Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 1


__ADS_3

"Fix Besok kita pergi belanja," ujar pria itu sambil duduk.


"Aku pulang," kata seorang pria yang satu lagi datang dari pintu depan.


"Oh... Paman sudah pulang," kata pria itu sambil membukakan pintu untuknya.


Pria yang baru datang itu masuk dan melihat seorang wanita duduk di kursi meja makan.


"Wah... Kamu sudah sadar?" tanya pria yang baru datang itu.


"Haa.. Bapak mengenal saya?" jawab Minyan terkejut setelah mengetahui pria yang baru datang itu ternyata mengenalnya.


"Jangan terlalu formal, panggil saja saya paman...." sahut pria yang baru datang itu tidak nyaman.


"Paman dan Guyzulah yang membawamu ke sini, kautidak tahu? semalam kaupingsan ditengah hutan". jelas pria yang baru datang itu.


"Jadi Guyzu belum mengenalkan paman padamu?" tanya pria yang baru datang itu lagi. "Aihhh... Kenapa kaubelum memperkenalkanku padanya," kata pria yang baru datang itu sambil menepuk punggung pria itu.


"Guyzu?" sebut Minyan pelan.


Mendengar itu pria yang baru datang itu bertanya. "Jadi kalian juga belum berkenalan?" semua hening tidak ada yang menjawab.


"Baiklah tahap perkenalan kita mulai," ujar pria yang baru datang itu sambil memberi isyarat jari pada semua orang untuk duduk dimeja makan.


"Nama Paman Tiehyok, panggil saja Paman Tieh. Paman berumur 46 tahun. Paman bekerja sebagai petugas Kepolisian. Itu sebabnya Paman tidak punya banyak waktu untuk bermain dan yang paling penting Paman masih singgel... Hahaha," kata pria yang baru datang itu memperkenalkan diri, sambil tertawa sedikit. Tawa Paman Tieh sangat besar dan berat itu mengganggu pendengaran orang lain. Terutama Guyzu yang telah tinggal bertahun tahun dengannya.


"Apa enaknya jadi singgel? Dia selalu membanggakan status singgelnya," sahut pria itu ketus dengan sangat pelan. Namun masih bisa didengar dalam jarak dekat, dan Paman Tieh mendengar itu. Sontak Paman Tieh menginjak kaki Pria itu dan berkata


"Sekarang giliranmu Zu"


"Ahh..." suara jeritan kecil keluar dari mulut pria itu.


"Namaku Guyzu panggil saja zu," kata pria itu memperkenalkan diri dengan ketus.


Menganggap itu masih kurang lengkap Paman Tieh mengomentari. "Harusnya kau memperkenalkan diri lebih lengkap, seperti umur dan status, biar jelas...


Haaaa kau memang tidak pernah jelas,"


"Namaku Guyzu panggil saja aku Zu. Aku berumur 23 tahun, aku baru lulus kuliah, dan bekerja sebagai sebagai depkolektor. Sudah jelas?" tanyanya dengan meninggikan sedikit suaranya.


Wajar saja dari tadi dia sudah stres melihat Minyan.


"Sssss sibodoh ini, kautidak perlu mengatakan yang itu." ujar Paman melirik Guyzu dengan tajam.

__ADS_1


"Sekarang giliranmu nona," Paman Tieh mangatakannya dengan penuh kelembutan.


"Namaku Minyan panggil saja aku Dewi Min....." Minyan berheti bicara dan tersadar bahwa ini bukan di khayangan terlebih lagi sekarang dia bukan lagi Dewi, dia hanya seekor Rubah. Dan orang lain tidak boleh mengetahui bahwa dia adalah seekor Rubah.


"Eeeee.... Panggil saja aku Min," lanjut Minyan pelan.


Paman Tieh menyahut. "Hahaha aku pikir tadi kau bilang kalau kau adalah Dewi hahaha," tawa itu terdengar lagi.


"Tapi kau juga cocok dipanggil Dewi, karena kau sangat Cantik hahaha," lanjut Paman Tieh dengan mengeluarkan tawa itu lagi.


Minyan hanya menangguk kecil sambil menundukkan kepala


"Hhhh ketawanya sangat seram," omel Guyzu pelan. Setelah menunggu agak lama, Minyan kelihatannya tidak melanjutkan perkenalan dirinya, lalu Paman Tieh berkata. "Aihhh kau sama seperti Guyzu, sangat tidak jelas, lanjutkanlah memperkenalkan diri seperti umur dan pekerjaan,"


Minyan menganguk dan melanjutkan perkenalannya. "Aku tidak tahu umurku berapa karena kami tidak pernah menghitungnya di khaya... Eeeee...di dunia ini," hampir saja Minyan mengatakan khayangan.


"Aku tidak punya pekerjaan," lanjut Minyan menunduk.


"Iya, dia bahkan tidak punya keluarga. Apalagi uang," sahut Guyzu ketus.


"Apa? Kamu tidak punya keluarga? Kamu juga tidak punya uang? Berarti kamu juga tidak punya rumah," ujar Paman setelah mendengar perkataan Guyzu.


Lalu Guyzu menjawab. "Tentu saja tidak, karena itu tadi dia mengemis-ngemis padaku agar dia boleh tinggal disini,"


Sontak Minyan berinisiatif. "Aku boleh berbagi kamar dengan Guyzu, badanku kecil dan ramping, aku tidak akan memakan banyak tempat,"


"Seenekanya saja kau. Hey.. Kalau kauingin tinggal disini itu berarti kau harus menuruti semua perintah kami, dan aku memerintahkanmu untuk tidur diruang tamu," jawab Guyzu memberontak karena tidak ingin berbagi kamar dengannya.


Tiba-tiba Minyan terfikir suatu hal. "Tunggu, jika aku tidur di ruang tamu, berarti aku akan berada di ruang tamu pada malam hari. Dan aku akan berubah menjadi seekor Rubah, bisa-bisa nanti mereka tahu kalau aku adalah seekor Rubah, tapi kalaupun aku tidur di kamar Guyzu aku juga akan ketahuan haaaa........" guramnya dalam hati.


Minyan sangat takut jika ada Manusia yang tahu bahwa dia adalah seekor Rubah.


"Nona tapi jika Pria dan Wanita sekamar itu tidak bagus, begini saja nanti kamu tidur dikamar Guyzu, Guyzu akan pindah kekamar Paman," Paman mengataknya dengan suara pelan.


Minyan berguram dalam hati. "Kenapa dia? kenapa dia tahu keperluanku?, apa dia bisa membaca fikiranku? Apa dia tahu aku seekor Rubah?"


"Aku tidak mau pindah dari kamar ku. Lagi pula aku tidak mau sekamar dengan paman. Paman tidur sangat lasak, paman juga mengorok dengan sangat kuat. Aku tidak akan bisa tidur sekamar dengan paman," papar Guyzu dengan tegas.


"Aku setuju," respon Minyan, menanggapi pendapat Paman.


"Apa? Lagi-lagi kaubertindak Seenaknya. Kaufikir ini rumah siapa? Kenapa jadi kau yang mengambil keputusan," jawab Guyzu sambil menatap tajam mata Minyan.


"Hey, tidak boleh begitu, kauharus berbaik hati sedikit kepada orang lain," kata Paman. "Kaujuga pernah dibantu orang lain, bagaimana ketika kaubutuh bantuan dan tidak ada orang yang mau membantumu?" lanjut Paman pada Guyzu.

__ADS_1


Guyzu langsung teringat dengan kebaikan yang telah dilakukan Paman padanya, dimana paman sudah sangat sering meloloskannya dari kejaran polisi. paman juga sudah seperti Ayah baginya. Itu karena Ayahnya tidak pernah memperhatikannya.


"Ya udah.... Aku mau tidur dengan Paman," kata kata itu keluar dari mulut Guyzu dengan kepala menunduk dan nada pelan sedikit ketus dan terpaksa.


Mendengar itu Minyan sangat senang dan berkata. "Benarkah? Kautlh.kserius? Aaaaaaaa trimakasih, trimakasih, trimakasih, trimakasih,"


"Udah ngga usah lebay," balas Guyzu.


Paman lega dengan keputusan itu. "hhhhhh akhirnya rapat ini selesai..." kata Paman sambil menoleh ke belakang melihat jam dinding. "Ga terasa ternyata ini sudah jam 8 malam, apa kalian sudah makan? Haaaaa, Paman lupa membawa makanan dari luar," ujar Paman sambil mengerutkan sedikit dahinya.


Lalu Guyzu menjawab. "Tidak apa-apa kita pesan online ajah,"


"kamu memang anak kekinian," sahut Paman menggelengkan kepala.


"Baiklah Guyzu tunggu apa lagi? cepat pesan. oh iya jangan lupa, pesan yang banyak karena kita sedang kedatangan tamu spesial," suruh paman pada Guyzu.


Guyzu tadinya ceria ingin memesan makan, tapi setelah Paman menyebut Minyan, Guyzu kembali menjadi jutek. "Tamu istimewa..... hhhhh," sedikit nada jengkel keluar dari mulut Guyzu.


Itu karena Minyan sangatlah membuat Guyzu repot dan jengkel melihatnya. Ditambah lagi Minyan akan tinggal dirumahnya. pasti akan banyak masalah baru.


Guyzu-pun memesan nasi, daging, kimchi, ramen, ikan bakar dengan saos super pedas, cumi tiram dan shushi.


Setelah pesanan itu datang Paman pun menghidangkan makanan itu dimeja makan.


"Wahhh enaknya" kata Paman sambil memilih mana makanan yang akan disantapnya duluan.


Minyan hanya mengamati betapa anehnya semua makanan manusia ini. semua makanan itu sangat berbeda dengan makanan yang ada dikhayangan.


Dia bahkan tidak pernah memakan daging dikhayangan, mereka hanya memakan tumbuh-tumbuhan dikahyangan.


Karena penasaran Minyan pun bertanya "Apa kau setiap hari memakan ini," tanyanya pada Guyzu sambil menunjuk daging.


"Tidak juga, aku memakannya kalau aku lagi kepengen saja," jawab Guyzu cuek.


"Bagaimana rasanya?" tanya Minyan lagi penasaran.


Paman Tieh menjawab. "Tentu saja daging sangat enak, apa lagi daging Rubah, rasanya sangat gurih,"


"Ahkhkhukhkuhuk uhuk... uhuk...uhuk..." Minyan langsung terkejut dan tersedak mendengar itu.


"Matilah aku, apakah dia akan memakanku? dia terlihat sangat lapar. Mungkin dia akan merebusku dan memakanku, atau dia akan memakanku mentah-mentah. Tidak dia bahkan dapat memakanku hidup-hidup," Minyan menberontak dalam pikirannya.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2