
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah menikmati malam di kota baru, kini Mila dan Ares terlihat kembali ke kamar hotel mereka masing - masing.
Mila yang sedang sibuk dengan kekagumannya dengan kota ini, rasanya merasa tidak puas kalau hanya berjalan - jalan di satu tempat saja.
Hingga dia memilih untuk kembali mengendap - ngendap, agar tidak ketahuan oleh Ares lagi.
“Mau kemana?” Tanya Ares dengan tatapan tajamnya.
Sontak saja, Mila yang mendengar suara horor begitu. Membuat dirinya menoleh dengan senyum yang menampilkan rentetan giginya.
“Eh, pak, Hallo pak, selamat malam.” Sapa Mila dengan perasaan takutnya.
Ares menyilangkan tangannya di depan dada sembari menggelengkan kepalanya pelan. “Benar - benar tidak bisa dipercaya.” Gumam Ares, yang terpaksa harus menelpon kantor polisi untuk meminta satu anggotanya untuk berjaga di depan pintu kamar Mila.
“Kamu kenapa mau keluar terus?! Kamu tidak tahu kalau ini malam atau gimana?!” Sentak Ares, yang merasa tidak habis pikir dengan tingkah laku sekertarisnya yang satu ini.
“Yakan saya -,”
“Saya apa?!” Sentak Ares lagi, kali ini dia benar - benar marah dengan Mila.
Bukannya apa, dia hanya merasa bahwa dialah yang membawa Mila ke sini, dan berarti itu sudahlah sebuah tanggung jawabnya. Kalau misalnya terjadi apa - apa pada Mila, tentu saja pihak kepolisian akan menyalahkannya.
Mila yang dibentak seperti itu oleh Ares, mau tidak mau dia memilih untuk diam, karena di saat ini dia sudah benar - benar salah dan tidak mau lagi membantah untuk memancing lebih emosi Ares.
“Untuk malam ini, sudah ada dua polisi yang berjaga di luar! Sampai kamu berani keluar kamar lagi, aku sudah meminta pada dua polisi itu untuk menembak saja kakimu! Mengerti!” Tegas Ares lagi, membuat Mila hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya pelan.
Setelah selesai mengomeli Mila, jam sudah menunjuk angka 12 malam, dan sudah waktunya Ares untuk kembali ke kamarnya. “Ya sudah, saya akan balik ke kamar saya.” Pamit Ares, membuat Mila replek juga ikut bangkit.
“Mau ngapain lagi kamu?” Tanya Ares sinis pada Mila.
“Mau antar bapak keluar pak,” jawabnya dengan begitu polos.
__ADS_1
“Sudah tidak usah! Saya bukan anak kecil yang harus di antar dan bisa berjalan sendiri!” Sentak Ares lagi, membuat Mila replek duduk kembali.
“Hufftt, aku seperti sedang merawat anak kecil saja.” Umpat Ares, merasa pusing sendiri dengan kuputasnnya membawa Mila ke Kota orang.
Sesampainya di luar kamar Mila, Ares melihat dua polisi yang tadi sudah di minta olehnya. “Jaga Bocil yang ada di dalam sini! Kalau dia memaksa keluar, tembak saja kakinya!” Perintah Ares pada ke dua polisi muda itu, membuat ke dua polisi muda itu tertawa mendengarnya.
“Baik - baik pak siap - siap, hehehe.” Jawab ke duanya dengan serentak.
Di saat Ares baru mau berbalik ke kamarnya, tiba - tiba saja ada suara yang memanggilnya.
“Ares!!” Panggil suara perempuan yang membuat Ares harus berulang kali istigfhar mendengarnya.
“Antares,” panggilnya lagi, namun Ares sama sekali tidak mau menoleh. Membuat ke dua polisi yang lebih dulu melihat wanita itu merasa bahwa wanita itu sedang memanggil pria yang baru saja mengobrol dengan mereka.
Dengan berlari kecil, wanita itu kini berada di depan hadapan Ares. “Kamu kok pura - pura gak dengar sih aku panggil?” Tanyanya dengan suara yang begitu lembut.
Ares terus menghela nafasnya, agar bisa memperbaiki emosinya. “Melisa, kamu kenapa ada di sini?” Tanya Ares pada wanita itu.
“Aku tadi di kasih tau sama Om Fredy jika kamu lagi di sini, jadi ya aku susulin kamu ke sini, kan kamu tahu aku gak bisa jauh - jauh dari kamu.” Jawabnya dengan begitu manja, dan lalu menggelantung di lengan Ares.
“Bisa tolong cekkinkan satu kamar lagi buat tamu saya ini tidak?” Tanya meminta bantuan pada salah satu polisi itu, dengan memberikan uang yang begitu banyak.
“Sayang, kok kamu pesan kamar satu lagi, kan itu -“
“Shhttt diam Melisa! Kalau kamu tidak mau aku suruh pulang malam ini!” Sentaknya agar Melisa menutup mulutnya sejenak.
Polisi - polisi itu saling menatap satu sama lain, dan di detik selanjutnya mereka menerima uang dari Ares. “Baik Pak, saya akan turun ke bawah untuk memesan satu kamar lagi.” Ucap salah satu dari mereka, lalu menerima uang dari Ares.
Setelah itu, karena Ares merasa tubuhnya sudah benar - benar begitu lelah, barulah dia mengajak Melisa ke kamarnya sebentar, sembari menunggu kamar yang baru dipesankan.
Ares pikir dia bisa beristirahat setelah membereskan satu bocil. Ternyata dirinya salah ketika Papahnya mengirimkan satu iblis menganggu harinya malam ini.
Melisa selsiliah, adalah seorang anak pengusaha yang juga merupakan teman akrab dari Fredy. Mereka bekerja sama sudah sedari dulu. Hingga mereka sepakat untuk menjodohkan Melisa dan juga Ares.
Ke duanya juga sempat berpacaran di saat masa - masa kuliah, mungkin Melisa juga bisa di bilang pacar Ares yang paling terlama, atau bisa di bilang First love Ares.
__ADS_1
Namun hubungan mereka Kandas, setelah Ares tahu bahwa Melisa mengidap depresi yang membuat wanita itu harus selalu mendapatkan perawatan pisikiater.
Melisa sendiri adalah wanita yang paling jahat dulu di sekolah maupun di kampus, wanita itu seperti memiliki wajah bermuka dua yang selalu membaiki orang - orang di awal, lalu menyiksanya di belakang, hingga Melisa mendapatkan sebuah julukan Queen of the Evil.
Dan sikap suka menindas rakyat miskin itulah yang membuat Ares sangat tidak menyukainya. Tapi Papahnya terus saja memaksakan perjodohan mereka, makanya Ares selalu menghindari wanita itu.
Seperti saat ini, Melisa terus saja menggelayut di tanganya dan ini sungguh sangat membuatnya risih. “Mel, ini tuh sudah malam, dan aku juga butuh istirahat untuk bekerja besok, bisakah kamu membiarkanku istirahat dulu?” Tanya Ares dengan lembut, karena tidak mau membuat Melisa marah tiba - tiba.
“Baiklah, aku akan pergi ke kamarku sekarang! Tapi jangan lupa pagi besok kamu bangunin aku! Janji!” Jawabnya, dan membuat kesepakataan dengan Ares.
“Oke.” Balas Ares dengan begitu pasrah.
“Oke,” muaaachhh, Melisa mengecup Pipi Ares sebelum dia bangkit dan pergi ke kamarnya.
“Bye sayang, sampai jumpa besok.” Pamitnya pada Ares, yang masih memasang senyum palsunya. Hingga Melisa keluar, barulah dia merasa legah.
“Akhirnya aku bisa bebas dari iblis itu.” Gumam Ares, sembari merapikan tempat tidurnya agar dia bisa segera tidur.
***
Sedangkan Melisa, yang baru saja keluar dari kamar Ares, kini menghilangkan senyumnya dan menatap ke arah dua polisi tadi.
“Tadi pacar saya keluar dari kamar sini? Siapa yang ada di dalam?” Tanya Melisa dengan tatapan tajamnya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*