Rumit (Sakit Ketika Kamu Mencintai Kakak Kandungmu Sendiri )

Rumit (Sakit Ketika Kamu Mencintai Kakak Kandungmu Sendiri )
Berbeda Jadwal


__ADS_3

🌊 KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Setelah mereka mendapatkan breakfast mereka, terlihat kini Ares, Melisa dan juga Mila yang sedang berjalan di proyek yang sedang in progress itu.


“Hati - hati kalau berjalan! Jangan sampai ada yang terjatuh dan kalian tidak mengetahuinya!” Ares memberikan peringatan kepada dua wanita berbeda kasta tersebut.


Mungkin kalau Melisa bisa saja sudah mengetahuinya, tetapi Mila, mungkin baru pertama kalinya wanita itu berada di proyek seperti ini.


“Sayang apakah masih lama? Aku sudah begitu lelah ada di sini?” Tanya Melisa, terus menerus menganggu ketika Ares sedang berbicara dengan arsitek bangunan proyek miliknya.


Ares menghela nafasnya, namun dia sama sekali tidak memperdulikan terikan Melisa. “Sayangggg,” panggil Melisa lagi.


“Mel, kalau kamu mau pulang silahkan pulang duluan! Aku dari awal datang ke sini buat kerja! Bukan buat main - main!” Ares kembali memberikan peringatan kepada Melisa, membuat wanita yang sedari tadi bersuara itu akhirnya bungkam.


Mila melihat intraksi Melisa dan Ares sejak tadi. Dia menatap Melisa dengan risih, merasa bahwa Melisa ini terlalu kegatalan atau bagaimana? Karena Ares saja sedari tadi sudah merasa sangat risih.


Melisa yang merasa sedang di tatap, kini melirik tajam ke arah Mila. “Kenapa kamu melihatku seperti itu?!” Sentaknya Membuat Mila tersenyum kikuk ketika dia di dapat menatap aneh ke arah pacar bosnya.


“Tidak - tidak apa - apa bu.” Jawabnya dengan gugup.


Sedangkan Melisa merasa sangat tidak senang karena dibentak seperti tadi oleh Ares di depan orang banyak.


Dia terlihat mulai mengupasi kulit - kulit di sekitar jari tangannya. Menandakan dia sedang marah saat ini.


“Baikalah, Pak Ares, semuanya akan persis seperti permintaan Bapak.” Ucap Dicky yang merupakan Arsitek yang menangani bangunan tersebut.

__ADS_1


Ares tersenyum menganggukan kepalanya. “Baiklah kalau begitu, semuanya kembali bekerja!” Perintah Ares pada Dicky dan beberapa mandor yang mengikuti rapat itu.


Setelah selesai semua, barulah Ares membalikkan tubuhnya dan melihat Melisa yang terlihat sedang menahan kekesalannya.


“Kenapa sih dia harus ada di sini? Membuatku muak saja.” Batin Ares, yang merasa sangat tidak suka melihat Melisa ada di sini.


“Sudah?” Tanya Melisa, ketika Ares berjalan mendekat ke arahnya dab Mila.


Ares mau tidak mau menghela nafasnya kesal, di tambah suasana langit yang benar - benar panas siang ini. Membuat emosi Ares rasanya sangat memuncak.


“Kamu bisa diam tidak Mel?! Aku tuh di sini datang untuk bekerja! Kenapa kamu malah menggangu seperti itu?!” Bentak Ares lebih emosi lagi.


Melisa menatap Ares juga dengan penuh kemarahan. “Harusnya kamu berterima kasih kepadaku karena aku sudah menemanimu untuk bekerja di sini!” Tekan Melisa juga.


“Tidak! Aku tidak sama sekali senang kamu ada di sini! Aku akan pesan tiket sekarang untuk kamu pulang!” Tegas Ares, lalu menarik tangan Mila untuk menjauh dari Melisa.


Melisa tersenyum sinis, sembari terus memikirkan cara bagaimana dirinya membalas Ares.


****


Sesampainya di kamar hotel, Ares terlihat membanting pintu kamarnya. Hingga membuat Mila terkejut mendengarnya.


“Pak? Apakah bapak baik - baik saja?” Tanya Mila sebenarnya agak takut menanyakan kondisi Ares yang sepertinya sangat menakutkan saat ini.


Terbukti, setelah mendapatkan pertanyaan dari Mila. Ares kini menatap Mila dengan tatapannya yang begitu tajam.


“Kamu ngapain masih di sini?!” Tanya Ares, sedikit membentak sekertarisnya itu.

__ADS_1


“Bukannya bapak yang menarik tanganku tari, lalu mengantarkan ku ke sini?” Jawab Mila dengan begitu santai. Karena dia sama sekali tidak merasa mengikuti Ares sampai di kamarnya ini. Melainkan pria itulah yang menariknya hingga masuk sampai ke sini.


Mendengar jawaban Mila itu, Ares akhirnya terdiam dan tidak lagi membentak Mila. Dia merasa masalahnya ada bersama Melisa bukan Mila. Jadi seharusnya dia tidak melibatkan Mila, apa lagi menjadikan wanita itu sebagai pelampiasannya.


“Oke, Mila, kamu pergi ke kamarmu dulu please, aku butuh ruang saat ini.” Pinta Ares berusaha setenang mungkin berbicara dengan Mila.


“Baiklah Pak,” balas Mila, yang langsung keluar dari kamar Ares. Karena tidak mau mengganggu ketenangan bosnya itu.


****


Setelah Mila keluar dari kamar Ares. Dia merasa sedikit lebih tenang karena tidak berada di dalam situasi yang menegangkan lagi.


“Mereka itu kenapa sih? Pagi - pagi baik, siang - siang bertengkar, entah nanti sore akan seperti apa.” Umpat Mila, ketika dia di hadapakan dengan posisi yang sangat - sangat menyesatkan.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*

__ADS_1


__ADS_2