Rubah Noid

Rubah Noid
Episode. 14


__ADS_3

*Dear Minyan...


Hari yang indah diawali dengan pagi yang indah. semoga mawar ini membuat harimu indah...


Your friend


 Meunjo*


_________________________________________


Seperti biasanya, hari sabtu adalah hari rombak rumah. Maksudnya membersihkan rumah sacara keseluruhan. Dimana Minyan, PamanTieh, Dan juga Guyzu akan membersihkan rumah dari gerbang depan sampai gerbang belakang. Termasuk mengganti gorden, kasur, dan membersihkan lemari pakaian.


Namun kali ini hanya Minyan dan Paman Tiehlah yang akan melakukannya, karena Guyzu sedang berada di luar kota.


"Buskkkk" suara gorden dihempas-hempaskan untuk membuang bau apek yang menempel kemudian di jemur.


"Aku akan membersihkan kamar Paman dan Guyzu." ucap Minyan sambil membawa sapu dan kemoceng ke kamar Paman Tieh dan Guyzu.


"Coba kulihat dulu... Mana yang akan kubersihkan duluan... Baiklah aku akan mulai dari lemari ini," ucap Minyan sambil membuka lemari itu.


"Haaa...? Apa ini? PAMAN!!!! APA INI PAKAIAN KOTOR?? JAKETMU YANG WARNA MAERAH," Teriak Minyan dari Kamar Paman Tieh dan Guyzu.


"OH.... YANG ITU. AKU RASA YANG ITU SUDAH KOTOR," jawab Paman dari area belakang rumah dengan berteriak.


"APA? KENAPA PAMAN MEMASUK KAN NYA KEDALAM LEMARI?" tanya Minyan lagi berteriak.


"AKU RASA, AKU SALAH MEMASUK KAN NYA" jawab Paman Tieh lagi dari area belakang rumah berteriak.


"Haaa, jorok sekali."


Minyan kemudian merapikan buku-buku yang ada dimeja. Tumpukan buku-buku itu terlihat seperti milik Paman Tieh karena ditumpukan buku yang paling atas ada simbol kepolosiannya.


Minyan merapikannya dan tidak sengaja melihat selembar foto seorang pria bersama seorang anak kecil.


Sepertinya mereka adalah ayah dan anak. terlihat sangat akrab dan ceria.


Namun Minyan merasakan energi yang aneh dari foto seorang pria yang merangkul anak kecil itu.


Paman datang untuk mengambil jaketnya tadi. Kemudian melihat Minyan sedang memandangi foto itu.


"Itu foto Guyzu bersama Ayahnya, itu satu-satunya foto yang ia miliki namun dia selalu ingin membuangnya. Untung aku masih menyimpan foto itu." kata Paman Tieh sembari mengambil jaket merah tadi.


"Boleh kutahu satu hal?" ucap Minyan.


"Ya, tentusaja." jawab Paman.


"Siapa pria ini?" tanya Minyan menunjukkan foto yang dipegangnya tadi.


"Dialah ayahnya Guyzu," jawab Paman sederhana.


"Bukan, maksudku siapa dia yang sebenarnya? seperti... apa pekerjaannya? dimana dia tinggal? Dan apa tujuan hidupnya." tanya Minyan ingin tahu.


"Oh, jadi kauingin mengetahui yang sebenarnya," kata Paman Tieh.

__ADS_1


Kemudian Paman Tieh mengatakan semua yang sebenarnya.


"Kami sudah lama hilang kontak dengannya. Semenjak Guyzu lari dari rumah karena dia kekurangan kasih sayang, Ayahnya langsung pergi dan tidak pernah kembali lagi. Entah karena apa dia pergi, tapi Guyzu mengira Ayahnya pergi karena uang dan bisnis. Oleh karena itu, Guyzu menjadi sangat rapuh. Dia memang terlihat kuat dari luar, tetapi dia sangat rapuh dari dalam. Dia juga terlihat arogan, sombong, dan keras kepala. Tetapi sebenarnya dia adalah orang yang hangat, penuh kasih sayang dan setia. Begitulah Guyzu."


"Begitu ya..." ucap Minyan setelah mendengar semua itu.


Kemudian mereka kembali melanjutkan kegiatannya sampai selesai.


"Ahh,... Akhirnya siap juga." ujar Minyan sambil duduk merilekskan badannya di sofa.


"Hari ini kita sudah bekerja keras. Seandainya Guyzu disini, mungkin kita tidak akan selelah ini. Hahaha," kata Paman Tieh sambil tertawa kecil.


Minyan hanya tersenyum dan berkata dalam hati.


"Entah kenapa aku sangat lega mendengar pemaparan Paman tadi. Bahwa Guyzu adalah orang yang baik, hangat, penuh kasih sayang dan setia. Itu masuk akal, karena kalau difikir-fikir memangnya siapa orang yang akan memberi tumpangan tempat tinggal pada orang lain tanpa meminta imbalannya?. Dia juga membeli baju dan ponsel untuk ku. Guyzu......... Aku bangga padamu. Fighting!!!"


"Kring... Kring... Kring...." ponsel Minyan berdering. Minyan melihat dan mengangkatnya.


"Meunjo?... Halo... ada apa?" ucap Minyan memulai percakapan ditelfon itu.


"Tidak ada, aku hanya merasa kesepian. Apa kauboleh menemui sekarang?" kata Meunjo.


"Sebenarnya aku sangat lelah hari ini, tapi aku akan mengusahakannya." jawab Minyan.


"Baiklah. Aku menunggumu, da..." ujar Menjo menutup telfon.


"Paman sepertinya aku harus pergi keluar." ucap Minyan sambil berdiri.


"Tapi ini sudah sore." Paman Tieh.


"Aku pergi~"


Sesampainya dirumah Meunjo, Minyan diajak masuk kadalam rumah.


"Kausudah datang? Masuklah" ucap meunjo membukakan pintu.


"Ada apa? Kenapa kau memanggilku?" tanya Minyan sambil melepas tas sampingnya dan duduk disofa.


"Tidak ada... Aku hanya kesepian saja" jawab Meunjo singkat.


"Apa tidak ada orang yang bisa kauajak bicara disini?" tanya Minyan lagi.


"Tidak ada... Semua asisten rumah tangga disini sedang cuti akhir pekan. Jadi, hanya aku disini sendirian," jelas Meunjo pada Minyan.


"Dimana orang tuamu?" Minyan


"Ibuku sudah meninggal sejak aku kecil. Sekarang aku hanya memiliki seorang Ayah." Jawab Meunjo menunduk.


Minyan langsung merasa bersalah telah menanyakan pertanyaan itu. Karena pertanyaan itu telah membuat Meunjo bersedih.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih." kata Minyan sambil mengelus punggung Meunjo.


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa. Mungkin 1 sampai 2 jam lagi Ayahku akan pulang dia masih bekerja." kata Meunjo menegakkan kepalanya lagi.

__ADS_1


sembari menunggu Ayah Meunjo pulang mereka bercerita banyak hal. Mereka juga menyelipkan lelucon disela cerita mereka yang membuat senyum lebar terpancar di pipi keduanya.


"Oh iya Minyan, apa kaupernah mendengar cerita manusia rubah?" tanya meunjo tiba-tiba.


Sebenarnya meunjo sedang menguji kesabaran Minyan.


Seketika Minyan langsung terdiam dan terkejut pada pertanyaan itu. Matanya melebar dan membulat hingga benar-benar bulat.


"Apa ini? Apa dia sengaja menanyakan itu? kenapa dia tiba-tiba membahas itu?" batin Minyan.


"Kenapa wajahmu berubah seperti itu? Apa kausedang melihat hantu?" tanya Meunjo melihat expresi itu yang sebenarnya Meunjo sudah tahu kenapa Minyan mengeluarkan expresi itu.


"Tidak, tidak," jawab Minyan sambil menghela nafas.


"Jangan terlalu menganggap serius, aku hanya teringat pada dongeng manusia Rubah waktu kecil. Apa kaumengira manusia Rubah itu benar-benar ada? makanya wajahmu berubah menjadi seperti itu?" Tanya Meunjo jelas.


"Ya... Dia pasti hanya teringat pada dongeng waktu kecil saja. Ya... Dia tidak mungkin sengaja menayakannya. Dia juga tidak mungkin tahu kalau aku adalah manusia Rubah. Ok Minyan berfikiran yang posotif saja. Hhhhhh," batin Minyan.


"Tidak, mana mungkin manusia Rubah itu ada. Itu hanya didongeng-dongeng saja." kata Minyan dengan senyuman yang menutupi ke gelisahannya.


"Lagi pula itu kan tidak masuk akal" lanjut Meunjo.


"Kau benar, tidak mungkin mahkluk jelek seperti itu ada di dunia ini." ucap Minyan dengan senyum itu lagi.


"Iya, kau juga benar. Tidak mungkin mahkluk jelek, busuk, bau, bodoh, kurang ajar seperti itu ada di dunia ini," lanjut Meunjo yang membuat Minyan marasa terhina namun tidak bisa melakukan pembelaan karena dia takut ketahuan Meunjo.


Minyan hanya tersenyum menutupi kekesalan, amarah, dan kekhawatirannya.


"Ting nung," suara bel rumah Meunjo berbunyi.


"Itu mungkin Ayahku, aku akan membukakan pintu untuknya, kautunggu saja disini." kata Meunjo seraya pergi membukakan pintu untuk Ayahnya.


Ayah Meunjo langsung masuk kerumah dengan menggunakan topi bundar dan kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


"Halo Paman..." sapa Minyan.


"Siapa kau?" tanya Ayah Meunjo.


"Saya Minyan, temannya Meunjo. Senang bertemu dengan Paman," ucap Minyan tersenyum.


"Pulanglah," kata Ayah Meunjo dingin.


"Sa-saya memang akan pulang," jawab Minyan membeku.


"Sombong sekali," batin Minyan.


"Eee... Baiklah saya akan pulang. Sekali lagi senang bertemu dengan Paman," kata Minyan sambil memakai tas sampingnya dan pergi.


"Hati-hati Minyan..." ucap Meunjo.


"Apa dia orangnya?" tanya Ayahnya Meunjo dengan serius pada Meunjo.


"Iya, dialah orangnya." jawab Meunjo dengan mata tajam.

__ADS_1


~Bersambung ~


Jangan lupa like dan vote ya...


__ADS_2