Rumit (Sakit Ketika Kamu Mencintai Kakak Kandungmu Sendiri )

Rumit (Sakit Ketika Kamu Mencintai Kakak Kandungmu Sendiri )
Kedatangan Fredy


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


“Gimana kabarmu Mil? Ibu kamu? Sehat?” Tanya Rafka dengan random.


Senyum Mila perlahan memudar mendengar pertanyaan itu. “Ibu aku meninggal Raf.” Jawabnya jujur, membuat Rafka merasa bersalah karena sudah bertanya tentang itu.


“Maaf Mil, aku tidak tahu.” Serunya, penuh penyesalan.


“Aku sekarang sendiri Raf,” ucap Mila lagi, membuat Rafka memilih untuk mengarahkan mobilnya ke arah lain.


Mila yang terpaku dengan kesedihannya, kini tidak menyadari jika Rafka membawanya ke tempat lain.


“Ayo turun.” Ajak Rafka pada Mila.


Mila melihat sekelilingnya, dan memperlihatkan sebuah tebing. “Kita mau ngapain ke sini Raf?” Tanya Mila, sedikit khawatir, mengingat kejadian tadi di Club.


“Ayo turun saja.” Ajak Rafka, tanpa menjawab lebih dulu pertanyaan dari Mila.


Karena tidak menaruh rasa curiga pada Rafka, Mila mengikuti teman lamanya itu untuk keluar dari mobil.


Happ, Rafka melompat ke atas cap mobilnya, lalu duduk dengan manis. “Naik!” Pintanya pada Mila, agar mengikuti kegiataannya.


Dengan ragu, Mila melompat naik ke atas cap mobil, “kita mau ngapain di sini Raf?” Tanya Mila lagi.


Namun bukannya menjawab Rafka malah tersenyum, lalu mengalihkan pandanganya ke depan, menatap pepohonan yang ada di bawah, “hhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Teriak Rafka dengan begitu nyaring, membuat Mila yang ada di sampingnya harus menutup telingnya.


“Coba deh, keluarin semua amarahmu dengan teriak seperti itu, pasti rasanya lebih tenang.” Ucap Rafka, membuat Mila akhirnya ikut tersenyum.


“Aaaaaaaahhhhhhhhaaaaaaahhhhhhhhhhh.” Teriak Mila, dengan di iringi tawanya.


“Lagi ya,” ajak Rafka lagi.


“Iyah,” sahut Mila.


“Tapi kali ini, teriaknya dengan menyebutkan apa yang menjadi uneg - uneg kita.” Ucap Rafka lagi, lalu di jawab dengan anggukan kepala oleh Mila.


“Ahhhhhh, Ares kamu adalah laki - laki yang paling kurang ajar, semoga kamu mati masuk neraka jahanam.” Teriaknya dengan begitu penuh emosi.


Rafka tertawa mendengar teriakan Mila yang sedang menyumpahi seseorang sedemikian rupa.


“Kamu benci banget ya sama orang itu?” Tanya Rafka dengan tawanya.

__ADS_1


“Iya, banget - banget.” Jawabnya dengan rasa bahagianya.


Rafka menganggukan kepalanya pelan. “Hemm, Rafka, makasih ya, untuk malam ini, aku juga gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu.” Tungkasnya, merasa sedikit legah, karena Rafka membantunya keluar dari perasaan sedihnya.


“Sama - sama Mil, mungkin emang pertemuan kita adalah sebuah takdir.” Sahut Rafka lagi.


“Anyway, Mil, kamu jadi ambil Beasiswa Megister dulu tidak?” Tanya Rafka, mengingat masa lalu mereka.


“Tidak Raf.” Jawab Mila, kembali menampilkan wajah lesuhnya.


“Kenapa? Padahal itu kesempatan bagus banget? Dan bukannya impianmu untuk sampai Megister ya?” Tanya Rafka lagi.


“Impian itu hanyalah sebuah impian Raf, aku sudah lulu sarjana aja itu udah salah satu hal yang sangat harus aku syukurin sih.” Jelasnya, dengan kembali menatap ke arah Langit.


“Ada ibuku yang harus aku urus, ada ibuku yang lebih penting dari sekedar impianku.” Timpalnya lagi, dan Mila kembali mengingat masa di mana dia mendapatkan beasiswa ke Singapore.


Rafka menganggukan kepalanya paham, dia mengerti tentang semua kesusahan Mila dari saat itu. Tidak heran, kalau Mila memilih untuk merawat ibunya.


“Lalu sekarang? Kamu tinggal di mana?” Tanya Rafka.


“Masih di tempat yang sama.”


“Meskipun ibuku udah meninggal, tetapi kenangan tempat itu, tidak akan pernah bisa hilang,” ucapnya lagi, dan tanpa terasa air matanya menetes dengan pelan.


“Aku cuman kangen sama ibu Raf, kangen banget.” Lirihnya pelan, lalu memeluk tubuh Rafka dengan begitu erat.


Di dalam keadaan seperti ini, di saat kesedihannya sedang melanda, dan di saat banyak begitu masalah di tempat kerjanya, Mila selalu menjadikan pelukan ibunya sebagai tempat ternyaman.


Namun sekarang dia sudah tidak mempunyainya, sekarang pelukan itu sudah hilang dan pergi menjauh.


Setiap hari, setiap menit dan setiap detiknya, Mila selalu bertanya, apakah dia bisa hidup seorang diri.


***


Saat ini, Mila terlihat baru saja pulang ke rumah dengan di antar oleh Rafka. “Mil?” Tanya Rafka, ketika melihat sebuah mobil yang berada di depan rumah Mila.


“Aku gak tau Raf, coba aku priksa dulu ya.” Jawab Mila, lalu memilih turun terlebih dahulu dari mobil Rafka.


Perlahan Mila berjalan, mendekat ke arah mobil yang ada di depan rumahnya. “Om Fredy,” tegurnya lalu mengetuk kaca mobil milik ayahnya bosnya itu.


Sontak saja, Fredy terkejut melihat Mila yang ada di luar dan bahkan mengetuk pintunya.


Dia pikir sedari tadi, jika Mila sedang berada di dalam. “Eh Mila,” sahut Fredy, dan memilih langsung keluar dari mobilnya.

__ADS_1


“Om Fredy ngapain di sini Om? Masalahnya tidak ada Ares di sini?” Tanya Mila dengan begitu penasaraan.


Melihat seorang pria paruh baya keluar dari mobil, membuat Rafka juga ikut keluar dari mobilnya, untuk mengecek apakah Mila baik - baik saja atau tidak.


“Siapa Mil?” Tanya Rafka, ketika baru saja menghampiri Mila.


“Ini, adalah ayah dari bosku Raf,” jawabnya, juga, masih di iringi dengan wajah bingungnya.


“Ehm Mila, kedatangan saya ke sini, untuk membicarakan sesuatu yang sangat rahasia.” Jelas Fredy, membuat Mila menyeritkan keningnya bingung.


“Sangat rahasia?” Ucapnya mengulangi kalimat Fredy.


“Maaf, ini tentang apa ya pak?” Tanya Mila lagi.


Namun bukannya menjawab, Fredy malah memberikan kode pada Mila, dengan lirikan pada Rafka. Mengetahui hal itu, Mila malah menggandengan tangan Rafka dengan erat.


“Dia sahabat saya pak, dan saya tidak akan membiarkan orang asing berbicara dengan saya ber dua saja!” Tegas Mila, membuat Fredy merasa bingung bagaimana akan mulai menjelaskannya.


“Mil,” tegur Rafka, merasa tidak enak dengan Fredy.


“Enggak Rafka, kalau Om Fredy mau bicara, kamu juga harus di sini! Kita gak tahu kan bagaimana sikapnya dia? Aku sendiri Raf, aku gak mau kejadiannya seperti tadi di Club, karena mereka ini anak dan ayah pasti kelakuannya gak jauh beda.” seru Mila, tentu saja membuat Fredy membulatkan ke duanya.


“Soory, maksudnya kejadian seperti apa? Kamu dari klub?” Tanya Fredy, dengan wajah yang begitu khawatir.


“Iya, dan saya hampir saja di lecehin sama temannya pak Ares, di depannya pak Ares, tanpa sedikitpun dia ada niat buat bantu saya.” Jawabnya, memberitahukan pada Fredy, bagaimana sikap dan kelakuaan anaknya itu.


Fredy merasa marah sendiri, karena kelakuaan Ares benar - benar semakin menjadi - jadi.


“Jadi kalau Om mau bicara dengan saya, di sini harus ada Rafka, tapi kalau Om tidak mau, ya lebih baik tidak usah om, karena orang yang saat ini saya percaya hanya dia, bukan Om, bukan juga anaknya om itu.” Tandasnya dengan tegas, memberikan sebuah pilihan pada Fredy, yang masih tidak diketahui apa niatnya datang ke rumah Mila ini.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*

__ADS_1


__ADS_2