Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #25


__ADS_3

Huwaa maafkan, baru update lagi. Sibuk di dunia nyata lalu kesehatanku drop setelahnya. Karena semuanya sudah baik dan aman-aman saja. Kita lanjut yaa. Stay tune !!!


Sidang Paripurna Ryuka Berlangsung


15 menit berlalu dan diisi dengan tangis sang mama Rani dan Riuki yang ditenangkan oleh pasangan mereka masing-masing, tentu saja ikut memasang wajah sendu.


“Kenapa kamu gak bilang? Kamu mau sembunyikan semuanya sampai kapan? Gila ya kamu,” Omel Riuki tidak keruan.


Sedangkan Rani belum mampu berkata-kata.


“Aku rencana mau bilang setelah pertunangan kamu selesai, aku gak mau sampai semuanya ikut berantakan,”.


Riuki menghampiri saudaranya dan memeluknya, “maaf aku terlalu fokus sama diri aku, sampai gak ngeh kamu sakit,” Riu terus menangis.


“Kamu mana tahu kalau aku gak bilang kan, udah dong nangisnya,”.


Rani bergabung memeluk kedua putrinya. “Maafkan mama nak,”


“Loh kenapa semuanya malah minta maaf sih, aku gak apa-apa, masih stadium awal kok, kalian jangan lupa aku ini dokter.” Ucapnya menenangkan mama dan kembarannya.


“Jangan pernah lupa kalau kamu punya keluarga yang menyayangimu sweetheart,” terang Jamie mengingatkan. Inilah salah satu alasan Ryuka dan Riu langsung menyetujui hubungan sang mama dengan Jamie, he’s so lovely and sweet.


“I’am really sorry Dad,” Ryuka begitu bersyukur memiliki Jamie sebagai papa sambungnya.


“Untuk sementara pindahlah tinggal dirumah ini bersama Mama dan Daddy,” pinta Rani.


Walau tampak menimbang, “No, gak perlu sampai segitunya Ma, Dad. Kan jarak rumah sakit ke rumah ini jauhnya minta ampun,”.


”Daddy siap antar dan jemput kamu,”.


“You’re so sweet Dad, but no. Terima kasih tawarannya,”


”Sebagai gantinya, aku akan segera memberi kabar kalau ada apa-apa sama aku,”. Sambung Ryuka lalu semua ikut mengangguk.


Setelah para wanita mulai tenang, Bayu ikut bersuara. “Kaa, gak apa-apa kalau pertunangan kami ditunda untuk bisa membantu agar bisa fokus sama pengobatan kamu,”. Riuki ikut mengangguk membenarkan.


“Nah karena ini aku memutuskan untuk bilang saat acara pertunangan kalian dilaksanakan,”


“Aku gak mau gara-gara aku, acara kalian jadi berantakan,” sambungnya.


“Gak berantakan Kaa, cuma ditunda,”. Protes Riu.


“Terus undangan yang sudah kalian sebar bagaimana? Gedung, katering sampai gaun pertunangan kalian bagaimana? Come on,”. Riuki hanya bisa menatap kembarannya dengan tatapan sendu.


“Lagian untuk pengobatan, aku memutuskan untuk fokus pengobatan setelah lulus ujian kompetensi residen, tiga sampai empat bulan kedepan,”.

__ADS_1


“Untuk penyakit berbahaya seperti itu kenapa kamu tunda pengobatannya Kaa?” Rani sangat mengkhawatirkan anak sulungnya yang selalu terlihat tegar apapun musibah dan kesedihan yang menimpanya.


“Bukan berarti aku tidak melakukan pengobatan sama sekali kok Ma, aku rutin konsul dan sebisa mungkin mengurangi kerjaan aku,”.


“Nah jadi, pertunangan kalian tetap dilaksanakan, bahkan setelah pernikahan kalian dua bulan lagi, jadi pure aku menunda pengobatan karena kalian, tapi memang itu pilihan dan pertimbangan aku yang matang,”. Jelas Ryuka.


“Dan satu lagi, aku gak mau diperlakukan seperti orang sekarat yang kemungkinan hidupnya sangat minim, aku masih Ryuka yang dulu jadi please jangan khawatir berlebihan, aku sungguh baik-baik saja,”.


semua orang yang mendengarnya tampak mengangguk pasrah, mereka paham betul sifat Ryuka yang telah memikirkan dan merencanakan semua dengan sangat matang. Setelah semua yakin dan percaya bahwan Ryuka baik-baik saja, suasana mulai kembali ceria seperti sebelumnya. Ori si mood booster sudah bergabung kembali dengan cerita yang tak bisa berhenti keluar dari mulut mungilnya itu.


Selang beberapa lama, jadwal fitting baju Riu semakin dekat, mereka melanjutkan rencana mereka seperti perjanjian sebelumnya, Ryuka, Qwenzy dan calon mempelai bergegas meninggalkan rumah orang tuanya menuju butik langganan mereka.


Menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka tiba. Ryuka dan Riu telah melenggang memasuki butik, tanpa menunggu para lelakinya.


“Jangan ditahan, nyatakan saja Q,” goda Bayu tiba-tiba pada kenalan barunya.


“Jeli juga penglihatanmu,” Qwenzy tidak berusaha mengelak.


“Saya sangat mengenal tatapanmu itu,”


Qwenzy tertawa, “berasa flashback ya lu,”.


“Yes sir,” jawab Bayu mantap.


“But you know Ryuka, rumit,”.


Belum sempat Q membuka mulut. “Kalian ngobrolin apa sih, ayo masuk,” panggil Riu.


“Yes mam,” lalu merangkul Q seolah memberi semangat lalu melangkah memasuki butik.


🌸🌸🌸


“Kenapa kamu gak ngabarin dulu sebelumnya?” Omel Ryuka begitu melihat Qwenzy berdiri menyambutnya.


“Astaga Kaa, mending kamu ngasih selamat karena gips-ku sudah dibuka,” Ryuka malah tak peduli dan berbalik menanyakan kondisi Q pada terapisnya.


“Gimana Lif? Aman gak? Gak ada dislokasi tulang kan?”


“Catatan dari dokter Indra aman kok, cuma ya memang butuh beberapa kalo terapi lagi,”


“Dengar kan? Kamu mah gak percayaan,” protes Qwenzy.


“Kamu keseringan boong soalnya,” ucap Ryuka menjulurkan lidah.


Alif yang menyaksikan perdebatan mereka berusaha menahan senyumnya. Pasalnya Ryuka yang ia kenal jarang sekali mengoceh atau berbicara banyak hal, sangat berbeda dengan sosok yang sedang duduk dihadapannya sekarang.

__ADS_1


Setelah mendapat penjelasan sejelas-jelasnya, keduanya keluar ruangan setelah Q menyelesaikan sesi terapinya.


“Kamu sibuk?” Temani aku makan siang dong,” bujuk Q.


“Tapi makan di kafetaria bawah aja gak apa-apa?”


“Gak apa-apa dong, yuk,” Qwenzy dengan santainya menyampirkan tangannya dipundak perempuan disampingnya.


“Bantuin angkat Kaa, kan gips-nya baru dibuka,”


“Giliran begini aja minta bantuan, dinasehatin gak mau denger,”


“Fitnah, aku dengar yaa. Tapi gak memungkinkan untuk dilakuin, aku gak enak kalau harus menunda lebih lama tour-nya, kan tanggung jawab, vokalis gak bisa digantiin, gak ada cadangan,”


“Yaudah lepas bentar, aku mau buka snelliku dulu,”


“Kenapa harus dilepas?”


“Gak enak diliatin pasien, ada dokter lagi rangkul-rangkulan,”


“Wow, profesional sekali dokter kita yang satu ini,”


“Aku bukan kamu ya, yang bisa seenak jidat bisa lepas baju diatas panggung,”


Qwenzy tak sanggup menahan tawanya, “Gak usah cemburu gitu. Apa perlu aku pakai jubah supaya tidak memperlihatkan aurat?”


“Cih!! Terserah kamu aja, asal kalau sakit jangan repotin aku. Sekarang lepas rangkulannya, udah mau sampai kafetaria,”


Qwenzy mengerucutkan bibirnya berpura-pura kesal sebelum berusaha melempar senyum termanisnya pada rekan kerja Ryuka, yang semua pandangan langsung teralihkan oleh kedatangan mereka berdua.


“Kaa, Alif terapis tadi naksir sama kamu tuh,” ucap Qwenzy begitu mereka duduk sambil meletakkan makanannya.


“Tangan kamu yang luka tapi justru pikiran kamu yang gak sehat,”


“Serius Kaa. Dia tadi natap kamu intens banget,”


“Sumpah ngaco. Udah makan aja,”


“Kan aku laki-laki, paham sekali dengan arti tatapannya,”


Ryuka malas menanggapi.


“Jangan bilang dia terapis kamu juga?”


Ia mengangguk saja.

__ADS_1


“Aku cemburu,”


Seketika Ryuka melongo dan menghentikan suapannya, ia beralih menyuapi Qwenzy dengan porsi besar membekap mulut cerewetnya. Ucapannya barusan bisa saja didengar oleh orang-orang disekitar mereka. Namun keduanya lupa, akan ada puluhan foto yang siap menanti klarifikasi untuk kesekian kalinya.


__ADS_2