
~teng teng teng~
selamat datang di mall hokie hokie
~teng teng teng~
"Guyzu!! benda apa itu?"
"Guyzu!! kenapa tangga ini bisa bergerak?"
"Guyzu!! yang itu benda apa?"
"Guyzu!! Kamar ini akan jatuh selamatkan diri!
"Guyzu!! kenapa disini sangat dingin,"
"Guyzu!! kenapa orang ini tidak bergerak?"
"Guyzu!! Tunggu aku,"
"SUDAHLAH KAU BERISIK SEKALI,"
"Cobalah yang ini," kata Guyzu sambil mengambilkan baju wanita.
"Benda apa ini? Ini sangat jelek. Kenapa baju disini bentuknya aneh-aneh? Yang ini lebih mirip karung. Kenapa kerahnya ini lebar sekali? Yang ini terlalu pendek? Haaaaaa ini pasti kekurangan bahan," kata-kata itu keluar tanpa henti dari mulut Minyan.
Guyzu sangat muak mendengar semua yang dikatakan Minyan. Terkadang dia berfikir untuk meninggalkannya saja.
Biasanya Guyzu sangat cuek pada semua orang, baik pria maupun wanita. Tetapi entah kenapa dia sedikit akrab dengan wanita bermulut besar yang ditemuinya dihutan itu.
Entah karena dia kasihan atau apa, Guyzu terlihat sedikit peduli dengan Minyan.
"Kau ini sangat banyak bicara ya, pokoknya kita beli yang ini, ini, ini, itu, dan yang itu," kata Guyzu sambil mengambil baju-baju itu. Kemudia dia pergi kearah kasir untuk membayar.
"Tunggu, aku tidak suka sama yang itu, hey, hey, heyyyyyy!!" panggil Minyan.
Sesudah membayar Guyzu mengajak Minyan pergi.
"Kenapa orang itu memberikan baju itu begitu saja padamu?" tanya Minyan.
"Aku membayarnya, tentu saja dia memberikan ini padaku,"
"Hhhh... Kau membayar pakai..u.. u.. uang yang kaubilang semalam padaku?....Wahhhh hebat sekali. Seperti apa bentuknya cobaku lihat!"
"Kau ini sangat merepotkan," ujar Guyzu sambil mengambil selembar uang dari dompetnya. "Ini"
"Ini hanya selembar kertas, bagaimana bisa ini ditukarkan dengan baju-baju itu?" tanya Minyan sambil memegang dan membolak balikkan uang itu.
Minyan sangat memerhatikan uang itu dari depan sampai kebelakang. Mulai dari bentuk warna dan ukuran.
"Kautidak percaya?" tanya Guyzu
"Bukannya tidak percaya, tapi rasanya tidak
senilai saja, kertas ditukarkan dengan baju,"
"Bisa tidak kauberhenti bicara?" kata Guyzu
"Beri aku penjelasan kenapa ini terjadi!" kata Minyan.
"Dengar ya Nona, aku tidak peduli kaudari planet mana tapi kauini sangat merepotkan"
"Jawab saja pertanyaanku" Minyan.
"Dasar kauini..... Kujelaskan juga kautidak akan mengerti,.. sudahlah..." Guyzu mengatakannya dengan ketus dan pergi.
"Tunggu dulu,..... Bagaimana dengan segitiga bermula?" kata Minyan menghentikan langkah Guyzu.
"Kita membahas itu kemarin," lanjut Minyan.
Guyzu berbalik badan dan menarik tangan Minyan. Dia membawanya ke toko pakaian dalam wanita di mall itu.
__ADS_1
Namun Guyzu adalah seorang pria, akan sangat aneh bila seorang pria masuk dan membeli pakaian dalam wanita.
"Sudah, aku sudah mengantarmu, masuk dan belilah untukmu," suruh Guyzu.
"Apa? Siapa? Aku? Apa yang harus kubeli?" tanya Minyan.
"Begini, apa kausemalam melihat bentuk punyaku?.... Jangan berfikiran yang aneh, celana dalam yang semalam. Apa kaumelihatnya? itu sedikit mirip dengan punya wanita, belilah yang seperti itu beberapa lusin dan bayarlah," kata Guyzu sedikit bingung dengan rencananya sendiri.
"K-k-kau juga harus membeli yang dibagian atas, yang digunakan wanita dibagian atas. Letaknya setara dengan dada. Sana belilah," lanjut Guyzu.
"Apa itu? aku belum pernah melihatnya. Setara dengan dada? Bagaimana bentuknya?" tanya Minyan penasaran.
Minyan memang belum pernah memakai atribut yang digunakan manusia. Jadi dia tidak tahu bagaimana bentuknya.
"Sudah sanalah, kalau kau bingung tanya saja orang yang disana, " perinta Guyzu.
"Baiklah, tapi kau harus memberiku benda ajaib itu dulu," kata Minyan sambil menyodorkan telapak tangannya.
Guyzu bingun maksud Minyan itu apa
"Ssst....Itu,....Benda yang kau pakai untuk mendapatkan baju tadi....apa namanya itu ya.... Ssst.. u.. u.. uang," lanjut Minyan.
"Apa dia tahu bagaimana cara menggunakan uang? Apa dia tahu harus menyerahkan uang berapa banyak? Apa dia tahu nanti kembalian uangnya berapa? Ssst tapi reputasi lebih penting dari pada segalanya," batin Guyzu.
"Begini saja, aku akan memberimu benda yang lebih ajaib," kata Guyzu sambil mengeluarkan kartu kredit miliknya dan memberinya pada Minyan.
Jika Guyzu memberinya kartu kredit maka dia tidak perlu mengkahwatirkan kembaliannya.
"Nanti kaumasuk kedalam, ambillah benda yang sudah kita diskusikan tadi, kemudian pergi ke meja kasir, serahkan benda yang ingin kaubeli, serahkan juga kartu ini dan jangan lupa minta kembali kartunya," kata Guyzu sambil menunjuk kearah mana dia akan pergi.
"Apa benda ini sama seperti uang?" Minyan
"Iya, itu sama seperti uang" Guyzu
"Pergilah, jangan lupa nanti kembali kesini lagi. Aku akan menunggumu disini," suruh Guyzu.
Minyan pun pergi, tak perlu waktu lama, Minyan telah menyelesaikan tugasnya dan kembali menemui Guyzu.
"Emmm" jawab Minyan sambil menganggukkan kepalanya.
Guyzu memeriksa kantong belanja yang dibawa Minyan. " ternyata kaubisa diandalkan,"
"sini kartu yang kuberi tadi," kata Guyzu meminta kartu kredit itu.
"ini" Minyan menyerahkan kartu itu.
"Anak pintar," lanjut Guyzu.
Baiklah sekarang kita makan dulu.
Mereka pergi ke sebuah restoran di mall itu.
"Duduklah," ujar Guyzu.
"Aku akan memesan makanan dulu," lanjut Guyzu.
"Aku masih bingung dia baik atau jahat, tapi kalau dia jahat dia tidak akan mungkin melakukan semua ini untukku" kata Minyan dalam hati sambil memerhatikan wajah Guyzu.
"Ini pesananmu tuan," pelayan itu datang sambil membawakan 2 burger pesanan Guyzu.
"Ini makanlah," kata Guyzu menawarkan burger itu.
"Apa ini?" tanya Minyan.
"Burger," jawab Guyzu.
"Bukan, ini terbuat dari apa?"
"Roti, tomat, selada dan daging," jawab Guyzu.
"Daging lagi? Nyumm... coba kita lihat benda berwarna coklat ini rasanya bagaimana?" batin Minyan.
__ADS_1
Minyan langsung menggigit burger itu dan mengunyahya. "Wahh..... enak sekali. Apa semua makanan didunia manusia enak-enak? kalau begini mungkin aku akan sangat betah disini," batin Minyan.
Seperti biasa Minyan tidak pernah berhenti bicara dihatinya ketika memakan makanan yang enak.
"Begini cara makannya," Guyzu mengajari Minyan cara memakan burger itu.
"Oh...begitu"
Sesekali Guyzu memerhatikan betapa lucunya wajah Minyan memakan burger itu.
Mereka mengobrol selama direstoran
"Oh iya, aku mau tanya kenapa kauberada di hutan waktu itu?" Tanya Minyan.
"Aku hanya menemani pamanku melakukan hobbynya" Guyzu.
"Lalu kenapa kau membawaku ke rumahmu?" Minyan.
"Maksudmu aku seharusnya meninggalkan mu di hutan?" Guyzu.
"kenapa kaubaik padaku?" Minyan.
"Tidak, aku hanya mengasihanimu sedikit," Guyzu.
"kau sangat baik, Terimakasih Guyzu," Minyan.
"Jangan bertingkah seperti itu, kau membuatku tidak nyaman. kalau kaumasih bertingkah begitu, aku akan mengusirmu," Guyzu.
"Ah, Ternyata kautidak suka dipuji," Minyan.
"Ngomong-ngomong, kenapa tempat ini begitu lengkap? semua toko ada disini," Minyan.
"Ini namanya mall, semacam pasar tapi ini fersi modern," Guyzu.
"sepertinya kautahu semua," Minyan.
"kauyang aneh, sudah dewasa tapi tidak tahu apa-apa. Kau sepertinya tidak pernah keluar dari hutan," Guyzu.
"Kautidak tahu apa yang terjadi," kata Minyan sambil menunduk dan membayangkan apa yang terjadi padanya.
"Hey Minyan, aku tidak tahu apa masalahmu. Tapi aku ingin kautetap semangat menyelesaikan masalahmu," kata Guyzu setelah melihat expresi sedih Minyan.
"K-k-kenapa dia mengatakan itu? Siapa sebenarnya dia? Apa dia tahu apa yang aku alami?" Batin Minyan.
"Tunggu," ujar Guyzu sambil memberiskan makanan yang menempel pada pipi Minyan dengan tangannya.
Hal yang paling tidak terduga terjadi pada saat itu. Guyzu membersihkan makanan dari pipi Minyan. Itu membuat Proton dan Neutron bertemu, suatu ledakan kecil terjadi pada Minyan.
"A-a-apa ini? kenapa aku bergetar? Kenapa jantungku berdebar?" Batin Minyan.
"Ssst.... Ssst..... Sssst"
Ponsel Guyzu bergetar menandakan ada pesan yang masuk.
"Apa itu?" Tanya Minyan.
Guyzu membuka ponsel dan melihat pesan itu. Spontan Guyzu berdiri dan menarik tangan Minyan. "Ayo kita pergi!!!!" kata Guyzu.
Mereka berlari keluar dari mall tak lama kemudian ada petugas kepolosian yang menggrebek mall itu mencari buronannya.
Ya... Guyzu adalah buronan Polisi itu, sebagai Depkolektor, tetapi dia bukan depkolektor biasa. Bisa di bilang dia adalah depkolektor lintah darat. Dikejar Polisi sudahlah biasa.
Mereka langsung berlari ke parkiran, masuk ke mobil dan bergegas pulang kerumah.
Untung saja tidak ada yang tahu.
Sesampainya dirumah.......
~Bersambung~
jangan lupa like dan vote ya
__ADS_1