
Kamar presidence suite yang awalnya terlalu luas untuk Ryuka tiba-tiba menyempit. Pandangan keduanya tetap terkunci, Qwenzy yang mencoba menunjukkan betapa tulus perasaannya, dan Ryuka yang berusaha menemukan kebohongan dari mata Q, namun nihil. Terlebih dahulu memutus pandangan mereka dengan menoleh kesembarang arah sebelum Ryuka memulai percakapan.
“Sejak kapan?”
“Aku tidak tahu, ini sama sekali tidak masuk dalam rencanaku, tidak ada unsur kesengajaan, makanya aku tidak tahu kapan pastinya,”
“Sejak kapan kamu sadar?”
“Sejak ulang tahun kamu, sejak itu aku mulai frustasi melihat kedekatanmu dengan Raka, sejak bertemu Alif, apalagi sejak Raka bilang dia menyatakan perasaannya padamu,”
“Wait, Alif? Alif terapis kamu?”. Qwenzy mengangguk.
“Jadi waktu kamu bilang cemburu itu kamu serius ya,”.
“S.A.N.G.A.T,” jawabnya penuh penekanan.
Suasana kembali hening. Ryuka meneguk ice americano nya berkali-kali. Qwenzy tampak tak kalah gusar ditempatnya.
“Gino dan Ken tahu tentang ini?”.
“Mereka tahu,” Entah kenapa Q tak berani menatap Ryuka, takut dengan ekspresi apa yang akan dilihatnya. “Tentu aku harus meminta persetujuan mereka sebelum melangkah lebih jauh,”.
“Kamu tidak takut hubungan kita berlima jadi canggung?”. Tak ada jawaban darinya.
“Aku menyadari banyak hal malam ini. Duniamu, duniaku. Sangat berbeda. Walau itu bukan masalah untukku jika aku misal—memang untuk memutuskan mengubah status kita berdua. Tapi…Aku perlu menata semua perasaan yang kudapat yang bahkan belum genap hitungan sehari di Paris,”.
“Boleh aku mendekat?” Pinta Q mengikis jarak antar keduanya memang cukup jauh sedari tadi.
Melihat Ryuka akhirnya mengangguk, membuat Q mantap melangkahkan kakinya, berlutut dihadapan Ryuka yang tengah duduk di sofa empuk.
“Aku tahu kamu sedang merasa, to much information. Kalau menurutmu perasaanku ini terlalu rumit untuk diurai mengingat hubungan kita dan yang lainnya….,” Q menghela nafas sebelum melanjutkan.
“Aku gak apa-apa kalau harus menahannya, kita pertahankan hubungan yang sudah baik ini seperti semula. Aku gak mau karena perasaanku ini memperparah kondisimu,”.
“Kamu menyesal? Bagaimana cara mempertahankan semuanya seperti semula? Pura-pura bego? Atau aku harus pura-pura tuli?” Cecar Ryuka.
Qwenzy menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “maafkan aku tapi aku tidak menyesal menyatakan perasaanku pada akhirnya, aku hanya merasa bersalah sejak awal tidak mempertimbangkan kondisimu,”.
__ADS_1
Ryuka memijat tengkuknya yang terasa menegang. “Jangan berlutut dong, duduk disampingku,”.
“Seharian ini aku belum melihat dengan benar wajahmu,”. Ucap Q.
“Wah, playboy emang beda,” kikiknya, yang menulari Qwenzy.
Namun ditariknya tangan Q memaksanya untuk duduk.
”Ohho, aku menolak disebut playboy, aku setia ya jika sudah berada salam satu hubungan,”.
Ryuka melengos menanggapinya karena tahu itu adalah fakta. “Menurutmu apa yang harus kita lakukan? Supaya aku dan kamu tahu dengan benar perasaan masing-masing,”.
“Biarkan aku mendekatimu,”. Jawab Q cepat. Ryuka tampak tak mengerti, ia benar-benar awam masalah percintaan seperti ini.
“Mendekati selayaknya pria yang tengah mengejar-ngejar wanita yang ditaksirnya,”.
“Oh my god. Apa kamu bisa? Apa aku bisa?” Gidiknya frustasi duluan.
“Bagaimana caranya aku mengubah pandanganku melihatmu sebagai pria yang mengejarku dan bukan sebagai Qwenzy sahabatku,”.
“Oke, lakukanlah,” putusnya diiringi nafas berat.
“Sejauh mana aku bisa melakukannya?”
“Sejauh mana tingkahmu jika mendekati seorang wanita?” Ryuka balik bertanya.
“Kiss? Atau lebih?”
Ryuka tampak menganga, “dan kamu tahu dengan pasti itu tidak berlaku padaku,”.
“Kamu harus meminta persetujuanku jika lebih dari itu,”. Sambungnya.
“Oke, deal,” Sambut Q antusias.
Pandangan mereka bertemu setelah hening. Entah kenapa keduanya tertawa. “Aku sama sekali tidak menyangka kita akan terlibat percakapan barusan,” ungkap Ryuka menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
“Aku juga,” jawabnya mengikuti Ryuka, lalu menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
“I love you Kaa,” sambungnya.
Ryuka mengerang disebelahnya, “bulu kudukku merinding, suatu saat aku akan terbiasa mendengarnya kan? Iya kan?”.
Tawa Qwenzy lagi-lagi memenuhi ruangan mendengar wanita disebelahnya bergumam meyakinkan diri berkali-kali.
🌸🌸🌸
Ryuka bangun pukul 1 siang, Qwenzy meninggalkan kamarnya menjelang subuh dan ia baru bisa terlelap saat matahari mulai menyapa. Sama seperti manusia lain pada umumnya, ponsel menjadi barang pertama yang dicarinya.
Tatapannya disambut oleh pesan Qwenzy 4 jam lalu, mengabarkan ia sedang ada jadwal disalah satu radio dan beberapa kantor media ternama di Paris, karenanya ia kemungkinan tidak bisa menemaninya santap siang.
Gak apa-apa. Aku boleh keliling sekitaran hotel ya. ****Please🥺 . Ketiknya lalu menekan ‘send’.
Sementara menunggu balasan Q yang datang entah kapan. Ryuka membersihkan sisa makanan mereka semalam. Ia tipe yang kurang nyaman kamarnya dibersihkan saat ia masih tengah lalu lalang.
Selanjutnya bergegas mandi dan bersiap-siap untuk keluar. Paris bukan kota yang asing baginya, entah sudah kunjungan keberapa kali ini tetapi ia tetap saja takjub melihat pemandangan kota yang selalu indah dalam bingkaian kamera.
Ryuka telah siap. Cut out tank top yang pas dibadannya. Paris sedang berada dalam musim panas. Celana jeans panjang dan slip on shoes. Tak lupa membawa kardigan mengantisipasi kalau-kalau kulitnya terbakar teriknya matahari.
Untuk urusan fashion, Ryuka termasuk anti dengan segala jenis dress apalagi yang berukuran mini, kecuali untuk acara tertentu. Pun dengan high heels, ia baru akan memakainya jika dalam keadaan sangat terpaksa. Ia benci menyiksa kakinya yang sudah cukup tidak sehat.
Karena seleranya itulah, tak jarang ia mendengar omelan mamanya, ditambah selera Riuki yang ala-ala barbie, walaupun tidak separah dulu, berbeda 180 derajat dengannya. “Ma, tidak ada satu orang pun didunia ini yang boleh menghakimi selera orang lain” dalihnya terus-menerus.
Satu setengah jam sudah berlalu tapi balasan pesannya tak juga datang. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar saja, ditambah suara perut yang mulai berdemo lebih keras dari sebelumnya.
Aku keluar ya, laper. Ketiknya lagi. Send.
Ryuka mulai melangkah keluar dengan wajah sumringah bak tahanan keluar penjara. Dengan bantuan navigator di ponsel pintarnya, Ryuka berjalan kaki menuju restoran cepat saji sekaligus berencana menikmati secangkir kopi dan yang terpenting teridentifikasi halal. Untung saja, tidak sulit menemukannya, sekitar 900 m dari hotel tempatnya menginap. Setelah memesan spaghetti dan seloyang pizza mini serta sparking water. Jangan heran dengan porsi makan Ryuka yang tidak berubah. Ia mulai mengambil buku didalam tas, sebuah karya ilmiah yang membahas tentang tumor otak. Semenjak ia didiagnosa menginap penyakit tersebut, Ryuka secara mandiri mulai sedikit terobsesi.
45 menit berikutnya, semua makanan dihadapannya tandas. Ryuka mulai menggulir layar ponsel mencari dan memilah-milih tujuan berikutnya. Ia ingin berjalan-jalan sambil memotret beberapa tempat disekitarnya, sebelum menikmati secangkir kopi dan segera kembali ke hotel, sebelum kebawelan Qwenzy datang mengusiknya.
...****************...
Siapa nihh yang punya pengalaman pacaran sama sahabatnya??? Share dong🤭
Selamat membaca🌸🌸
__ADS_1