Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 21


__ADS_3

"Ini kopermu, terimakasih telah meminjamkannya semalam. Aku pergi dulu." ucap Minyan didepan pintu rumah Guyzu dengan Guyzu berada dihadapannya.


Guyzu hanya terdiam manatap koper itu. Dia tidak tahu ingin mengucapkan apa. Kemudian Guyzu mengambil koper itu dan masuk kedalam rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ia menutup pitu tanpa mengajak Minyan masuk kedalam rumah.


Minyan pun tidak dapat melakukan apa-apa. Dia hanya diam dan pergi.


~Di kediaman Meunjo~


"Dari mana saja kau?!!" tanya Meunjo sedikit sinis pada Minyan.


"Aku baru mengembalikan koper Guyzu yang kupinjam semalam." jawab Minyan.


"Oh, hanya itu?!!" Meunjo seolah tidak percaya.


"Iya, hanya itu." ucap Minyan.


"Pokoknya kautidak boleh bertemu dengannya lagi. sekarang kausudah menjadi milikku ingat kau milikku." ujar Meunjo kuat.


"Iya, aku tahu aku ini sekarang sudah jadi milikmu. Tapi kitakan belum menikah, jadi aku belum seutuhnya milikmu." jawab Minyan seolah tidak senang mendengar perkataan Meunjo yang begitu mengikat.


"KAUINI" Meunjo hampir saja tersulut emosi mendengar jawaban Minyan.


"Sabar Meunjo,... Sabar... Ini belum waktunya."


batin Meunjo.


~Di kediaman Guyzu~


"Plakkkkkk" Guyzu membating koper itu.


"Sial, dia bahkan tidak tersenyum sedikit pun kepadaku." ucap Guyzu membenci situasi kala itu.


"Kenapa aku harus jatuh hati padanya?!! Dan kenapa ketika aku mulai membuka hatiku pada dia, dia malah pergi?!!!" lanjut Guyzu.


"Berhenti bertingkah seperti itu " Paman Tieh.


"Kauini bodoh atau apa? yang harus lakukan sekarang adalah, tidur dan lupakan semuanya" lanjut Paman Tieh.


"Bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja?" Guyzu.


"Kalau kautidak bisa melakukannya, berarti kauharus merebut Minyan dari Meunjo," Paman Tieh.


"Apa??!!" Guyzu.


"Jangan khawatir, perebut kekasih orang sudah biasa dimuka bumi ini. Jadi kautidak akan dikucilkan," Paman Tieh.


"Paman benar, aku harus merebutnya kembali," Guyzu membuat mata tajam.


~Senin,~


"Meunjo Aku pergi dulu ya... ada yang ingin aku beli di supermarket," izin Minyan.


"Jangan lama-lama," ucap Meunjo sambil menonton tv.


~Disisi Guyzu~


"Guyzu tolong belikan kecap, saus dan susu disuper market. Stok kita habis," pinta Paman Tieh sambil mengaduk-aduk nasi goreng.


"Kenapa tidak Paman saja?" Guyzu asik memainkan ponselnya.


"Paman sedwng memasak, mana mungkin Paman meninggalkan ini. Memangnya kaubisa melanjutkan ini?" Paman Tieh.

__ADS_1


"Yasudah iya" Guyzu memanjangkan muncungnya pertanda keberatan.


~Disuper market~


"Mana ya barangnya?" ucap Minyan seraya menelusuri gerbong rak supermarket itu.


"Itu dia..." Minyan.


Minyan meraih barang bodilotion paketan itu, namun tidak sampai karena barang itu diletakkan diatas rak yang paling tinggi.


Minyan menjinjitkan kakinya agar manjadi lebih tinggi dan dapat meraih barang itu, namun itu percuma karena Minyan bisa dikatakan cukup pendek.


Ketika Minyan sedang sibuk menjinjitkan kakinya dan memanjangkan tangannya keatas, seseorang langsung mengambil barang itu dari belakang. Minyan langsung berbalik badan.


"Guyzu... "


"A-apa yang kaulakukan disini?" lanjut Minyan sedikit gugup.


Guyzu tersenyum dan menepuk jidat Minyan. "Sudah tahu pendek, kenapa tidak minta bantuan pada orang lain?"


"Memangnya siapa yang mau membantu?" ucap Minyan pelan.


"Ini ambillah... lain kali kauharus membawa tangga kemana-mana." senyum lebar itu masih terpancar diwajah Guyzu.


~Akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol sebentar di supermarket itu. Di sana disediakan maja dan kursi bagi yang ingin beristirahat sejenak.~


"Ini minumlah" beri Guyzu pada Minyan dengan senyum bersinar terang.


"Jadi bagaimana kabar Paman?" tanya Minyan.


"Kautidak menayakan kabarku terlebih dahulu?" jahil Guyzu.


"Aneh sekali, tidak biasanya dia baik begini. Dulu tersenyum saja tidak pernah. Apa dia sedang meminum racun itu lagi? sangat mencurigakan," Batin Minyan.


"Bagaimana denganmu?" lanjut Minyan bertanya.


"Untuk apa kaumenayakannya? kautidak melihat aku baik-baik saja?" Guyzu.


"Tadi kauyang menyuruhku untuk menayakan kabarmu, " cemberut Minyan.


"Sepertinya kaubaik-baik saja. Kaubahkan terlihat sangat bercahaya." sebut Guyzu pada Minyan.


"Maafkan aku ya... " ucap Guyzu.


"Apa?" Minyan.


"Selama kaudisisi ku, aku sering membuatmu kesal. Aku juga sering membentakmu," sebut Guyzu.


"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, akulah yang membuatmu kesal dan risi. Aku juga sering membuatmu repot. Jadi tolong maafkan aku." ujar Minyan.


"Kenapa kita jadi saling meminta maaf? aneh sekali, hahaha." Guyzu.


"Tapi dia manis sih, kalau ceria begini," Batin Minyan.


"Sepertinya aku sudah harus pulang," ucap Minyan.


"Baiklah... senang bertemu denganmu," balas Guyzu.


~Guyzu pulang kerumah~


"YESSSSSSSS"

__ADS_1


"HIAAAAAAAAAA"


"HOREEEEEEEEE"


Guyzu melompat dan menari sangkin girangnya. Dia sangat senang dapat bertemu dengan Minyan tadi.


"Apa kaugila? Kenapa kaumelopat dan menari? Tidak biasanya..." pandang Paman Tieh dengan sinis.


Sontak Guyzu langsung terhenti dan menjaga sikap. sok cool maksudnya.


"Tidak, tidak ada apa-apa" kata Guyzu lalu masuk kekamar.


~Didalam kamar ~


"YEAAAAAAHHHHH"


"YESSSSSSSS"


"HIAAAAAHH"


~Disisi Minyan~


"Apa itu tadi? dia terlihat sangat bergairah, senyumnya ternyata sangat manis," Batin Minyan.


"Aku bahkan tidak ingin melupakannya" ucap Minyan tidak sengaja ketika menonton tv bersama Meunjo.


"Apa? tidak ingin melupakan siapa?" tanya Meunjo refleks.


"Eeee, tidak, aku tidak ingin melupakan rasa kerupuk yang tadi, iya kerupuk itu rasanya sangat enak." jawab Minyan aneh.


Kemudian Minyan membuka ponsel dan melihat ada postingan acara ulang tahun di instagram.


"Meunjo, apa kalian setiap tahunnya akan merayakan ulang tahun kalian?" tanya Minyan ingin tahu.


"Tidak juga, tapi rata-rata ya gitu." jawab Meunjo singkat.


"Biasanya kalian melakukan apa jika sedang berulang tahun?" tanya Minyan lagi.


"Mungkin, memotong kue, meniup lilin, memecahkan balon. hehehe tapi itu sangat kekanakan," jawab Meunjo lagi.


"Benarkah? Wahhh paati seru," Minyan.


"Kenapa kautiba-tiba menanyakan itu?" Meunjo.


"Tidak, tidak apa-apa" Minyan.


"Bagaimana kalau aku juga merayakan ulang tahun. tapi aku tidak tahu tanggal ulang tahunku. Aku jadi sangat ingin meniup dan memotong kue." batin Minyan.


"Bagaimana kalau minggu depan saja, tidak akan ada yang tahu tanggal lahirku yang asli kan? fix aku akan merayakan ulang tahun minggu depan," lanjut batin Minyan.


"Meunjo minggi depan aku ulang tahu, boleh aku merayakannya? tidak usah pesta mewah, cukup memotong kue, meniup kue, dan memecahkan balon saja. Seperti yang kaukasih tahu." pinta Minyan dengan senyum lebar.


"Apaan enak sekali dia, aku saja belum pernah merayakan ulang tahun. Tapi sabar sajah dulu, sebelum dia akan meninggalkan dunia ini. Anggap saja ini permintaan terakhir dia," Batin Minyan.


"Baik, boleh pokoknya apa saja permintaan kamu akan aku kabulin" ucap Munjo sambil tersenyum.


"Benarkah? Terimakasih Meunjo." Minyan terlihat sangat senag, wajahnya berseri dan memerah.


~Bersambung ~


Jangan lupa like dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2