Rumah Di Ujung Jalan

Rumah Di Ujung Jalan
Suara ketukan pintu


__ADS_3

Pagi yang mendung mengiringi langkah sepasang suami istri bersama beberapa warga lain nya , tak banyak yang ikut seperti kemarin ,sebab beberapa warga harus pergi ke ladang untuk bekerja.


"baiklah ,mari kita mulai saja biar lebih cepat ,kan hanya tinggal lantai dan dinding saja ,kalian bagi-bagi tugas ya " ujar pak Bayu pada warga


"iya wa....." sahut mereka bersama


Proses pembersihan pun kembali dilakukan ,para warga berbagi tugas dalam mengerjakan pekerjaan ,mereka semua bekerja dengan sangat cepat ,sebab sebenarnya mereka sudah enggan untuk kembali ke rumah itu ,maka lebih cepat selesai itu lebih baik.


Menurut mereka Fahmi dan Mika cukup berani tinggal di rumah yang sudah berpuluh-puluh tahun tak ditempati itu ,namun mereka juga tak mungkin melarang mereka sebab rumah itu juga merupakan rumah peninggalan orangtua Fahmi.


Mereka hanya berharap Fahmi dan istrinya tak akan mendapat gangguan apa pun selama tinggal di rumah tersebut.


Rumah tersebut bukan hanya rumah tua dan tak terawat , letak nya yang di ujung jalan pun cukup jauh dari rumah warga lain nya , jarak nya pun dua ratus meter untuk mencapai rumah warga.Namun meskipun bangunan itu cukup lama bangunan itu masih nampak terlihat kokoh , bagian genting dan flafon bahkan pada pintu dan kusen nya pun masih bagus tak seperti rumah sekarang yang baru di bangun beberapa tahun sudah mulai rusak di bagian kusen nya.


Di bagian belakang rumah itu merupakan hutan yang sangat rimbun dan gelap,rencana nya Fahmi akan mendirikan tembok sebagai pagar agar tak terlalu terlihat jelas hutan nya ketika berada di belakang rumah.


Hal itu Fahmi lakukan agar kejadian hilang nya istri nya kemarin tak kembali terulang.


"mudah-mudahan uang nya cukup lah buat bikin tembok di sini" ucap Fahmi pada pak Bayu di samping nya ,kedua nya tengah berada di halaman belakang


"baiklah kalau begitu uwa akan panggilkan tukang nya sekarang juga ,lebih cepat kan lebih baik ,untuk belanja bahan bangunan nya biar bang Sanip saja yang urus dia kan sering berangkat ke kota untuk menjual hasil kebun nya " ujar pak Bayu


"ya sudah saya serahkan saja pada uwa bagaimana baik nya ,saya percaya pada warga di sini " ucap Fahmi


"ya sudah kalau gitu uwa panggil kan bang Sanip nya dulu,mungkin malam nanti bang Sanip berangkat nya ,biar sekalian " ucap pak Bayu kemudian


"iya wa silahkan "


Pak Bayu pun pergi menemui bang Sanip di ladang nya yang tengah memanen berbagai macam jenis sayuran.


Fahmi pun beranjak menghampiri istri nya yang tengah diam mematung dengan pandangan kosong nya


"sayang ...." namun Mika tak merespon


"sayang .... Mika" Fahmi menyentuh bahu nya ,barulah Mika menoleh dan tersenyum


"kamu sedang apa ,apa yang kamu lihat?" tanya Fahmi juga melihat ke arah pandang istrinya itu


"bukan apa-apa kok bang ,aku hanya berfikir apa aku akan betah tinggal di sini ,apalagi rumah ini juga jauh dari rumah warga " sahut Mika lirih


Fahmi menghela nafas nya


"maafkan aku ya , gara-gara aku kita harus tinggal di desa terpencil ini , aku janji suatu saat kita akan kembali ke kota agar kamu bisa nyaman " ucap Fahmi

__ADS_1


"tidak bang,dimana pun asal itu bersama abang ,aku pasti akan nyaman ,hanya saja aku takut tidak bisa membahagiakan Abang" ucap Mika sedih


"justru aku sangat merasa bahagia bisa memiliki mu ,sudah jangan fikirkan apa pun lagi ,aku percaya apa yang di takdirkan Allah untuk kita itu adalah yang terbaik" sahut Fahmi lagi ,ia mengerti jika saat ini istrinya itu tengah memikirkan anak yang tak kunjung hadir dalam hidup mereka


Lima tahun pernikahan bukan waktu yang singkat ,selama itu pula mereka selalu menantikan hadir nya buah hati mereka ,sudah berbagai cara mereka lakukan termasuk memeriksakan diri ke dokter ,namun dari hasil nya kedua nya sangat sehat dan tidak ada yang bermasalah.


Hal itu pula yang membuat kesehatan Mika selalu drop karena selalu memikirkan nya,ia merasa hidup nya tak adil ,dia yang sudah menjadi yatim piatu sejak kecil tak bisa merasakan kasih sayang orangtua , setelah menikah pun tak kunjung hamil , Mika pun hampir depresi ,namun berkat adanya Fahmi di sisi nya membuat Mika bisa melewati keterpurukan nya.


Sempat ia berfikir untuk merelakan suami nya poligami tapi hati kecil nya tak rela ,ia tak ingin berbagi.Dan hal itu pula yang di tentang Fahmi.


**


Tak terasa satu Minggu sudah berlalu ,kini Fahmi dan Mika sudah menempati rumah tersebut.


Meski letak nya terpencil desa tersebut sudah masuk listrik , meskipun sering terjadi mati lampu ,itu karena di sebab kan lokasi desa nya yang terdapat banyak pepohonan tinggi hingga mengganggu aliran listrik ,bisa karena tumbang nya pohon , dahan nya patah menimpa kabel listrik , longsor ,dan lain sebagai nya.


Beruntung di rumah besar itu sudah tersedia mesin genset ,meski sudah tua dan berkarat berkat kemampuan Fahmi mesin itu bisa di perbaiki dan berfungsi kembali, Fahmi merencanakan mesin genset itu untuk cadangan jika sewaktu-waktu listrik padam.


DUUAAAR


Suara petir menyambar di keheningan malam ,tanpa ada hujan sama sekali namun suara dan kilatan nya cukup membuat adrenalin memuncak ,ditambah suara desiran angin yang menggoyang-goyang kan daun dan pepohonan.


Mika yang merasa ketakutan pun semakin merapatkan dirinya pada Fahmi yang selalu terlelap seolah tak merasa terganggu sama sekali dengan suara gemuruh di luar sana.


Wuuusss.....


Mika sampai mengerjapkan mata nya karena kencang nya angin yang berhembus menerpa wajah nya


Dingin


itu yang Mika rasa


Jantung nya kian berdetak lebih cepat , Mika mengedarkan pandangan nya ,ia melihat pada jendela kayu nya tertutup


"lalu darimana angin itu masuk nya ?" fikir Mika


tiba-tiba terasa ada yang menyentuh pundak nya ,Mika menoleh namun tak ada siapa pun.


"cuma perasaan ku" gumam Mika


suara ketukan pada pintu membuat nya merasa was-was ,mengingat hari sudah gelap dan jam pun sudah menunjukan pukul 24:00


"siapa yang ngetuk pintu malam-malam begini" batin Mika

__ADS_1


tok tok tok


Mika kembali mendengar nya ,namun ia sama sekali tak ingin melihat nya ,ia sudah sangat ketakutan saat ini.


"bang....bang...Fahmi..." dengan pelan Mika membangunkan suami nya itu


"Abang..." Mika pun memencet hidung Fahmi agar suami nya itu cepat terbangun ,sebab kalau sudah tidur Fahmi sudah seperti orang mati


"um....sayang ada apa?" meski tidur nya terganggu ia sama sekali tak marah


"itu ...ada yang ngetuk pintu" sahut Mika


"mana ... gak ada suara apapun kok ,kamu salah dengar mungkin " ucap Fahmi yang memang tak mendengar adanya yang mengetuk pintu


"iya ya ...tapi tadi ada kok suara nya " ucap Mika tak mau kalah


"ya sudah kamu tunggu di sini ,biar aku lihat siapa yang datang ,siapa tahu ada yang butuh pertolongan " ujar Fahmi seraya beranjak dari tempat tidur nya


"bang....seperti nya gak usah deh ,ini sudah tengah malam ,memangnya ada orang malam-malam begini bertamu?" cegah Mika menarik lengan suami nya


"kalau misal nya memang ada orang yang butuh bantuan gimana ,sudah gak apa-apa ya ,aku lihat sebentar " Fahmi mengusap pucuk kepala dan mencium Mika lalu pergi meninggalkan kamar nya


Dengan ditemani cahaya remang dari lampu yang menempel di dinding ,Fahmi pun berjalan menuju pintu masuk ,kamar nya yang berada di lantai dua pun mengharuskan nya untuk berjalan menuruni tangga.


DUAAARRRRR.....


kembali suara petir menyambar di langit ,Fahmi yang merasa terkejut pun sampai berlonjak


tok tok tok


semakin mendekati pintu suara ketukan itu semakin jelas ,ia semakin yakin jika ada seseorang yang memerlukan bantuan nya


Akan tetapi saat hendak membuka pintu listrik tiba-tiba padam ,dan terdengar suara teriakan dari Mika


"aaaaakkkkkhhhh......."


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2