
Sebuah hubungan yang bermula dari status sahabat memberi mereka sedikit keuntungan sekaligus kerugian karena tentu saja melewati masa-masa pengenalan ke tahap lebih dalam yang dapat membuat keduanya berdebar malu-malu karena perasaan yang seolah bersorak; yes aku selangkah lebih mengenalnya dari orang lain.
Keuntungannya, mereka tidak kesulitan mencari bahan pembicaraan, tidak perlu jaim dan penuh dengan basa-basi busuk, like—apa makanan favoritmu, musim kesukaanmu, until jenis musik yang kamu dengar—oh god, mereka merasa terlalu tua untuk memulai hubungan seperti itu.
Waktu berlalu tanpa bisa dihentikan, Qwenzy masih enggan melepas genggamannya pada Ryuka, yang dini hari itu mengantarnya sendiri ke bandara menggunakan van ditemani seorang supir yang kutahu bernama Alex dan mba Lara yang duduk dikursi depan.
“Aku boleh turun nganter kamu ya? Hm?” Rengekan terparah Q yang pernah disaksikannya.
“Kamu mau membuat heboh bandara jam segini? Kamu lagi bercanda kan?”
“Jadi kamu bener harus kembali ke Jakarta malam ini?” tanya Q dengan suara yang dilemah-lemahkan.
Entah Ryuka harus kesal atau merasa geli melihat pemandangan dihadapannya, “Yap, aku harus BANGET kembali ke Jakarta malam ini, bukannya sebelum berangkat kita udah bahas ya..”
“Mana kutahu kalau kita bakal jadian di Paris,”. Ryuka refleks membekap mulut Q dengan kedua tangannya, ucapan Q barusan cukup bisa membuatnya malu dihadapan mba Lara yang terlihat berusaha untuk tidak ikut bersuara.
“Anyway, aku udah harus turun sekarang kalau tidak mau ketinggalan pesawat,”. Q mengerutkan keningnya tak terima. Lalu berdehem seolah memberi kode.
“Oke..oke, aku dan Alex turun dulu, kalian silakan berpamitan dengan layak,” kata mba Lara yang setiap katanya penuh dengan arti yang entah apa itu.
“Mba, enggak perlu sampai gitu, ngapain keluar segala,” cegah Ryuka.
Lalu terdiam setelah Q berbisik padanya, “jadi kamu lebih memilih mba Lara melihat aku menciummu?” Ryuka reflek menggeleng lalu kaget setelahnya. “Boleh kan?”
“Aarrkkhh suasana jadi aneh dan canggung, sumpah!!”
Qwenzy terkekeh melihat Ryuka yang terlalu sering memasang wajah frustasi tetapi juga pasrah diwaktu yang sama semenjak mereka memutuskan meningkatkan status hubungan keduanya. Ryuka terlebih dahulu mengatur nafasnya, mendongak menatap Q yang pandangannya seolah telah mengunci bibir Ryuka.
“Aku mulai yaa....,” belum sempat direspon Ryuka, tawanya keluar memenuhi mobil van yang luas itu.
“Kalau kamu ngomong gitu, bukannya bikin aku rileks malah buat aku.........”
Sebelah tangan Q meraih tengkuk Ryuka yang masih mengoceh panjang lebar dan mendaratkan ciuman dibibir peach Ryuka karena polesan lipstik kesayangannya, bukan jenis ciuman penuh ga*rah. Ia hanya menempelkannya sedikit lebih lama dari ciuman sebelumnya. Nafas Ryuka tetap memburu setelah Q melepaskan bibirnya, ia tanpa sadar menahan nafasnya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Cukup. Kita punya banyak waktu melakukannya pelan-pelan.” Ujar Qwenzy sembari menempelkan dahinya ke dahi Ryuka. “Turunlah, atau aku akan menahanmu selama tiga bulan tidak peduli aku kehilangan tangan dan kaki setelah itu,”. Mau tidak mau, Ryuka mengukir senyum paling manis miliknya.
__ADS_1
“Aku dalam masalah besar. Aku sangat menyukaimu Kaa.”
Ryuka terlihat kebingungan menanggapinya, ia hanya menarik Qwenzy kepelukannya agar dapat menyembunyikan wajahnya yang—pasti—memerah. Sungguh memalukan. Pikirnya.
“Aku mohon, jangan jadi menyebalkan selama tour atau mba Lara akan ikut-ikutan menerorku,” ucap Ryuka dibalik punggung Q.
Ia mengangguk. “Aku akan jadi manusia paling manis untuk kamu.”
”Demi tour-mu Q.”
”Demi ketentraman semua pihak. See you next month, i love you,” balas Q. Ryuka menimpalinya dengan kecupan singkat—bahkan sangat singkat—menurut Q, tetapi mampu membuatnya mematung kaget, membuat Ryuka dengan mudah melepas genggaman Q dan berlari keluar van.
God!! Tolong buat aku tetap waras sebulan kedepan!! Aku sudah merindukannya. Batin Qwenzy. Tak peduli mba Lara tengah mengoloknya habis-habisan dan kini membawanya menjauh dari area bandara.
🌸🌸🌸
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 24 jam, dengan wajah kusut plus jetlag yang cukup mengusai Ryuka dini hari itu, berjalan mencari taksi setelah mati-matian menolak tawaran Daddy untuk datang menjemputnya. Ryuka ogah jadi anak paling merepotkan untuk orang tuanya.
Menempuk jarak 30 menit, lalu lintas Jakarta dini hari cukup timpang dibandingkan pagi, siang, sore, dan malam hari yang non stop butuh kesabaran ekstra untuk melewatinya tiap memulai hari. Bahkan mengeluh pun orang-orang yang melaluinya sudah enggan.
Setelah mengirimkan pesan singkat ke nomor Mama-nya untuk mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumah. Lalu beralih membuka kontak Qwenzy dan mengiriminya pesan.
Aku dijalan kerumah Mama, naik taksi. *Dont worry**. Ketiknya. Send*.
Tak lama panggilan video dari Q tiba.
“Hai, ngapain telepon segala. Seharusnya kamu tidur kalau punya waktu,” omel Ryuka begitu melihat wajah Q memenuhi layar ponselnya.
“Aughh sumpah. Kamu lupa disini tuh udah mau siang? Main ngomel-ngomel aja.”
”Ups, sorry lupa.”
“Kenapa kusut gitu? Kamu gak tidur di pesawat?” nadanya terdengar khawatir.
“Tidur. Dikit-dikit. Kamu lagi di mobil ya?” Ryuka balik bertanya, sengaja mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Qwenzy mengangguk, “aku sound check sebentar lagi sayang,”. Ucapnya tersenyum penuh arti.
Panggilan Qwenzy menggunakan ‘sayang’ pada Ryuka tentu saja bukan pertama kalinya, ia dulu sering menggunakannya jika sudah terlalu lelah menghadapi keras kepala Ryuka. Namun selalu diikuti dengan ‘Ryuka sayang’, yang terdengar tak berarti apa-apa.
Mencari aman, mengingat Qwenzy tak seorang diri di dalam mobil. Ryuka memilih menimpali pernyataan Q barusan. “kamu benar, aku lupa kalau harus menghabiskan kurang lebih dua puluh empat jam di dalam pesawat. Lama bener.”
”Apalagi enggak ada aku kan?”
”Enggak ada bedanya tuh, tetep aja bosen,”.
‘Hahahahaha’, terdengar orang-orang disekitar Q tertawa. “Bisa enggak sih, sekali aja kamu senyum malu-malu gitu kalau digombalin,”. Kesal Qwenzy.
“Sorry banget nih. Aku gak mempan gombalan anak band.”
”Tapi berhasil jadi pacarku tuh.” Q tampak menjulurkan lidah.
OH. SENJATA MAKAN TUAN. Batin Ryuka. Ia hanya memicingkan matanya tak sanggup berkata-kata melihat Qwenzy tersenyum penuh kemenangan.
“Udahan dulu ya, aku sebentar lagi sampai depan rumah mama, salamin sama semuanya,”.
”Enggak ah, aku enggak mau bagi-bagi.”
Sungguh Q semakin banyak tingkah!! “Udah ya, bye.”
”Pak taksi tolong antar pacar saya dengan selamat ya,” teriak Qwenzy yang membuat Ryuka refleks mengecilkan volume ponselnya.
”Maaf pak, dia emang rada gila.”
Supir taksi tersebut justru terkekeh setelah berujar, “siap laksanakan Mas.”
”Udah ah.” Ryuka melambaikan tangannya. Qwenzy tersenyum mengangguk, melambaikan tangan dan seperti biasa mengakhirinya dengan ‘i love you Kaa’.
Dengan cepat Ryuka mengetikkan pesan pada Q. *Enjoy the stage***. Semangat pacar !!!!** pesan singkat yang bisa membuat Qwenzy tersenyum sepanjang hari bak orang tolol tak tertolong.
...****************...
__ADS_1
Happy reading guys 🌸