
Tiga puluh menit berikutnya, Raka benar-benar mengantar perlengkapan perang Ryuka, lengkap dengan masker dan topinya. Tentu saja ia tidak ingin membuat heboh di rumah sakit.
“Ini nyonya, tumben kamu lupa,” kata Raka lalu menyapa rekan-rekan kerja Ryuka, “halo Din,” sapanya pada Dina, yang disapa hanya mengangguk sok cool padahal jantungnya berdetak parah. Ia rasanya ingin berlari memeluk dada bidang Raka yang tengah berdiri dihadapannya itu.
“Kamu udah sarapan dek?”
“Udah kok, sana gih, makasih udah dianterin ya,”
“Hmm, makasih sarapannya ya, sempet tidur kan?”
Ryuka menggeleng, “bentar habis kunjungan baru tidur, tanggung,”.
“Are you fine, right?”
“Pastilah, sana. Bye,” Ryuka setengah mendorong Raka agar menjauh, ia tak siap mendengar ceramah bapak-bapak dipagi hari. Akhirnya, Raka menyerah dan melambaikan tangan.
Kunjungan pasien berjalan lancar selama 45 menit, akumulasi waktu tersebut sudah termasuk ceramah panjang lebar dari dokter Sony, karena beberapa dokter magang tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar yang dilontarkan.
Alhasil, termasuk Ryuka pun kena semprot karena dianggap tak becus mendidik dan membantu bawahan mereka. Hanya kata-kata maaf yang dapat dilontarkan jika berada dalam situasi tersebut agar tidak memperparah keadaan. Lebih baik cari aman kan?
Untungnya Ryuka tipe senior yang tidak melampiaskannya pada juniornya, makanya bukan hanya para professor, ia pun menjadi primadona dikalangan dokter magang. Tiap kali kata maaf diucapkan padanya, ia hanya membalas, “gak apa-apa, maklumin aja, para professor juga pernah diposisi kalian, dengar dan minta maaf aja, eh tapi jangan lupa belajar lebih giat juga sih,”.
Ryuka: Dokter Q udah kunjungan belum?
Gino: Udah dek, baru aja, kenapa?
Ryuka: Mau numpang tidur dong :)))
Ken: Sini, ditunggu.
__ADS_1
Setelah memastikan kunjungan dokter Qwenzy melalui chat grup, Ryuka dengan sisa tenaganya berjalan gontai menuju ruangan VVIP tersebut.
“Haii, apa kata dokter tadi?” Ucapnya tepat setelah membuka pintu.
“Kurang lebih seperti kata kamu,” balas Q.
“Gipsnya kapan dibuka?”
“Lah, malah dibahas lagi, Q masih sedih tu dek,” Gino ikut nimbrung. “Empat atau lima hari lagi katanya, tergantung perkembangan kondisi Q,” Ryuka manggut-manggut mendengar penjelasan Gino sambil mengecek cairan infus sahabatnya.
“Baik, aku tidur bentar, tolong dibangunkan jam dua siang ya,”
“Oke, tidur gih,”
“Eh, Raka sama Ken mana?”
“Balik sebentar sekalian bawa makan siang,”
🌸🌸🌸🌸
Lagi-lagi Ryuka menatap nanar dinding-dinding apartemennya yang terasa dingin. Seolah tangis selama apapun tak cukup mengubah perasaannya belakangan ini. Entah dering ponselnya yang keberapa yang terabaikan, seolah tak terdengar olehnya, ia tidak peduli. Seolah ia tengah meratapi nasib hidup sebatang kara, yang tentu saja tak benar. Ia memiliki keluarga dan sahabat-sahabat yang akan selalu menemaninya dalam keadaan apapun. Dalam kondisinya seburuk apapun.
Sayangnya, semua itu tak mampu menghibur hatinya saat ini, seolah hukuman mati untuknya, ia didiagnosa tumor otak stadium awal, sepekan setelah hasil pemeriksaannya keluar, Ryuka tak kunjung mampu menerimanya dengan baik. Penyakit yang terasa menggerogotinya selama ini muncul dipermukaan. Akhirnya, secara sepihak, ia hanya menghubungi 1 orang, sekretaris pribadi ibunya. Meminta agar mengurus cutinya selama 2 pekan. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan koneksi ibunya, secara terpaksa.
Setelah genap sepekan Ryuka mengisolasi diri dari siapa pun, jika tidak mempertimbangkan pertunangan saudara kembarnya yang akan diadakan sepekan lagi, ia mungkin saja akan memilih berdiam diri lebih lama.
Namun, urung dilakukannya, ia juga tak tega mendengar sahabat-sahabatnya lebih lama bolak-balik belasan kali setiap hari, hanya untuk mengecek keadaannya atau menggantung makanan dipintu apartemen. Ia hanya sempat menempel note kecil dipintu apartemennya dengan singkat “sorry, but leave me alone, sebentar aja”.
Setelah itu, mereka tak lagi berusaha mengetuk atau memencet bel apartemennya, hanya terdengar beberapa saat langkah berhenti tepat didepan pintu lalu sesaat menjauh pergi.
__ADS_1
Ryuka tentu saja mendengar semuanya karena jarang sekali ia tertidur atau meninggalkan ruang tamu.
Ingatannya terus saja kembali, saat dokter Septi benar-benar memperlakukannya seperti pasien, mulai dari wajahnya yang lebih serius dari biasanya, pun pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padanya.
“Apa keluhan kamu selama ini Ryuka?”
Dengan terbata-bata sambil mengingat-ingat apa yang dialami tubuhnya akhir-akhir ini, “durasi sakit kepala saya bertambah dari biasanya dok, saya juga jadi agak pelupa, selain itu semua masih aman dok,”.
“Status sakit kepala kamu dari 10, berapa?”
“Biasanya 3, akhir-akhir ini jadi 5 dari 10 dok, tapi biasanya jika anemia saya kambuh memang seperti itu, ada apa ya dok?”
Dokter Septi menghela nafas panjang sebelum memutar layar komputer agar Ryuka bisa melihat langsung hasil MRi miliknya, “kamu lihat lingkaran itu?” Tanya dokter Septi dengan serius.
“Mari kita anggap ini keberuntungan karena terdeteksi lebih awal, kamu terdiagnosa tumor otak stadium awal,”.
Ryuka diam membisu, tak ada kata yang dapat menggambarkan perasaannya, ia bingung, kaget, sedih, shock secara bersamaan, ia berharap hanya salah dengar atau hanya sedang bermimpi buruk. Maka siapapun tolong bangunkan Ryuka.
“Saya paham kamu kaget, tapi Ryuka, saya pastikan kamu bisa sembuh jika melakukan pengobatan dengan tepat dan secepat mungkin,”.
Ryuka terlalu kaget untuk membalas perkataan dokter Septi, ia hanya bisa sejenak menutup wajahnya dengan kedua tangan karena terlalu kaget, “dok, maaf tapi pikiran saya benar-benar kosong sekarang,”.
“Dengarkan saya baik-baik, lakukan pemeriksaan secara menyeluruh, semakin lama kamu membiarkannya, tumor itu akan semakin menggerogoti otak, ditambah dengan beban dan tekanan kerja kamu, hal itu akan memperparah penyebarannya,”.
“Dok, saya permisi sebentar dok,”. Pikiran Ryuka blank, ia benar-benar butuh waktu untuk mencerna semuanya dengan jernih. Setelah pertemuannya dengan dokter Septi, ia pulang keapartemen dan seakan menghilang begitu saja.
Sisi gelap yang dimiliki seorang Ryuka. Ia akan menghilang begitu saja ketika keadaan seolah tak berpihak padanya. Ia akan sibuk tanya-jawab dengan dirinya sendiri. Seperti sebuah mekanisme pertahanan hidup dalam ilmu psikologi. Tiap waktunya hanya akan diisi dengan tangisan seolah ia orang yang paling menderita di dunia. Setelahnya, ia akan terlihat baik-baik saja. Tapi apakah benar begitu?
Jika Ryuka dalam mode seperti itu kambuh, tak jarang membuat orang-orang disekitarnya kalang kabut dipenuhi takut, mereka tak ingin jika Ryuka berbuat sesuatu yang bisa merugikan hidupnya.
__ADS_1
Kabar tentang penyakitnya pun tak ia beritahukan pada Riuki atau orang tuanya hingga detik ini, ia hanya butuh waktu untuk menerima, semua keadaan dan kemungkinan yang bisa terjadi setelah ia memutuskan untuk berobat atau tidak.