
"Kami hanya berteman, tapi kurasa Meunjo akan menembakku dalam waktu dekat ini. DDU DDU DDU" ucap Minyan sambil memperagakan gerakan tembakan.
Guyzu berdecak dan terkejut mendengar itu.
_________________________________________
~Pagi hari~
"AAAAAAAA!!!!! tidak mungkin. Tidak mungkin aku mengatakannya!!!! Kaupasti berbohong, iyakan Guyzu!!!!" teriak Minyan di pagi itu yang membangunkan semua orang karena kerasnya suara Minyan.
"Iya. kaubilang, kauingin mendapatkan tubuh seorang pria malam itu juga. Kaubilang demi masa depan." Jawab Guyzu berbohong.
Sebenarnya Minyan tidak mengatakan itu, tetapi Guyzu berbohong pada Minyan agar Minyan tidak meminum alkohol lagi.
"Tidak mungkin!!!! itu menjijikan!!!!" Minyan.
"Benar, aku tidak berbohong," Guyzu.
"Lalu, apa kaumemberikan seorang pria padaku?!!!!" Minyan.
"Ti-tidak, tapi kauterus memaksaku. Akhirnya... " Guyzu berhenti bicara.
"Akhirnya apa?!!! cepat katakan!!!!!!!, cepat!!!!!" Minyan mendesak Guyzu agar mengatakan apa yang terjadi selanjutnya.
"Akhirnya... Aku... Aku..." Guyzu berhenti bicara lagi.
Dia berhenti bicara terus-menerus bukan karena ada hal yang disembunyikan, tapi karena dia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia bingung mau memberi alasan apa agar Minyan percaya.
"Aku apa Guyzu?!!!!!!! Jangan membuatku kesal!!!!!!" Minyan mendesak lagi sangkin ingin tahunya.
"Jangan-jangan... aku malah memakaimu" Minyan menerka kejadiannya.
Guyzu terdiam kebingungan. "Eee, iya." Kata itu spontan keluar dari mulut Guyzu.
"AAAAAAAAAAA"
"APA INI?!!!!! DASAR PRIA CABUL!!!!! MATILAH KAU SEKARANG JUGA!!!!!!" Minyan berteriak dan menyalahkan Guyzu. Minyan mengatakannya sambil memukuli Guyzu.
" Aaaww, Aawww... Sakit Minyan. Kenapa jadi aku yang kausalahkan?!! Itukan kemauanmu." ujar Guyzu seraya menahan tangan Minyan yang terus memukuli Guyzu.
"Apa kaubilang?!!!! Rasakan ini!!!!!" Minyan memukuli dan mencupiti perut Guyzu lebih kuat lagi.
"Aaaww... Aaawww... Aaawww..." Guyzu kesakitan dan berusaha menghindar dari serangan Minyan.
Karena Minyan terus-menerus memukuli dan mencupiti Guyzu, akhirnya Guyzu berusaha kabur namun tidak sengaja menginjak kakinya sendiri yang membuat mereka terjatuh dilantai.
Posisinya Guyzu tergeletak dilantai dan Minyan berada diatas dada Guyzu. Jarak antar kepala mereka sangat dekat, yang membuat mata mereka saling pandang memandang selama beberapa detik.
Namun ada yang janggal, dari tadi Minyan tak kunjung bangkit dari jatuhnya yang membua Guyzu tidak tahan lagi menahan berat badan Minyan.
"Aaaeeee... Ba-bangkitlah, kauberat sekali," nafas Guyzu terlihat tidak beraturan karena tertekan oleh Minyan.
Minyan langsung bangkit dan berdiri. Guyzu terduduk sebentar dilantai menghela nafas yang hampir habis.
Minyan berdiri membisu seraya mengigiti kukunya dengan tatapan kosong.
"Ada apa?!!! Kaumasih belum puas memakaiku semalam?!!!!" ujar Guyzu jahil memanas-manasi Minyan.
__ADS_1
Minyan hanya terdiam dan pergi masuk kekamar meninggalkan pertanyaan Guyzu yang sangat menjengkelkan itu.
"Hhhhhh... dasar wanita aneh." ucap Guyzu tersenyum kecil sambil berdiri dari duduknya dilantai.
__________________________________________
"Tok... Tok... Tok..."
"Sebentar, aku akan membukakan pintu," ucap Minyan sambil berjalan menuju pintu.
Ketika Minyan membukakan pintu, tiba-tiba saja dua orang pria kekar menutup matanya dan mulutnya dengan kain dan mengikat tangan kakinya.
Mereka membawa Minyan masuk kesebuah mobil dan membawanya pergi.
Setelah sampai disebuah tempat yang telah mereka tuju yaitu taman bunga. Dua orang pria kekar itu kemudian membawa Minyan keluar dari mobil dan membuka ikatan kain yang melekat dibadan Minyan.
"Apa-apaan ini?!!! Kalian ingin mencuriku?!!! Lihat saja kalian tidak akan selamat. Aku akan melaporkan kalian pada polisi agar kalian dipenjara!!!!!" ucap Minyan mengancam kedua pria kekar itu.
"Kau akan melaporkan kepolisi, jika ternyata akulah yang mencurimu?" suara itu terdengar dari belakang Minyan.
Minyan berbalik dan melihat orang itu.
"Meunjo..."
"Apa ini, aku tidak mengerti," Minyan kebingungan akan situasi itu.
"Akulah yang mencurimu. Mereka suruhanku," ucap Meunjo menatap mata Minyan.
"Tapi kenapa kau mencuriku, kaubisa menelfon dan menyuruhku datang ke sini." sebut Minyan menjelaskan.
"Aku melakukan ini bukan karena aku ingin mencuri ragamu, tapi aku melakukan ini karena aku ingin mencuri hatimu." ucap Meunjo cepat.
"Minyan... maukah kau menjadi kekasihku."
"Pussssssssggggggggg" suasana dihati Minyan.
Minyan terdiam sejenak. Dia memandangi cincin itu dengan tatapan kosong. Dia bingung ingin menjawab, mengatakan dan melakukan apa.
"Apa ini yang dimaksud dengan cinta sejati? Kalau aku menerimanya, apa kutukan ini akan menghilang? Tapi, kenapa hatiku terasa berat? Sudahlah, yang penting aku bisa terbebas dari kutukan ini." itulah yang terbenak dalam fikir Minyan.
Minyan kemudian menganggukan kepala pertanda ia setuju menjadi kekasih Meunjo.
Dengan cepat Meunjo berdiri dan memakaikan cincin itu dijari manis Minyan.
"Cocok sekali dijarimu. Itu terlihat indah," sebut Meunjo tersenyum lebar.
Minyan masih terbengong dengan tatapan kosong. seolah jiwanya tidak berada disitu.
Posisi mereka sekarang hadap-hadapan. Meunjo menatap mata Minyan dan Minyan menatap mata Meunjo dengan dagu sedikit terangkat karena Meunjo lebih tinggi darinya.
Perlahan Meunjo merendahkan leher dan kepala, menatap lebih dalam disertai hidung yang mulai saling menempel.
Meunjo semakin menundukan kepala seperti ingin menggapai bibir Minyan.
Minyan hanya terdiam tanpa respon apa pun, namun ketika kedua bibir itu hampir bersatu dimana jaraknya tinggal sebatas tebal sehelai kertas Minyan langsung memundurkan kepala disertai kaki yang melangkah kebelakang, yang memisahkan mereka.
Meunjo berdecak tak mengira Minyan akan melakukannya. "Payah" batin Meunjo.
__ADS_1
"A-aku... A-aku..." Minyan gugup ingin melakukan apa.
"Tidak masalah, mungkin kaubelum siap. Aku akan menunggu sampai kausiap. Yang penting sekarang kausudah menjadi milikku." ujar Meunjo pada Minyan seraya merangkul tangan Minyan dan membawanya masuk kemobil.
Sementara itu, dirumah, Guyzu sedang termenung dimeja makan. Ia berfikir apa yang telah terjadi dengan hatinya. Hatinya mulai terisi oleh Minyan yang membuatnya sulit untuk melupakan Minyan.
"Ada apa Guyzu? Kausedang memikirkan apa?" tanya Paman Tieh sambil duduk diseberang Guyzu.
"Oh... Tentang perempuan lagi. Siapa pun perempuan itu, kalau kaumemang menyukainya, langsung utarakan saja. Jangan membuatmu gugup seperti ini. Kalau kautidak cepat mengutarakan perasaanmu, nanti dia malah direbut oleh pria lain. Jangan sampai kau menyesal." anjur Paman Tieh menerka dan memberi saran.
Guyzu mulai menerima saran dari Paman, dia juga terlihat lebih cair dari yang sebelumnya. "Apa yang harus ku lakukan?"
"Ahhkk, ternyata benar tentang wanita. Hahaha... Aku tidak menyangka ternyata kaumemiliki perasaan juga." ucap Paman sembari tertawa kecil.
Guyzu sangat membenci ledekan itu. "Sudahlah, lupakan saja. Aku bertanya pada orang yang salah."
"Hey, jangan begitu. Aku hanya tertawa kecil. Kemari dan dengarlah saran dariku." Paman mendekatkan kepalanya pada Guyzu.
"Kalau kautidak ingin dia pergi, berarti kauharus menjemputnya. Kauharus lebih dulu megutarakan perasaanmu. Jangan sampai dia bosan menunggu"
"Tapi bagaimana aku mengutarakan perasaanku?"
"Kauini bagaimana... Tentu saja kauharus menembaknya, memberinya gombalan-gombalan maut agar dia mau menjadi kekasihmu"
"Aku tidak megerti " Guyzu.
"Apa Paman sudah pernah mempraktekannya? Apakah gombalan Paman berhasil?" tanya Guyzu curiga karena Paman Tieh sampai sekarang belum memiliki pasangan hidup.
Paman Tieh berdecak. " Eeee itu tidak penting,"
"Ya sudah, terserah kausaja bagaimana cara mengutarakan perasaanmu. Setiap pria memiliki cara yang berbeda," sebut Paman Tieh.
"Tapi, siapa perempuan itu? Kautidak pernah menceritakannya padaku," lanjut Paman Tieh menayakan pada Guyzu.
"Minyan" jawab Guyzu cepat.
"AAAAAPPPPPAAAAA"
Setelah Minyan dan Meunjo masuk ke mobil, Meunjo menayakan pada Minyan. " Mau kuantar kemana?"
"Ini sudah malam, antar aku pulang kerumah saja." jawab Minyan dengan suara kecil kemudian menunduk.
Meunjo pun mengantar Minyan pulang ke rumah Guyzu. Setelah mereka sampai didepan rumah Guyzu, meunjo berkata.
"Terimakasih untuk hari ini... Semoga hubungan kita semakin hari semakin dekat. Dan... Karena kini kita telah resmi berpacaran, kautidak perlu lagi menginap dirumah pria lain. Berkemaslah, aku akan menjemputmu besok. Kita akan tinggal satu atap."
Minyan berdecak kaget. "Apa harus sampai segitunya?"
"Apa maksudmu? Tentu saja harus sampai segitu . Bagaimana bisa kekasihku tinggal satu atap dengan pria lain. Pokoknya aku akan menjemputmu besok, ingat itu."
Minyan hanya terdiam dan masuk kerumah.
~*Bersambung~
Jagan lupa like dan vote ya...
Mulai hari ini Rubah Noid akan tayang setiap hari jum'at dan senin ya...
__ADS_1
Jagan sampai ketinggalan episode barunya* 😊😊💜💜💜