
Tiba Di Restoran.
“Kamu kenapa lesu begini?” Tanya Gino sambil mengelus rambut Ryuka yang menopangkan dagunya dimeja. Ryuka menggeleng saja sambil sibuk menatap kurus ke depan.
“Kamu kenapa?” Gino mengulang pertanyaannya.
Ryuka menoleh menatap Gino seolah menimbang harus menceritakan kejadian tak mengenakkan hari ini atau tidak. Ryuka kembali menggeleng saja, memutuskan untuk tidak menambah beban pikiran sahabat-sahabatnya.
“Sekali lagi kamu geleng-geleng, aku telepon Gina sekarang juga,”.
“Loh? Kamu emang tahu nomor telepon Gina?” Ryuka seketika menegakkan badan mendengar informasi yang baru didengarnya, Gino pasti keceplosan.
“Kamu belum tahu saja kalau……,” Ken tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena mendapat pelototan dari si bahan gosip, Gino.
Ryuka menyipitkan matanya penuh kecurigaan, “kamu naksir Gina ya? Cieee, namanya juga samaan, Gina dan Gino,”. Ryuka berkata seolah mengolok anak sekolah dasar.
Ken dan Raka yang mendengar ejekan Ryuka, tak mampu lagi menahan tawanya, lenyap sudah wibawa Gino jika berhadapan dengan Ryuka. Pasalnya, diantara mereka, Gino sosok yang cool, jauh dari hal-hal berbau konyol. Ryuka bahkan tak pernah mendengarnya tengah mendekati seseorang. Bahkan media pun tak pernah memberitakan hubungan asmara Gino berbeda dengan Ken, playboy kelas kakap.
“Lah kenapa jadi bahas aku, kamu kalau banyak pengalihan begini pasti ada apa-apa,”. Tegas Gino dengan wajah serius.
Ryuka kembali ke posisi semula, gagal total usahanya mengalihkan perhatian darinya.
“Ya sudah, tunggu Qwenzy bentar, baru aku jelaskan. Males kalau diminta ulang lagi nanti,”. Qwenzy memang izin ke toilet 15 menit lalu yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya kembali.
Selang beberapa lama, Gwenzy masuk keruangan restoran VIP yang ditempati mereka. “Lama amat,” Ken kesal, pasalnya ia sangat penasaran dengan topik yang akan dibahas Ryuka.
“Iya sorry, tadi ada penggemar yang minta foto. Kirain cuma dua orang. Laahh, mereka kaya bawa se-RT,”.
“Cepet sini duduk, Kaa mau cerita sesuatu,”. Qwenzy menurut saja walau memasang wajah penuh tanya.
Ryuka terlebih dahulu menarik nafas dalam. Keempat sahabatnya ikut nervous menerka-nerka apa yang akan dibicarakan Ryuka.
“Sebenarnya bukan hal penting sih, yakin mau dengar?”
“Nanti kami yang nilai penting tidaknya, sekarang kamu cerita saja pokoknya,”.
“Aduh, sudah cepat cerita. Keburu gemas aku ini,”. Cicit Ken, yang paling penasaran diantara mereka.
__ADS_1
“Hari ini aku dapat teguran dari direktur rumah sakit langsung,”
“Karena?” Tanya keempatnya kompak.
“Karena kecerobohanku sendiri. Kan sebelum vonis tentang penyakitku, aku ikut jadi bagian tim bedah untuk salah satu pasien naratama. Nah, aku lupa catat, akhirnya aku melewatkan salah satu pemeriksaan untuk pasien, aku diomeli habis-habisan,”.
”Setelah diskusi panjang, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari tim,”.
“Are you okay?” Tanya Gino nyaris berbisik.
Ryuka menggeleng tertunduk. “Aku sedih karena tidak bisa mengontrol diri. Seharusnya setelah tahu penyakitku, aku segera mengundurkan diri dari tim, semua karena aku tamak,”.
“Jangan menyalahkan diri. Justru karena kamu merasa bertanggung jawab makanya tidak mengundurkan diri dari tim,” sahut Raka.
“Kehilangan sebagian memori, itu salah satu efek dari penyakitmu kan? Kamu sering mengalaminya?” Ken penasaran.
“Setelah dipikir-pikir, beberapa kali terjadi. Dina dan Kinan bahkan sering menegurku pelupa akhir-akhir ini,”. Kekehnya mengingat-ingat ocehan Kinan. “Dan waktu aku lupa notebook-ku yang diantar langsung Raka, itu salah satunya,”. Sambungnya.
Qwenzy berdiri dari tempatnya tiba-tiba, mengagetkan empat orang lainnya, lalu tampak segera menelpon seseorang. Lara, sang manager.
“Mba Lara, untuk tour-nya tolong diundur untuk tiga bulan kedepan mba, bilang aja aku masih belum pu……,” belum selesai kalimatnya, Ryuka merebut ponsel Q, “mba jangan denger, Q baru bangun tidur, nyawanya belum kekumpul semua jadi ngaco gitu,”.
“Hahaha baik mba, nanti aku pasung Qwenzy supaya tidak kabur,”.
“……….”
“Sorry ya mba ngagetin, nanti kapan-kapan aku main ke kantor, see you mba,”.
Ryuka memejamkan mata mengatur nafas sebelum melayangkan tatapan tajam pada Qwenzy. “Kamu gila ya,”.
“Keadaan kamu tidak bisa dibiarkan begitu saja, ayolah Kaa,”.
“Aku juga bukannya pasrah, waktunya saja yang tidak tepat untuk benar-benar fokus pengobatan,”.
“Wait, kalian lagi ngomongin apa?”
“Nih sahabat kamu,” tunjuk Ryuka pada Q, “mau menunda europe tour yang sangat dia, band dan menejemennya idam-idamkan hanya untuk menemaniku fokus pengobatan,”.
__ADS_1
Ryuka menjelaskannya agar ketiga sahabat lainnya membantunya untuk menasehati Qwenzy tentang ide diluar nalarnya. Sayang, di luar dugaan Ryuka, ketiganya hanya manggut-manggut seolah tindakan Qwenzy adalah sikap yang wajar.
“Kalian mendukung sikap tidak profesional Qwenzy? Are you kidding me?”
Ken garuk-garuk kepala. Bagaimana cara menjelaskan alasan mereka tidak kaget mendengar kenekatan Qwenzy.
“Kalau bisa diatur kenapa tidak Kaa,”.
Ryuka melongo mendengar kalimat barusan keluar dari mulut Gino, sebuah kalimat tidak masuk akal selama persahabatan mereka.
“See?” Qwenzy meyakinkan Ryuka.
“No way. Aku mau semua tetap berjalan sesuai rencana tanpa terdistrak apapun, apalagi hanya gara-gara aku,”.
”Lagian, kalau misalkan aku harus fokus pengobatan sekarang, kenapa seolah harus kamu yang menemaniku Q,”.
Mendengar itu, ingin sekali Qwenzy meneriakkan, karena aku sayang kamu lebih dari apapun, tapi ia sadar belum saatnya Ryuka tahu tentang perasaannya, tidak dalam waktu lama tetapi tidak mungkin sekarang juga, dihadapan Gino, Ken bahkan Raka.
“Aku kan sudah bilang sama kamu, nikahan Riuki, tour kamu, project Raka, film hollywood perdana Gino dan Ken, aku gak mau merusak semuanya, bagaimana rasa bersalahku kalau salah satu atau bahkan semuanya jadi berantakan,”.
“Bisa mati sebelum waktunya aku,” Ryuka mengakhiri khotbahnya.
“Astaga, sudah dibilang jangan bahas mati..mati segala,” nada suara Qwenzy mulai meninggi.
Ryuka menepuk jidat, “itu cuma kata-kata kiasan, pemisalan, perumpaaan, nah apalagi, pokoknya gitu,”.
Qwenzy, Gino dan Ken tampak frustasi karena yakin tidak akan bisa menggoyahkan pendirian Ryuka jika telah memutuskan sesuatu. Raka? Ia tenggelam dengan pikirannya sendiri, mendengar Q bahkan rela menunda tour yang sangat diinginkannya untuk fokus menemani Ryuka menjalani pengobatan.
Membandingkan dengan dirinya yang malah kabur hanya karena tak sengaja mendengar obrolan Ryuka dan Daddy-nya saat acara pertunangan Riuki. Raka yang sebenarnya datang hari itu, malah mundur pelan-pelan untuk menenangkan dirinya didalam mobil. Ia seolah kalah sebelum perang,
Berakhir dengan mengirimi Ryuka pesan singkat bahwa ia berhalangan hadir karena ada meeting mendadak. Karena itu, saat Qwenzy menyebut-nyebut istilah pengecut, Raka mendadak marah besar karena menyadari bahwa dirinya lah, benar-benar seorang pengecut.
“Clear, aku enggak mau lagi dibujuk urusan ini,”.
“Tapi Kaa..”
Ryuka meletakkan telunjuknya didepan bibir, “ssttt, udah. Clear. Aku lapar, mending kita makan sekarang,”.
__ADS_1
Qwenzy mau tidak mau menyerah saat itu, lalu mulai menghubungi staf restoran untuk menghidangkan makanan mereka sekarang setelah sempat meminta menundanya selama 30 menit.
Like dan komen yaa.. Sangat berharga untuk semangat penulis. Terima kasih🌸🌸