
Ryuka dan Qwenzy berdiri seperti seorang anak yang ketahuan ibunya melebihkan jatah es krim perhari. Mba Lara tak peduli keduanya masih dalam keadaan ngos-ngosan karena turun tangga sebanyak 4 lantai.
“Aku sama sekali tidak menyalahkanmu Kaa,” Mba Lara berbalik menatap Qwenzy, “tetapi anak ini..astaga..apa yang harus kulakukan padamu Q? Turun ke lobby tanpa memberitahuku dan..astaga..seorang diri? Tanpa pengawalan? Kamu mau membuat pihak hotel kalang kabut ya,”.
“Aku tidak akan membela diri Mba, aku sama sekali tidak sadar—sampai Ryuka mengingatkanku tentang masker dan topi yang kukenakan di cuaca yang terik ini,”. Jawab Q.
“Oke mari kita lupakan sejenak tentang itu. Ada hal yang lebih penting. Duduklah kalian berdua,”.
Qwenzy diam-diam menghembuskan nafasnya lega karena kakinya terlalu pegal untuk tetap berdiri ditempat.
“Sebaiknya aku kembali ke kamar Mba,” pamit Ryuka. Namun belum sempat ia berdiri sempurna, mba Lara justru mencegahnya.
“Hal ini sebaiknya dibahas denganmu juga Kaa. Jadi duduklah,”. Ryuka menurut saja. Ia sebenarnya meminta pamit karena merasa pembahasan mereka akan bersifat rahasia antara pihak manajemen dan musisi dibawah naungannya.
Tanpa bertele-tele. “Bagaimana kalau kita konfirmasi saja berita kalian kali ini?” Pinta Mba Lara.
“Kenapa?” Balas Ryuka.
“Apa itu pilihan terbaik?” Qwenzy menanggapinya dengan santai, seolah tahu bahwa pembicaraan ini akan terjadi.
“Benar. Itu pilihan paling baik yang bisa manajemen tawarkan kepada kalian berdua, terutama kamu Q,” toleh mba Lara. “Kalian harus lihat ini” sambungnya.
Ryuka menerima ipad yang diserahkan padanya lalu membaca beberapa komentar yang ditinggalkan penggemar Blake Pada sebuah foto yang diambil diam-diam, memperlihatkan mereka berdua saling menggenggam tangan. Ryuka menggeser posisi ipad ditanganya agar memudahkan Q ikut melihat.
Wah, apa benar mereka berkencan?
Pasti hubungan mereka berkembang menjadi sepasang kekasih. Selamat **my new couple.
Seberapa keras usaha Qwenzy untuk membujuknya? Mengingat mereka bersahabat sebelumnya. Atau sebaliknya ya???
Aku tak sengaja bertemu di lift. Qwenzy menggenggam tangannya keluar dari lift. Aku sangat iri!!!
Setelah trending untuk ketiga kalinya, apakah mereka akan mengonfirmasinya?
Aku ikut senang!!
Qwenzy pasti senang ditemani kekasihnya tour kali ini.
Pasti dia yang melarang Qwenzy melepas pakaiannya diatas panggung. Aku cemburu sekaligus iri.*
__ADS_1
Masih banyak lagi komentar yang hampir serupa. Ajaibnya, walaupun pasti ada komentar negatif, tapi hampir tidak terlihat dari ratusan ribu orang yang berkomentar disana. Artinya, publik benar-benar menerima dan mendukung secara penuh hubungan Qwenzy kali ini.
“Hm, so?” Mba Lara kembali angkat bicara.
Ryuka masih mematung.
Melihat mimik wajah yang ditunjukkan Ryuka, rasa bersalah Q mencuat begitu saja. Seluruh perasaannya seolah ia pertanyakan kembali pada dirinya sendiri. Jika ia menyukainya, kenapa sampai membiarkan Ryuka berada diposisi serba salah begini? Apakah benar ia ingin meringankan beban Ryuka? Kenapa justru seolah ia menambah beban dipundak perempuan kurus ini?
“Mba, bisa kita bicarakan ini lain kali?” Tanya Q seolah memberi kode pada Lara namun ditolaknya terang-terangan.
“Aku akan menanggung semua kerugiannya secara pribadi. Aku akan segera menghubungi direktur langsung. Akan siap kerja rodi untuk menebus kecerobohanku kali ini,”. Ucap Q penuh keyakinan.
Ryuka masih bermonolog dalam pikirannya. Ia tengah menimbang segala kemungkinan yang akan terjadi. Keterkejutan keluarganya, rentetan pertanyaan dari sahabatnya, rekan-rekannya. Dan—hei ia sama sekali tidak marah. Jika dipikir baik-baik ia sebenarnya tidak mengalami kerugian apapun selain statusnya yang berubah menjadi not avalaible dan membuat calon yang berpotensi jadi jodohnya mundur teratur setelah mendengar berita itu. Dan oh iya, privasi, ia pasti akan kehilangan itu.
Beberapa menit, Mba Lara dan Qwenzy tampak masih berbincang hal apa saja yang akan mereka lakukan untuk tidak membuat publik merasa dipermainkan. Sebelum Ryuka bersuara, “baiklah Mba, aku tidak keberatan,” Dengan cepat mba Lara dan Q memutar kepalanya meminta jawaban lebih rinci.
“Maksudku, aku setuju..untuk mengonfirmasi berita kencan kami berdua,”.
Keduanya melongo tak percaya. “Mba boleh aku membawa Ryuka berbicara empat mata?” Pinta Q pada mba Lara yang kali ini mengiyakan.
Q menarik Ryuka keluar dari kamar hotelnya menuju kamar Ryuka yang berada tepat disebelah. Setelah masuk, tanpa sepatah katapun Q menuntun Ryuka untuk duduk di sofa sementara ia berlutut dihadapannya.
Qwenzy tidak ada waktu meladeni ucapan keberatan Ryuka. “Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu ucapkan dihadapan mba Lara?” Tanya Q dengan suara yang sangat lembut hingga Ryuka merasa baru saja mendapati sosok lain dari pria dihadapannya itu.
“Kamu tidak perlu melakukannya, itu satu. Kedua, berhenti merasa bertanggung jawab karena itu murni ketololanku. Ketiga, aku setuju dengan ucapan kamu bahwa hubungan kita tidak pantas dimulai dari pertimbangan untung—rugi,”. Ungkap Q setenang mungkin.
“Tentu saja aku tidak mau itu terjadi. Pendirianku juga belum berubah, bahwa aku tidak ingin membohongi sebagian ummat dimuka bumi,”
“Dan heii—apa kamu lupa kalau aku tidak akan memulai sesuatu yang tidak sanggup kutanggung akibatnya?” Sambungnya lagi.
“Tunggu..tunggu.. aku mulai tidak tahu kemana arah pembicaraan kita ini,” potong Q.
“Maksudku, aku tidak ingin memulai hubungan kita dengan main-main dan…..” kalimat Ryuka terpotong, terlebih dahulu melihat ekpresi Q yang tampak mengerutkan keningnya lamat-lamat, “dan..juga secara pak..sa,” Ryuka melengkapi kalimatnya dengan terbata-bata.
Pria dihadapannya tampak memejamkan mata sejenak, “apa maksud kamu dengan ‘hubungan kita?’.
“Kita bisa mencobanya..dengan serius,”.
Senyum Q merekah tanpa permisi, “maksudnya, kamu menerimaku jadi kekasihmu?”.
__ADS_1
“Apa kamu bisa melihatku sebagai pria bernama Qwenzy dan bukan sebagai sehabatmu?”
“Entahlah. Tapi aku akan berusaha lebih giat,”.
Qwenzy meraih kedua tangan Ryuka dalam genggamannya dan menempelkan dikening. “Biarkan aku sedikit bernafas,”.
Tak kunjung ada percakapan setelahnya, Ryuka mulai gelisah dan kebingungan hendak mengarahkan pandangannya melihat apa agar udara tidak mencekatnya. Apa ia takut Qwenzy mulai berubah pikiran? Entahlah.
“Aku akan mengatakannya dengan benar,” ucap Q begitu mendongakkan kepalanya menatap kedua netra Ryuka.
“Kamu mau jadi kekasihku? Pria yang dunianya—katamu sangat berbeda denganmu, yang akan membuatmu terus jadi bahan pembicaraan di media padahal kamu sangat menjaga privasimu. Pria yang tak bisa leluasa mengajakmu berkencan diluar tetapi akan berusaha menyelinapkanmu diam-diam,”.
Ucapan Qwenzy membuat mata Ryuka tak mampu berkedip. Ia tak ingin terhipnotis tetapi pria dihadapannya ini tidak terlihat seperti Qwenzy yang bertahun-tahun telah menjadi sahabatnya. Apa yang harus ia lakukan? Ryuka mengangguk. Apa?? Hei, apa barusan Ryuka mengangguk bak orang bodoh?
Belum selesai Ryuka dengan pikirannya yang berseliweran. Qwenzy sudah menariknya kedalam pelukannya terlebih dahulu.
“Dan oh satu lagi. Aku sangat kesal jika memikirkannya—pria yang baru saja berpacaran denganmu tetapi akan disibukkan dengan tour selama tiga bulan,”.
“Wah hubungan kita terdengar dimulai dengan sangat menyedihkan,”. Qwenzy terkekeh menulari Ryuka yang semula cemberut.
“Sebaiknya kamu mengabarkan hal ini ke Mba Lara, dia pasti menunggu dengan cemas,”.
“Kamu mengusirku tepat setelah menerima perasaanku. Bukannya itu terdengar sangat jahat?”
“Bukan..anu..itu..,” Ryuka menutupi wajahnya yang ia yakini bak kepiting rebus, “aku malu setengah mati. Aku..kamu..aduh enggak banget,” ucap Ryuka setengah menjerit.
Senyum Qwenzy berubah jadi tawa. Ia meraih tangan Ryuka yang menutupi wajahnya. “Aku sama malunya, situasi ini terasa aneh,”.
Ryuka memicing curiga, “kamu terlihat baik-baik saja tuh,”.
“Kamu selalu berpikiran buruk tentangku,” protesnya. “Baiklah aku akan menemui Mba Lara yang kupastikan melompat kegirangan sekaligus memberi ruang untuk kita berdua,” Qwenzy berdiri dan menarik Ryuka menyamainya. Menghadiahinya sebuah pelukan dan.. Cup*.
“Tunggu aku kembali, dengan senang hati akan mendengar semua omelanmu,”. Ujar Qwenzy menjauh menuju pintu kamar Ryuka.
Ryuka reflek menyentuh bibirnya. Katakan ini mimpi. Qwenzy dengan lancang mengecup bibirnya? Qwenzy Barclay yang bertahun-tahun jadi sahabatnya itu? Oh tidak, yang barusan adalah kekasihnya. Bagaimana ini, rasa frustasi dikalahkan debaran yang menyerangnya tiba-tiba. Ryuka dalam masalah besar. Terlalu besar.
...****************...
Ada yang mau mengucapkan selamat?? 🤭
__ADS_1
Happy reading guys🌸🌸🌸