang, kita tidak akan bertemu lagi. Aku tidak akan membuatmu kesal dan jengkel lagi. Tolong maafkan aku yang selama ini telah membuatmu jengkel dan kesal. Aku juga berterimakasih atas semua yang telah kauberikan padaku. Aku sangat ingin membayarnya, tapi aku tahu kau tidak akan menerimanya. jadi tolong maafkan aku. Dan tolong pinjamkan koper ini padaku, jika aku sudah sampai dirumah meunjo aku akan megembalikan kopermu ini. Sekali lagi, terimakasih atas semuanya," papar Minyan mengucapkan semua yang ada dibenaknya dan ucapan selamat tinggal pada Guyzu.


Guyzu hanya terdiam mendegar semua pemaparan Minyan. Dengan tatapan kosong dan hampa, dia menatap Minyan mematung.


Minyan membawa koper itu dan pergi. Katika Minyan melewati Guyzu, persis dari samping Guyzu, Guyzu menahan Minyan dengan memegang tangannya.


Dengan tatapan tetap kedepan tanpa menoleh kesamping untuk melihat wajah Minyan, Guyzu berkata. "Kenapa? Apa aku membuatmu serisih itu? Sampai kauharus meninggalkan rumah ini? Aku memang kesal dan benci padamu. Tapi aku tidak pernah ingin mengusirmu dari rumah ini. Kautahu kenapa aku tidak pernah ingin mengusirmu dari rumah ini?... Itu karena,... Itu karena aku menㅡ" Guyzu berhenti bicara.


"Aku sudah resmi menjadi kekasih Meunjo, jadi tolong lepaskan aku." jawab Minyan kosong.


Spontan Guyzu langsung melepaskan genggamannya dan membiarkan Minyan pergi.


"Selamat tinggal," ucap Minyan lalu pergi.


Minyan keluar dari kamar itu menuju kepintu depan, ketika melewati ruang tengah Minyan melihat Paman Tieh sedang duduk santai disana.


"Paman..." panggil Minyan.

__ADS_1


"Minyan, kenapa kaumembawa koper? Apa kauingin pergi dari sini" tanya Paman Tieh penasaran.


Minyan mengangguk kecip dan tidak disangka air mata yang sedari tadi ditahannya menetes membasahi wajahnya.


"Aku akan tinggal dirumah Meunjo mulai hari ini. Dia adalah kekasih baruku. Terimakasih atas semuanya Paman, terimakasih telah menjagaku dan terimakasih telah menganggapku sebagai anggota keluargamu," isak Minyan ditangis itu.


"Ta-tapi, bagaimana dengan Guyzu?" Paman Tieh bertanya khawatir.


"Kami sudah bicara, Paman tidak perlu khawatir," jawab Minyan.


"Paman... Tolong lepaskan aku... " tangis Minyan meminta pada Paman Tieh.


"Apa maksudmu? Tidak mungkin aku menahanmu disini." jawab Paman tieh sedih.


"Sekali lagi terimakasih Paman," ucap Minyan memeluk Paman dengan tangis tersendu.


Paman Tieh membalah pelukan Minyan itu dengan hangat dan penuh kasih sayang.


Tak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.


"Tintt... Tintt... Tintt..."


"Mungkin itu meunjo, aku harus pergi sekarang." ucap Minyan sembari membawa koper besarnya.


Minyan membuka pintu depan itu dan melihat ternyata Meunjo sudah menunggu didepan pintu itu.


Minyan mengisak tangisnya dan berkata. "Ayo pergi."


"Ok, sini kubawakan" ujar Meunjo membawa koper itu.


"SIAPA PUN YANG ADA DIRUMAH INI, TERIMAKASIH TELAH MENJAGA PACARKU SELAMA INI" teriak Meunjo. Kemudian mereka pergi dari rumah itu.


~Dirumah Meunjo~


"Kamarmu ada dilantai dua, sana masuklah kekamarmu. Kalau kamu butuh bantua, kamu boleh memanggilku dilantai satu. Kamarku ada dilantai satu. Kamu juga boleh meminta bantuan pada asisten rumah tangga yang ada disini." ucap Meunjo memberi tahu lokasi kamar Minyan.


"Emmm" jawab Minyan dengan tatapan kosong dan masuk kekamarnya dilantai dua.


Minyan masuk kekamar itu dan memandangi seluruh sudut kamar itu. Dia melihat kamar yang begitu luas, mewah, dan dipenuhi dengan hiasan-hiasan mahal.


Itu berbeda jauh dengan kamar Guyzu yang sederhana dan apa adanya. Bukan karena Guyzu tidak punya uang atau pelit. Tapi karena itulah tipe Guyzu.


Sementara itu dirumah Guyzu dan Paman Tieh, Guyzu kelihatan lesu dengan tatapan kosong duduk dimeja makan.


Paman Tieh sangat mencemaskan keadaan Guyzu. "Kau baik -baik saja...? Kaukelihatan tidak seperti makhluk hidup." ujar Paman Tieh.

__ADS_1


"Berhentilah bercanda," ucap Guyzu dengan tatapan kosong dan suara pelan bahkan benar-benar pelan.


"Makanya, sedari dulu kauitu tidak boleh jahat padanya. Lihatlah, sekarang dia pergi meninggalkanmu." kata Paman Tieh sambil meminum segelas air putih.


"Berhenti menceramahiku," Guyzu.


"Siapa yang menceramahimu?!!! Aku hanya ingin bilang kalau ini semua salahmu. Sudah kubilang, kalau kautidak ingin dia pergi, berarti kauharus menerimanya disini," Paman Tieh.


"Dia pergi bukan karena aku... Tapi dia pergi karena Meunjo. Pacar barunya." Guyzu.


"Entahlah, tapi aku merasa mereka tidak saling mencintai. Mereka sangat tidak cocok." Paman Tieh.


"Apa maksud Paman, jelas-jelas Minyan memakai cincin dijarinya. Apa itu masih kurang jelas?" Guyzu.


"Ya, kaubenar... Aku sangat benci melihat orang putus asa sepertimu." Paman Tieh.


Malam pun tiba. Waktunya makan malam. Dirumah Meunjo, Meunjo sedang memanggil Minyan dari kamarnya.


"Minyan....!!! Turunlah... Ayo makan malam." panggil Meunjo dari lantai satu.


Minyan pun turun dari lantai dua dan memasuki ruang makan. Dia duduk disamping Meunjo. Di sana telah terhidang banyak makanan yang enak-enak. Namun Minyan tidak melihat para asisten rumah tangga itu disana.


"Kenapa hanya kita berdua?" Minyan.


"Oh... Ayahku sedang ada urusan bisnis diluar negri. Entah kapan dia akan pulang. Jadi hanya kita berdua yang berada disini" Meunjo.


"Bukan itu, Tapi para asisten rumah tangga itu. Dimana mereka? Apa mereka tidak makan? Mereka tidak lapar?" Minyan.


"Mereka hanya asisten rumah tangga. Mereka tidak cocok makan bersama kita. Jangan khawatir, mereka juga sedang makan malam dibelakang." Meunjo.


"Kanapa begitu? Mereka juga manusiakan? Kanapa harus membeda-bedakannya? Apa kaupunya alergi makan bersama banyakㅡ" Minyan.


"CUKUP MINYAN." potong Meunjo.


"Ini rumahku, terserahku ingin membuat peraturan apa dirumahku. Yang perlu kaulakukan adalah bernafas dan tontonlah semua yang terjadi. Kaumembuat selera makanku menghilang." ujar Meunjo lalu pergi meninggalkan Minyan.


"Ahkkk... Huk... Huk... Apa itu tadi? Dia sangat berbeda dengan Guyzu." Minyan.


_________________________________________


~Pagi hari dirumah Meunjo~


"Apa ini?!! Kenapa kutukannya belum hilang? tadi malam aku masih berubah menjadi rubah. Padahalkan aku sudah mendapatkan cinta sejatiku. Atau kutukannya belum hilang karena aku belum mencium Meunjo?! Bisa juga karena aku belum menikah dengannya?!" ucap Minyan sendirian dikamarnya.


~*Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya*...


__ADS_2