
🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Tanpa mendengarkan omong kosong Mila sepanjang perjalanan, kini Ares dan Mila telah sampai di sebuah club mewah yang merupakan tempat favorite Ares.
“Pak, kita ngapain ke sini pak?” Tanya Mila dengan perasaan khawatirnya.
“Sudah, tenang saja, ini tempat yang paling mengasikkan.” Jawab Ares dengan santai, lalu menarik tangan Mila, agar mau masuk dan mengikutinya masuk ke dalam.
Dentuman musik yang begitu nyaring mulai terdengar, aroma - aroma minuman keraspun mulai tercium menyengat setiap rongga hidung. Belum lagi asap - asapa rokok yang bertebaran, membuat paru - paru rasanya sangat begitu sesak.
“Hey Bro,” sapa salah satu teman Ares, yang terlihat datang menghampiri mereka.
“Hey, cuman kalian saja nih?” Tanya Ares ketika melihat temannya tidak banyak ada di sana.
Dimas, Rafli, Bagas dan Satya, empat teman Ares itu memang tidak pernah absen berada di dalam klub itu.
“Siapa ini Bro?” Tanya Satya pada Ares.
“Sekertaris gue.” Jawabnya begitu santai.
“Sudah yukk waktunya party.” Seru Ares, lalu mengambil tempat duduk dan mulai di keliling oleh cewek - cewek yang berpenampilan sangat sexy.
Sedangkan Mila, kini mengambil tempat paling ujung, agar dia tidak bergabung dengan Ares dan teman - temannya.
Mila menatap tajam ke arah Ares, yang terlihat sama sekali tidak bersalah kepadanya.
“Benar - benar menjijikan.” Batin Mila, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dia melihat sekelilingnya, begitu banyak pasangan yang terlihat melakukkan seggg bebas di dalam sana. Bahkan ada yang sepasang wanita dan sepasang laki - laki berhubungan.
Mila sampai harus menggelangkan kepalanya beberapa kali, karena merasa pusing melihat orang - orang itu.
“Serius ternyata sudah mau akhir Zaman ya.” Gumamnya lagi, lalu mengambil sebuah botol aqua yang masih baru.
Sedangkan Satya sedari tadi melihat gerak gerik Mila dari jauh, lalu mendekat ke arah Ares. “Luu jual berapa sekertaris lu?” Tanyanya pada Ares.
“Anjiirr lu, gak gue jual dia.” Jawab Ares dengan tawannya.
“Semalam doang aelah, gue bayar deh 200 ya,” Satya memaksa agar bisa membeli Ares dari Mila.
__ADS_1
“Masihh segel anjir anak orang.” Tolak Ares, tidak mau menjual Mila pada Satya.
“Baiklah, gimana kalau menemanin minum aja?” Tanya Satya lagi, dan kali ini Ares menganggukan kepalanya pelan, dan lalu kembali menikmati ciumman ciumman dari para wanita yang mengelilinginya.
Mendapatkan lampu hijau dari Ares, kini Satya yang merupakan laki - laki PK itu mendekat ke arah Mila. “Hay, Mila.” Sapanya dengan ramah, lalu memberikan segelas minuman pada Mila.
“Gue Satya, sahabat Ares.” Ucapnya memperkenalkan diri, ketika Mila hanya menatapnya dengan lekat.
Mila yang tidak mau berbicara dan merasa takut, akhirnya memilih untuk menerima saja gelas yang diberikan Satya kepadanya.
“Terima kasih.” Ucapnya pelan.
“Sama - sama,” balas Satya, namun di detik ini Satya dengan berani mengelus lengan mulus dari Mila.
“Anj ing luu,” umpatnya begitu marah. Plaakkkkk, merasa risih, Mila langsung menampar wajah Ares dengan begitu kencang. Lalu menyiram wajah Satya dengan air yang dia berikan tadi. “Jangan kamu pikir saya murahan ya!”
“Jangan sentuh saya kalau kamu bukan suami saya! Jangan lancang!” Pekiknya begitu emosi.
Mila melirik ke arah Ares yang terlihat hanya melihatinya saja. “Saya pulang pak, ini bukan tempat saya.” Serunya, dan langsung berlari untuk keluar.
Ares melihat Mila yang berlari keluar, lalu melirik ke arah Satya, “lu terlalu cepat bang sa, gangu ketenangan gue aja lu.” Umpatnya kesal, dan mau tidak mau dia beranjak dari tempatnya lalu menyusuli Mila.
“Soory Bro, dia terlalu cantik untuk kita bertingkah lambat.” Balas Satya, yang malah seperti menikmati penghinaan itu.
“Mila,” panggil Aldo, pada Mila yang terus melanjutkan langkahnya.
“Lepasin saya pak!” Pekiknya pada Ares.
“Ta i tau gak, bapak mengajak saya ke sini buat menjadi penghinaan seperti itu! Kamu mikir tidak? Mentang - mentang saya bawahan kamu, jadi kamu bisa memperlakukan saya seperti itu. Brengg sek.” Umpatnya dengan bahasa yang paling kasar. Jujur Mila sama sekali tidak pernah mengatai orang seperti itu, kalau bukan ketika dia sangat - sangat marah.
“Saya berhenti, saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya besok!” Tekannya, namun itu malah membuat Ares tersenyum.
“Kamu sepertinya lupa dengan isi di dalam kontrak kerja.” Ucap Ares, membuat Mila menatapnya lekat.
“Di sana tertulis, kalau kamu mengundurkan diri sebelum kontrak setahun selesai, maka kamu harus membayar denda 2M,”
“Memangnya kamu punya? Bahkan bonus yang aku kasih saja tidak cukup membayarnya.” Tandas Ares, benar - benar memancing kemarahan dari Mila.
“Saya pikir bapak itu beda pak, tetapi ternyata bapak sama aja.” Ucap Mila sekali lagi, lalu pergi meninggalkan Ares begitu saja.
Ares mengepalkan tangannya kuat, sungguh dia merasa sangat terhina ketika Mila mengumpatnya dan berani berkata dengan kasar.
__ADS_1
“Sial!! Aku akan buat wanita itu bertekuk lutut kepadaku, lalu aku akan buat dia merasakan penghinaan yang sangat - sangat menakutkan.” Gumam Ares, merasa benci ketika ada seorang wanita yang berani mengumpatnya bahkan membuatnya terhina.
****
Mila yang memilih pulang dengan menggunakan taxi, kini terlihat menangis di dalam mobil. Jujur saja sebenarnya dirinya itu sangatlah rapuh. Namun mau bagaimanapun, dia hanya tersisa seorang diri di dunia. Tidak ada yang dia punya lagi. Maka dari itu, dia harus bisa bertahan sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.
“Tissue mbak.” Tawar supir taxi itu pada Mila.
“Terima kasih pak.” Sahut Mila, lalu mengambil Tissue yang diberikan oleh pria itu.
“Kamu lupa sama aku? Atau kamu tidak menyadari aku di sini?” Tanya supir itu lagi, membuat Mila menoleh arah kaca, untuk melihat pantulan siapa yang ada di sana.
“Rafka?” Gumamnya, melihat sosok yang dia kenali.
Supir taxi itu tersenyum, “kamu jadi supir taxi sekarang?” Tanya Mila, ketika menyadari kalau itu adalah Rafka teman kuliahnya dulu.
“Aku gabut di rumah Mil, ya sudahlah mending aku jadi supir Gocar saja, kan mayan buat jajan.” Jawab Rafka, membuat Mila tersenyum.
Merasa kurang enak berbicara seperti itu, Mila memilih untuk pindah ke depan. “Eh, Mil kamu ngapain?” Tanya Rafka, ketika melihat Mila dari belakang pindah ke depan.
“Akukan temanmu, bukan penumpang, jadi ngapain di belakang.” Ucap Mila membuat Rafka hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
“Tingkahmu masih sama aja ya, tetap abstrud.” Tandas Rafka pelan, di sahuti tawa oleh Mila.
“Bukannya kamu dapat beasiswa di Belanda ya Raf? Lalu kenapa di sini?” Tanya Mila lagi, mengingat bahwa temannya ini adalah salah satu mahasiswa berprestasi tinggi di Universitas Indonesia, sehingga dia bisa mendapatkan sebuah beasiswa yang membuatnya bisa melanjutkan kuliah Megisternya di Belanda.
“Udah lulus dong Mil, ini udah tahun berapa?” Jawab Rafka dengan mengingatkan Mila, bahwa saat ini sudah lewat 3 tahun dari tahun kelulusan mereka.
“Oh iya lupa.” Sahut Mila dengan begitu santai, seakan - akan melupakan tanggal dan tahun itu adalah hal yang sangat biasa baginya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*