
Hari pertunangan Riuki tiba.
Ryuka membelalakkan matanya menyaksikan saudari kembarnya memakai kebaya soft purple dengan super duper anggunnya. Mungkin mengikut pembawaan si pemakainya. Berbeda dengannya yang berapi-api dan blak-blakan, Riuki tipe yang serba tidak enakan, alhasil lebih baik ia memendam semuanya sendiri. Karena sifat Riu yang itu, tak jarang membuat Ryuka gemas setengah mati, dalam artian negatif.
“Oh my god, so beautifull dress,”
“Just dress? How about me?” Riu protes.
“Yeah, so-so,”. Namun ucapan tak sejalan dengan tindakannya, Ryuka malah mendekat kearah sang adik dan menggenggam tangannya erat seolah tengah berbagi perasaan tanpa harus berkata apa-apa.
“Kamu bahagia kan?” Tanyanya memastikan perasaan sang adik.
“Of course i’am happy,”
“I’am happy to see you,”
“Please.. please.. kamu jangan nangis. Make up aku luntur nanti Kaa, kasian mba Nora harus touch up lagi,”.
Mba Nora, MUA langganan Riu hanya terkekeh sambil mengibas-ibaskan tangannya, seolah berarti ‘gampang mah itu, nangis aja dulu’.
“Kan aku yang nangis, kenapa make up kamu yang luntur,”
“Aku jadi ikutan nangis kalau kamu nangis. Please-lah Kaa,”
Keduanya terkekeh dan menengadahkan wajah mereka ke atas dengan maksud untuk menahan bulir air mata yang siap jatuh disudut mata masing-masing.
Namun, ketika gagang pintu ruangan Riu dirias terbuka, sang Daddy datang dengan mata memerah. “Oh sweetheart, my beautifull bride,” ucapnya memeluk Riu dan mulai terisak, benar-benar terisak bak pria yang ditinggal nikah oleh pujaan hatinya.
“Oh tidak, gagal sudah air mataku tertahan,” ujar Riu dalam dekapan sang Daddy.
Mama Rani mendekap Ryuka lalu tersenyum haru melihat pemandangan dihadapannya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Jamie memperlakukan kedua anaknya jauh lebih baik dari bayangannya. Bahkan jauh lebih baik dari papa kandung mereka sendiri.
“Are you happy Ma?” Tanya Ryuka menatap sayang wanita paruh baya yang sangat disayanginya itu, yang tengah mengangguk tersenyum kearahnya.
“Kenapa Mama yang ditanya begitu, kan bukan Mama bride-nya Kaa,”.
”Aku hanya ingin tahu,”.
”Stop worried about me, sudah ada Jamie yang menanyakan pertanyaan itu pada Mama setiap hari,”.
”Ugh!!!! I am jealous, i swear,”. Ryuka mengeratkan genggamannya pada sang mama, “i am happy for you Ma,”.
Obrolan mereka berakhir begitu saja karena Ryuka melihat Mamanya sudah ikut berkaca-kaca seolah sebentar lagi air matanya tumpah ruah. Lalu beralih pada 2 orang dihadapannya yang belum juga melepas pelukan satu sama lain.
__ADS_1
”Okay, time’s up. Dad, stop it, Riu harus siap-siap,”
Keduanya melepas pelukan lalu detik berikutnya tertawa sambil menatap satu sama lain dengan mata yang sedikit lagi bengkak.
Riu lalu duduk kembali dimeja rias untuk touch up riasan cantik diwajahnya.
Ryuka dan Daddy keluar terlebih dahulu untuk menyambut para tamu yang hadir, karena Mama yang akan menggiring Riu ke aula acara. Jamie yang merupakan sahabat lama Rani sebelum berubah status menjadi suami kenal dengan hampir seluruh keluarga dan kolega Rani.
“You didn’t contact your Papa, sweetheart?” Bisik Jamie sambil menyalami satu persatu tamu yang datang memenuhi ruangan pertunangan.
“You are my father,”.
Jamie tersenyum, “you know what i mind nak,”.
Ryuka tersenyum kecut, “if he thinks he’s a father, he will come uninvited, jadi jangan merasa bersalah Dad, i am much happier that you’re by our side, aku serius,”.
Jamie sangat bersyukur, karena Ryuka dan Riu menerimanya dengan tangan terbuka walau ia pun tahu tak mudah untuk melakukannya.
“Apaan sih bisik-bisik,” Qwenzy datang merusak momen mengharukan antara Ryuka dan Jamie.
“Mau tahu aja kamu,”
“Hey buddy, kenapa kamu datang sendiri?” Tanya daddy karena tak melihat Raka, Gino dan Ken. Padahal mereka bisanya satu paket.
Jamie mengangguk, sebelum berbisik lagi pada sang anak, “kalau Qwenzy orangnya, i approve,”.
Ryuka membelalakkan matanya, “Oh come on, he just my bestfriend, jangan ikut-ikutan Riu dan Mama deh, please. Cuma Daddy harapanku saru-satunya,” rengek Ryuka.
Terdengar tawa renyah yang mencoba diredam sebisa mungkin oleh Jamie mendengar rengekan anak sambungnya. Pasalnya, selama ini hanya ia tim netral, tak masuk dalam #timQwenzy.
Ryuka lalu beralih menatap Qwenzy yang masih meladeni beberapa orang yang meminta foto dengannya. What? Qwenzy? Tidak mungkin !!!
Acara berlangsung dengan sangat khidmat hingga yang tersisa hanya keluarga dekat saja.
“Mereka berdua terlihat sangat lelah, tapi pasti sangat bahagia juga kan?” Ujar Qwenzy begitu menyaksikan Ryuka terus menatap adiknya yang tampak mesra dengan sang tunangan.
“Yah kamu benar,”.
“Jadi kapan kamu memulai pengobatanmu?”
“Oh god, jangan dibahas sekarang, bisa?”.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu akan menjalani rangkaian pengobatan kan?”
__ADS_1
Ryuka terdiam. Sebenarnya ia pun masih merasa sangat gamang. Bingung, langkah seperti apa yang harus ditempuhnya.
“Aku bisa vakum dan fokus menemanimu,”.
Ryuka cukup kaget dan tak percaya dengan ucapan Qwenzy, “Benarkah?”
“Why not, tapi setelah tour karena aku benar-benar gak bisa batalin,”. Tatapan Ryuka seolah berkata betapa bersyukurnya ia memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya.
“Kamu mau sebuah pelukan?” Tanya Q lagi.
“Sekarang? Disini? Tiba-tiba banget,” Pekik Ryuka.
“Iya. Sekarang. Disini,”.
“Dan agensimu akan mengeluarkan bantahan untuk yang ke-4 atau 5 kalinya ya, sampai lupa aku,”.
Qwenzy terkekeh, gosip tentang mereka bahkan masih panas-panasnya, “atau haruskah agensiku mengonfirmasinya saja?”
“Aku tidak sanggup menahan rasa bersalah mematahkan hati wanita diseluruh belahan dunia,”.
Wajah Qwenzy tiba-tiba penuh kecemasan.
“Aku serius dengan tawaranku menemanimu menjalani pengobatan dimana pun itu,”.
“Apa yang membebani pikiranmu? Hm?” Tanya Ryuka menaruh curiga dengan sikap Q yang sedih namun waspada akan sesuatu.
Aku sangat cemas memikirkanmu yang bisa saja tiba-tiba pergi atau menghilang begitu saja, gumamnya dalam hati. Qwenzy tak sanggup melontarkannya dari mulutnya langsung, ia tak ingin menambah beban apapun untuk Ryuka.
“Nothing, aku hanya khawatir sama kamu,”.
“Aduh sumpah, pembicaraan kita terlalu serius, “Udah yuk gabung sama yang lain,” Ryuka menarik tangan Q menghampiri meja yang diisi oleh keluarga besarnya dan Bayu, tunangan adiknya.
Qwenzy si bunglon tak membutuhkan waktu lama, ia langsung berbaur pada orang-orang yang bahkan baru ditemuinya hari itu.
Sedangkan Raka, hingga acara pertunangan selesai tak juga menunjukkan batang hidungnya.
Lalu secepat kilat Ryuka menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Apa yang tengah dia pikirkan? Membandingkan Qwenzy dengan Raka? Atas dasar apa? Ia pasti mulai terpengaruh dengan Riu, Mama bahkan Daddy-nya. Sekuat mungkin Ryuka menghilangkan jauh-jauh pikiran anehnya.
Siapa nih yang #timQwenzy? Atau #timRaka mungkin?
Btw, ada yang penasaran gak sama kisah Riuki? Rencananya mau kubuat dalam judul baru. Ada yang minat baca gak?
Komen yaaa !!!! Jangan lupa like !!! Terima kasih semuanya🌸🌸
__ADS_1