Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #33


__ADS_3

Baru update nihh, maap. Yuk yuk langsung saja☺️


...****************...


Tiba hari keberangkatan Ryuka ke Paris bersama Q serta rombongannya yang segambreng menggunakan pesawat pribadi yang memang diperuntukkan selama mereka melaksanakan tour.


“Jantungku hampir copot waktu kamu bilang tidak jadi berangkat,”.


“Abis si Mama sama Daddy bawelnya minta ampun, bisa jadi satu buku petuah-petuah mereka,”


Qwenzy tertawa mengingat betapa hebohnya kedua orang tua Ryuka melalui sambungan telepon saat Ryuka menghubunginya.


Semenjak Ryuka mengakui telah resign, detik itu juga Mama dan Daddy menyanderanya, tidak membiarkan anak sulungnya pulang ke apartemen sehari pun. Bukan hanya Ryuka yang trauma atas kejadian yang menimpa Riu beberapa tahun lalu, Rani pun mengalami hal yang sama.


Ryuka duduk berdampingan dengan Qwenzy, mereka tengah melakukan panggilan video bersama 3 sahabatnya yang lain.


“Kudoakan kalian tidak bersenang-senang selama di Paris,” ucap Ken dengan wajah super mengesalkan.


“Wah, heiii jahat sekali ucapanmu Ken,” omel Ryuka.


“Kenapa kalian harus liburan sementara kami bertiga harus banting tulang bekerja,”. Ken masih mengeluarkan sisa uneg-unegnya.


“Sekedar informasi, gue kerjaa,” jawab Q.


“Itu sih derita kamu, jangan bagi-bagi lah,”. Ryuka menimpali.


Gino dan Qwenzy hanya tertawa mendengar Ken dan Ryuka bak tom and jerry seperti biasa.


“Ingatlah Ken, jangan buat Ryuka lelah mengikuti schedule-mu, biarkan dia istirahat,” Raka akhirnya bersuara.


“Nah benar, sebaiknya kamu mengikatnya di kamar hotel kalau-kalau keras kepalanya kumat ingin jalan-jalan seorang diri di Paris,” sambung Gino.


“Tenang saja, aku sudah siapkan borgol untuk Ryuka,”.


“Loh kan itu tidak sesuai perjanjian kita Jiii,”.


Q tak menghiraukan aksi protes Ryuka, “sudah ya kami mau take off,”.


“Heii kalian,”. Ryuka masih protes.


“Bye guys,” ucap Q lagi.


“Have fun kalian,” seru Ken, Gino dan Raka.


Qwenzy terkekeh menyaksikan Ryuka masih menganga disebelahnya.


“Hahahaha, ssttt nanti pesawatnya susah take off gara-gara kamu ngomel terus,”.


Semua orang termasuk mba Lara menertawakan Ryuka yang masih cemberut namun menurut saja mengunci mulutnya.


“Mba serahkan kepengurusan Q sama kamu yaaa Kaa,”. Kata Lara sambil mengedipkan matanya.


“Waaahhh, aku merasa ditipu habis-habisan,”.


Kalimat Ryuka disambut tawa lepas oleh rombongan Q.


🌸🌸🌸


“Sampai kapan lu mau natap orangnya doang?” Goda sang drummer Blake, Jio, begitu memergoki Q tengah menatap Ryuka lekat di sebelahnya yang tertidur pulas.


Qwenzy tersenyum. “Sampai dia ngerti perasaan gue, bisa gak?”. Jawabnya.

__ADS_1


“Enggaklah. Ryuka bukan tipe perempuan kepedean, yang diperhatiin dikit terus baper,”.


Qwenzy menghela nafas berat sembari merapikan rambut halus yang menghalangi wajah Ryuka. Keduanya merasa bebas saling bercerita dan menimpali karena Ryuka tertidur setelah memasang earphone di kedua telinganya.


Selang beberapa saat.


“Perasaan aku cuma tidur, enggak mau nyeberang,” ucap Ryuka dengan suara khas bangun tidur dan tatapannya mengarah pada jemarinya yang digenggam erat oleh Qwenzy.


“Pengen aja tidurmu nyenyak,” jawab Q mengalihkan pandangannya dari sejumlah lirik lagu di ipad-nya.


“Nyenyak banget, berkat kamu. Jadi sisa berapa jam lagi kita sampai?”


“Lima belas lagi. Sabar ya,” elus Q dipuncak kepala Ryuka.


“Hha? Aku cuma tidur dua jam? Ih dikit amat, ngapain dong aku selama sisa waktu itu?”. Perjalan mereka memerlukan waktu 23 jam hingga mendarat di bandara Charles De Gaulle, Kota Paris, Prancis.


“Tidur lagi?” Usul Q.


“Udah seger,” katanya sementara ia meregangkan badan, “kamu enggak tidur?”


Qwenzy menggeleng. “Seharusnya tuh kamu istirahat mumpung ada waktu, langsung check sound kan begitu tiba di Paris?”


Kali ini Q mengangguk. “Tapi belum ngantuk. Nanti ajalah, masih lama juga kan,”.


Lengang sejenak sebelum Q memulai misinya. Mengawalinya dengan, “Kaa, boleh aku tanya sesuatu? Cukup penting,”.


Ryuka menelisik wajah pria dihadapannya, “hmmmmm,”.


Qwenzy mengangguk-anggukkan kepalanya meminta persetujuan.


“Gak ah, aku enggak pengen dengar sesuatu yang penting,”.


Perasaan Q bak balon yang memuntahkan gasnya, kempes begitu saja.


“Enggak tuh, biasa aja,”.


Qwenzy menepuk dahinya, ia lupa kalau Ryuka memiliki sifat tidak mau tahu apapun menyangkut hidup orang lain, hidupnya sudah cukup riweh, tidak ada space untuk memikirkan hal lain, katanya.


“Tapi aku tetap pengen tanya,”.


“Terus ngapain sok-sokan minta persetujuan gitu,”.


“Niatnya bikin kamu penasaran saja, ternyata percuma,”


Ryuka tertawa, “hmm apaan?”


“Tentang Raka,”.


“Raka? Kenapa dia? Dia punya masalah?”


“Kamu suka Raka?” Tanya Q to the point.


“Pastilah,”.


“HHA????” Q shock berat.


“Lah iya, ngapain aku sahabatan sama Raka bertahun-tahun kalau aku enggak suka dia,”.


“Ih aneh banget,” Ryuka tak habis pikir dengan pertanyaan yang dilontarkan Q.


“Aduuuuhhh lemot. Bukan, bukan suka yang seperti itu,”.

__ADS_1


Ryuka semakin bingung.


“Kamu cinta Raka?”


Ryuka menutup mulutnya yang menganga, “cinta? Like falling in love?”


“Yash, kamu jatuh cinta sama Raka?”


“Wait, ini kenapa pertanyaan kamu tiba-tiba jadi aneh begini?”


“Just tell me your feeling. Dan sisanya akan kuceritakan,”.


“Gak ah. Weird question. Atau ini semacam pertanyaan jebakan? OGAH,”.


“Cepetan jawab, karena jawaban kamu akan mempengaruhi hal-hal lain kedepannya,”.


Kerutan dikening Ryuka bertambah, “emang ini kursi panas? Aku kaya mempertaruhkan uang 1 miliar deh,”.


“Raka bilang, dia mengungkapkan perasaannya padamu,”.


“A minute, apa yang sudah kalian rembukkan dibelakangku?”


“I swear nothing. Ini hanya pembicaraanku dengan Raka,”. Q tiba-tiba mengingat pengakuan Raka sehari sebelum keberangkatan mereka.


“Tell me,” ucapan Ryuka penuh penekanan.


“Just it. Dan tidak ada jawaban dari kamu katanya,”.


Ryuka tersenyum miring. “Karena ucapannya tidak lebih seperti pria mabuk hangover, ngaco,”.


“What do you feeling?”


“Aku tidak merasa apa-apa.”


“So you dont like him?”


“Entahlah, aku tidak tahu,”.


“I love you,” ucap Qwenzy dengan sengaja membesarkan volume suara dibandingkan selama obrolan mereka sebelumnya.


Suasana yang tadinya cukup bising karena obrolan kanan-kiri tiba-tiba menjadi hening dengan tatapan yang tak bisa didefinisikan dengan kata apapun kearah keduanya.


“I love you Kaa,” Qwenzy kembali menegaskan.


Ryuka? Matanya seolah ingin loncat dari tempatnya. Mulutnya yang menganga dibekap tangan Qwenzy. Diikuti dengan senyuman dari orang-orang disekitar mereka.


“Tolong siapapun katakan bahwa ini adalah mimpi,” gumam Ryuka namun mampu didengar oleh Q.


“Its not dream, aku hanya ingin kamu tahu,”. Ujar Q menatap Ryuka setulus mungkin sambil menggenggam tangan Ryuka.


Hanya ingin aku tahu atau ingin semua orang tahu? Batin Ryuka.


“Akhirnya,” celetuk mba Lara.


“Qiuu pasti merasa lega sekarang,” timpali Jio.


Ryuka mengalihkan pandangan pada Lara dan Jio bergantian, yang hanya mengedikkan bahunya dengan senyum simpul.


Q tak mampu menahan senyumnya menatap Ryuka yang seolah ingin terjun dari pesawat saat itu juga.


“I love you dan aku akan buat kamu meyakini itu mulai sekarang jadi bersiaplah,”.

__ADS_1


Kalimat pamungkas Q diiringi oleh siulan dari berbagai arah. Ryuka benar-benar merasa dijebak sekarang. Buntu. Tak memiliki jalan keluar selain membiarkan Q ‘mengerjainya’ habis-habisan disisa perjalanan mereka.


__ADS_2