
Baiklah aku rasa aku sudah harus pulang," ucap Meunjo.
"Iya, Kauboleh pulang" jawab Minyan.
"Sampai jumpa,"
Setelah larut malam, Guyzu pulang kerumah dengan keadaan mabuk. Dia berjalan sempoyongan dengan kepala yang tidak bisa tegak.
"Tok... Tok... Tok... " Guyzu mengetuk pintu.
"Minyan... Paman... Buka pintunya" panggil Guyzu dari luar.
Minyan datang untuk membuka pintu, sedangkan Paman Tieh sudah tidur sedari tadi.
"Guyzu? Kenapa kau? Haaa... Kaumeminum racun itu lagi?" kata Minyan khawatir sambil membawa Guyzu masuk.
Minyan mendudukkannya disofa. Dan bertanya pada Guyzu apa yang telah terjadi.
"Katakan padaku, kenapa kaumeminum racun itu lagi!!!" suruh Minyan dengan wajah serius bercampur khawatir.
"Kau... Kau alasannya," jawab Guyzu mabuk. Dia tidak sadar apa yang iya katakan. Semua terucap begitu saja.
"Aku? Kenapa aku?" Minyan mulai bingung.
"Entahlah... Aku tidak mengerti apa yang kurasa. Aku benci padamu, aku kesal padamu dan aku risi padamu. Tapi setelah dia datang... Rasanya aku tidak ingin kau bersamanya." ucap Guyzu lagi tanpa sadar.
"Bersama siapa?" tanya Minyan bingung bercampur heran.
Minyan tercengang mendengar itu dia terkejut atas pemaparan Guyzu. Dan tiba-tiba saja dia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang.
"Apa ini? Kenapa ini terjadi? Getaran ini...." batin Minyan.
_________________________________________
~Pagi hari~
"Guyzu..........!!!!!! Guyzu........!!!!!!" teriak Paman dari dapur seraya menyiapkan makanan.
Guyzu terbangun dan pergi keruang makan.
"Duduklah... Aku sudah menyiapkan makanan," ucap Paman sambil mengambilkan makanan dan menghidangkannya dimeja.
"Paman... Semalam aku pulang jam berapa?" tanya Guyzu meminum air hangat yang ada dimeja.
"Entahlah, semalam Paman langsung tidur. Minyanlah yang membukakan pintu untukmu." jawab Paman duduk diseberang Guyzu.
"Minyan?" ucap Guyzu dengan suara kecil.
Minyan datang dari kamar dan duduk disebelah Paman Tieh.
Tanpa berfikir panjang Guyzu langsung bertanya pada Minyan.
__ADS_1
"Apa yang ku lakukan semalam?"
"Haaa....? Oh... Kau lupa ingatan lagi setelah meminum racun itu." kata Minyan sambil mengambil kan piring.
"Katakan dengan jujur apa yang kulakukan semalam!!!!" ujar Guyzu sinis.
"Tidak ada, kau tidak melakukan apa-apa,"
"Apa yang kukatakan semalam?!!!!!" tanya Guyzu lagi dengan mata tajam.
Minyan langsung teringat dengan perkataan Guyzu semalam. "Entahlah... Aku tidak mengerti apa yang ku rasa. Aku benci padamu, aku kesal padamu dan aku risi padamu. Tapi setelah dia datang... Rasanya aku tidak ingin kau bersamanya." Ingat Minyan dalam benaknya.
"Tidak ada. Kautidak mengatakan apa-apa," jawab Minyan tak ingin memberi tahu yang sebenarnya.
"Apa pun yang kukatakan. Itu hanya ilusiku saja. Dan itu sama sekali tidak benar." Kata Guyzu langsung pergi kekamarnya untuk mengambil jaket dan pergi keluar.
"Kenapa dia? Guyzu!!!! Makan dulu sarapanmu. Guyzu.....!!!!!!" panggil Paman Tieh.
Guyzu pergi mengendarai mobil dengan mengebut hingga kecepatan maksimal.
"Bumssssssssssssstttttt"
Suara mobil itu terdengar kencang.
"Aku yakin semalam aku mengatakan sesuatu pada Minyan. Aaaaa... Kenapa jadi begini?!!!! Perasaan ini.... TIDAK MUNGKIN!!!!! Tidak mungkin aku mencintainya. TIDAK MUNGKIN!!!!!!" teriak Guyzu dalam mobil itu sambil mengebut.
Sementara itu Minyan masih memikirkan perkataan Guyzu semalam.
Keesokan harinya Guyzu berkemas ingin pergi keluar kota karena ada urusan hutang dan bunga yang akan ditagihnya disana.
Dia akan menetap disana selama beberapa hari.
Minyan datang kekamar Guyzu dan melihatnya sedang berkemas.
"Kau berkemas? Mau pergi kemana? HAAAAA...... GUYZU JANGAN BILANG KAU PERGI GARA-GARA AKU? JAGAN-JANGAN AKU MEMANG MEMBUAT MU KESAL DAN RISI, TAPI AKU TIDAK INGIN KALAU KAU HARUS PERGI DARI SINI GARA-GARA AKU. JAGAN PERGI GUYZU, JANGAN PERGI........ BIAR AKU SAJA YANG PERGI." ucap Minyan histeris.
Guyzu berdecak melihat tingkah laku Minyan yang histeris. "Baiklah... Kau boleh pergi. Tapi aku pergi bukan karena kau. Aku pergi karena ada urusan di luar kota."
Minyan terbodoh setelah mendengar Guyzu. "Ja-jadi kau pergi bukan karena aku?"
"Eee... Ba-baiklah, tapi kurasa aku masih membutuhkan tempat ini untuk hidup. Kau taulah aku suka bicara banyak jadi aku tidak pernah berfikir panjang atas perkataan ku........ Kuharap kau tidak mengusirku." kata Minyan dengan wajah memeles menarik perkataannya tadi.
"Aku akan pergi untuk beberapa hari. Tolong kau jaga Paman untukku," Kata Guyzu sambil memakai tas samping besarnya dan pergi.
"Apa itu artinya aku tidak diusir? Hhhhh... Syukurlah. Tapi kenapa aku sedih? Harusnya aku senang melihat dia tidak ada di rumah ini. Tidak akan ada yang memarahiku lagi. Hhhhh... Isi setiap hati manusia memang tidak bisa ditebak." ucap Minyan sambil mengacak-acaki rambutnya.
"Aku pulang," ucap Paman Tieh masuk kerumah.
"Oh Paman sudah pulang ya, tadi Guyzu berpesan akan pergi keluar kota untuk beberapa hari." jelas Minyan memberi tahu keberadaan Guyzu pada Paman Tieh.
"Aku tahu, dia sudah mengatakannya padaku tadi lewat telfon." jawab Paman Tieh.
__ADS_1
"Begitu ya..." Minyan.
"Minyan... Boleh kutanya satu hal?" Paman Tieh berniat menayakan hal tentang dia dan Guyzu.
"Tentang apa? Tanyakan saja." ucap Minyan.
"Sebenarnya aku merasa Guyzu tidak pergi hanya karena urusan menagih hutang. aku rasa dia pergi untuk menenangkan diri. Semalam dia mabuk dan mengucapkan namamu semalaman Minyan. Apa yang terjadi diantara kalian?" batin Paman Tieh.
"Paman?... Tanyakan saja." ucap Minyan sembari menunggu pertanyaan dari Paman Tieh.
"Tidak ada. Lupakan saja." ujar Paman Tieh sambil masuk kekamar untuk mengganti pakaian.
"Oh... "
Sebelum Paman masuk ke kamar. Tiba-tiba Paman teringat pada pria yang mengantar Minyan waktu itu.
"Eee... Minyan pria yang mengantarmu kemarin itu siapa?" tanya Paman Tieh kembali mendekati Minyan.
"Bukannya dia sudah memperkenalkan diri pada Paman? Namanya Meunjo." jawab Minyan.
"Bukan itu maksudku. dia itu siapamu? Teman, sahabat atau.... pacar?" tanya Paman Tieh memperjelas pertanyaanya.
"Akhk...khak.... ahka" Minyan tersedak mendengar kata pacar.
"Dia hanya teman, Uhuk... uhuk... uhuk..." jawab Minyan sambil batuk karena terkejut mendengar pertanyaan Paman.
"Oh... Paman mengira dia pacarmu. Sudahlah Paman mau tidur dulu." ucap Paman Tieh sambil menutup pintu kamarnya.
"Ahk... Pacar... Aku bahkan tidak pernah membayangkannya, Aigoooo." sebut Minyan heran.
____________________________________
"Tok... Tok... Tok... "
"Tunggu sebentar!!!!.... iya iya aku datang!!!!" ucap Minyan sambil berjalan menuju pintu depan.
"Haaa... Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Minyan membuka pintu dan melihat tidak ada orang di sana.
Dia melirik kebawah melihat ada sebuket mawar dan secarik kertas kecil terletak dilantai. Minyan mengambilnya dan membaca tulisan dikertas itu.
*Dear Minyan...
Hari yang indah diawali dengan pagi yang indah. semoga mawar ini membuat harimu indah...
Your friend
Meunjo*
~Bersambung~
Jangan lupa like dan vote ya...
__ADS_1