Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #41


__ADS_3

Keesokan Paginya…


Ryuka menggeliat ditempatnya, berguling kanan dan ke kiri tanpa membuka matanya menjadi rutinitas luar biasa ketika bangun tidur. Dengan tenaga yang baru saja terkumpul, Ryuka memosisikan dirinya duduk seraya mengucek mata, ia yang berniat melirik jam dinding malah…. “Aaaaaaaaaarrrrrrrrrrkkkkkkkkk,” teriaknya kaget tak karuan.


“Tuh kan Rii, kata Mama juga apa, kakakmu pasti kaget,”.


“Kan penasaran Ma, udah diubun-ubun ini,”


“Halo sweetheart, how was your trip?”


Pundak Ryuka masih nampak naik turun, kehadiran tak diundang Riuki, Mama, dan Daddy-nya yang menjulurkan wajah ke arahnya tak peduli dengan keadaannya yang masih kaget setengah mati.


Sembari mengusap-usap dadanya yang masih bertalu-talu, “kalian hampir menghilangkan nyawa seseorang, sumpah deh,”.


“Husshh ngawur kamu,” sentak Mama.


“Lah kan kenyataannya gitu Ma, untung aku gak ada riwayat jantung,” Ryuka memalingkan wajah kearah Riu yang cengengesan, “kalau ada, kamu hampir kehilangan saudara sebaik aku. Ini pasti ide kamu kan?”


“Aku gak ngajak Mama dan Daddy, mereka aja yang ikut-ikutan,”.


Ryuka mengangkat tangan tanda menyerah, percuma berdebat dengan mereka. Tiga lawan satu, “baiklah..baiklah..tapi bisakah kalian membiarkanku mandi terlebih dahulu? Aku juga gak bakal kabur astaga,”.


“Gak bisa, aku udah penasaran super maksimal,”.


“Aku masih jetleg ini, aku butuh mandi supaya segeran,”


“Ya udah clue nya aja, hmm?” Bujuk Riu kekeh.


“Kamu kira ini kuis pakai clue segala.” Riu merajuk, “tapi Kaaaaaa…” rengeknya.


Mama justru tertawa ditempatnya berdiri menyaksikan kedua putrinya bak kembali menjadi ke masa SMA-nya. Ia merasa kediamannya kembali menjadi rumah sesungguhnya.


“Rii let you sister take a bath first,” katanya kembali menjadi penengah.


“Tapi Dad…”


“Oh ayolah nak,” bujuknya menyeret anak istrinya keluar kamar. Kedipnya sebelah mata sebelum menutup pintu kamar Ryuka.


Ryuka sebenarnya tak heran, ia sudah menebak bahwa keluarganya akan sama heboh dengan keluarga Qwenzy. Saat Ryuka masih di Paris, Mam dan Pap melakukan panggilan video di ponsel Q dengan respon yang seolah baru saja menang lotre. Qwenzy bahkan sempat berkelakar, “melihat ekspresi Mam..Pap..orang-orang akan mengira Mama hamil anak kedua,”.

__ADS_1


“Kamu sudah terlalu tua memiliki adik. Mama dan Papa lebih cocok dapet cucu.”


Sebuah serangan balasan tak terduga dari Mama nya. “Mama gak mau ngobrol sama kamu, Mama kangen Ryuka, dia disebelah kamu kan? Mending kamu jauh-jauh deh Qiu.”


“Mam..Pap.. ingatlah. Aku anak kalian satu-satunya.”


Ryuka lalu memperlihatkan wajahnya diiringi teriakan histeris oleh Mama dan Papa Q, berebutan ingin melihat wajah calon menantu nomor satunya.


Setelah menghabiskan waktu satu jam untuk bersiap-siap, karena sempat berendam untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ryuka turun dan disambut makanan super banyak yang telah tertata di meja makan.


“Ada acara ya? Banyak banget makanannya.” Tanyanya begitu merapatkan bok*ng nya dikursi meja makan.


“Acara syukuran karena anak sulung Mama akhirnya punya pacar.” Seloroh Riu yang disambut tawa Mama dan Daddy.


“Wah kamu mengisyaratkan kalau aku gak laku.”


”Terima lah kenyataan kakakku sayang,”.


”Aku itu selektif bukan tidak laku.” Ryuka membela diri.


“Udah ah, buruan. Cacing di perutku udah meronta tapi Mama dan Daddy kekeh mau nunggu kamu.”


Selang beberapa lama, Riuki, Mama dan Daddy kompak mendorong piring yang isinya telah tandas tak tersisa. “Nah sekarang kami siap mendengar cerita kamu.” Desak Riu.


”Lah kirain udah lupa.”


”Enak aja. Aku hanya berusaha keras menahan diri dari tadi.” Riu telah mencondongkan badannya ke arah sang kakak.


Tentu saja Ryuka tahu ia tak akan bisa lolos. “Yah begitulah, kami tiba-tiba memutuskan untuk pacaran.”


Tawa Riuki menulari Mama sambil menepuk-nepuk senang kedua tangannya. “Kok bisa sih Kaa? Aku beneran kaget loh, enggak nyangka banget akhirnya kamu luluh.”


“Kalian tidak sedang berpura-pura kan?” Selidik sang Mama.


“Idih, Mama kira ini dunia fiksi pakai pura-pura segala.”


“Di dunia yang Daddy dan Mama-mu kenal, anything can happen sweetheart,”. Daddy dan Mama saling menimpali. “Banyak klien Mama melakukan itu untuk melindungi citra mereka. Kami hanya memastikan itu tidak terjadi padamu nak.”


“Of course i am not. Serius. Semua terjadi begitu saja, aku juga masih ragu keputusanku benar atau tidak.”

__ADS_1


“Oh come on. Kalian hanya berpacaran. Kamu tidak perlu banyak pikiran seperti itu.” Ucap Riu gemas. “Tapi kalau mau nikah sekalian bareng aku juga oke-oke aja. Iya kan Ma?” Godanya.


“Oh tidak. Hentikan binar-binar dimata Mama,” sergah Ryuka yang mendapat tatapan penuh harap oleh Mama-nya. “Dad…..” panggilnya meminta bantuan.


“Kalau itu yang bisa membuat kamu bahagia. Daddy mendukungmu.”


Ryuka menopang kepalanya yang mulai pening. “Aku kayanya ikut terpengaruh karena kalian sangat mengagung-agungkan Q.” Ia kalah telak.


Obrolan mereka terhenti karena bunyi ponselnya. Riu yang tak sengaja melihatnya, langsung heboh menunjuk-nunjuk dirinya agar dibolehkan Ryuka menjawabnya, dengan terpaksa Ryuka mengangguk.


“Haiiii,” sapa Riu sebisa mungkin menyerupai Ryuka.


“Loh Rii, kenapa kamu yang angkat? Kaa belum bangun ya?” Tanya Q begitu melihat bukan wajah kekasihnya.


“Waaaahhh kekuatan cinta. Kok kamu tahu bukan Kaa?” Ia berdecak kagum. Pasalnya, ia dan Ryuka kembar identik. Butuh analisis lebih jika membedakan keduanya.


“Hahaha. Aku sudah bertahun-tahun mengenal kalian. Bukannya keterlaluan kalau aku belum bisa membedakan?”


“Ken masih kewalahan tuh,” bantahnya.


“Woo woo. Jangan menyamakanku dengannya. Dia memang payah.”


Riu tertawa lalu mengangguk membenarkan ucapan Q. “Pacar kamu udah bangun kok, sedang diadili Mama dan Daddy, mana tanggung jawabmu,” katanya hendak menakuti Q dan berhasil.


“Mana? Boleh aku bicara sama Mama dan Daddy?” Raut wajahnya langsung berubah pias.


Setelah menyerahkan ponsel Ryuka pada Mama dan Daddy-nya. Sebisa mungkin Riu menahan agar tawanya tak terdengar, ditambah jitakan Ryuka karena mengusili Qwenzy.


Butuh beberapa waktu Qwenzy ikut menjelaskan situasi mereka yang sebenarnya percuma saja. Mama dan Daddy sudah lebih dulu jatuh cinta padanya. Untuk apa menjelaskannya lagi.


“Sekarang bukan cuma sebelah tanganmu Buddy, kamu akan kehilangan seluruh tubuhmu jika membuat anakku menangis setitik saja.” Ancam Daddy dengan wajah malaikatnya.


“Aku dengan senang hati menggadainya Dad.” Tegasnya melalui panggilan video. “Dad bolehkah aku melihat wajah anak sulungmu? Aku sangat merindukannya.” Lanjutnya dengan nada super lebay.


Ryuka bergidik geli. Jangan tanyakan respon Riu. Ia sampai memegangi perutnya karena tertawa melihat ekspresi kembarannya. Ryuka meraih ponselnya dan sedikit menjauh agar lebih bebas berbicara dengan Qwenzy.


...****************...


Mohon dukungannya, like and comment ya😊

__ADS_1


Happy reading guys🌸🌸


__ADS_2