
Pesawat berhasil mendarat dengan mulus, Ryuka yang sempat terlibat perdebatan alot dengan Qwenzy karena ngotot menyuruhnya ikut mereka daripada rombongan manajer dan staf, yang mengurusi segala perkoperan dan printilan yang mereka bawa menjadi urusan masing-masing manajer dan belasan staf yang ikut selama tour berlangsung, padahal tak ada perbedaan signifikan, hanya van yang ditumpangi mereka terpisah, hanya itu.
Ryuka menolak mentah-mentah, menandakan ia masih waras untuk mengatakan tidak dengan ide gila yang diusulkan Qwenzy. Lalu jadi santapan media? Belum lagi penggemar mereka. Baru memikirkannya saja, Ryuka sudah bergidik.
“Kamu bisa membahayakan Ryuka jika ia ikut denganmu, kamu harus ingat berita tentang kalian berdua sudah terekspos beberapa kali dan itu bisa jadi santapan anti fans-mu untuk menyerang Ryuka,” sahut Lara yang diangguki beberapa staf yang nampak sependapat.
Setelah mendengar pendapat dari berbagai arah, Q akhirnya mengalah dengan frustasi. “Aku harus bagaimana. Aku baru bisa tenang, kalau kamu berada dalam pandanganku,”.
Memijat pelipis menjadi pilihan Ryuka mendengar kalimat Qwenzy yang seolah tak berarti apa-apa. Ingin sekali ia merampas dan menyeret kopernya yang sedari tadi menjadi tawanan Q, memesan tiket lalu kembali ke Jakarta detik itu juga.
“Kami akan menjaga Ryuka dengan sangat baik tanpa goresan sedikit pun,” mba Lara meyakinkan.
“Mba, apa tidak ada cara supaya Ryuka masuk van kami tanpa ketahuan?” Q memaksa semua orang memutar otak mencari ide.
”Tentu saja ada, tapi terlalu beresiko,” jawab Lara.
Ryuka nyaris kehilangan kesabaran, ia tidak menyukai situasi sekarang, menjadi penghalang untuk urusan yang bisa selesai dengan mudah.
“Keluar sekarang menyapa penggemarmu atau aku pulang ke Jakarta detik ini juga,” ancam Ryuka.
Qwenzy sontak mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, ia tahu betul ancaman Ryuka bukan sekedar ucapan belaka. Digenggamnya tangan Ryuka, mendekat lalu berbisik, “aku sayang kamu, see you,” kali ini Ryuka yakin, hanya ia yang bisa mendengarnya.
Melihat Qwenzy, Jio dan 3 orang lainnya berlalu, Ryuka berbalik menatap mba Lara dan seluruh staf mengucapkan permintaan maaf dengan tulus karena sempat membuat situasi sedikit rumit. Namun, diluar dugaan, bukannya marah, mereka termasuk mba Lara justru mengulam senyum penuh pengertian, seolah tindakan Qwenzy adalah sesuatu yang teramat wajar.
“Untuk ukuran Qiu yang akhirnya bisa mengutarakan perasaannya, kejadian tadi hanya secuil bukti ucapannya padamu,”.
Aku mematung. Secuil? Lalu selama di Paris kejadian apalagi yang akan kudapatkan? Tidak bisa dibiarkan. Ryuka bertekad akan segera berbicara 4 mata dengan Qwenzy sesegera mungkin.
__ADS_1
Gemuruh tepuk tangan dan teriakan menyambut rombongan Qwenzy oleh puluhan atau bahkan mungkin ratusan penggemar mereka di bandara, mengingat mereka tiba pukul 3 dini hari waktu setempat, membuat Ryuka penuh respect dengan effort mereka yang rela menunggu selama berjam-jam bahkan sampai begadang, untuk melihat band favorit mereka melambaikan tangan, menyempatkan diri untuk mengambil surat yang terjulur sana-sini.
Aksi saling dorong tak terelakkan, para bodyguard yang bertubuh besar dan berwajah seram pun terlihat kesulitan mengamankan situasi agar anggota Blake bisa berjalan seperti biasa tanpa tersenggol kanan-kiri. Kondisi bandara yang cukup chaos, membuat Qwenzy dkk diminta untuk mempercepat langkahnya menuju van yang akan mengantar mereka menuju hotel mengingat jarak tempuh akan memakan waktu kurang lebih 45 menit, lalu jam 8 pagi melakukan sound check demi kelancaran konser yang akan dilaksanakan malam harinya.
Begitu tiba di hotel, Ryuka menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk berukuran king, sebelum berangkat ia dan Q memang menyepakati beberapa hal. Salah satunya, kamar mereka harus berdekatan, titik. Ujar Q beberapa hari lalu tanpa membuka ruang diskusi untuk Ryuka.
Perubahan sikap Qwenzy dan ucapan mba Lara berputar dikepalanya. Situasi yang datang tanpa permisi nyaris membuat Ryuka kewalahan, apalagi menyangkut perasaan lawan jenis, ia tidak biasa dan tidak akan pernah terbiasa. Ia ingin cepat-cepat berbicara 4 mata dengan Qwenzy tetapi hingga konser yang sebentar lagi akan berlangsung, ia tidak pernah bertemu atau berpapasan sekali pun dengan sang vokalis.
Ryuka berangkat bersama beberapa staf yang sengaja ditugaskan menjemputnya ke lokasi konser diadakan, Paris La Defense, arena yang mampu menampung 40.000 orang, dan Blake berhasil membuat tiket sold out untuk semua kategori seat dengan total penjualan 35.000 tiket dalam hitungan menit, hingga website error dikarenakan puluhan ribu orang berlomba untuk mendapatkan tiket tersebut. Sebuah prestasi mengesankan.
“Maaf yah ngerepotin, pakai dijemput segala,” ucap Ryuka begitu memasuki van bersama 2 orang lainnya.
“Aduh mba Ryuka jangan sungkan sama kami,”.
“Mba kan orang spesial mas Qwenzy, mesti dapat perlakuan spesial juga dong,” ucap lainnya yang tampak lebih bersemangat dari Ryuka. Bulu kuduk Ryuka meremang usai mendengar ucapan barusan.
“Kan mba sahabatnya, spesial itu mah. Hayoloh mba Ryuka mikiran apa?” Godanya.
Ryuka mengacak-acak rambutnya frustasi. Arrkkhhh aku dijebak. Ingin rasanya Ryuka berteriak sekencang-kencangnya. Gara-gara Qwenzy liburannya kali ini akan diisi dengan olokan seperti ini. Melihat rasa frustasi tergambar jelas diwajah Ryuka, staf yang menemaninya tertawa sambil mengucapkan maaf yang terdengar bercanda. Tetapi berkat itu, obrolan mereka mengalir begitu saja tentang banyak hal, termasuk kehidupan Ryuka dirumah sakit.
Begitu tiba di arena konser, Ryuka membulatkan matanya, melongo melihat betapa megahnya panggung pertama mereka. Puluhan ribu penonton terlihat memadati arena, bahkan sejak pagi mereka tidak ingin melewatkan Blake melakukan sound check, kata media mengabarkan yang sempat ditonton Ryuka pagi tadi di kamar hotel.
Kekaguman Ryuka terhenti saat tepukan mendarat dibahunya, “air liurmu tuh dikit lagi menetes,” ucap Q sambil terkekeh menyaksikan Ryuka yang terlihat terpukau dengan pemandangan yang disuguhkan dihadapannya, puluhan ribu penonton dengan effort-nya masing-masing.
Ryuka mengalihkan pandangannya pada Q, yang terlihat menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Aku salah kostum ya?” Ia kini mengikuti pandangan Qwenzy.
__ADS_1
”Baju kamu kependekan itu,” ucapnya dengan nada super posesif dan Ryuka sudah terbiasa dengan itu.
Sebelum berangkat ke arena konser, Ryuka sempat kebingungan harus memakai baju apa, ia menyadari malam ini adalah tontonan konser perdananya. Setelah mengobrak-abrik isi kopernya, Ryuka menjatuhkan pilihannya pada crop tee beige dipadukan dengan high waist loose jeans denim lengkap dengan sneaker serta sebuah jaket kulit brand ternama yang dibiarkan tersampir disalah satu lengannya.
”Apa-apaan baju dan celana kamu, ngapain compang-camping begitu,” tunjuknya pada pakaian yang melekat pada tubuh Qwenzy.
Mendengar komentar Ryuka, Q tergelak tak mampu menahan tawanya.
”Baju mahal-mahal begini ngapain disobek-sobek,”. Tak tahan lagi, Qwenzy menarik Ryuka kepelukannya. Terang saja, Ryuka baru pertama kali menyaksikan langsung Q memakai baju panggung.
“Aduh, kalau penggemar kamu lihat, bisa ditelan hidup-hidup aku, lepas ah Jii,”.
”Isi tenaga, sebentar lagi aku naik ke panggung,”
”Enak aja, emang aku power bank,”.
Qwenzy melonggarkan pelukannya, menatap Ryuka lekat. “Kostum kamu udah yang paling bener ini. Berhubung ini konser pertamamu, aku akan membuat kamu terkesan. Jadi pastiin kamu menonton langsung kearah panggung, bukan melalui layar backstage,” Qwenzy mewanti-wanti.
Ryuka mengangguk saja.
“Aku sudah harus pergi. See you. Dan selamat menikmati konsernya,”.
Tersadar melewatkan momen membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka, Ryuka menghela nafas menatap punggung Qwenzy yang digiring untuk naik ke atas panggung.
Riuh ribuan penonton menyambut mereka. Konser Blake dimulai….
...****************...
__ADS_1
Selamat membaca 🌸🌸🌸