
Mendengar itu Paman Tieh langsung bertanya pada Minyan. "Apa kauada urusan besok?"
"Eee... Sepertinya begitu. Maaf ya Paman." kata Minyan sedih.
"Kenapa kaumeminta maaf? Tidak apa-apa pergilah. inikan cuman hari biasa, Guyzu hanya pergi beberapa hari dan pulang. Itukan biasa saja." kata Paman Tieh menegarkan.
__________________________________________
~Keesokan harinya~
"Tintt.... Tintt.... Tintt.... " suara klakson mobil dari luar.
Paman langsung mendengar suara klakson itu dari dalam rumah dan langsung mengenali suara klakson itu.
"Pasti itu Guyzu. Keponakanku... akhirnya kaupulang." kata Paman Tieh dengan senyum lebar dipipinya, seraya membukakan pintu untuk Guyzu.
Guyzu keluar dari mobil dengan tas samping besar yang dibawanya waktu itu sebagai tempat bajunya.
"Guyzu, kausudah pulang? akhirnya kaupulang juga. Ayo cepat masuk Paman sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." ujar Paman Tieh ceria menyabut kedatangan Guyzu.
"Benarkah? Kausudah memasakkannya? Wah, aku sudah sangat tidak sabar." ucap Guyzu ceria pada Paman Tieh.
Paman Tieh langsung membawa Guyzu menuju ruang makan. Disana telah terhidang Makanan kesukaan Guyzu yaitu kepiting saus tiram.
"Ini dia, aku sudah membuatkannya. Aku sengaja membeli kepiting super besar untuk keponakanku. Hahaha." kata Paman Tieh sembari mengambilkan piring untuk Guyzu.
"Hahhh, Paman sangat menyayangiku... Terimakasih Paman." ucap Guyzu yang merasakan kasih sayang Paman Tieh.
"Kauini bicara apa? Tentu saja aku sangat menyanyangimu. Kauini keponakanku semata wayang, mana mungkin aku tidak menyayangimu." jawab Paman Tieh penuh kasih sayang.
"Apa kauingat waktu kaumerajuk karena tidak kuberi kepiting? Waktu itu kepiting saus tiram sudah habis dan tinggal satu lagi. Aku sangat lapar dan aku memakannya, karena itu kau memarahiku dan mengunci diri di kamar, kaujuga tidak ingin melihatku. Karena aku tidak tahan akhirnya aku memasakkannya lagi untukmu. Waktu itu kaumasih sangat kecil, tingkahmu juga sangat lucu. Hahaha..." ucap Paman tersenyum lebar dan tertawa bahagia mengingat masa lalu.
"Paman ini... Akukan sudah bilang jangan menceritakan masa lalu lagi. Aku sangat malu mengingatnya." suruh Guyzu memeles.
"Baiklah, aku akan berhenti bercerita. Hahaha..." jawab Paman Tieh.
"Haaa, aku akan cicipi dulu." kata Guyzu sambil membelah capit kepiting itu dan memakannya.
Setelah Guyzu melakukan suapan pertama, Paman Tieh langsung bertanya bagai mana rasanya. "Bagai mana? enak?"
Seperti biasa masakkan Paman Tieh sangatlah sempurna. Tetapi Guyzu berpura-pura kalau makanan yang di masak Paman kali ini sangat tidak enak. Dia melakukannya untuk mengerjain Paman Tieh.
"Apa ini? Dagingnya sangat keras. sausnya juga tidak berasa. Apa Paman lupa memasukkan lada? Ini belum matang, Paman juga tidak mencucinya bersih. Bau amisnya masih tercium." omel Guyzu blak-blakan mengerjain Paman Tieh.
Mendengar itu Paman Tieh langsung mencicipi masakannya sendiri dan membuktikannya.
"Tidak mungkin, aku sudah memasukkan lada, aku juga sudah mencucinya dengan bersih. Coba ku cicipi," ujar Pamam Tieh seraya mencicipi masakannya itu.
Setelah Paman Tiehe mencicipinya, ternyata rasa masakannya sangat enak dan itu berbanding terbalik dengan apa yang di katakan Guyzu.
"Tidak, ini sangat enak. Bagaimana kaubisa mengatakan begitu? Dagingnya sangat lembut dan manis. sausnya juga sangat enak dan lumer. Apa citra perasa mu bermasalah?" tanya Paman Tieh aneh.
__ADS_1
"Hahaha, Paman percaya pada perkataanku? Aku hanya bercanda. Ini sangat enak bahkan melebihi enak. Aku bahkan tidak bisa berheti untuk memakannya." ucap Guyzu sambil tertawa lebar melihat expresi Paman Tieh yang tidak terima.
"Kau ini, membuat Paman Khawatirkan saja." jawab Paman Tieh lega masakannya ternyata sangat enak.
Mereka tertawa bersama seraya menikmati betapa lezatnya makanan yang ada di meja itu.
Melihat dari tadi Minyan tak kunjung menampakkan diri. Guyzu pun bertanya pada Paman Tieh. "Dimana Minyan? Kenapa dia tidak makan bersama kita?"
"Oh, Minyan ada urusan diluar. Jadi, dia tidak bisa makan bersama kita." jawab Paman Tieh.
Guyzu sedikit sedih, entah kenapa dia merasa tidak lega karena belum bertemu dengan Minyan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku mulai memikirkan dan merindukannya? Padahal aku sudah menjauhkan diri selama beberapa hari" batin Guyzu.
Seraya dia berkata dalam hati, ternyata dia memancarkan semua perkataannya itu dalam expresi wajahnya.
Paman Tieh melihat ada expresi yang aneh pada wajah Guyzu setelah Paman menjawab bahwa Minyan sedang berada diluar dan tidak bisa makan bersama mereka.
"Paman mengerti semuanya." ujar Paman Tieh seraya megamati Guyzu.
Medengar itu Guyzu terkejut dan bertanya kenapa Paman Tieh Mengucapkannya.
"Apa yang Paman katakan? Kenapa Paman tiba-tiba mengatakan itu?" tanya Guyzu heran dan tidak mengerti.
"Apa kaumenyukai Minyan? Jika kaumenyukainya, maka katakanlah pada Minyan yang sebenarnya. Agar Minyan megerti pada perasaanmu." ucap Paman Tieh menerka masalah Guyzu.
"Ahkhuk... huk... huk..." Guyzu terkejut dan tersedak.
"Benarkah? Tapi aku melihat ada yang berbeda darimu ketika aku menyebut nama Minyan." kata Paman lagi.
"Tidak Paman, tidak!!!!!!!!"
"Kenapa kaubegitu sensitif? Aneh sekali," ucap Paman Tieh terkejut melihat reaksi Guyzu.
"Jagan membahasnya lagi, kalau tidak aku akan pergi dan tidak akan melanjutkan acara makan siang ini." ancam Guyzu tak ingin membahasnya lagi.
Paman Tieh berdecak dan tidak bisa melawan karena ancaman itu.
"Baiklah, Paman Tidak akan membahasnya lagi. Ayo lanjutkan makanannya." jawab Paman.
"Oh iya kapan kauakan mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazahmu?" tanya Paman Tieh mengalihkan pembicaraan.
"Lupakan saja, Gaji disini sangat kecil, sementara menanam dan menagih bunga sangatlah mudah dan memberi untung besar. Kinerja waktunya juga sangat bersahabat. Aku bebas menagih kapan saja. Ini pekerjaan yang sangat berharga bagiku." jawab Guyzu mejelaskan pekerjaannya.
"Kau ini... Jika kau terus-terusan membuat bunga setinggi langit, kaubisa didenda oleh pemerintah." kata Paman Tieh sedikit kesal.
"Aku tidak peduli" jawab Guyzu cuek.
Sementara itu, Minyan sedang mengadakan acara makan siang ditempat lain bersama Meunjo.
"Bagaimana presentasenya? lancar?" tanya Minyan pada Meunjo, seraya meminum jus jeruk kesukaannya.
__ADS_1
"Pastilah, mana mungkin tidak lancar. Inikan Meunjo." jawab Meunjo penuh percaya diri.
"Emm, benarkah? Syukurlah." ucap Minyan singkat. Sebenarnya dari tadi dia memikirkan keadaan rumah. Apakah Guyzu sudah pulang? Apakah Guyzu dan Paman sudah menyelesaikan makan siangnya? Apakah semua berjalan lancar? Itulah pertanyaan yang berada dibenak Minyan saat ini.
"Haaa... Aku sangat bahagia hari ini, bagaimana jika kita pergi berbelanja atau sebagainya untuk mengingat hari ini." ujar Meunjo menawarkan saran seraya memperingati hari baiknya ini.
Minyan hanya terdiam dengan tatapan kosong, karena dia sedang memikirkan keadaan Paman Tieh dan Guyzu.
"Minyan... Minyan... MINYAN...!!!!!" pangil Meunjo sambil meninggikan suaranya karena Minyan tidak meresponnya.
Minyan langsung tersadar dan menghilangkan tatapan kosongnya.
"Apa? Apa yang kau katakan tadi? Eee... Ma-maaf, aku tadi tidak mendengarnya." jawab Minyan terkejut.
"Tidak ada, lupakan saja," ucap Meunjo tidak suka akan sikap Minyan.
"Eee... Bagaimana ini. Meunjo, maafkan aku, Aku tidak bermaksud begitu." jelas Minyan membenarkan keadaan.
"Sudahlah, kaubisa pulang sekarang." ucap Meunjo dan pergi meninggalkan restoran duluan.
Minyan diam sejenak dan berfikir seharusnya dia tidak membuat Meunjo kesal.
"Haaa... Kenapa jadi begini? Apa yang harus kulakukan? HAAAAA..... " ucap Minyan kesal.
Minyan akhirnya pulang kerumah dengan wajah lesu, suram, lelah, dan bersalah.
~sesampainya dirumah Guyzu~
"Hhhh aku mau tidur saja. Lelah sekali... " ucap Minyan menghembuskan nafas pertanda lelah.
Guyzu menghampirinya dari kamar dan bertanya. "Kenapa kaulelah? Memangnya apa yang kaulakukan? Kau terlihat meyedihkan."
Sontak Minyan langsung berbalik dan melihat Guyzu.
"GUYZU" ucap Minyan girang.
Wajah lesu, suram, kesal, dan bersalah itu mendadak hilang dan mendatangkan wajah senang nan ceria.
"Kenapa kau tiba-tiba mencadi ceria?" ucap Guyzu heran.
"Akhirnya kaupulang juga. Aku kira kautidak akan pulang lagi. Kaubahkan tidak pernah memberi kabar selama diluar kota. Aku kira kausudah mati. Aku bahkan hampir menelfon petugas pemakaman untuk menyiapkan liang untukmu. Haaa.... Bodohnya aku." kata Minyan blak-blakan.
"Kauini... Bagaimana bisa kau berfikiran aku sudah mati?!!!! Dasar aneh. Ternyata kaubelum berubah ya... Kaumasih tetap tidak waras. Seharusnya aku menelfon petugas rumah sakit jiwa untuk menyiapkan kamar untukmu." balas Guyzu blak-blakan juga.
"Sudah, jagan diambil hati. Aku hanya bercanda. Yang penting sekarang kausudah pulang dan baik-baik saja." ucap Minyan lembut.
"Sikapmu sangat membuatku jijik." jawab Guyzu dan langsung masuk kekamar.
~Bersambung ~
Jangan lupa like dan vote ya...
__ADS_1