Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #21


__ADS_3

Setelah mengobrol sebentar dengan Qwenzy dan kedua orang tuanya, Ryuka bergegas pamit karena jadwal shift-nya masih berjalan, ia hanya melowongkan waktu sebentar sebelum pukul 4 sore berkeliling memeriksa beberapa pasien.


“Mah, pap maaf banget, aku harus kembali, jadwal shift aku baru selesai jam sembilan malam,” katanya dengan rasa bersalah.


“Loh kok minta maaf nak, gak apa-apa namanya juga tugas,” ucap mamah Qwenzy, papanya hanya mengelus puncak kepala Ryuka seperti biasa.


“Q jangan bawel, jangan ngerepotin mamah sama papap ya kamu, nurut aja, ntar malam aku yang jagain, minta Lily, dokter yang tadi hubungin aku kalau kamu butuh sesuatu, tapi jangan ngelunjak,” terang Ryuka.


“Ish, apa sih dek, jadi aku boleh ngehubungin kamu kalau ada apa-apa atau gak nih?,” jawabnya tak kalah sewot.


“Kalimat aku itu artinya, kamu gak boleh kenapa-napa gitu,”.


Qwenzy berdecih mendengar jawaban Ryuka, sedang kedua orang tuanya tertawa saja mendengar pertengkaran mereka yang memang sudah seperti saudara itu, maklum Qwenzy anak tunggal, jadi mereka sangat menerima dengan tangan terbuka, keempat sahabat Qwenzy, terutama Ryuka yang tak jarang berusaha menjodoh-jodohkan mereka berdua. Bahkan waktu skandal mereka berdua muncul, orang tua Qwenzy justru mengirim pesan pada Ryuka, bahwa mereka justru berharap yang diberitakan media itu bukan sekadar hoax.


Waktu terus berjalan, untungnya kesibukan Ryuka dapat mengalihkan pikirannya dari kondisi Qwenzy yang sebenarnya cukup serius itu, mengingat pekerjaan Q yang bisa memunculkan resiko efek dari kecelakaan yang dialaminya, sewaktu-waktu bisa menyerangnya. Hal itu, justru menjadi serangan yang lebih menyakitkan.


Pesan masuk diponsel Ryuka, ketiga sahabatnya yang lain mengirim beberapa pilihan menu makanan yang harus dipilihnya.


Aku ngikut aja, semuanya terlihat menggoda. Balasnya.


Makan duluan aja ya, aku masih ada urusan sekitar 45 menit lagi. Ketiknya lagi.


Waktu menunjukkan pukul 9.00, Ryuka telah bertukar shift tetapi ia telanjur membuat janji dengan terapis dibagian fisioterapi untuk memeriksa pergelangan kakinya.


Ryuka melihat-lihat ruangan kamar Qwenzy, jejeran kamar VVIP memang sangat jarang terjamah oleh dokter fellow sepertinya atau bahkan hampir tidak pernah, hanya deretan para profesor dan eksekutif rumah sakit yang dapat mengakses. Alasan keamanan membuat orang tua Qwenzy memilih kamar VVIP, apalagi kabar bahwa Qwenzy vokalis blake mengalami kecelakaan yang cukup serius, otomatis fans fanatik Q akan berusaha untuk menemui idolanya.


“Wah kekuatan duit yang gak main-main, kamarnya mewah amat,” Ryuka yang masih takjud dan tidak memedulikan sahabat-sahabatnya yang cukup lama tak ia temui.


“Tumben ada yang bisa mengalihkan perhatian kamu dari makanan Kaa,” sindir Gino.


“Ouch tidak, food is number one,” ucapnya berlebihan seraya berjalan kearah meja makan yang tak terlalu besar dikamar VVIP tersebut.


Belum sempat Ryuka mendaratkan bokongnya pada kursi, ia dicegat oleh Raka karena melihat pergelangan kaki Ryuka.


“Kenapa kaki kamu Kaa?” Ucapnya panik.


Pandangan yang lain ikut tertuju pada kaki sahabat perempuan satu-satunya diantara mereka. “Tenang, aku gak apa-apa, ini cuma ankle support, pergelangan kaki aku hari ini lebih nyeri dari biasanya tapi aku udah terapi kok, baru aja sebelum kesini tadi,” terangnya selengkap mungkin.

__ADS_1


“Beneran kamu gak apa-apa? Kamu gak lagi nutupin sesuatu kan?” ujar Ken penuh penekanan.


Ryuka hanya cengar-cengir, wajar saja mereka bersikap seperti itu pikirnya. “Yakin, seyakin-yakinnya,”.


“Mumpung kita lagi bahas, Qwenzy Barclay aku adalah contoh nyata dari permasalahan cidera pergelangan kaki atau persendian atau sejenisnya lah. Kamu benar-benar harus serius mengikuti proses penyembuhan kamu, terapi pasca gipsnya dibuka nanti itu paling penting, pokoknya kamu jangan bandel-lah,” jelasnya.


Orang yang dinasehati malah asik menyantap makanannya dengan bersusah payah, “kamu denger aku gak sih Q?” Kesal Ryuka.


“Iya bu dokter, sangat amat jelas, tapi sekarang aku lebih butuh disuapin daripada bahas masalah gips dan cidera kayanya deh,”. Ryuka memang sudah menduga akan mendengar jawaban mengesalkan keluar dari mulut Qwenzy.


“Idih, urus aja sendiri,” balas Ryuka tak kalah mengesalkan. Raka, Gino dan Ken? Mereka hanya menikmati perdebatan keduanya dengan tetap menyantap makanannya sembari menonton film box office sambil terkikik.


“Bentar, abis aku makan, aku suapin. Bisa nunggu kan?” Ryuka tentu saja hanya bergurau tadi. Kali ini Q hanya merespon dengan wajah puppy eyes kearah Ryuka.


“Kalian gak pulang? Biar aku aja yang jaga malam ini,”.


“Gak apa-apa Kaa, jarang-jarang kan bisa ngumpul, sekalian nemenin kamu shift,”


“Lagian kamu mesti bolak-balik kan dek?” Sambung Gino.


“Iya sih,”


“Apa kalian tidak merasa terlalu sering menganggur akhir-akhir ini?” Ryuka melontarkan gurauan.


Walau Ryuka sesekali harus meninggalkan keempat sahabatnya karena panggilan pasien, tetapi sisanya mereka habiskan dengan membicarakan banyak hal, kecuali Q yang tidur lebih awal efek obat yang diminumnya.


Ryuka memasuki ruangan perawatan Q dengan mengendap-endap, ia tak ingin membangunkan sahabat-sahabatnya dipagi buta versi mereka, walaupun jam menunjukkan pukul 7 pagi, ia hanya meletakkan kopi dan beberapa roti favorit mereka sebelum meninggalkan ruangan kembali, mengingat ia belum berganti shift, dan beberapa tugas tambahan menantinya.


“Pagi dok, bukannya udah gantian shift ya? Ngapain dokter masih duduk disini?” Sapa Sisy.


“Hai.. pagi, lagi rapihin rekap medis pasien, udah sarapan Sy?”


“Dok, kan bisa saya yang ngerjain dok, silakan istirahat dok, serius deh, saya sarapannya nanti aja,”


“Kamu banyak kerjaan kan?”


Seketika Sisy berwajah lesu. “Nah tolong beliin saya sarapan, sekalian untuk kamu juga,” Ryuka menyodorkan kartu kreditnya.

__ADS_1


“Dok, mau gak nikah sama saya?” Pinta Sisy yang hanya dibalas cekikikan oleh Ryuka.


“Sana cepat, sebelum jadwal kunjungan pasien,”. Sisy bergegas membeli sarapan setelah memberikan love sign pada Ryuka.


Selepas Sisy pergi, Ryuka kebingungan mencari note book yang biasa ia bawa kemana-mana terlebih untuk kunjungan pasien, semua informasi penting dan harus ia ingat ada dalam buku kecilnya, sayangnya buku beserta pulpen-pulpennya hilang dari kantong jubahnya.


“Cari apaan Kaa?” Tanya Dina.


“Note book ku hilang, oh my god,”


“Eh Sisy beli sarapan, titip gih kalau mau, dia bawa kartu ku,” sambung Ryuka.


“Black card? Oh my god, boleh titip beli mobil gak?”


“Cih,”.


“Eh gimana keadaan Qwenzy? Katanya lagi dirawat disini ya?”


“Astaga untung kamu bahas Qwenzy, note book ku pasti ketinggalan disana, dia harus pasang gips,”.


“Tumben banget kamu lupa sesuatu, by the way kasian juga ya, tapi bisa sembuh kan? Gak ada efek sampingnya kan?”


“Semoga sih, kemarin sempet ngobrol sama terapisnya, kalau dia disiplin ngikutin terapi bisa aja gak ada efek sampingnya, cuma yah kamu tahu sendiri, kalau udah kena kaya gitu, gak ada yang bisa sembuh 100% kan,”


Dina mengangguk paham dengan kekhawatiran Ryuka, apalagi kasus yang menimpa Qwenzy cukup serius.


“Aku akhir-akhir ini kok pelupa banget ya,”.


“Kebanyakan micin kali kamu Kaa,”


“Idih micin itu pengaruhnya ke tekanan darah, bukan kerja otak,”


“Kan biar kaya istilah orang-orang gitu, kamu mah gak bisa becanda dikit,”


“Terus kamu ngapain masih disini? Gak ambil note book mu? Sejam lagi kan udah kunjungan,” lanjut Dina.


“Udah chat tadi, Raka bakal nganter kesini,”

__ADS_1


“Omooo, bakal cuci mata dong aku,”


Ryuka hanya menepuk jidatnya gemas mendengar kegenitan sahabatnya.


__ADS_2