Rumit (Sakit Ketika Kamu Mencintai Kakak Kandungmu Sendiri )

Rumit (Sakit Ketika Kamu Mencintai Kakak Kandungmu Sendiri )
Sebuah Party


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


merasa hari ini sudah sangat memuakkan, dan Ares juga semakin tidak mood menyelesaikan pekerjaanya. Dia memilih untuk membawa Melisa dan Mila untuk pulang hari ini juga.


Tidak lupa dia akan membuat sebuah catatan, kalau dia akan membuat perhitungan kepada Fredy, karena sudah mengirim Melisa untuk menganggu pekerjaanya.


****


Saat ini ke tiganya sedang berada di dalam pesawat, dan duduk saling berdekatan.


Dan Seperti biasa, Melisa akan selalu menggandeng Ares, tidak perduli pria itu muak atau tidak.


“Oh ya, besok aku ingin membuat Party di rumah, kamu datang ya Mil.” Ajaknya pada Mila.


Mila yang diajak merasa bingung, karena dirinya tidak pernah mendatangi party sebelumnya.


“Ehm, kayanya enggak deh Bu, saya tidak pernah pergi party sebelumnya.” Tolaknya, merasa tidak enak datang ke sebuah pesta. Apa lagi ini adalah pesta orang kaya.


“Tidak apa - apa dong, kalau begitu, jadikan ini adalah pengalaman pertamamu.” Ajak Melisa lagi.


Mila terdiam sejenak memikirkan ajakan yang ditawarkan oleh Melisa. Lalu dia melirik sejenak ke arah Ares, yang tidak ada merespon sama sekali. “Baiklah Bu, saya akan pergi.” Ucap Mila, akhirnya mengiyakan ajakan Melisa.


Ares yang mendengar Mila menjawab Iya itu, akhirnya hanya bisa menghela nafasnya. Dia tadinya tidak mau ikut juga, namun ketika dia mengetahui Mila pergi, mau tidak mau dia harus pergi, karena lagi - lagi khawatir jika Melisa akan berbuat jahat kepada Mila.


***


Sesudah mereka mendarat di Jakarta, kini Ares dan Melisa mengantar Mila terlebih dahulu pulang.


“Besok bekerja ya Mil! Jangan lupa!” Ares mengingatkan Mila, jika besok tidak ada hari libur.


Takutnya Mila mengira jika habis pulang dari perjalanan jauh, Mila akan mengira bahwa dia akan libur.


“Iya pak.” Tandas Mila dengan kesal.


“Bagus!” Balas Ares lagi.

__ADS_1


“Besok jangan lupa ya, partynya Mila,” seru Melisa, dengan senyum manisnya. Sembari melambaikan tanganya ber sayonara dengan Mila.


“Pasangan aneh.” Gumam Mila, ketika mobil Ares sudah tidak ada lagi terlihat dari pandangannya.


***


Sementara itu, di dalam mobil, Ares menatap Melisa dengan tatapan tajam. “Apa niatmu membuat party dan mengajak Mila?” Tanya Ares, tanpa berbasa basi.


Melisa tersenyum, lalu kembali melingkarkan tanganya di lengan Ares. “Tidak apa - apa sayang, hanya ingin membuat pesta saja, mungkin sebagai perayaan untuk proyek besarmu.” Jawab Melisa dengan begitu santai.


“Melisa! Kita sudah tidak ada hubungan apa pun, dan kenapa kamu masih berpikir bahwa kamu bisa ikut serta dalam semua kegiatanku!” Tegas Ares, merasa lelah dengan sandiwara itu seharian.


Melisa tidak marah, malah dia hanya tersenyum, seakan - akan Ares sedang bercanda dengannya. “Oke sayang oke, tapi kitakan sudah tunangan, mungkin memang kita sudah putus sebagai pacar, tapi kita masih bersama sebagai pasangan.” Ujar Melisa lagi, membuat Ares hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing.


“Terserah kamu saja Melisa, capek bicara sama kamu.” Ucapnya lagi, dan itu sama sekali tidak membuat Melisa tersingung.


“I miss you beb.” Ujar Melisa, lalu mengecup singkat pipi Ares.


Bukan Ares tidak mau menolak, tetapi ketika berbicara dengan Melisa, itu sama saja kamu berbicara dengan patung. Karena dia tidak akan menanggapimu sedikitpun.


Ketika mobil Ares sudah sampai di depan rumah Melisa, pria itu melirik ke arah wanita yang masih saja duduk di sampingnya itu. “Kenapa masih duduk di sini?” Tanya Ares, ketika tidak ada tanda - tanda Melisa akan keluar dari mobilnya.


“Melisa! Aku sedang tidak ingin bermain - main, aku lelah hari ini! Dan aku butuh istriahat! Dan kamu pulang! Itu rumah kamu! Dan turun dari mobilku!” Ares benar - benar harus menekan setiap kalimatnya, agar Melisa bisa mengerti bahwa dia benar - benar sangat letih hari ini.


Sejenak Melisa menatap Ares, lalu dia kembali melihat rumahnya. “Bisakah kamu tinggal malam ini? Aku merasa takut jika sendirian di rumah.” Bujuknya pada Ares.


Sebenarnya Ares tahu sikap Melisa yang ini, mantannya itu memang paling tidak suka sendirian, karena dia bisa melakukan self harm pada dirinya sendiri.


“Melisa,” lirih Ares lagi.


“Apakah kamu sudah jarang berkunjung ke dokter Pisikiater mu?” Tanya Ares, dan benar saja, kata - kata pisikiater dan obat, itu akan membuat Melisa merasa marah, dan bahkan keluar dari mobilnya tanpa sepatah katapun.


Ares sebenarnya merasa kasihan ketika Melisa harus pergi dari mobilnya dengan cara yang seperti itu. Cuman ya sudahlah, kalau tidak begitu, Melisa tidak akan mau keluar dari mobilnya.


Sekarang tujuan Ares hanya satu, ya itu membuat perhitungan kepada Fredy. Bapak tua itu benar - benar sudah merusak harinya, karena telah mengirim Melisa dan menganggu pekerjaanya di Kalimantan.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Ares langsung mencari sosok papahnya, namun dia tidak menemukannya. “Kamu sudah pulang Res?” Tanya Diana, mamahnya Ares, ketika putranya baru saja masuk ke dalam rumah.


“Iya Mah,” jawab Ares, dengan mata yang masih menatap ke sekelilingnya.


“Kamu cari siapa Res?” Tanya Diana, mengkuti arah pandang putranya.


Ares melihat ke arah Mamahnya, cuupp, Ares mengecup kening Diana, “Tidak Mah, tidak mencari siapa - siapa.” Jawabnya bohong, karena tidak ingin Mamahnya khawatir, jika mengetahui dirinya mencari Papahnya dengan keadaan yang baru pulang seperti ini.


Diana tersenyum, lalu mengusap jemari putranya dengan lembut. “Sudah makan malam Nak?” Tanya Diana lagi.


Ares menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban. “Belum Mah, Ares sengaja pulang cepat untuk merasakan makanan masakan mamah.” Jawab Ares, membuat Diana merasa sangat bahagia, mendapatkan anaknya masih saja terus menggodanya.


“Mamah,” tandas Ares, membuat Mamahnya merasa sangat sedih mendengarnya.


“Maafkan Mamah ya Res,” ucap Diana lirih, merasa sangat tidak berguna menjadi seorang ibu yang tidak bisa membahagiakan anaknya.


Ares menundukkan tubuhnya, berlutut di depan mamahnya, agar bisa sejajar dengan orang tuanya itu. “Mah, buat apa mamah minta maaf, ini semua bukan salah mamah, ini semua salah Papah.” Ujar Ares, lalu mengambil tangan mamahnya dan mengecupnya singkat.


“Semua kesialan dan kesedihan yang terjadi, itu semua karena Papah dan wanita itu!” Tekan Ares lagi dengan mata yang berapi - api, menyampaikan kebenciannya pada pria yang menjadi orang tuanya itu.


“Ares, jangan terus menyalahkan Papah kamu Nak,” Diana, berulang kali memberikan nasehat kepada putranya, agar tidak terus marah kepada Fredy dan bahkan terus membenci suamimya itu.


“Tidak bisa Mah, lelaki itu akan terus selalu salah, meski sampai kapan pun!” Tegas Ares, dan membuat Diana sudah tidak ada kalimat apa - apa lagi yang bisa di katakan oleh putranya.


“Berdamailah dengan masa lalu nak,” pinta Diana, namun sepertinya sama sekali tidak dihiraukan oleh Ares.


Terbukti, saat ini pria itu hanya terdiam dan bahkan, menganggap mamahnya tidak mengatakan apapun.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘

__ADS_1


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*


__ADS_2