
Setelah mengobrol dengan dokter Septi tentang rencana pengobatan yang akan dilakukannya, Ryuka diserang perasaan bimbang terus-menerus. Banyak opsi yang ditawarkan padanya tak membantu sama sekali. Malah semakin membuatnya seolah tersesat dan tak menemukan jalan keluar.
Ditambah dengan kabar bahwa dirinya sedang mengalami masalah serius, tersebar di rumah sakit. Entah siapa yang memulai. Dina, Kinan dan Lily bahkan jadi bulan-bulanan untuk dibombardir konfirmasi kebenaran yang beredar, bak Ryuka artis papan atas.
Ketiganya bungkam karena tahu sahabatnya sangat menjaga privasinya melebihi siapapun. Respon Dina, Kinan dan Lily tak jauh berbeda dengan Riu dan mama saat mereka berhasil mengorek paksa cerita dari Ryuka. Menangis selama berjam-jam seolah Ryuka sudah dikubur di liang lahat. Ryuka jadi harus menenangkan mereka, padahal seharusnya sebaliknya bukan?
Hari ini Ryuka, Q, Raka, Ken dan Gino berjanji untuk makan malam bersama, sebelum semuanya disibukkan dengan urusan masing-masing dan tidak akan bertemu selama berbulan-bulan lamanya.
Aku jemput ya, isi pesan Qwenzy.
Ryuka men-dial nomor si pengirim pesan.
Emang kamu dari arah mana?
Salam dulu Kaa.
Suara cengengesan Ryuka terdengar melalui telepon, sorry, tok tok permisi, assalamualaikum.
Qwenzy malah tertawa, aku dari arah kantor Raka dan sekarang lagi sama Raka.
Hmm **okay, aku tunggu di lobby aja ya.**
keduanya mengucapkan salam, lalu mengakhiri panggilan telepon mereka.
Raka? Terakhir kali ia berkomunikasi dengannya, setelah Raka mengirim pesan, bahwa tiba-tiba ia berhalangan hadir di pesta pertunangan Riu, itu bahkan sudah hampir 2 pekan yang lalu.
Ryuka semakin yakin, ucapan Raka tentang perasaannya beberapa waktu lalu padanya, hanya sebuah kalimat bak pemabuk hang over yang keesokannya sudah lupa kejadian sebelum mereka terkapar tak sadarkan diri.
“Kalian berdua lagi marahan?” Q melontarkan pertanyaan santai setelah menangkap ada sesuatu yang aneh dari Ryuka dan Raka.
“Nothing,”
“Gak,” ucap mereka bersamaan. “Jangan aneh-aneh ah kamu,” sambung Ryuka.
“Kok kalian gak ngobrol?”
“Tadi kan ngobrol,”
“Obrolan apa itu, cuma say hello, sibuk apa, lama gak ketemu. Basa-basi terburuk yang pernah didengar telingaku,”.
__ADS_1
“Kamu emang berharap kami obrolin apa? Nilai rupiah perhari ini terjun bebas? Bumi datar atau bulat? Atau apakah Nabi Isa benar-benar Jesus yang disalip?”. Ryuka nyerocos dengan kesal.
“Yah gak seserius itu juga. But no hug? You two? Wow langka banget,”.
“Tadi kami sempat ciuman diluar, kamu gak liat aja,”.
Qwenzy tetiba mengerem mendadak bersamaan dengan batuk Raka yang tak berhenti, ikut kaget dengan ucapan Ryuka barusan. Raka memang turun agar Ryuka yang menempati kursi samping pengemudi, tetapi bahkan hanya sepersekian menit bahkan mungkin detik.
“Kamu gila ya, kita hampir saja jadi penyebab tabrakan beruntun,”.
Setelah Q dan Raka menguasai kesadarannya kembali, “kamu gak apa-apa?” Tanya mereka bersamaan, memastikan Ryuka tak tergores barang sedikit pun.
“Aku tentu saja tidak baik-baik saja,” Ryuka bahkan masih memegang dadanya saking shock-nya.
“Sorry, kamu sih,” protes Q.
“Lah kok aku, kan kamu yang nyetir,”.
“Karena omongan kamu, aku jadi ngerem mendadak,”
“Omongan aku yang mana?”
Raka yang jadi bahan pembicaraan masih setia mengunci mulutnya rapat-rapat, sesuai dengan ciri khasnya.
“Aku cuma bercanda, lagian kenapa juga aku ciuman sama Raka,” Ryuka menjelaskannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setelahnya perdebatan keduanya, mereka sama-sama mengatupkan mulut dengan pikiran masing-masing.
Ryuka dengan kemakluman dari reaksi Raka dan Q karena ia anti kissing dengan seseorang yang statusnya tidak membutuhkan aksi itu. Ryuka hanya menolerir sebatas pelukan diantara mereka bahkan setelah bertahun-tahun saling mengenal dengan status sahabat.
Karenanya, sebutan dari para sahabatnya, si perempuan langka, sepertinya tak sepenuhnya salah. Jika perempuan lain, justru akan menawarkan diri mereka pada keempat atau setidaknya salah satunya diantara mereka, siapa yang tidak ngiler melihat mereka? Hanya Ryuka, hanya dia.
Qwenzy dan Raka justru memutar memori sepekan yang lalu dimana hubungan keduanya sempat menegang, untung saja Gino dan Ken bergerak cepat membantu menyelesaikannya, dengan kepala dingin.
Qwenzy akhirnya secara terang-terangan mengakui bahwa ia menyukai Ryuka sejak lama dihadapan Raka, Gino dan Ken yang menganga dengan mata melotot saking kagetnya, tetapi mundur dengan alasan klasik, tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka yang sangat berharga itu.
“Lalu kenapa tiba-tiba mau rusak hubungan yang katanya sangat lu hargai itu?” Raka tiba-tiba angkat bicara dengan nada yang dingin, bahkan Gino dan Ken nyaris menggigil saking dinginnya.
“Karena gue gak mau jadi pengecut, sudah cukup jadi pengecut,”.
__ADS_1
JLEB !!! Menusuk tepat dijantung Raka, yang membuatnya naik pitam. “Maksud lu apa? Lu nyinggung seseorang?”
Qwenzy memiringkan kepala melihat reaksi berlebihan yang ditunjukkan Raka atas pengakuannya, tetapi berusaha bersikap tenang sebisa mungkin padahal ia bukan tipe yang bisa menahan amarahnya.
“Apa lu enggak merasa reaksi lu terlalu berlebihan?”
Raka terlihat kaget dan penuh pertimbangan. Gino dan Ken? Merasa serba salah, bahkan alarm peringatan berbahaya dikepala mereka berdenting dari tadi.
“Gue tanya sekali lagi dan ini kesempatan terakhir lu, apa lu juga suka sama Ryuka?”
“Tidak, gue selalu bilang Ryuka gue anggap seperti adik gue sendiri,”. BOHONG BESAR !!! Ego Raka mengalahkan isi hatinya. Tamat sudah.
“Tapi menilai reaksi lu berlebihan, gue gak yakin sama jawaban lu,”
“Brothers, stop. Semakin ini melebar, semakin gak bisa kita tanggung nantinya,” Gino begah akhirnya angkat bicara.
“Qwenzy suka Ryuka, dan Raka memastikan dirinya tidak. Clear. Gak ada yang perlu diperdebatkan tentang itu,”.
Tatapan Q dan Raka yang tadinya bersitegang bak siap baku hantam, kini melemah dan memilih melemparkan matanya kearah lain.
*“Anything else*? Supaya semuanya clear, gak ada acara ngambek-ngambekan,”.
“Gue dan Gino juga bukan sebuah ancaman karena cuma menganggap Ryuka saudara, gak lebih dan gak akan lebih, itu juga clear,” Ken mencoba mencairkan suasana dan sepertinya berhasil karena melihat senyum samar diwajah ketiga sahabatnya.
Tak lupa hadiah jitakan dari Gino, “orang lagi serius, ******,”.
Qwenzy dan Raka saling tatap dan menggeleng bersamaan, tanpa peduli dengan Ken yang meng-aduh kesakitan.
“Sorry man, gue berlebihan,” ucap Raka duluan seraya merentangkan tangannya hendak memeluk Q yang tentu saja disambut dengan senang hati.
“Maafin gue juga, tapi lu emang berlebihan sih tadi,”
Raka terkekeh saja padahal hatinya sebenarnya tengah terkikis habis. Tanpa sisa. Move on adalah pilihan satu-satunya sekarang.
Bisa dibilang, hari itu adalah pertengkaran mereka yang paling serius. Biasanya jika bertemu mereka hanya akan benar-benar menikmati pertemuan mereka, yang terbilang jarang sekali terjadi karena kesibukan masing-masing yang berhasil membuat stress, dengan menikmati obrolan sepanjang malam atau bermain video game sampai stik jebol.
🌸🌸🌸
Hayooo.. #timQwenzy atau #timRaka????
__ADS_1
Happy reading 🤎