
"Eee, biasa saja. Aku hanya memasak dengan seadanya" ujar Paman Tieh.
Sementara itu Guyzu langsung pergi ke kamar mengganti baju, lalu pergi keluar.
"Kemana dia?" tanya Minyan dengan mulut penuh makanan.
"Mungkin dia ada urusan," jawab Paman.
"Apa dia pergi gara gara aku?" tanya Minyan.
"Te-ten-tentu saja tidak, dia mungkin hanya ada urusan mendadak saja," kata Paman Tieh tak ingin membuat Minyan cemas.
"Baiklah Paman pergi bekerja dulu.. Aku pergi..." kata Paman Tieh
~Ditempat lain~
"Apa kauyang bernama Guyzu?" tanya pria paruh baya itu.
"Berapa yang kaumau?" tanya Guyzu dingin pada pria paruh baya itu.
" Aku hanya ingin membelikan rumah pada pacarku saja," kata Pria paruh baya itu.
Guyzu langsung mengambilkan sejumlah uang, menaruhnya di amplop kuning dan memberikannya pada pria paruh baya itu.
"Ba-ba-bagaimana dengan bunganya?" tanya Pria paruh baya itu.
"Simpel.....Bunganya tidak akan berkembang jika kaulancar membayar cicilan sampai kaumelunasinya, jika kautelat membayar, maka cicilanmu itu akan dikalikan dua, ditambah lagi bunga yang semakin indah dan mekar. Anggap saja kausedang menanam mawar di atas kaktus," jelas Guyzu sambil tersenyum kecil.
Setelah itu Guyzu langsung pergi ke tempat lain.
"Ini uangnya, selamat menikmati," kata guyzu sambil memberi wanita itu setumpuk uang di dalam amplop kuning.
~Ditempat lain~
"I-i-ini cicilannya, kapan hutangku lunas?" tanya Pria tua itu.
"Kaubaru membayar bunganya," ujar Guyzu.
~Ditempat lain~
"Aku butuh uang untuk membayar uang kuliah anakku di jurusan kedokteran," kata bapak itu.
"Ini, ambil lah"
~Ditempat lain~
"Hey... pria muda. Kasihanilah aku. Aku tidak punya uang lagi untuk membayar hutang," kata Nenek itu.
~Ditempat lain~
"Ini cicilanku....haaaaaahhh..... Tidak terasa ternyata hutangku sudah lunas," kata pria itu lega.
"kaubaru membayar setengah hutangmu," jawab Guyzu.
"Kau bilang aku hanya perlu membayar cicilan sebanyak 80 kali," kata pria itu memperjelas.
"Itu kalau kaulancar membayar, tapi kausering telat membayar. Itu membuat mawar yangku tanam padamu bertambah lebat," jawab Guyzu.
__ADS_1
Begitulah pekerjaan Guyzu setiap harinya, memberi dan menagih. Masih banyak orang yang mau berutang dengan sistem seperti itu karena mereka kesulitan mencari uang dengan jumlah banyak dalam waktu cepat.
~Dirumah Guyzu~
Minyan terlihat bingung ingin melakukan apa dia merasa bosan sendirian di rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan jalan disekitar rumah sembari mengamati lingkungannya.
"Ahh... ternyata begini bentuk rumah Guyzu dari luar? Selama ini aku hanya berada di dalam rumah," kata Minyan melihat rumah Guyzu dari luar.
"Jalan kemana ya? Kanan atau kiri? Kanan ajah deh," kata Minyan sambil berbelok arah ke kanan.
Sembari berjalan dia memikirkan sikap Guyzu terhadapnya. "Sebenarnya Guyzu sifatnya seperti apa sih? Terkadang dia baik padaku, terkadang juga dia cuek dan ketus padaku. Apalagi aku semalam menghabiskan uangnya. tapikan itu tidak di sengaja, lagi pula dia yang menyuruhku membelinya. kenapa tidak dia saja yang membelinya? Dia bahkan membentak ku semalam. haaaaahhhh Dasar," kata Minyan.
Ketika Minyan asik berjalan tiba-tiba seorang pria berlari kencang dari belakang dan melemparkan tas pada Minyan.
Sontak Minyan menagkap tas itu dan memegangnya. Sementara pria itu berlari menjauhi Minyan.
Kemudia ada banyak warga yang berlari menghampirinya sambil berteriak.
"Maling!!!...Maling!!!...Maling!!!....."
Para warga itu kemudian memukuli Minyan karena mereka melihat Minyanlah yang memegang tas itu.
"Aaaaaa.....Tolong.....Aaaaa.....Tolong.... "
jeritan Minyan terdengar sangat kencang.
Sampai-sampai membuat Guyzu mengetahui keberadaanya yang memang tadinya ingin pulang ke rumah.
"Bukankah itu suara Minyan?" batin Guyzu.
Guyzu langsung menghampiri asal suara itu.
"Siapa kau? Apa kau suaminya? Atau kaupacarnya?" tanya salah satu warga.
"Iya.....Aku pacarnya. Memangnya kenapa?" tanya Guyzu pada Warga-warga itu.
"Oh ternyata kaupacarnya, peringatkan pada pacarmu ini agar dia tidak mencuri," kata salah satu warga sambil menujuk Minyan.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Guyzu pada Minyan.
"A-a-aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, t-ti-tiba-tiba ada pria yang memberiku tas ini," kata Minyan sambil menahan sakit.
"Kalian sudah dengar?!!!" tanya Guyzu dengan suara tinggi.
"Bukan dia pelakunya!!!.....kalian sudah keterlaluan memukuli orang tanpa bukti!!!"
kata Guyzu membela Minyan.
Mendengar itu para warga pun bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
"Hey!!! kalian mau kemana?!!!! hey!!! kalian harus meminta maaf padanya!!!! hey!!!!" teriak Guyzu, tapi tidak ada warga yang peduli.
"Kau baik-baik saja?" tanya Guyzu.
"Kaki ku......sakit.... " jawab Minyan.
Guyzu pun membawa Minyan pulang ke rumah. Namun karena Minyan dipukuli sampai lemas dan mengalami cidera pada kakinya, akhirnya Guyzu terpaksa menggendong Minyan pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Guyzu langsung mengantar Minyan ke kamar, mengambil kotak P3K dan mengobati luka Minyan.
"Hahhh...... Mereka sangat keterlaluan," kata Guyzu sambil mengobati luka Minyan.
"kenapa kau membiarkan dirimu di pukuli mereka? Dasar bodoh!" ujar Guyzu.
"Apa yang dapat kulakukan? Mereka sangat banyak sedangkan aku hanya satu," kata Minyan.
"karena itu, jangan keluar rumah!!!" perintah Guyzu.
"kenapa jadi dia yang begitu marah? Padahal yang dipukulikan aku. Dan kenapa dia berpura-pura jadi pacarku?" batin Minyan.
"Ditahan ya, kakimu sedikit keseleo. Aku akan mengurut nya," Guyzu.
"Aaaaaaaauuuuuu pelan-pelan Guyzu itu sakit, aduhh.. Aaauuu,..... Aaaauuu" jerit Minyan kesakitan.
"Aku pulang," kata Paman Tieh masuk ke rumah. Paman melihat rumah kosong dan tidak ada yang membalas salamnya.
Tetapi dia mendengar suara suara kecil berasal dari kamar.
"Aaauuuu, aaahhhh, pelan-pelan Guyzu. Aaauuu, aaauuu,"
Paman mencurigai Guyzu dan Minyan melakukan suatu hal dikamar.
"Apa yang mereka lakukan? Jangan-jangan?" PamanTieh langsung berlari kekamar dan membuka pintu.
"APA YANG KALIAN LAKU.......... " Paman Tieh berhenti bicara setelah membuka pintu dan melihat apa yang mereka lakukan.
"Kenapa kaumengurut Minyan?" tanya Paman pada Guyzu.
"Oh tadi ada kesalahpahaman, yang membuat Minyan jadi seperti ini. Tentang penuduhan pencurian," jelas Guyzu.
Paman Tieh langsung tahu apa yang terjadi, karena dia sudah sering menangani kasus seperti itu.
"Kenapa kalian tidak melaporkannya pada polisi? Itu bisa di tuntut," kata Paman Tieh.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Tidak ada juga gunanya melakukan itu. Aku hanya ingin menangkap pria tukang curi itu dan menghajarnya," kata Minyan sambil Mengepal jarinya seolah siap untuk bertempur.
"Dasar kauini," sambung Guyzu.
"Hahaha Kauini ada-ada saja hahaha" kata Paman Sambil tertawa.
"Paman, apa kaumembawa makanan lezat?" tanya Minyan pada Paman Tieh Dengan tatapan penuh harapan.
"Iya aku membawanya," jawab Paman Tieh.
"Nyummy," kata Minyan sambil berdiri.
"Bukannya kakimu sakit? Kenapa kau bisa berdiri?" tanya Guyzu heran.
"Eee Aku rasa kakiku sudah mendingan," jawab Minyan datar.
Guyzu merasa dibohongi atas itu, dia hanya tersenyum kecil melihat betapa liciknya Gadis yang di temukannya di hutan itu.
Setelah mereka selesai makan, waktunya untuk tidur. Minyan masuk ke kamar dan berbaring. Minyan mengingat kejadian yang tadi, dimana Guyzu mengatakan bahwa mereka berpacaran di depan orang banyak.
"Tunggu........ Apa lagi ini? kenapa jantungku kembali bergetar?..... Aaaaaaa," kata Minyan sambil berguling-guling.
__ADS_1
~Bersambung~
Jangan lupa like dan vote ya...