Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #30


__ADS_3

Ryuka bangun dengan buru-buru. Mandi seadanya, memakai baju asal comot dalam lemari, lalu buru-buru meraih totebag buluk kesayangannya untuk segera berangkat kerja, ia ingat pagi ini harus visit beberapa pasien.


Berlari keluar kamar dan melewati ruang tv yang berantakan karena bungkusan snack dan botol minuman yang berserakan dimeja.


Ryuka mengerem mendadak langkahnya, ia tidak mungkin begadang jika tahu akan ada jadwal visit keesokan paginya. Tak mungkin juga ia tidak menyalakan alarm.


“Tunggu..tunggu.. kaya ada yang kelupaan,” Ryuka berusaha mengingat-ingat. Sepersekian menit kemudian ia menepuk jidat. “Astaga kan aku pengangguran sekarang,”. Ryuka berjalan lunglai dan melemparkan dirinya kearah sofa.


Aku harus mulai memikirkan kegiatan apa yang bisa kulakukan agar tidak mati kebosanan. Batinnya.


“Eh lupa, Qwenzy marah kalau ngomongnya bahas-bahas mati,”.


Ia melangkahkan kaki ke beranda apartemennya untuk menghirup udara segar, jam masih menunjukkan pukul 8.30 pagi. Ia melirik taman kecil sepanjang berandanya hadiah Gino, jarang sekali memiliki waktu luang membuat beberapa bunga terlihat layu.


Ryuka jongkok mulai membersihkan bekas tanah, mengelap mengkilat beberapa pot dan mulai mencabut daun dan bunga yang mulai menguning. Ternyata ada gunanya juga hadiah dari Gino yang ia ingat membuatnya tak bisa berkata-kata. Bagaimana Gino bisa memikirkan menghadiahinya hal itu.


Terbersit ide untuk mengganti bunga yang tak tertolong lagi. Akhirnya Ryuka memutuskan untuk keluar membeli beberapa tanaman sekaligus membeli makanan diseberang jalan.


Ryuka berjalan kearah lift lalu bertemu dengan tetangga unit apartemennya. “Oh Ryuka kan?” Sapanya.


”Halo mas, lama gak ketemu ya,”.


”Iya yaa, kamu juga jarang di apartemen kan?”


”Iya mas. Mau berangkat kerja ya mas?” Tanya Ryuka yang sebenarnya basa-basi, melihat hanya mereka berdua yang berada dalam lift.


”Iya nih, kamu sendiri?”


”Oh enggak mas, saya mau ke seberang. Ada toko bunga kan ya disana?”.


”Yuph, saya sering beli disana kalau pacar saya ngambek,”. Ryuka tertawa saja.


“Raka enggak lagi ngambek kan? Kamu mau beli bunga segala,”.


Raka? Ryuka berusaha mengingat-ingat. “Oh astaga, enggak kok mas,”.


Ia baru ingat, saat ia memperkenalkan diri pada lelaki disampingnya ini, Raka mengaku bahwa mereka pengantin baru, walau tidak secara terang-terangan.


Jelasin ulang gak yaa…tapi apa pentingnya…toh juga jarang ketemu.. Pikiran Ryuka bersahut-sahutan.


Tiba dilantai 1, Ryuka bergegas pamit. Ia memang tipe yang kagok jika harus bertemu atau saling menyapa dengan seseorang yang tidak akrab dengannya.


Apartemen Ryuka memang terbilang strategis, karena terletak di tengah kota membuatnya tak akan kesulitan mencari toko bunga, yang ia ingat berada diseberang jalan apartemen.


Ditengah kebingungan Ryuka memilih bunga, ia samar-samar mendengar namanya tengah dipanggil.


“Kaaaaa… Ryukaaaa..” Sang empunya nama menoleh kanan ke kiri bingung mencari sumber suara.


“Oh haiii,” Ryuka berlari kearah mobil yang terparkir setelah mengonfirmasi bahwa Qwenzy lah yang memanggilnya, mengingat apartemen Q hanya berjarak beberapa blok darinya.


“Kamu jam segini ngapain disini? Ditoko bunga pula,”


“Hai mba Lara, makin cantik aja ih,” sapa Ryuka pada manajer Qwenzy yang membalasnya dengan kedipan.

__ADS_1


Lalu beralih menatap sewot Q. “Maksud kamu, image aku enggak cocok beli bunga?”


Qwenzy menahan tawa, bergegas keluar dari mobil lengkap dengan topi dan maskernya. “Sensitif sekali sih kamu,” Q mencubit ujung hidung Ryuka. “Kamu enggak kerja?”.


“Enggak. Aku lagi lowong. Mau bersihin taman,”.


“Sayang banget aku lagi ada kerjaan, yang lain juga lagi sibuk kayanya ya,”.


“Syukur alhamdulillah, aku jadi bisa me time-an” ucap Ryuka sambil menjulurkan lidah.


“Kamu kenapa sih doyan banget apa-apa sendiri,”.


”Kenapa jadi kamu yang marah idih,”.


”Gak marah, gemes aja, peluk dong,”.


Belum sempat Ryuka menjawab, Qwenzy sudah bergerak cepat menariknya kepelukannya.


“Guys, ingat paparazi,” ucap mba Lara penuh peringatan.


“Ini udah jadi bukti ya mba. Qwenzy nih, yang gak ingat situasi dan kondisi,”.


”Bukan gak ingat, emang gak peduli dia Kaa,” sahut Lara.


”Kalian main keroyokan yaa,” protes Q.


”Udahlah, pokoknya kalau berita tentang kalian muncul lagi, perusahaan ogah bantah lagi, konfirmasi saja sekalian, biar tahu rasa,”.


”Aku yang rugi dong mba, nanti gak ada cowok yang deketin aku, padahal aku masih available gini,”.


“Tunggu, kok sekarang nada kamu kaya centil begitu,”.


”Itu fakta, bukan centil. Enak saja,”.


”Sudah..sudah. Ngeladenin kalian itu emang gak ada habisnya. Q time’s up. Come on,”.


“Aku sudah gak bisa bolos lagi ya mba? Hari ini aja deh, yang terakhir. Janji” Q memasang wajah memelas dihadapan manajernya.


”Big no, jatah bolos kamu sudah terpakai semua,“.


Wajah Q mendadak sendu, “aku sudah harus pergi,”. Ucapnya.


“Hmm sana. Go..go..”


“Eh tunggu bentar,” cegah Ryuka lalu berlari masuk ke toko bunga.


Selang beberapa lama, Ryuka kembali berlari dengan menenteng setangkai bunga Lily putih. Qwenzy menanti dengan mata berbinar, bersiap-siap menerimanya.


“Bunga buat mba Lara,” Ryuka mengedipkan mata pada Lara dikursi kemudi.


Pecah tawa Lara menyaksikan wajah Qwenzy yang tampak sakit hati, tak terima karena Ryuka melewatinya begitu saja, padahal ia sudah pede setengah mati.


“Udah sana jalan, kasian tuh mba Lara nunggu lama,”. Ryuka memutar badan Qwenzy memaksanya masuk mobil.

__ADS_1


”Bunga untuk aku mana?” Tanya Q sambil mengeluarkan separuh kepalanya setelah menurunkan kaca mobil.


Ryuka mengerutkan dahi seolah tak mengerti permintaan Qwenzy. Lalu detik kemudian tersenyum jahil dan menertawakan wajah masam sahabatnya.


”Nih,” katanya sambil menyerahkan setangkai bunga mawar kuning. “Semangat ya kerjanya, byee,”. Ryuka melambaikan tangan diiringin mobil Qwenzy yang melaju hingga tak lagi terlihat.


🌸🌸🌸


“Aduh Qwenzy, sampai sekarang status kamu masih stuck ya, kalau sampai tercium media, wow it’s hot news,”.


”Kamu pasti tahu dong arti bunga mawar kuning,”. Lanjut Lara menjahili.


Qwenzy tampak bersandar lesu di jok belakang, “apa lagi kalau bukan persahabatan dan blaaa blaa blaa,”.


”Tapi apa sih mba, aku enggak ngerti ah, kan aku emang sahabatnya”.


“Sampai kapan mau ngelak, mau mba bantuin gak?”.


Qwenzy terlihat mulai terpancing, “gimana coba caranya, hayo?”


”Hahaha tuh kan, kamu akhirnya ngaku sendiri,”.


”Sumpah ya, mba aja nih yang jarang ngeliat interaksiku, tahu,”.


”Disekitar kamu, emang Ryuka saja yang gak sadar apa-apa,”.


”Hha? Maksudnya mba?”


”Temen band kamu, bahkan manajemen semuanya sadar, tapi mereka setuju seratus..eh bukan.. bahkan sepuluh ribu persen kalau kamu menjalin hubungannya sama Ryuka,”


”Kok gitu?” Qwenzy mulai mencondongkan badannya kearah kursi kemudi.


”Kan Ryuka gak aneh-aneh orangnya, catatan hidupnya bersih, kinclong bahkan,”.


”Tapi masalah besarnya, dia gak suka aku, ituuuuu,”.


”Kamu emang udah pernah nanyain?”


”Enggaklah mba, setidaknya sih belum,”.


”Saranku, utarakan saja kalau memang kamu benar-benar menyukainya, sisanya urusan belakang, setiap keputusan kan punya resikonya masing-masing,”.


”Kok semuanya menyarankan hal yang sama,”


Lara terkekeh, “oh ya? Makanya just say i love you tanpa meminta Ryuka membalasnya dengan hal yang sama,”.


Percakapan mereka barusan meninggalkan kegalauan maksimal pada hati, tubuh dan pikiran Qwenzy. Sayangnya, ia tetap harus bersikap profesional, hari ini adalah jadwal pemotretan tour.


Terima kasih yang sudah like 🤍


ditunggu like dan commentnya lagi ya!!!


Selamat membaca🌸

__ADS_1


__ADS_2