
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah melakukkan perjalanan tadi, kini tibalah mereka berdua di rumah Mila untuk mengambil barang - barang Mila yang diperlukan untuk keberangkatan mereka nanti di jam 6 sore.
Sementara Mila sedang mengemasi barang - barangnya, Ares menatap satu persatu foto yang ada di rumah Mila.
Foto - foto kebersamaan Mila dengan ibunya, sebegitu dekatnya mereka, wajar jika Mila merasakan sangat kehilangan.
Tetapi ada satu yang dia fokuskan, Ares mencari foto Mila dengan Ayahnya, kenapa tidak ada?
“Bapak sedang apa?” Tanya Mila, mengejutkan Ares, yang sedari tadi menatap foto - foto Mila.
“Sedang melihat Foto,” jawab Ares dengan simple.
Lalu Mila tidak memperdulikannya lagi, dan fokus menutup barang - barang di rumahnya agar tidak berdebu. “Ibu kamu cantik ya Mil,” ujar Ares, memuji kecantikan dari mendiang.
“Ibuku aku memang cantik Pak, bahkan dia adalah wanita yang paling cantik di dunia menurutku,” sahut Mila, dengan mengingat kecantikan ibunya yang tidak akan pernah tertandingi.
“Tapi kenapa ayah kamu tidak ada di salah satu foto ini Mil? Ayah kamu kemana?” Pertanyaan Ares itu, sontak saja membuat pergerakannya Mila terhenti.
“Saya tidak punya Ayah Pak,” jawab Mila dengan jujur.
“Tidak punya Ayah, memangnya kenapa?” Tanya Ares lagi dengan penasaraan.
Mila menatap Ares sejenak, “ternyata Bos ini selain narisis dia juga kepo ya.” Batin Mila, yang merasa semua di dalam diri Ares itu adalah sebuah kekurangan. Lalu kelebihannya dari mana orang - orang bisa menyukainya.
“Saya juga tidak tahu Pak, ibu saya enggan menceritakannya, dan saya dari kecil memang anak ibu, dan sepertinya ibu saya juga tidak pernah menikah dengan ayah saya, karena di Ktp Ibu saja juga masih berstatus belum menikah.” Jelas Mila, tanpa ada rasa malu menceritakan jati dirinya.
Menurutnya, itu bukanlah sebuah aib yang harus disembunyikan, terserah dari orang lain saja mau menerima dan berpikir seperti apa tentang dirinya, mau menjauh ya silahkan, mau menganggapnya sebagai anak haram juga silahkan. Dia sudah sama sekali tidak perduli dengan hal - hal seperti itu.
“Oh begitu.” Respon Ares dengan singkat.
“Ya Begitu.” Sahut Mila lagi. Dan kembali fokus untuk mengemasi barangnya, dan menutupi semua prabotan di rumahnya agar tidak berdebu jika dia tinggalkan lama nanti.
****
Sekitar 40 menit waktu yang Mila butuhkan untuk berkemas, dan sekarang jam menunjukkan angka 3.15 sore.
__ADS_1
Dan sekarang mereka sudah kembali ada di dalam mobil, untuk bergegas jalan menuju rumah Ares.
“Mil, kamu tidak pernah mencoba gitu mencari ayah kamu? Bisa sajakan kalau kamu bertemu ayahmu, berarti kamu masih punya orang tua.” Ares mencoba berkomunikasi lagi dengan Mila, agar perjalanan mereka tidak terasa hening sekali.
Mila kembali menoleh sejenak, mengalihkan pandanganya dari laptop menatap ke arah Ares. “Untuk apa aku mencari pria yang sudah membuangku dan ibuku?” Tanya Mila telak, membuat Ares merasa bingung sendiri untuk menjawabnya.
“Ya, kan dia termasuk orang tua kamu.” Jawab Ares dengan asal.
“Oh ya? Bagaimana mau disebut orang tua? Jika dia saja tidak mau menjadi orang tua?” Tanya Mila lagi. Ares sama sekali tidak menyadari atau memang dirinya tidak berpikir bahwa pertanyaan dan pernyataan itu sangatlah melukai hatinya.
“Mungkin dia mempunyai alasan meninggalkan kalian, we never know.” Jawab Ares lagi, membuat Mila tersenyum sinis, dan kembali lagi fokus dengan laptopnya.
“Terkadang, ada hal yang bapak sebagai atasan perlu tau, dan ada juga hal yang bapak tidak perlu tahu, dan tidak perlu ikut campur!” Tegas Mila, membuat Ares semakin terpojok.
Baru pertama kali ini, ada wanita yang berbicara se sinis itu kepadanya, wanita loh, membayangkannya saja rasanya ingin membuat Ares tertawa.
Kasta wanita yang selama ini terlihat rendah di matanya, membuat dirinya merasa bahwa Mila ini sangat menarik.
Sebenarnya bukan tidak ada wanita yang jutek kepadanya, hanya saja menurut Ares sikap jutek dan sok jual mahal wanita itu hanyalah di awalan saja. Karena jika terus bersama dengan Ares, pasti wanita itu akan luluh juga.
***
“Masuk Mil,” Ares mempersilahkan Mila untuk masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah Ares, Mila sempat terpesona menatap sekelilingnya, rumah besar bak istana ini. Jauh sangat berbeda dari rumahnya.
“Mila,” panggil seseorang yang membuatnya menoleh.
Mila menyeritkan keningnya bingung, karena dia sama sekali tidak tahu siapa orang yang sedang berada di hadapannya itu.
“Kamu tidak ingat siapa saya? Padahal saya datang waktu pemakaman ibumu.” Ujar orang tersebut.
“Maaf om, tapi saya memang tidak ingat siapa saja yang datang pada saat itu.” Seru Mila, dengan perasaan yang sangat tidak enak, karena melupakan orang - orang yang sudah baik mengunjunginya.
“Tidak apa, saya Fredy, papahnya Ares.” Jelas Fredy, memperkenalkan dirinya dengan Mila.
“Om Fredy,” ucapnya ulang, dengan senyum.
Fredy menatap Mila dengan lekat, “wajahmu mirip sekali dengan ibumu ya.” Tungkas Fredy, yang membuat Mila tersenyum.
__ADS_1
“Iya Om, saya memang mirip sama ibu saya, kalaupun saya bilang saya mirip Ayah saya, juga saya tidak bisa jawab om, karena saya tidak tahu wajah ayah saya seperti apa.” Jelas Mila, membuat Senyum di wajah Fredy itu tiba - tiba menghilang.
“Jadi kamu tidak punya ayah?” Tanya Fredy lagi, dan di jawab anggukan kepala oleh Mila.
“Kenapa kamu tidak berusaha mencari ayahmu? Memangnya kamu tidak ingin bertemu dengannya?” Tanya Fredy lagi.
“Tidak om, saya tidak akan mencari ataupun bertemu dengan orang yang sudah menelantarkan saya.” Jelas Mila, membuat Fredy sedikit teremenung mendengarnya.
“Memangnya kamu tahu alasan ayah kamu menelantarkan kamu, mungkin bisa saja kan Ibumu yang meninggalkan ayahmu.” Fredy terus menerus menghasut pemikiran Mila, agar tidak berpikir jika ayahnya lah yang bersalah.
Mila tersenyum, karena konteks pembicaraan mereka ini sudah sangatlah begitu sensitif. “Om, kayanya ini udah terlalu dalam banget om, maaf saya tidak bisa menjawab.” Tolak Mila, karena tidak suka jika ada orang lain yang mengira bahwa ibunyalah yang bersalah.
“Heheh Maaf Mila, bukan maksud Om, hanya saja Om tidak suka gitu, ada laki - laki yang tidak tanggung jawab dengan wanita.” Jelas Fredy kepada Mila.
“Omong kosong,” sahut suara yang tidak lain adalah Ares.
Sontak saja Mila dan Fredy menoleh ke arah Ares, yang terdengar bicara dengan sangat tidak sopan.
“Kamu mau membicarakan tentang masa lalumu yang tidak bertanggung jawab padaku, demi seorang wanita penyanyi cafe itu? Kamu bahkan rela mau menceraikan Mamah untuk bersama dengan wanita itu.”
“Persetan dengan kata - katamu, tidak suka dengan laki - laki yang tidak tanggung jawab!” Tegas Ares, dan langsung menarik tangan Mila untuk menjauh dari Fredy.
Mila hanya bisa terdiam tanpa mau bertanya, apa permasalahan antara Ares dan Ayahnya. Namun dari penggalan kalimat Ares tadi, sudah disimpulkan jika Fredy Papah Ares pasti pernah berselingkuh bersama dengan wanita lain.
“Pak, Pak Ares! Lepaskan tangan saya pak, sakit.” Ujar Mila, merasakan tangannya di remas terlalu kuat oleh Ares.
Ares yang menyadari hal itu, langsung melepaskan gengamannya dari tangan Mila, “maaf.” Ucap Ares dengan menatap Mila penuh penyesalan.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*