
Pandangan Ryuka tak teralihkan dari layar besar di backstage. Dunianya dengan Qwenzy jauh sekali berbeda.
“Gimana? Qwenzy keren kan?” Mba Lara menggoda Ryuka dengan menyenggol sebelah lengannya.
“Apasih mba, jangan mulai dong please,”.
Mba Lara terkekeh, “tapi benar kan kataku,”. Ryuka mengangguk saja supaya cepat, agar mba Lara menghentikan aksinya.
“Mba aku boleh pinjem mereka gak?” Tunjuknya pada kedua staf yang menjemputnya tadi.
“Mau kemana?”
“Mau minta nemenin aku ke depan panggung, aku mau nonton dari sana. Boleh gak mba?” Rengeknya.
Setelah menimbang beberapa saat, mungkin mengingat-ingat tanggungjawab mereka apa bisa digantikan atau tidak.
“Ya sudah boleh, demi kamu mah,”.
Pekik riang Ryuka lalu berlari meraih kedua tangan mereka membawanya lari. Sedikit menundukkan kepala saat melewati mba Lara.
“Waaaaaahhhhh,” hanya itu yang bisa Ryuka ucapkan berkali-kali. Kemana saja ia selama ini? Hidup seperti apa sudah ia jalani? Menarik ingatannya kebelakang, seingatnya, yang ia tahu hanya belajar dan belajar, tidak ada yang lain. Ia tidak memiliki ketertarikan apapun selain memotret yang dijadikannya sebatas hobi.
“Haiiiiiii everyone,” Setelah menyanyikan 5 buah lagu, Qwenzy menyempatkan menyapa puluhan ribu penonton dihadapannya yang langsung disambut gemuruh penonton menimpali sapaan Qwenzy sambil melambai-lambaikan banner ditangan mereka.
“Wait.. wait.. Something caught my attention over there,” tunjuknya kearah salah satu penonton. (Tunggu.. tunggu.. ada yang menarik perhatianku disebelah sana)
“I want to see your abs,” bacanya pada kalimat yang tertulis dalam banner. (Aku ingin melihat otot perutmu).
“Wow, just a second, i am speechless. Without beating around the bush. To the point. I like your style mam,” kamera telah menyorot penonton yang beruntung tersebut dan menampilkannya dilayar, ia terlihat melompat-lompat ditempatnya kegirangan. (Wow, untuk beberapa saat aku kehabisan kata-kata. Tanpa berbelit-belit. Aku suka gayamu).
Seisi arena menularkan tawa satu sama lain. Sebelum gemuruh penonton mendesaknya untuk benar-benar menunjukkan otot perutnya.
“Show me..show me.. show me,” teriakan terdengar didominasi oleh kaum hawa.
Bukan hanya Qwenzy yang tertawa. Jio dan yang lainnya terlihat memperlihatkan deretan giginya lalu teriak menimpali, “you guys extremely aggressive,”.
Hal tersebut semakin meningkatkan atensi penonton.
“Like this?” Teriak Qwenzy dengan mengangkat bajunya hingga kedada, memperlihatkan six.. oh bukan, eight pack-nya yang menggoda.
Wooooooooooooooooo.. teriakan penonton semakin membahana.
__ADS_1
“But someone reminded me not to take my shirt off tonight,”. Ucap Qwenzy sambil sesekali menatap Ryuka tepat dibawah panggung tengah memotretnya. Ia berkali-kali menghindari tatapan Q selalu mencuri pandang menatapnya. (Tapi seseorang mengingatkanku untuk tidak melepas bajuku malam ini).
“Take it off,” gemuruh penonton lagi.
“Let's get it over. I don't want your boyfriend to get angry girls,” kata Qwenzy yang disambut tawa ribuan penonton. (Mari kita sudahi. Aku tidak ingin kekasih kalian marah).
“Next song. Extremely love. Thats for you,”. Kali ini Qwenzy mengedipkan matanya kearah Ryuka yang tampak bersemangat begitu mendengar intro mulai dimainkan drum Jio, lagu favoritnya.
Ryuka mematikan kameranya dan mulai bergabung dengan penonton menyanyikan bait perbait lalu sesekali melompat-lompat bersama dua orang lainnya ditempat mereka berdiri. Malam ini, Ryuka menatap Qwenzy dengan pandangan yang sulit ia definisikan. Entah kearah mana perasaan membawanya, ia saat ini hanya ingin menikmati momen-momen yang bisa saja hanya sekali dalam hidupnya.
Hingga 9 lagu berhasil mereka selesaikan dengan sangat epik. Teriakan encore kembali mengisi gema arena yang ditanggapi oleh para anggota Blake dengan mengelilingi panggung luas untuk menyapa penggemar mereka, lalu mengakhiri dengan saling menautkan tangan dan tertunduk mengucapkan terima kasih. Selama 5 jam, 9 lagu, konser Blake berakhir tepat pukul 1 dini hari.
Begitu melihat Qwenzy dibalik panggung, Ryuka berhamburan memeluknya erat, mengucapkan selamat dan memujinya berkali-kali. Qwenzy senang bukan main, menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ryuka, tanpa memedulikan tatapan orang-orang disekitar mereka.
Begitu Ryuka menguasai dirinya kembali, ia mengalihkan perhatiannya pada anggota Blake yang lain, “awesome guys, very good job, keren juga ya kalian, enggak nyangka ih,” puji Ryuka.
Jio dan yang lainnya hendak memeluk Ryuka namun sadar tatapan menyilet dari kedua mata Qiu, akhirnya mereka hanya melakukan fist bump, dan itu sudah lebih dari cukup.
“Aku briefing sebentar. Tunggu aku ya, kita makan bareng habis ini,” pinta Qwenzy yang hanya dijawab anggukan, sebelum berlalu pergi.
Ryuka duduk manis menunggu Qwenzy sambil memainkan ponsel. Menggulir layar yang menampilkan media-media Prancis memuji kualitas konser yang diadakan Blake, sukses besar. Ia turut senang membacanya, kerja keras Qwenzy dan lainnya terbayar dengan hasil yang mereka peroleh.
Beralih membuka Instagram, fitur explore hampir semua potongan video berisi Qwenzy yang tengah memamerkan eight pack-nya.
Ryuka terperanjat kaget memegang dadanya mendengar Qwenzy yang tiba-tiba bersuara dan berada tepat disebelah wajahnya.
“Ternyata pantengin gym membuahkan hasil maksimal ya,”. Qwenzy terkekeh.
“Mau makan dimana? Kamu ada rekomendasi tempat?” Tanya Q.
“Kita makan di hotel aja gimana?” Usul Ryuka yang mendapat tatapan heran dari Q.
“Udah kemaleman, enaknya makan sambil pakai piyama,”. Sambungnya.
Ide Ryuka terdengar menggiurkan, Q sebenarnya sudah sangat lelah, tetapi ia mempertimbangkan Ryuka yang ingin menjelajahi lebih banyak kota Paris.
Setelah disepakati keduanya. Malam itu mereka memilih makan dikamar Ryuka.
“Kenapa kalau habis konser kamu mengurung diri di kamar?” Tanya Ryuka sambil mulai menyantap makanan dihadapannya.
“Siapa yang bilang?”
__ADS_1
“Mba Lara dan semua staf kamu kayanya deh,”.
Qwenzy tersenyum, “terus kamu jawab apa?”
“Aku bantah, terus bilang kamu sebenarnya enggak lagi menyendiri. Justru menggangguku, Gino, Raka atau Ken lewat vcall,” selorohnya.
Tawa Qwenzy memenuhi ruangan, setiap selesai konser ia memilih mengurung diri dikamar dan meminta tak ada yang mengganggunya, berbeda dengan rekannya yang lain yang biasanya mengadakan after party di pub atau menyewa longue hotel. Awal-awal manggung mba Lara sempat khawatir kalau Qwenzy mengidap semacam phobia atau sejenisnya.
“Bahkan dulu mba Lara sempat menuduhku memakai narkoba karena kebiasaan itu,”.
Mata Ryuka memicing, “tapi enggak kan?”
“Enggaklah, ini sudah terbukti. Bukannya nge-fly aku justru makan sama kamu,”.
“Siapa tahu aja kamu cuma pura-pura, semacam kedok gitu,”
“Kebanyakan nonton film thiller kamu,” ucapnya lalu menyentil dahi Ryuka yang segera diusapnya.
“Album kamu kali ini bagus banget, full bahasa inggris tapi ya,”. Puji Ryuka yang juga tergila-gila dengan album baru mereka.
”Album ini kan yang kamu kerjain bareng Raka?”
”Hmmm,” jawab Q singkat.
Setelah menyebut nama Raka, suasana diantara keduanya tiba-tiba jadi super canggung. Bingung hendak melakukan apa, Ryuka mendekat ke kaca besar kamarnya dan mengedarkan pandangannya menikmati kota Paris dini hari.
”Tentang ucapanku di pesawat, bikin liburan kamu jadi aneh ya,”. Ryuka tak menjawab, pun berbalik menatap Q.
”Kaa..,”
”Enggak apa-apa, lagian kamu cuma bercanda kan, gak perlu serius gitu deh,”.
”Aku gak bercanda, aku bahkan gak pernah seserius ini,”.
Ryuka memutar kepalanya 180 derajat menatap Qwenzy.
“I love you, much. Sampai mau gila rasanya,”. Ucapnya yang entah sudah keberapa kalinya.
Ryuka membelalakkan matanya. “HHAAAA????”
...****************...
__ADS_1
Hayoloohh diterima gak nihh??
Happy reading, like dan komen yaa 🌸🌸