Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #39


__ADS_3

Begitu berita konfirmasi dirilis. Ponsel Ryuka dan Qwenzy bak menyanyikan puluhan lagu karena panggilan masuk terus sambung-menyambung, berdesak-desakan, tidak sabaran. Keduanya menopangkan dagu diatas meja menatap handphone masing-masing menampilkan pergantian dari satu nama ke nama lain. Tidak berniat mengangkatnya.


Setelah beristirahat sejenak dan menyegarkan diri. Qwenzy langsung ke kamar Ryuka, kekasihnya. Q belum pernah tersenyum begitu lebar hanya karena kata ‘kekasih’. Walau ia telah menyiapkan diri menjadi sasaran kekesalan Ryuka karena mencuri kecupan dibibirnya.


Namun diluar dugaan, Ryuka tampak tidak sedikitpun menunjukkan raut kesal atau keinginan untuk membahasnya. Q tidak tahu itu adalah hal buruk atau tidak, tetapi ia dengan sangat yakin tidak akan berani membahasnya duluan. Itu seperti bom bunuh diri disisinya.


“Kamu siap?” Tanya Q kearah Ryuka, yang hanya mengangguk mantap penuh keyakinan.


Hanya dalam hitungan detik setelah tersambung—sungguh hanya dalam hitungan detik—panggilan video grup mereka bersama Gino, Ken dan Raka, mulai tersambung menampilkan tatapan menuntut penjelasan dari ketiganya.


“Sekarang jelaskan apa saja yang telah kalian lakukan selama di Paris, aku tidak punya waktu banyak,” sahur Ken bak sedang dalam pengejaran.


“Kami belum melakukan apa-apa,” seloroh Q yang langsung mendapat pukulan dilengan dari Ryuka. “Kenapa kamu mukul aku, kan emang bener, belum ngapa-ngapain,”.


Ryuka mendesah pelan. “Yah begitulah. Seperti yang kalian baca,”.


“Dan seperti yang kalian lihat,” tambah Q memeluk Ryuka.


“Aku juga bisa memeluk Ryuka,” ucap Ken tak mau kalah.


Qwenzy terlebih dahulu menatap Ryuka meminta izin seolah memohon dengan mempertaruhkan nyawanya. Ryuka mengangguk tanpa menoleh. Qwenzy langsung mengecup pipi Ryuka lalu menjulurkan lidahnya kearah kamera. Ken, Gino bahkan Raka terlihat bereaksi dengan menganga selebar yang mereka bisa.


“Kaa kenapa kamu tidak marah?”


“Aku menahan diri untuk tidak menamparnya?” Ketus Ryuka. Semua orang yang nampak dilayar tak bisa menahan tawanya. Kecuali satu—Qwenzy yang meringis.


“Kalian benar-benar??” Gino merasa benar-benar harus memastikannya. Ryuka dan Q kompak mengangguk lalu saling menatap.


“Guys, hentikan tatapan kalian. Membuatku merinding,” Ken seolah tidak bisa menahan diri untuk melayangkan keberatan pada keduanya.


“Congrats you two, kalian berutang traktiran makan malam seminggu penuh,” ucap Raka tulus. Ia kalah telak menepis harapannya yang tersisa.


Ryuka menautkan jemarinya dengan Qwenzy, menggoyang-goyangkannya didepan kamera agar dapat dilihat sahabatnya, “thanks, doakan kami akur ya, susah banget gak berantem sama dia,”. Canda Ryuka.


“Kaa lihat tuh—astaga—wajah bodoh Qwenzy yang menatapmu penuh cinta,”.


Qwenzy semakin mengembangkan senyumnya lalu mendaratkan dagunya dipundak Ryuka hingga panggilan mereka berakhir, memang tak bisa berlama-lama mengingat betapa sibuknya mereka.


Qwenzy memutar badan Ryuka menghadapnya, keduanya masih duduk diatas karpet, membuat sofa-sofa empuk itu menganggur saja.


“Besok apa rencana kamu?” Tanya Q.

__ADS_1


“Aku kangen Louvre Museum, setelah itu berencana mencoba peruntungan memotret Arc de Triomphe, kali aja dapat momen bagus,”.


“Oke, aku ikut,”.


“Loh gak perlu gitu, kamu masih ada schedule kan besok?”


“Gak ada. Aku sengaja meminta mba Lara mengosongkan sehari jadwalku untuk menemanimu berkeliling,”.


Ryuka mengangkat sebelah alisnya tak percaya. “Kalau kamu gak percaya, coba telepon mba Lara sekarang,”.


Ia menggeleng, “jadi apa komentar mba Lara?” Ryuka memang belum bertemu manajer Q setelahnya.


“Kalau menyembah manusia itu tidak dosa, mba Lara pasti sekarang berubah menyembahmu,”.


Ryuka memukul mulut kekasih—oh kekasihnya—pelan. “Kan aku bilang ‘kalau’ Kaa,”.


“Tapi semuanya baik-baik saja kan?” Entah kenapa Ryuka masih saja merasa cemas.


“Sangat yakin, kamu kan baca sendiri komentar-komentar penggemarku. Lagian kita tidak bisa membuat semua orang setuju dengan keputusan kita kan?”


“Iya sih,”.


“Kenapa kamu jadi banyak pikiran begini?”


“Kalau kata Jio dan aku pun menyetujuinya, kamu baru saja berdedikasi menjaga perdamaian dunia,”.


Tawa lolos dari Ryuka. “Kamu sama konyolnya dengan Jio,”.


“Bisakah kamu memelukku Q?” Pinta Ryuka.


Qwenzy merentangkan tangannya. “Sebanyak yang kamu mau,”. Peluknya erat. Mereka menikmati menit-menit berikutnya dengan tenang.


Keesokan harinya. Qwenzy menepati janji menemani Ryuka, menjelajahi Paris yang mayoritas penduduknya diisi dengan individualisme yang tinggi memberikan keuntungan pada Qwenzy dan Ryuka. Walau sesekali Q tetap harus meladeni beberapa penggemar yang mengenali mereka untuk membubuhkan tanda tangannya atau foto bersama.


Beberapa Kali Ryuka pun bertindak sebagai tukang foto tentu dilakukannya dengan senang hati. Dan menolak dengan sesopan mungkin jika memintanya ikut berfoto dengan mereka.


Kebanyakan penggemar Blake bertindak sangat manis dengan sopan meminta maaf karena mengganggu kencan kami—itu pun kalau bisa disebut sebagai kencan.


Tidak ada perubahan yang berarti dari keduanya, selain Q yang tak sedikitpun melepas genggaman atau rangkulannya pada Ryuka, seolah ingin memamerkannya pada semua orang yang ditemuinya.


"Ayolah berdiri disana sebagai modelku." rengek Ryuka pada Qwenzy yang kekeh menolak untuk difoto seorang diri.

__ADS_1


Q mengangkat tangan tanda menyerah. “baiklah. Hanya sekali.“ Ryuka mengangguk antusias. Lalu mencuri 4 jepretan dengan alasan tidak sreg, tidak pas, tidak proporsional.


Mereka berialan-jalan mencari bangku kosong sekitar Are de Triomphe. Ryuka yang tampak lelah dan Qwenzy khawatirnya bukan main.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Q meraba kening Ryuka.


"Baik-baik saja, kamu nih dari tadi kaya bawa manusia sekarat, terlalu berhati-hati.”


Sadar Ryuka salah bicara, ia melanjutkan sebelum diprotes oleh Qwenzy, “itu hanya perumpaan.”


“………”


"Kamu marah?"


”………”


"Oh itu ada bangku kosong." Ryuka menarik Q untuk berlari.


"Aku juga takut, aku juga takut tiba-tiba mati dan meninggalkan kalian semua.".


Pengakuan Ryuka berhasil membuat. Q memutar kepala menghadapnya. "Tapi aku memilih untuk tidak memikirkannya."


“Tapi kalau sikap, tatapan dan ucapan kalian tidak memperlakukanku sama seperti waktu aku belum divonis penyakit itu. Aku yang tadinya tenang justru berubah jadi was-was,” lanjut Ryuka. "Eits jangan peluk. Kamu enggak lupa kan kita sekarang lagi dimana?” Sergah Ryuka saat Q mulai merentangkan tangannya.


"Sorry, gak akan lagi. Kita akan melalui hari ini dengan bersenang-senang, okay?"


"Asal kamu tahu, dari tadi aku bersenang-senang tuh.” Qwenzy sebenarnya ingin sekali memeluk perempuan yang sok tegar dihadapannya itu, bahkan ingin melakukan lebih, tapi Ryuka benar, ada banyak mata yang memandang mereka. Q menggantinya dengan mengelus puncak kepala Ryuka yang tersenyum kearahnya.


"Kalau aku minta kamu ikut aku tour. Enggak bisa kan ya?" Gumam Qwenzy.


"Dan aku akan menyandang predikat sebagai kakak kundang? Tidak. Terima kasih."


Q menepuk dahinya. "Astaga aku lupa, nikahan Riu ya."


"Dan kamu pun lupa. Bukan cuma kehilangan sebelah tangan, kedua kakimu akan melayang ditangan Daddy kalau menahanku." Ryuka mengingatkan disela tawanya.


Dibekapnya mulutnya rapat-rapat mengingat janjinya pada Jamie, "Aku kalah telak.”


Ucapnya pasrah dan kini Ryuka gantian mengelus puncak kepala Qwenzy yang sibuk menekuk wajahnya.


...****************...

__ADS_1


Maaf kalau ada typo yaak.


Happy reading guys🌸🌸


__ADS_2