Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #37


__ADS_3

Memakai cardigan sebelum beranjak adalah pilihan Ryuka yang paling tepat. Terik matahari sedang dalam fase lucu-lucunya. Ryuka menaruh ponsel ke dalam dan menggantinya dengan kamera pocket yang kerap dibawa kemana-mana. Hal yang paling membuat Ryuka betah jika keluar negeri adalah kemudahan menemukan taman yang dengan senang hati bisa diakses sebebas-bebasnya. Sesuatu yang mustahil didapat di Jakarta. Wajar saja, kepadatan penduduk yang lebih membutuhkan tempat berteduh daripada ruang terbuka hijau, tak bisa dihindari.


Setelah mengucapkan terima kasih, Ryuka bergegas menuju taman diseberang kafe. Menenteng paper bag daur ulang yang berisi ice americano double shots dan strawberry waffle. Tidak ada yang bisa menandingi waffle di kota yang dijuluki City Of Love ini.


Baru juga Ryuka mendaratkan dirinya di salah satu bangku taman. Ponselnya berdering dan ia bisa menebak Qwenzy lah yang menelponnya dengan 1001 pertanyaan.


“Kamu dimana? Ini panas banget lagi. Kamu baik-baik aja kan? Kenapa enggak nungguin aku aja sih?”. Cecar Qwenzy sesuai tebakannya. Ryuka bahkan harus menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Qwenzy yang cukup nyaring.


“Haloo??? Kaa???”


“Udah pertanyaannya? Bisa chat aja gak supaya aku bisa liat harus jawab yang mana duluan,” jawabnya sewot.


Qwenzy terdengar tertawa. “Sorry sorry. Aku khawatir. Kaget banget liat chat kamu barusan,”.


“Emang aku anak umur 5 tahun,”.


“Aku harus menjaga kamu seperti anak umur 5 tahun, kamu enggak lupa dong sebelah tanganku nasibnya ada ditangan Daddy,”.


Ryuka tak sanggup menahan tawanya, “lagian berani-beraninya menggadai tangan sendiri,”.


“Kamu mah gak ngerti, itu bagian dari perjuangan,”.


Tak kalah dari Ryuka, terdengar mba Lara dan mungkin se-band-nya ikut tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Q.


Ryuka tersedak, “Kopiku hampir terbuang sia-sia, Q gombalanmu..hmm..enggak banget sumpah,”.


Tawa dari sambungan telepon semakin pecah terdengar ditelinga Ryuka. “Kamu loudspeaker ya?”


“Enggaklah. Tapi telinga mereka bahkan jauh lebih dekat dari telingaku sendiri mau dengar jawabanmu,”. Ryuka terkikik saja.


“Balik sekarang dong. Aku sudah menuju hotel,”.


“Lima belas menit lagi deh ya, aku baru saja mendaratkan bok*ngku di taman ini,”.


“Atau aku nyusul kamu aja. Kamu dimana sekarang?”


“Gak usah. Kamu mending istirahat. Kalau bisa tidur aja sambil nungguin aku,”.


“Ya sudah liat nanti aja. Langsung hubungi aku kalau ada apa-apa,”. Ucapnya.

__ADS_1


“Tapi kalau aku belum sempat hubungin kamu terus ada apa-apa gimana?”


“Ryukaaaaa,” panggilnya terdengar geram.


“Hahaha bercanda. Serius amat astaga. Udah ya. Waffle ku mulai dingin nih, byee…,”


“Byeee..” tutup mereka mengakhiri sambungan telepon.


Setelahnya Ryuka menikmati me time nya yang jarang terjadi jika salah satu sahabatnya berada disekitarnya.


Tiba di hotel 20 menit berikutnya. Qwenzy segera menuju kamar Ryuka, berharap sang empunya kamar sudah pulang. Setelah menekan bel dan tak juga mendengar tanda-tanda kehidupan. Qwenzy memutuskan turun ke lobby, menunggu disana lengkap dengan masker dan topi dikepalanya. Sungguh ia ingin berhati-hati apalagi para penggemarnya tahu tempat ia menginap. Ia tak ingin membuat lobby tiba-tiba tidak kondusif. Dua puluh menit berikutnya, Q mulai uring-uringan, kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai. Matanya berusaha menemukan Ryuka ditengah orang yang lalu lalang tetapi nihil.


Qwenzy sebisa mungkin menahan jemarinya tidak meneror Ryuka dengan pesan atau menelponnya berkali-kali. Ia tahu dengan baik ketidaksukaan Ryuka terhadap hal-hal yang berbau posesif. Setelah 15 menit berikutnya Qwenzy benar-benar tidak tahan.


Dering bertama langsung mendapat jawaban. “Aku udah didepan hotel ini,”.


Q tak menjawab, malah berdiri dari tempatnya, netranya berusaha menemukan Ryuka secepat mungkin, yang terlihat menenteng paper bag.


Ryuka membelalakkan matanya, ia dapat mengenali Qwenzy walau—mungkin—hanya bulu matanya yang terlihat. “Ngapain kamu disini?”bisiknya sambil melotot.


“Kamu jalan kaki ya?”


Benar saja yang dikatakan Ryuka. Bahkan beberapa orang yang memasuki lift terus menerus mencuri pandang ke arah Qwenzy, entah apa yang dipikirkan mereka. Bahwa Qwenzy seorang penguntit? Orang yang memiliki penyakit menular? Atau hanya orang aneh di hari yang terik ini? Yang bisa dipastikan adalah beberapa diantara mereka menebak-nebak bahwa ia adalah Qwenzy setelah menatap Ryuka secara bergantian.


Kebodohan kedua mereka yang naik di lift yang sama. Ryuka terlalu panik melihat Qwenzy tengah celingak-celinguk di lobby bak manusia tak berdosa. Kini Ryuka hanya bisa berusaha keras menutup wajahnya dengan menggaruk-garuk hidungnya atau sekadar memijat-mijat pelipisnya yang tak berdenyut, agar tangannya tetap bertengger disekitar wajahnya.


Lift semakin terisi penuh. Qwenzy yang semula berada di sudut yang berlawanan dengan Ryuka mendekat bahkan membiarkan lengan mereka menempel dengan santai. Ryuka berusaha menggeser-geserkan badannya hingga pojok membentur dinding lift. Qwenzy tampak mengerutkan keningnya seolah meminta Ryuka tidak melakukannya lagi.


Orang-orang disekitar mereka semakin sering menengok kebelakang meperhatikan mereka berdua. Tepat setelah 2 remaja berbicara dengan suara lantang, “Oh apakah benar yang dibelakang itu Qwenzy vokalis Blake? Aku sempat melihatnya di lobby”. Orang-orang yang tak asing dengan nama itu memutar kepalanya 180 derajat kearah Q serempak bak sudah direncanakan sebelumnya. Oh mati sudah aku. Kuucapkan selamat tinggal untuk orang-orang yang kusayangi, batin Ryuka sibuk bersuara dengan segala kemungkinan terburuk. Tatapan menyilet dari fans Qwenzy adalah hukuman teringan yang akan didapatkannya.


Hingga sampai di lantai 28, Qwenzy meraih tangan Ryuka menarik dan menuntunnya keluar lift seraya mengucapkan permisi karena sedikit menghalangi jalannya.


“Ah benar, itu pasti Qwenzy”. Seseorang menimpalinya, “bukankah perempuan tadi adalah dokter itu? Siapa namanya?”. Ingin menghilang dan lenyap adalah impian Ryuka sekarang tetapi hei, bahkan mereka tidak ingat namaku. Ada perasaan tak terima dalam dirinya. Setelah berhasil keluar lift, Qwenzy dengan segera menelepon seseorang.


“Mba, bersiap-siaplah. Gosip tentangku dan Ryuka sebentar lagi akan kembali berada dijajaran nomor satu,”. Tanpa menunggu jawaban mba Lara—tebak Ryuka. Q mematikan sambungan telepon.


Ryuka merosot berjongkok ditempatnya. “Terus ini kenapa kita turun dilantai 28?”


“Kamu memangnya mau, mereka mengetahui lantai kamar kita?”

__ADS_1


“Ah kamu benar,”.


Ryuka memegang kepalanya frustasi, “aku bahkan rela di hukum lari keliling menara eiffel 100 kali oleh mba Lara karena menambah beban kerjanya,”.


“Sudahlah. Itu pekerjaan mudah untuk mba Lara,”.


“Tapi tidak untukku,”


“Makanya, haruskah kita konfirmasi saja?” Tawar Qwenzy.


“Lalu membohongi sebagian besar populasi bumi?”


“Aku tidak seterkenal itu. Atau haruskah kita mewujudkannya saja?”


“Win-win solution Kaa,” sambung Qwenzy.


“Dan memulai hubungan kita yang baru dengan pertimbangan untung dan rugi?” Sergah Ryuka.


Qwenzy tampak mengigit bibirnya. “Kenapa ekspresi kamu kaya gitu?” curiga Ryuka.


“Aku senang karena kamu benar-benar mempertimbangkan hubungan kita?” Sebuah senyuman lolos merekah dari bibir Q yang sudah berusaha ditahannya.


“Wah, kamu memelintir ucapanku Jii,”.


“Baiklah..baiklah. Tapi sadar atau tidak, kita masih didepan lift dan sebaiknya segera menuju tangga darurat sebelum semuanya makin runyam, walau aku senang-senang saja jika itu terjadi,”.


Ryuka melengos meninggalkan Qwenzy yang terkekeh dibelakangnya.


“Dan wah setelah berjalan kaki 45 menit, aku harus menambahnya dengan turun 4 lantai melalui tangga darurat? Lengkap sudah hari ini,”.


“Haruskah aku menggendongmu? Dengan senang dan penuh kehati-hatian,”


Ryuka merengit dan mengatupkan bibirnya. “Sebaiknya kamu jauh-jauh dariku Q, aku mulai tidak sanggup meng-handle kelakarmu,”. Tawa Q semakin menjadi-jadi, Ryuka selalu bisa membuat perasaannya terasa penuh namun cukup.


...****************...


Kalian dengan sahabat lawan jenis juga segemes itu???🤭


Like and comment please, supaya semangat buat mereka cepet jadian hihihi

__ADS_1


Happy reading guys🌸


__ADS_2