Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia

Ryuka Dan Empat Lelaki Rahasia
Bab #23


__ADS_3

Entah yang keberapa kalinya langkah kaki di depan unit apartemen Ryuka terdengar hari ini, merasa telah meluruskan pikiran-pikirannya yang kusut, Ryuka mengintip melalui lubang kecil dipintu sebelum membukanya.


Qwenzy, Raka, Ken dan Gino nampak kaget, tak menyangka suara pintu terbuka yang mereka tunggu-tunggu selama berhari-hari akhirnya terjadi. Empat pasang mata yang menatap Ryuka. Mereka tampak iba melihat pemandangan sahabat kesayangan mereka yang tampak kacau, wajah yang menunjukkan kehilangan bobot badan beberapa kilo dan kantung mata semakin gelap saja, tak seperti biasanya, kali ini tak ada senyum yang terukir diwajah Ryuka.


“Masuk,” Ryuka berjalan terlebih dahulu diikuti mereka, keempatnya menurut saja.


Langkah Ryuka tetiba berhenti, keempatnya ikut menghentikan langkah, ia memutar badan menghadap keempat sahabatnya, “aku didiagnosa tumor otak,”.


Tak ada kabar yang lebih buruk dari ucapan Ryuka yang mereka dengar detik itu juga, bibir mereka kehilangan kemampuannya. Mereka terlalu shock untuk merespon dengan cepat kalimat yang diucapkan Ryuka barusan. Akhirnya, terjawab sudah alasan Ryuka tiba-tiba menghilang dan tak bisa dihubungi.


Qwenzy yang terlebih dahulu maju dan bergegas memeluk Ryuka, walau ia masih memakai arm sling dibagian lengannya tanpa sepatah kata pun terucap.


“Maaf aku benar-benar bingung, harus bagaimana menghadapi diagnosa yang tiba-tiba itu………,” Ryuka mulai terisak.


Raka, Gino dan Ken bergabung memeluk sahabat mereka yang tampak tak berdaya, “akuu benar-benar menyukai pekerjaanku…… apa yang harus aku lakukan…..hikssssss…aku setengah mati mengejar… hiksss.. ketertingganku…. Tiba-tiba harus begini lagi… hiksssss…..”.


Keempat sahabatnya hanya diam dan mendengar setiap kata yang diucapkan Ryuka yang membuatnya benar-benar menangis sejadinya.


Akhirnya, Ryuka tertidur pulas setelah berhari-hari seolah hidup tak tenang. Keempat sahabatnya hanya menatap damai sahabat mereka setelah menangis tersedu-sedu, mereka sangat tahu perjuangan Ryuka untuk sampai dititik ini. Walau sahabatnya itu dokter, ternyata ia hanya manusia biasa.


Keempatnya larut dalam pikiran masing-,masing, mereka sama bingungnya dengan Ryuka yang tak tahu harus melakukan apa untuk sahabatnya itu. Walau terlalu dini putus asa, tetapi penyakit yang diderita Ryuka tak bisa diabaikan dan harus ditangani secepat mungkin.


Ryuka terbangun dengan kondisi kepala yang teramat berat dan mata yang membengkak, efek tangisnya.


“Sorry, kebangun gara-gara aku ya,” ucap Q yang baru saja menutup pintu beranda, “mau dibuka aja?”


Ryuka menggeleng. “Yang lain, ada kerjaan jadi balik duluan,” ucap Q lagi setelah melihat Ryuka mengedarkan pandangannya dalam ruangan.


“Mau ditinggal sendiri atau aku temenin?”


“Temenin, oh iya gimana keadaan kamu?”


“Baik, dua hari lagi aku udah boleh lepas arm sling-nya. Kamu gimana?”


“Baik, aku udah kembali waras kok,”


“Jadi keputusan kamu gimana?”


“Aku berencana tunda pengobatan, setelah lulus jadi fellow, sayang aja kalau harus fokus pengobatan sekarang, sambil check up terus kok,”

__ADS_1


“Artinya beapa lama lagi?”


“Kalau aku lulus, sekitar empat atau lima bulan lagi,”.


“Sini sandar dipundakku,” Ryuka menurut saja, menyandarkan kepalanya dipundak Qwenzy.


“Kamu mau cerita atau mau diam saja seperti ini?”


”Aku gak masalah,”.


“Aku yakin kamu udah memikirkan semuanya dengan matang, tentang kondisi kamu, tentang pengobatan kamu dan semuanya, tapi boleh gak dek, lain kali jangan tiba-tiba ngilang,”


”Seandainya, gak ada note yang kamu tulis depan pintu itu, kami nyaris dobrak pintu apartemen kamu saking bingungnya kamu kenapa, kamu dimana, atau jangan-jangan kamu pingsan lagi terus gak ada yang nolongin,”.


”Kami paham pikiran kamu pasti sangat kusut, bingung, marah dan semuanya, tapi jangan sampai menyiksa diri kamu sendiri,”.


“Maaf,”.


Q menghembuskan nafasnya berat, “apapun yang terjadi semuanya dukung kamu,”.


Ryuka hanya mengangguk. Setelahnya, tak ada percakapan lagi diantara mereka, memilih sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan Ryuka kembali terlelap disandaran Q.


Keesokan harinya.


Ryuka menatap wajahnya lama dalam pantulan cermin dihadapannya, ia memantapkan hatinya untuk kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang dokter setelah menghilang 10 hari lamanya. Ryuka men-dial nomor Qwenzy.


Hai dek, sapa Q begitu mengangkat teleponnya.


Hai, hari ini kamu ke rumah sakit kan? Jam berapa?


Aku udah siap-siap, sengaja pagi, siang nanti aku ada **meeting.


Kamu udah ada jadwal manggung lagi?


Iya, kan gara-gara musibah kemarin, semua konser jadi dimundurin. Gak mungkin lah ditunda terus.


Ya udah, aku temenin, aku udah masuk kerja hari ini.


Ah gak usah repot-repot dek, kamu pasti sibuk kan.

__ADS_1


Kenapa kamu larang-larang? Kamu nyembunyiin sesuatu ya?


(Qwenzy menepuk jidat) Gak, oke bareng kamu. Kamu udah siap? Sekalian bareng aja, aku di apartemen kok. Diantar supir juga.


Oke, sip, aku tunggu ya.*


“Emang gak bisa menang debat dari anak ini,” ucap Q setelah memutuskan panggilan mereka.


Setelah memasuki gedung rumah sakit, puluhan pasang mata melihat kearah Ryuka dan Qwenzy yang berjalan bersisian, bahkan Q sesekali merangkul pundak Ryuka dengan santainya, tak menunjukkan tanda-tanda peduli sedikit pun.


“Dokter Yuka, selamat pagi,” sapa Sisy dengan girang begitu melihat idolanya hendak memasuki lift yang sama dengannya.


“Pagi Sy, sehat? Aman-aman aja kan selama saya tidak ada?”


Seketika wajah Sisy berubah sendu bak awan hitam tiba-tiba bertengger diatas kepalanya, “kamu gak perlu jawab,” sambung Ryuka telah memahami apa yang dialami Sisy beberapa hari ini.


Bahkan mungkin saking lelahnya, Sisy sampai tidak menyadari, siapa pria yang sedang berdiri disamping Ryuka.


Sebelum keruangannya, Ryuka menemani Qwenzy kebagian fisioterapi dan bertemu dokter untuk mendengar progres pengobatannya. Bahkan Ryuka jauh lebih rewel bertanya tentang ini itu pada terapis Q.


“Ingat ya, kalau manggung kamu harus tahu diri,”


“Hahaha siap dokter Yuka,”


“Eh Kaa, aku baru ngeh loh kamu dipanggil Yuka di rumah sakit,”


“Katanya sih panggilan Yuka jauh lebih mudah daripada Ryuka, gak mungkin kan mereka panggil Kaa juga,”


Qwenzy terkekeh. “Benar juga, ya udah kamu kerja dengan baik, sahabatmu yang ganteng ini akan melanjutkan aktifitasnya,”.


“Serius ya, kamu jangan forsir tenaga kamu dulu,”.


”Astaga, aku sudah dengar kalimat itu berapa kali,”.


Ryuka tertawa menyaksikan kekesalan Q yang tergambar jelas diwajahnya.


”Hari ini kamu cuma meeting* kan?”


”Yes mam, setelahnya aku pastikan pulang lalu istirahat yang benar,”.

__ADS_1


Ryuka akhirnya bisa tersenyum lega memenangkan perdebatan. Mereka berpelukan singkat sebelum berpisah.


__ADS_2