Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #32


__ADS_3

“Sumpah deh Kaa, kalau mau ngomong sesuatu langsung aja kenapa sih, jangan mondar-mandir di depanku,”.


“Iya nih, Oyi juga pusing liat Mamika putal-putal gitu,”. Ori pun ikut protes. Neni malah terkekeh mendengar Ori yang sempat-sempatnya protes ditengah mengerjakan PR sekolahnya.


“Oke, maafin Mamika, Ori yang konsen belajarnya,”.


Ryuka mendekati Riu yang sedang duduk dengan ipad ditangannya. “Kamu butuh bantuanku gak sekitaran minggu depan?”.


Riu mengalihkan pandangan pada Ryuka, menatapnya bingung, “emang kenapa?”


“Hmm Qwenzy ngajakin aku ikut tour-nya ke Paris,”.


“Aduh hentikan senyumanmu itu, so weird,” sambung Ryuka begitu melihat senyum mengejek yang wajah adik beda menitnya itu.


“Hahaha sorry, kok malah aku yang exited ya,” Riu tampak mengipas-ipas wajahnya.


“Jadi gimana? Aku juga merasa bersalah sih kalau harus pergi, pernikahan kamu kan tinggal beberapa hari lagi,”.


“Please deh, bukan hari tapi minggu, masih 4 minggu lagi Kaa, kamu boleh pergi kok, itung-itung refreshing kan,”.


“Tapi Mama dan Daddy ngizinin gak ya......”


“Pasti diizinin lah, kamu bukan anak ingusan lagi. Perginya juga bareng Qwenzy, ramean pula,”.


“Kamu bener gak butuh bantuan?”


“Gak, paling sepekan sebelum acara aku mulai riweh lagi. Sekarang aman terkendali. Aku juga lagi genjot-genjotan nih di kantor, supaya bisa honeymoon setelah nikahan,”.


“Pasti si Bayu nih yang ngusulin, diotaknya udah penuh tentang honeymoon aja,”.


Riu tertawa mendengar nada sebal Ryuka. “Keputusan kami berdua kok, momennya juga pas sama liburan sekolah Ori,”.


“Ori juga ikut?”


“Iyalah, mana mau aku tinggalin dia, jadi Ori dan Neni ikut kami nantinya,”.


“Bayu enggak apa-apa dek?”


“Ya enggaklah, Bayu yang bahas duluan bahkan. Resiko, buy one get one free sih,”. Ryuka mengangguk-angguk setuju ucapan Riu barusan.


“Jadi aku beneran boleh pergi?”


“Boleh, aku dukung. Kamu juga lagi enggak ngapa-ngapain. Kalau perlu aku bantuin izin ke Mama,”.

__ADS_1


“Besok ajalah ya, sekalian mau ngaku aku resign. Gak kuat aku main kucing-kucingan begini,”.


Mungkin karena firasat seorang ibu sangatlah kuat, Mama Rani jauh lebih sering menghubungi Ryuka, sekadar menanyakan ia sedang dimana, bagaimana keadaannya atau hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan Ryuka sepanjang hari. Karenanya, Ryuka terpaksa berbohong pada sang Mama atau mencari-cari alasan untuk segera mengakhiri telepon.


Keesokan harinya, Ryuka dan bahkan Riuki tengah duduk berlutut sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dihadapan Rani yang terlihat melipat kedua tangannya didada. Disaksikan Daddy, Bayu dan Qwenzy yang hari itu ingin ikut menemani Ryuka meminta izin Mamanya.


Waktu berlalu selama 10 menit. “Honey, sudahlah. Anak-anak kan sudah meminta ma......” Daddy tak jadi melanjutkan kalimatnya membela kedua anak perempuannya karena mendapat tatapan tajam oleh Rani.


Bayu dan Qwenzy tak kalah gelisah ditempatnya melihat kedua kakak beradik mendapat hukuman. Namun, tak berani membuka mulut.


Ryuka dan Riu mulai pegal dan meregangkan kedua lengannya. “Hukuman kalian belum selesai,”. Mendengar ucapan Rani, keduanya kembali ke posisi semula.


“Aku kenapa ikutan dihukum sih Ma,”. Ujar Riu.


“Karena kamu ikut-ikutan bohong,”. Tegas Rani.


“Bukan bohong Ma, menunda kebenaran,”. Sahut Ryuka.


“Udah bener emang, kalian berdua komplotan yang harus dihukum,”.


“Aku aja yang dihukum, kasian adek mah. Calon manten itu,”, pintanya.


Rani mulai melunak, ”Riu udah. Boleh berdiri,”.


“Kamu juga sudah bisa berdiri,”.


Hingga 5 menit, Ryuka masih duduk ditempatnya. “Kamu mau hukuman kamu Mama tambah?”


“Ya enggaklah Ma, kakiku kram,”.


Qwenzy menepuk jidat, “kenapa gak minta bantuan dari tadi sih, sini kubantu,”. Tak terduga, Q menggendong Ryuka bak tuan putri. Semua yang menyaksikan mereka menyunggingkan senyum tipis, termasuk Rani.


“Ma, Dad, aku minta maaf yah, aku hanya takut kalian tidak mendukung keputusanku yang mungkin cukup gegabah, jadi aku terus menunda memberitahu kalian. I am so sorry,”.


“Keputusan kakak yang mana tidak dapat dukungan Mama?”


“Mama awalnya tidak mendukungku melanjutkan studi kedokteranku,” lirih Ryuka.


“Mama hanya tidak mau kakak mendapat banyak tekanan, untuk jurusan lain, cuti satu tahun mungkin tidak berdampak banyak tetapi pendidikan dokter beda nak. Kamu sudah merasakannya sendiri,”.


Ryuka tak lagi menjawab. Semua ucapan Mama Rani benar.


“Mama tidak marah, hanya sedikit kecewa. Mama berpikir apa mungkin mama tidak cukup tepat diminta pendapatnya tentang keputusan besar dihidup kakak,”.

__ADS_1


“Oh dont say that. Enggaklah, Mama jauh lebih berhak dari siapapun di dunia ini. Aku salah, Mama maafin aku enggak?” tanya Ryuka sambil memasang puppy eyes.


“Gimana mau marah kalau mukamu sudah begitu. Lain kali jangan sembunyikan apapun dari Mama dan Daddy,”.


Ryuka mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tinggi-tinggi. “Swear, aku janji,”.


“Dan Mama bolehin kakak ikut ke Paris. Kalau mau ikut sepanjang tour Qwenzy juga boleh, daripada disini juga mumet. Lumayan, healing keliling kota di Eropa,”.


Ryuka mencebik, “idih ogah, digaji enggak. Jadi asisten Q iya. Enggak mau,”. Qwenzy justru ingin melompat kegirangan mendengar ucapan Mama Rani.


“Tapi itu kan dari Mama, gak tahu deh Daddy mu gimana,”.


Semua mata lalu tertuju pada Jamie, seolah hidup dan mati seseorang berada ditangannya. “Tapi kamu bisa dipercaya kan buddy? Mengembalikan anakku utuh tanpa tergores sedikit pun,” ucapan Daddy penuh penekanan untuk Qwenzy.


“Tentu saja, aku janji Dad. Daddy boleh potong tanganku kalau aku sampai melanggar janji,”. Jamie menghela nafas panjang, ia memang sangat overprotektif pada istri dan kedua putri sambungnya.


“Baiklah karena sudah dapat jaminan. Yes dari Daddy,”. Rani lalu mengelus punggung tangan Jamie lalu tersenyum.


“Tapi jangan lupa acara pernikahan kami ya,”. Sahut Bayu.


“Pastilah, ibarat penumpang VIP. Acara kalian jadi prioritas,”.


Jawaban Qwenzy mendapat kekehan dari semua orang yang hadir sore itu dirumah Mama Rani. Mereka lalu bersiap-siap menyiapkan makan malam dengan acara barbeque di halaman belakang.


“Jadi fix ya kamu ikut,”. Tanya Q memastikan saat keduanya ditugaskan untuk mencuci selada dan sayuran lainnya.


“Tapi bener, aku gak ganggu kegiatan kamu? Mba Lara komentar apa soal aku mau ikut ke Paris,”.


“Mba Lara dan semua orang malah seneng, katanya pawangku ikut jadi gak bakal rewel,” Qwenzy cengengesan.


“Ternyata malah aku yang rugi,”


“Hahaha, aku janji akan jadi anak yang penurut,” ucapnya sambil menyandarkan kepalanya dipuncak kepala Ryuka.


“Oh iya,, tumben kamu gak ngomel,”.


“Tentang?” tanya Qwenzy bingung.


“Aku gak ngasih tahu kamu, eh kalian. Kalau aku udah resign,”.


“Sempat kesal sih tadi, tapi aku mengerti sama alasan kamu. Meminta pendapat orang lain saat memutuskan sesuatu tidak selalu baik, kadang kita jadi jauh lebih bingung,”.


“Tapi, aku sarankan, habis ini langsung chat digrup tentang resign kamu kalau kamu gak mau dapat amukan dari mereka, terutama Gino,”.

__ADS_1


Keduanya lalu bergidik ngeri terbayang wajah Gino yang memerah karena marah. Ryuka mengangguk saja tanda setuju, lalu berjalan beriringan menuju halaman belakang kembali.


__ADS_2