Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #24


__ADS_3

Setelah memutuskan bertugas kembali di rumah sakit, dengan terpaksa Ryuka benar-benar mengurangi pekerjaannya. Menjadi satu-satunya asisten bedah membuatnya jarang sekali bisa duduk lebih dari 15 menit diruang istirahat dokter seperti sekarang ini.


Biasanya ia akan bolak-balik naik dan turun tangga menggunakan pintu darurat. Pemandangan tersebut tak luput membuat Ryuka jadi bahan pembicaraan dan tatapan heran dari rekan-rekan kerjanya.


Tak lagi menjadi hantu penunggu rumah sakit, ia cenderung pulang tepat waktu dari biasanya. Beberapa pekerjaan bahkan ditolaknya karena memang bukan kewajibannya. Padahal sebelum-sebelumnya, Ryuka menerima saja karena ingin membuat pengetahuannya jauh lebih luas katanya.


Karena terbiasa sibuk dan tak pernah diam, sesampainya di apartment, Ryuka seperti mati gaya, ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Lalu terpikirkan sang kembaran yang pasti sedang riweh mempersiapkan pertunangannya.


“Hai Kaa, tumben,” ucap Ryuki begitu mengangkat telepon saudarinya.


“Bosen nih, butuh bantuan untuk acara pertunangan kamu tidak? Aku lagi free,”


“What? Kamu? Free? Dunia gak mau kiamat kan?”


“Lebay kamu,”.


“Kan jarang banget kamu free, kamu selalu bilang nanti aku telepon balik yaa, aku lagi sibuk, dan blaa blaa blaa,”


Ryuka terkekeh mendengar omelan adiknya.


“Butuh bantuan tidak? Sebelum kutarik tawaranku nih,”


“Butuh bangetttttt, super butuh, hari ini aku mau fitting baju, temenin yaa,”


“Bayu juga ikut?”


“Iyalah Kaa, kenapa emang?”


“Aku gak sabar ngebully dia,” tawa Ryuka terdengar renyah.


“Dasar. Yah sudah, aku tunggu di rumah mama ya,”


“Okey, i am coming,” tutup Ryuka.


Baru saja ia ingin meletakkan ponselnya, nama Qwenzy tertera dilayar.


“Are you okay?” Ucap Ryuka terdengar khawatir begitu mengangkat telepon.


“Hahaha sehat banget. Kamu dimana?”


Ryuka bernafas lega, “kaget aku. Di apartemen tp mau kerumah mama,”


“Tumben, ngapain Kaa?”


“Mau nemenin Riuki fitting baju,”


“Ikut dong,” suara Q terdengar memelas.


“Kamu kosong banget ya,”

__ADS_1


“Yes mam, boleh ya?”


“Boleh-boleh aja sih, tap yakin mau ikut? Fitting baju loh ini, takutnya kamu bosan,”


”Gak, berdiam diri jauh lebih membosankan, aku ikut yaa,”.


”Ya sudah, kamu dimana? Biar aku jemput,”


“Aku di apartemen ibu peri. Ku tunggu,”


“Hahha ada-ada saja, lima belas menit lagi aku sampai,”


Ryuka hanya butuh waktu 5 menit untuk bersiap-siap dan segera menuju apartemen Qwenzy.


“Sore Pak Mali,” sapa Ryuka pada satpam yang bertugas di basement apartment Q.


“Sore mba, mau jemput mas Qwenzy ya?”


“Iya nih pak, aku dijadiin supir,” sambung Ryuka dan turun dari mobil setelah memarkirnya. “Nih pak kopi, hitung-hitung melepas kantuk,” Ryuka menyerahkannya dengan sopan.


“Waduh, karena ini nih mba Ryuka susah dilupakan, saya dapat tip terus, makasih ya mba,”


“Hahaha bapak berlebihan nih lama-lama,”


Keduanya tertawa sambil mengobrol ngawur ngidul, pemandangan itu tak luput dari penglihatan Qwenzy, yang secara tak sengaja tertular senyum mereka walau tak tahu sedang membahas apa.


“Nah itu mas Qwenzy datang mba,” lontar pak Mali begitu melihat Q.


“Siap mba, sekali lagi terima kasih kopinya,”


Ryuka hanya mengacungkan jempol kearah Pak Mali.


“Kopi aku mana?” Bisik Q sambil menggantungkan tangannya yang bebas ke pundak Ryuka, menuju mobil.


“Kamu bisa minum punya aku, pak Mali lebih butuh,”.


“Berarti kita ciuman secara tidak langsung dong,” ucap Q sambil memasang wajah kaget. Ryuka hanya membalasnya dengan tatapan jengah, “aku nyesel jemput kamu,”.


Qwenzy tertawa keras, mengusili Ryuka sangat menyenangkan.


Mobil yang Ryuka kendarai memasuki kediaman orang tuanya yang bahkan lebih mirip penthouse mewah. Karir ibunya sebagai pengacara ternama tercurahkan pada rumah yang selama ini menjadi impiannya.


Ryuka masuk lalu memberi salam dan disambut heboh. Bukan karena kedatangannya tetapi orang yang bersamanya, Qwenzy.


“Sampai kaget, mama pikir Ryuka akhirnya membawa calon menantu untuk dikenalkan ke mama,” goda sang mama.


“Mama tidak kecewa kan karena aku yang datang,” ujar Q mengimbangi godaan.


“Tidak lah nak, beneran jadi menantu juga gak apa-apa,”

__ADS_1


“Dad, tolong bawa istri daddy menjauh, omongannya udah kemana-mana tuh” potong Ryuka.


Sang daddy justru tertawa mendengar keluhan anak sambungnya. “Hey buddy, long time no see,” sapanya pada Qwenzy.


“Hey dad. Kayanya ini hikmahnya tanganku celaka dad, aku sedikit punya waktu lua… aaawwwwhhh,” teriak Q sebelum menyelesaikan kalimatnya karena mendapat hadiah jitakan dari Ryuka.


“Ucapan adalah doa, ngomongnya yang baik-baik, kalau kamu mau punya waktu luang diatur waktunya, jangan tunggu celaka,” ceramah panjang lebar dari Ryuka.


“Ma, Kaa udah kaya istri yang menasehati suami belum?” Sambil mengedap-edipkan matanya.


“Hahaha mama gak ikut-ikutan ah, mama ogah ditatap tajam, tuh coba liat,”.


Suasana semakin ramai dengan datangnya Riuki, Bayu, Ori dan sang pengasuh, Neni.


Ori yang melihat paman favoritnya tengah memakai arm sling, langsung menggeliat meminta untuk diturunkan dari gendongan calon ayahnya. Lalu berlari mendekati Qwenzy. “Om kenapa tangannya diikat?” Ucapnya sambil berkaca-kaca.


Qwenzy ditatap seperti itu malah memejamkan mata sangking gemasnya sebelum menjawab, “om tidak apa-apa princess, hanya sedikit sakit, sedikit sekali jadi diikat supaya sakitnya tidak bertambah,”.


“Oyi bisa bantu apa supaya sakitnya hilang?” Tanya Ori lagi.


“Peluk om boleh?”


“Tentu saja,” Ori langsung merentangkan tangannya agar Q memeluknya.


Semua orang yang menyaksikannya tertawa gemas dengan interaksi mereka.


“Aduh aku sakit hati, aku langsung dilupain gitu aja,” ucap Ryuka berpura-pura sedih.


Ori menepuk jidat, “astaga, aku lupa. Oyi terlalu fokus sm om Kenji, sini Mamika aku peluk juga,”. Ketiganya lantas saling berpelukan.


“Udah deh jalinan kasihnya, Q kenalin calon suami aku,” potong Riuki.


Q berdiri lalu menyalami Bayu dengan tangannya yang bebas, “hai man, Qwenzy,”.


“Bayu, wah gak nyangka saya ketemu artis,”. Semuanya terkekeh mendengar celetukan Bayu.


“Aku gak biasa deh liat kalian berdua ada didepan mataku jam segini,”. Riu mengarahkan pandangannya pada Ryuka dan Qwenzy.


“Kalau kita berdua gak sakit, kayanya emang gak mungkin ya Kaa,” jawab Q asal lalu menyesal kemudian.


Ryuka yang mendengarnya secepat kilat melayangkan tatapan tajam pada sahabatnya.


“Sakit? Kalian berdua? Kamu sakit Kaa?” cecar Riu.


“Ah gak, ngaco nih Qwenzy. Aku sehat,”. Q terlihat menghindari tatapan kedua saudara kembar itu.


“Ryuka aku serius, kamu sakit apa?” Ryuka yang melihat tatapan saudaranya mustahil menghindar. Rani, daddy hingga Bayu ikut menatap Ryuka intens.


“Ah kamu sih,” Ryuka memukul lengan sahabatnya yang tak peduli mendengarnya meng-aduh.

__ADS_1


“Nen, tolong bawa Ori ke halaman untuk bermain ya,”. Neni hanya mengangguk sebagai jawaban.


Dimulailah sidang paripurna untuk Ryuka.


__ADS_2