Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #20


__ADS_3

Ruang operasi telah siap, dokter Liam, Ryuka, dokter Sony bagian anestesi dan beberapa perawat tengah berdoa sebelum memulai operasi, Ruby satu-satunya dokter magang yang memasuki ruang operasi guna mengamati jalannya operasi.


“Baik, pukul 4.00 pm operasi dimulai, pisau bedah…”


Awalnya operasi berlangsung cukup tenang, perangkat operasi terlihat menguasainya sejauh ini, bahkan dokter Liam menyuruh Ryuka yang semula asistennya menjadi dokter utama, Ryuka dengan tenang mencoba mengimbangi dan sesekali meminta pendapat dokter Liam yang berubah menjadi asisten.


Sebelum darah terciprat mengenai wajah dan pakaian Ryuka serta dokter Liam.


Secepatnya dokter Sony menginformasikan, bahwa tekanan darah pasien menurun drastis dan detak jantung sangat lemah. Kecuali Ruby yang sedikit gemetaran melihat pemandangan kedua dokter dihadapannya serta lantai yang dipenuhi ceceran darah, selebihnya yang lain berusaha untuk tenang, terlebih Ryuka.


“Ryuka tenang dan atur nafas,” ucap dokter Liam penuh dukungan. Ryuka menuruti perkataan tersebut dan mencoba tetap tenang.


“Ryuka status pasien,”.


“Usus kecilnya pecah, dan ada pendarahan robekan mesenterik, saya memprediksi peritonitis,”.


“Benar, apa yang harus dilakukan?”


Ryuka diam sejenak, menimbang…. “Klem arteri…”


“Lanjutkan. Persiapkan tambahan darah,” Pinta dokter Liam.


“Remas kantong darahnya lebih keras,” sambung Ryuka. “Dokter Sony?”


“Belum ada perubahan,”.


“Ryuka cari dan hentikan bagian pendarahan terlebih dahulu, ikat lapisan arteri,”


Ryuka mengangguk, “Pandangan saya terhalangi, suction,”.


”Baik,” seru sang perawat.


Siapapun yang menyaksikan kerja sama keduanya, pasti akan takjub terlebih karena kali ini Ryuka yang menjadi dokter utamanya, padahal proses pengikatan arteri termasuk proses yang sulit karena jaringan arteri yang kerap robek dan pengikatan sering kali terputus, hasilnya pendarahan sulit dihentikan. Walau gagal 3 kali, dokter Liam tak berhenti menenangkan Ryuka.


Proses operasi terhenti selama 30 detik, untuk memastikan pengikatan arteri berhasil pada percobaan keempat penghentian pendarahan.

__ADS_1


”Oke, tekanan darah pasien mulai naik, 90/68, detak jantung normal,”. Hitungan tersisa 10 detik, tetapi terasa 30 menit untuk dokter yang menangani dan sangat berarti untuk kehidupan pasien bahkan 1 detik.


“Pendarahan terhenti,” ucap dokter Liam bangga.


“Tekanan darah normal, detak jantung normal,”


“Ryuka berganti posisi, hari ini kamu hebat,”


Ryuka sontak bernafas lega, pasalnya dokter Liam adalah salah satu profesor di rumah sakit yang sangat irit melontarkan pujian. Terkenal sangat disiplin pula, bahkan tak akan segan memaki jika mendapati salah seorang dokter tak becus bekerja. Mendengar ucapannya barusan, bukan hanya Ryuka yang merasa lega, tetapi semua pelaksana operasi hari ini turut bangga karena menyaksikan langsung 1 lagi kehebatan Ryuka. Ruby? Jangan ditanya lagi, ia berkali-kali lipat tambah jatuh cinta pada Ryuka detik itu juga.


Sisa waktu operasi berjalan tanpa hambatan, walau begitu operasi baru berakhir pukul 3 dini hari. “Terima kasih, kerja bagus semuanya,” ucap dokter Liam mengakhiri operasi hari itu.


“Dokter Yuka, jangan berhenti berlatih, tangan kamu masih kaku, latih tubuh bagian bawah kamu, kaki adalah alat tempur untuk seorang dokter,” sambungnya.


Ryuka tersendak, bagaimana bisa dokter Liam memperhatikannya yang beberapa kali berusaha memperbaiki posisi kakinya yang kram diam-diam, padahal perhatian cukup terserap karena pendarahan tadi,.


“Baik dok, terima kasih atas kesempatannya yang berharga dok,”.


“Tugas kamu belum selesai, temui wali pasien dan jelaskan hasil operasi hari ini,”.


“Dan satu lagi, saya tidak memberi kesempatan pada orang yang tidak saya yakini mampu melakukannya,” kata dokter Liam, sebelum berlalu pergi dan melambaikan tangannya. Ryuka mematung lantaran merasa sangat terharu mendengar ucapan yang ditujukan padanya. Ia kemudian bergegas menemui wali pasien dengan perasaan riang apalagi operasi berjalan dengan lancar.


Ryuka datang dengan jalan berjuntai, “pagi semuanya,” Sapanya pada Kinan dan 3 orang lainnya.


“Pagi Kaa, selamat ya, prestasi kamu udah tersebar kemana-mana,” Kinan berkata dengan penuh perasaan bangga, ia orang yang paling tahu seberapa besar usaha Ryuka berlatih.


“Ruby ya? Tapi ketahuan punya kelemahan sama kaki aku,”


“Udah pasti Ruby, dia nyebarin kaya orang ngebagi undangan pernikahan sama kamu, heboh bener. Kaki kamu emang masih gitu?” Kinan tahu jika lapisan kulit kaki Ryuka sangat tipis, akibat kecelakaan yang dialaminya 3 tahun silam, hal itu menyebabkan sendi dibagian pergelangan kakinya akan terasa nyeri jika menopang beban terlalu lama.


“Yash, as always. Anyway, aku masih punya waktu sebelum pergantian shift kan? Tidur bentar ya,”


“Masih sejam lagi sebelum pergantian shift, nanti aku bangunin kalau udah waktunya, sana cepet tidur,” Ryuka hanya membalas dengan isyarat hati dengan tangannya dan segera keruang istirahat.


Tepat jam makan siang, Ryuka memilih menyantap sandwich dan segelas kopi, dengan alasan kepraktisannya sambil mengecek ponselnya setelah semalaman. Ia melonjak dari tempat duduknya setelah melihat belasan panggilan tak terjawab dan pesan Gino, Raka dan Ken yang ternyata ingin mengabarkan, bahwa Qwenzy dilarikan kerumah sakit, karena tertimpa lighting ketika sedang soundcheck diatas panggung.

__ADS_1


Sesaat setelah Ken mengangkat panggilan Ryuka, “Kaa, jangan panik, Qwenzy udah ditangani dengan baik,”.


Setelah mendengar itu, Ryuka sedikit bisa bernafas lega, “maaf, aku baru cek handphone, semalam aku ada operasi,”.


“Iya, teman kamu yang di UDG bilang kamu ada operasi kok, kayanya dia masih di UGD, aku sama yang lain bersih-bersih dulu, baliknya mungkin malam,”


“Oke, gak balik ke rumah sakit juga gak apa-apa kok, aku gak shift malam hari ini, biar aku yang jagain,”.


“Gak apa-apa, take your time dek,”. Panggilan mereka terputus, tetapi Ryuka tidak bisa langsung bergegas ke UGD, ia tak bisa membiarkan meja tenaga medis kosong begitu saja, ia akhirnya memilih menjenguk Q setelah jam makan siang.


“Ly, hasil pemeriksaan Qwenzy mana?” Bisiknya.


Lily yang kebetulan tak menangani pasien, langsung menunjukkan layar komputer, Qwenzy mengalami keretakan tulang lengan sebelah kanan serta posisi pergelangan tangannya sedikit bergeser akibat trauma tertimpa benda keras.


“Jadi sekarang Qwenzy di pasangi gips?“ tanya Ryuka mengonfirmasi.


“Iya, baru aja dia balik dari pemasangan gips. Barengan aja ke bangsalnya, aku sekalian mau minta tanda tangan walinya untuk berkas rawat inap,” ajak Lily.


Ryuka membuka tirai dan mendapati sahabatnya lengkap dengan gips dilengan kanan serta beberapa memar dan luka bekas pecahan kaca.


“Halo mah, pap, maaf aku baru sempat datang,” sapa Ryuka serta melayangkan pelukan pada orang tua Qwenzy yang memang dipanggil mamah dan papa olehnya.


”Gak apa-apa nak, teman kamu bilang kamu ada operasi katanya ya?” Ryuka hanya membalasnya dengan anggukan.


“Kaa, gak usah rawat inap dong, aku istirahat dirumah aja,”.


“Tolong bilangin sahabat kamu Kaa, dari tadi dia bawel gak mau rawat inap, kaya bocah,” pinta papa Qwenzy.


Ryuka secepat kilat melayangkan tatapan elang pada Q, “big no, rawat inap bisa mempercepat proses penyembuhan kamu, kamu masih harus diperiksa lebih lanjut, setelah itu fisioterapi, nurut aja bisa gak?” sewot Ryuka.


Qwenzy kembali berwajah sayu tanda tak bisa berkutik, Lily lalu mengambil kesempatan menyodorkan surat persetujuan rawat inap pada Ryuka.


“Pap, tanda tangan disini untuk persetujuan rawat inapnya,”.


“Baik, kami proses dulu ya persetujuan rawat inapnya,” Ucap Lily sebelum pamit.

__ADS_1


“Thanks Ly,” ucap Ryuka yang dibalas kedipan oleh Lily.


__ADS_2