
“Aku kira aku mimpi beberapa hari ini, ternyata dokter Yuka benar-benar datang tiap malam ya,”. Ucap Lana, salah satu pasien Ryuka yang sudah setahun terakhir ia tangani.
“Maaf, saya ganggu tidur kamu ya,”, bisik Ryuka karena tidak ingin mengganggu pasien lain.
Lana menggeleng, “aku senang kalau dokter datang,”.
“Bagaimana keadaan kamu?”
“Aku baik, besok akhirnya aku sudah boleh pulang, dokter pasti akan rindu aku,”
“Tentu saja, tapi saya lebih senang karena kamu sudah sehat,”
“Tapi kenapa tatapan dokter terlihat sedih?”
Ryuka terpana mendengar ucapan gadis berumur 12 tahun dihadapannya ini. Gadis malang sekaligus beruntung. Walau bergelimang harta karena kedua orang tuanya pemilik perusahan nikel terbesar tetapi karena alasan pekerjaan pulalah mereka membiarkan anaknya dijaga oleh seorang suster yang disewa.
Awalnya Lana adalah salah satu pasien naratama. Tetapi setiap harinya selama berbulan-bulan kondisinya kian mengkhawatirkan. Hingga Ryuka memberi usul untuk memindahkannya di kamar yang diisi oleh 4 orang pasien. Lana secara fisik muda dan sehat tetapi perasaan dan mentalnya berbanding terbalik. Ia kesepian.
Walau sempat ditolak oleh orang tuanya, sang suster yang menjaganya membantu meyakinkan mereka. Hingga beransur kondisi Lana membaik dan kembali ceria. Tak jarang penjaga pasien lain mengajaknya mengobrol sembari bercanda.
Seperti Sisy, Lana jatuh cinta pada Ryuka saat pertama memeriksanya. Alhasil, tak jarang Lana mengikuti atau mencuri-curi pandang pada Ryuka. Ryuka menyadari itu, tetapi membiarkannya saja.
Suatu hari, setelah Lana selesai menjalani pemeriksaan lengkap, Ryuka shock setelah membacanya, sama dengannya. Tidak.. bahkan lebih darinya, Lana menderita tumor otak stadium 3.
Sejak hari itu, Ryuka memberi perhatian khusus, hal yang selalu menjadi bahan nasihat dari Gina dan Kinan, kalau Ryuka terlalu ,elibatkan perasaan pada semua pasien. Beberapa menganggap niat Ryuka baik, tetapi banyak pula yang seolah semena-mena terhadap kebaikan yang kereka terima darinya.
Untung saja, Lana salah satu pasien dengan niat baik. Ryuka selalu menyempatkan menengok Lana dimalam hari, sekaligus memberi waktu luang untuk suster yang menjaganya sekadar menghirup udara segar diluar rumah sakit. Ryuka mengerti sekali rasanya terjebak dibangsal rumah sakit berminggu bahkan berbulan-bulan lamanya.
“Jadi dokter benar-benar sedang sedih?” Ucapan Lana membuyarkan lamunan Ryuka.
Giliran Ryuka yang menggeleng. “Saya sedang tidak sedih, saya harap dimanapun kamu berada kamu selalu dikeliling dengan hal-hal membahagiakan Alana,”.
“Apa dokter mau pergi kesuatu tempat? Dokter tidak di rumah sakit ini lagi?”
Kejutan kedua kalinya untuk Ryuka, bagaimana bisa prediksi Lana seakurat ini.
“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
“Kalau aku mau pergi, aku selalu berkata hal yang sama pada orang lain,”.
__ADS_1
Ryuka menggenggam tangan Lana yang malam itu memang sudah terbebas dari selang infus, “sebenarnya saya juga sedang sakit dan mau fokus untuk pengobatan,”
“Apa dokter sakit parah?”
“Sedikit parah, karena itu dokter mau kamu berjanji untuk kita berdua bisa bertemu lagi dalam keadaan sehat,”
Seolah secercah cahaya mengisi kedua manik Lana, ia menemukan semangat baru untuk sembuh.
“Aku janji, dokter juga harus janji sama yaa aku,”.
Mata Ryuka berkaca-kaca, hal yang sama terjadi padanya. Ia menemukan alasan baru untuk memulai pengobatan. “Saya janji,”
Mereka lalu menautkan jari kelingkingnya seolah mengunci janji agar tidak bisa mengingkarinya.
🌸🌸🌸
Ryuka berjalan mondar-mandir selama 30 menit 45 detik di depan ruangan dokter Septi. Menghela nafas berkali-kali tak juga memantapkan hatinya, tapi sebanyak apapun ia memikirkannya, inilah jalan satu-satunya.
Ryuka memutuskan segera mengetuk pintu sebekum keberaniannya menguap lagi.
“Iya silakan masuk,” terdengar dokter Septi mempersilakan.
“Silakan duduk,”.
Ryuka hanya mengangguk dan diam membisu, hanya menyerahkan sebuah amplop dimeja dokter Septi sesopan mungkin.
Dokter Septi lantas membuka dan cukup terkejut membaca isinya. “Kamu ingin mengundurkan diri?”
“Benar dok,”.
“Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin?”
“Tidak sepenuhnya dok, tapi jadi salah satu pertimbangan saya,”.
”Kamu tidak perlu melakukan sampai sejauh ini, masalah kemarin selesai dengan baik bukan? Direktur rumah sakit pun tidak memperpanjang masalahnya karena itu adalah kesalahan pertama kamu, siapapun bisa lupa dokter Yuka,”.
”Saya sangat merasa bertanggung jawab penuh dokter, karena saya seluruh anggota tim jadi dipertanyakan kelayakannya,”.
”Itu hanya ucapan terlampau emosional, kamu tahu kan, betapa pentingnya pasien naratama untuk manajemen rumah sakit?”
__ADS_1
”Sikap kamu justru membuktikan, sebagai dokter kita melakukan tindakan yang sama untuk semua pasien, entah itu pasien VIP atau bukan,” dokter Septi mencoba meyakinkan Ryuka.
“Maafkan saya Prof, saya benar-benar tidak bisa menanggung rasa bersalah saya,”. Ryuka mengeluarkan senjata mematikannya, ia memanggil beliau dengan sebutan Professor agar menanggapinya dengan profesional jabatan.
Dokter Septi adalah kepala departemen bedah, seorang professor low profile, yang lebih nyaman dipanggil dengan sebutan Dokter Septi tanpa embel-embel professor didepan namanya. Alasannya, agar ia selalu ingat tujuan awalnya menjadi seorang dokter. Ryuka yang dikenal anak kesayangannya, diperlakukan bak putri kandung, versinya.
Sedari awal penuh kesabaran mengajari Ryuka yang saat itu termasuk terlambat untuk mengambil co-***. Entah kenapa, dokter Septi sudah bisa melihat potensi besar dari dalam diri Ryuka. Terbukti, beberapa seniornya pada saat itu kalah saing dari segi pengetahuan dan teori. Karenanya, Ryuka selalu jadi sasaran kebencian walaupun ia diam dan tidak melakukan apapun.
Untung saja Ryuka tidak ambil pusing, ketertinggalannya dari segi praktek menyerap seluruh perhatiannya. Sepintar apapun dari segi teori tak pernah bisa mengalahkan praktek langsung. Dokter Septi-lah yang tak pernah bosan menjawab keingitahuan Ryuka.
Melihat dokter muda dihadapannya diam tertunduk, “apa kamu sudah memikirkannya secara matang?” Tanya dokter Septi lagi dengan nada seorang ayah yang berbicara pada anak perempuannya.
”Mungkin sudah ratusan kali dok, hanya ini satu-satunya jalan yang saya pikirkan,”.
”Apa tidak cukup hanya dengan kamu keluar dari tim?”
Ryuka menggeleng, sudah ia coba tetapi rasa yang mengganjal dihatinya tak kunjung teratasi.
”Baiklah, saya akan terima surat pengunduran diri kamu, tetapi saya tetap meminta kamu menghubungi saya jika kamu mulai merasa sedikit saja ragu atau berubah pikiran,”.
”Baik dok,”. Jawabnya saja karena ia yakin tak akan merubah keputusannya.
”Terima kasih karena selama ini, dokter sudah banyak sekali membantu saya, tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan betapa bersyukurnya saya,”.
”Kamu bisa menggantinya dengan berubah pikiran nanti,”.
Ryuka tersenyum mendengar dokter Septi yang hingga akhir masih berusaha meyakinkannya.
”Oh iya satu lagi. Saya menerima surat pengunduran diri kamu hanya karena mempertimbangkan penyakit dan pengobatan yang akan kamu jalani, bukan karena hal lain,”.
Ryuka tampak mengerjapkan matanya berkali-kali.
”Karena itu, saya menganggap tidak pernah mendengar alasan kamu barusan, sekarang kamu boleh keluar dan hubungi saya kapan saja,”.
Mata Ryuka berkaca-kaca, hingga akhir ia masih tetap menerima ketulusan dokter Septi padahal ia sudah sangat tidak bertanggungjawab. Melakukan kesalahan dan memilih kabur pada akhirnya.
Ditunggu like dan comment-nya yaa☺️
Selamat membaca 🌸🌸
__ADS_1