
“Jadi, kamu benar-benar resign? Serius?” Riu shock mendengar ucapan Ryuka, tak menyangka ia akan mengambil langkah seekstrem itu.
“Ssstttt, kecilin suaramu. Nanti Mama dan Daddy dengar. Bisa panjang urusannya,”.
Riu membekap mulut, “sorry, tapi aku shock berat. Kenapa kamu sampai resign?”
Riuki manggut-manggut setelah mendengar dengan seksama alasan kakaknya. “Aku selalu dukung apapun keputusan kamu. Tapi kamu sudah mempertimbangkannya dengan matang kan?”
“Entahlah. Suatu saat aku mungkin akan menyesal. Tapi untuk sekarang, setidaknya menurutku itu adalah keputusan yang tepat,”.
“You dont have plan B?”
“Of course i have, but can’t tell you now,”.
Riu menggeleng, “aku paham, aku tidak akan memaksa kamu menceritakan semuanya. Aku cuma pengen kamu tahu, kamu gak pernah sendiri Kaa,”.
“Hmm i know, really much,”.
“Aku benar-benar akan marah, kalau aku jadi orang kesekian yang tahu tentang kondisi kamu,”.
“Sorry about that,”.
“Aku maafin. Tapi aku gak mau sampai itu terulang lagi,”. Ryuka tampak memberi hormat dengan tangannya, tanda mengerti dengan baik.
Sudah beberapa hari Ryuka bolak-balik ke rumah orang tuanya untuk membantu persiapan acara pernikahan Riuki yang tak terasa tinggal sebulan lagi. Riuki pun lebih sering menginap dan menitipkan Ori pada mamanya.
Semenjak menikah Mama memang mengurangi pekerjaan, ia terlihat lebih betah dirumah bersama Daddy yang juga jam kerjanya jauh lebih fleksibel, bisa selesai dengan virtual meeting. Kalaupun harus keluar rumah, Daddy pasti akan mengajak Mama bersamanya.
“Mama nih, mentang-mentang masih hitungan pengantin baru, jarang banget ngantor,”. Olok Ryuka begitu mamanya bergabung bersama mereka di kursi halaman rumah.
“Kan kantor bantuan hukum resmi jadi milik Mama, bisa leha-leha Mama sekarang,”. Tak memperdebatkan harta gono-gini. Satu-satunya syarat perceraian yang diajukan Mama adalah kepemilikan kantor bantuan hukum yang dulu berdiri atas sokongan dana dari Papa.
Tentu saja, hal itu seperti angin segar untuk Papa. Menyerahkan kepemilikan kantor bantuan hukum itu hanya secuil dari harta yang dimilikinya.
“Heran deh aku, waktu sama Papa......,” Riuki tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat pelototan Ryuka.
“Ma, sorry aku gak bermaksud bikin Mama kepikiran masa lalu,”.
“Aduh gak apa-apa. Mama itu udah enggak sakit hati lagi mikirin masa lalu dengan Papamu,”.
Ryuka dan Riuki kompak mengangguk, lega mendengar sang mama benar-benar telah berdamai dengan masa lalunya.
“Kalian pernah dengar kabar Papa?” tanya Rani. Ryuka dan Riuki saling melirik sebelum menggeleng. “Maafin Papa ya,”.
“Kenapa Mama yang minta maaf, sudahlah Ma,”.
Rani beralih menatap Riuki dalam. “Adek mau didampingi Papa saat akad nanti?”. Mama memang lebih sering memanggil Riu dengan sebutan adek.
“Mama sudah obrolin sama Daddy. Gak usah sampai gak enak sama Daddy katanya,”. Sambung Rani.
“Gak, aku mau Daddy yang jadi wali nikahku,”.
“Bagaimana pun Papa kandung adek masih hidup. Kalau adek mau, Mama bisa usahain untuk menghubungi Papa,”.
__ADS_1
“Ma, bisa enggak kita hapus Papa dari hidup kita, obrolan kita, atau apapun itu dalam hidup kita,”. Nada Ryuka selalu saja meninggi jika membahas tentang sang Papa.
“Kaa, jangan gitu dong nak,”.
Riu hanya diam dan menunduk, tetapi Rani tahu jika ia sebenarnya setuju dengan Ryuka. Hanya saja, Riu lebih sering diwakilkan suaranya oleh saudara kembarnya.
“Baiklah.. baiklah. Tapi kalau adek berubah pikiran, jangan sungkan untuk bilang ke Mama ya,”.
Riu meraih tangan Rani kedalam genggamannya, “thank you Ma,”.
“Kalian peluk Mama dong,”. Pinta Rani. Ryuka dan Riu bergegas mendekap sang mama. Menyalurkan kekuatan dalam segi apapun.
Terdengar langkah seseorang mendekat. “You always secretly hug each other without me,” protes Jamie dengan bahasanya, ia masih kesulitan dengan bahasa indonesia walaupun hampir mengerti semua yang diucapkan.
“You’re just jealous because we hugged mom. Iya kan Dad?”
“That’s one of them,”.
Keduanya melerai pelukannya pada Rani sambil memutar bola matanya malas. “Baiklah..baiklah. you’re mine,”.
“Kamu tuh sama anak sendiri cemburu,”.
“Aku hanya senang mengusili anak kita sayang,”. Jamie membela diri.
Siapapun yang melihat pasti tahu, tatapan keduanya penuh dengan cinta.
“Oh iya Kaa, kamu kenapa akhir-akhir ini keseringan main kesini?” tanya Rani curiga.
“Ih si Mama, jarang kesini sedih, sering kesini malah protes,”.
Ryuka terkekeh saja menyembunyikan kegugupan dan keringat dingin usai pertanyaan Rani yang tak ia sangka-sangka.
“Everything is okay?”
“Gak ada apa-apa kok Ma. Aku memang sengaja mengurangi tanggungjawab saja. Aku sudah lapor sama ketua departemenku kok. Semua aman terkendali,”.
Mama terlihat menelisik wajah Ryuka untuk memastikan semua perkataan anaknya memang benar.
“Serius Ma,” Ryuka meyakinkan.
“Baiklah. Mama percaya sama kakak,”.
Ryuka diam-diam menghela nafas panjang karena berhasil keluar dari interogasian sang mama. Lalu mengedipkan matanya pada Riu untuk membantunya mengalihkan perhatian Mama dan Daddy dengan menanyakan pernak-pernik pernikahannya.
Ryuka melipir ke kamarnya usai melihat Riu dan mama sedang sibuk membahas persiapan acara dengan salah satu perwakilan Wedding Organizer (WO) yang datang kerumah. Ryuka berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya yang memang sengaja tak diubah sedikitpun oleh Mama meski anak-anaknya sudah tinggal terpisah dan memiliki rumah masing-masing.
Pikirannya berputar pada opsi lain yang ditawarkan dokter Septi saat ia menyerahkan surat pengunduran diri. Sebuah opsi yang bisa menyelamatkan karir yang ia perjuangkan mati-matian tetapi setiap pilihan ada resikonya bukan? Ryuka akan kehilangan banyak hal berharga jika ia memilih opsi tersebut.
Dering ponsel berhasil membuyarkan pikiran-pikiran Ryuka yang telah menerawang kemana-mana tanpa permisi.
Kenji video call.. Ryuka memang mengganti nama Qwenzy diponselnya atas permintaan khusus Ori, entah apa maksudnya.
Ryuka mengubah posisi menjadi tengkurap dan menggeser tombol answer pada layar.
__ADS_1
”Haii,”.
Qwenzy tersenyum lebar walau tak bisa menyembunyikan wajah lelahnya. “Hai Kaa, lagi dimana?”
”Aku dirumah Mama,”
”Giliran aku lagi sibuk, kamu yang banyak waktu luang,”.
”Bener juga ya. Eh Jii kamu sempet gak nanti datang ke acara nikahan Riu?”
”Aku usahakan ya, aku udah bilang sama mba Lara untuk dimasukkan ke schedule-ku, nanti aku pastiin ya,”.
”Okay, terus kamu video call mau bahas apa?”.
”Ih emang kenapa sih Kaa, kalau aku vcall,”
”Yah enggak. Aku curiga saja ada niat terselubung,”.
Qwenzy terlihat mengulam sebuah senyum yang tidak bisa didefinisikan maksudnya. ”Sebenarnya aku mau ngajak kamu……”
”Tuh kan, emang ada maunya,” Ryuka tampak mengantisipasi.
”Dengar dulu kenapaaa,”.
“Kamu mau ikut aku Paris gak? Tapi kamu pasti sibuk ya,” ajak Q.
“Ikut tour kamu ya? Kapan emang berangkatnya?”
”Sepekan lagi dan tujuan pertama adalah Paris,”.
Lengang sejenak. “Kaa?? Aku gak maksa kok, cuma pengen kamu sekalian refreshing aja,”.
”Emang kalau aku ikut, kamu bisa konsentrasi?”
“Kenapa kamu nanya gitu?”
”Kalau misal aku pengen jalan sendirian pas kamu lagi riweh, emang kamu bisa tenang dan enggak khawatir?”
Qwenzy tertawa hingga matanya tak lagi terlihat. “Aku usahakan temenin,”.
”Nah kan. Aku ogah ya kena amukan mba Lara,”.
”Enggak bakal, aku janji gak bakal memaksakan situasi nantinya, gimana?”
”Aku mikir-mikir dulu deh ya,”.
”Yup, cocokkan juga dengan jadwal operasi kamu, jarak ke Paris gak cuma beberapa blok dari tempat kerjamu,”.
”Iya bawel,” jawab Ryuka sekenanya, ogah ujung-ujungnya diinterogasi oleh Q.
”Udah ya, anak-anak udah pada ngumpul, mau lanjut latihan,”. Q terlihat melambaikan tangannya melalui layar ponsel, dan Ryuka seperti biasa hanya mengangguk-angguk.
Ryuka tampak serius mempertimbangkan ajakan Q, toh ia tidak sedang memiliki kesibukan apa-apa. Nun jauh diseberang sana, Qwenzy tengah merapalkan tangannya berdoa, supaya Ryuka memutuskan untuk ikut dan ia bisa memulai project menaklukkan hati beku Ryuka.
__ADS_1
Hayooo #timQwenzy ikut doa yaa 🤭
Happy reading🌸