Sah!

Sah!
Sah—Satu


__ADS_3

Assalamualaikum,


Let's enjoy the story'.


Dinda POV


"Dinda! Cepet keluar! Ibu dobrak pintu kamarmu kalau nggak keluar! Nggak usah kemenyek mau marah-marahan! Nggak dapat jatah makan baru tau rasa!" Teriak ibu di depan kamarku.


Astaghfirullah! Teganya Ibuku, padahal baru sekali mau marah. E... Malah diancam nggak dapat makan. Kan Dinda lemas kalau nggak makan.


Aku menghentakkan kaki kesal, terpaksa membuka pintu dan keluar kamar. Niatnya aku mau marah sama ibu sampai perjodohan antara aku dan makhluk tak terlihat itu dibatalkan. Tapi malah aku yang terancam. Kan nggak adil.


Ketika aku membuka pintu, wajah garang ibu sudah terpampang nyata, menyeramkan. Membuatku bergidik, memang ibuku paling garang dah.


"Aww! Sakit Bu...." Ya Allah, jeweran ibuku pedas sekali. Lebih pedas dari sambal lado.


"Ini buat anak kurang ajar, pake marah segala. Memangnya siapa berani marah sama ibu, heh? Makan masih minta, pake mau marah. Ha? Ha?" Jeweran ibu tidak mengendur sama sekali. Aduh, telingaku rasanya mau copot.


"Ampun Bu! Ampun! Janji Dinda nggak ngulangi lagi!" Sudahlah, pasrah saja diriku.


Ibu menghentikan jewerannya, menatapku masih dengan tatapan garang.


Ya Allah Bu, anak gadis satu-satunya, tapi teraniaya. Gusti, ampunilah aku yang ngrasani Ibuku.


"Dah, nanti malam Syarif mau datang ke rumah. Dandan yang cantik, jaga image, jangan pecicilan. Dan nggak pake acara kabur-kaburan, atau mengurung di kamar. Paham!?" Mata Ibu sampai melotot, mana berani aku melawan gaes.


Aku mengangguk kaku, telingaku masih panas. Mungkin merah sekarang, "iya Bu. Dinda paham." Bibirku mengerucut, sebal dengan tindakan Ibu. Dan ibu, semua sifatku kan turunan dari ibu. Kadang heran, ibu masih sering tanya, turunan siapa aku? Padahal turunan beliau sendiri.


Ih, kalau aja Bapak di rumah pasti sudah di bela aku. Meskipun awalnya Bapak jadi penonton sih. Sayang, Bapak pulangnya tiga hari lagi dari Jawa Tengah. Emm... Bapak lagi jenguk Mbah di Klaten, berangkat nya baru tadi subuh sih, hehe.


"Sana nyapu sama ngepel, ibu mau lanjut masak."


"Njeh Bu."


Badan kurus ibu sudah hilang di balik tembok dapur yang memang hanya berseling ruang makan dari kamarku. Tidak mau menambah kemarahan ibu, aku mencari sapu dan mulai menyapu.


Kalian tau gaes, ini sebenarnya masih pukul setengah enam pagi. Dan Dinda Amelia sudah harus stay on dalam pekerjaan rumah tangga membantu Ibu Halimah.


😚

__ADS_1


Pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit, suara motor matic berhenti di depan rumah.


Aku yang sudah siap sedari tadi sebal, kukira makhluk tak terlihat itu nggak jadi datang.


Ah, pasti ibu sudah kong-kalikong ini. Bu-Ibu, kok senang sekali lihat aku menderita.


Tok! Tok!


"Dinda, ayo keluar. Syarif sudah sampai." Lembut suara ibu, tumben. Pasti ini the power of calon mantu. Biar nggak dikira camer garang. Duh, maafkan Dinda ya Bu, kadang mulut ini comel.


"Iya Bu, sebentar."


Aku berdiri di depan cermin sekali lagi, kubenahi lagi bedakku, jilbab, gamis. Hm, sempurna. Cantik kok aku, Ibu Halimah konon katanya jadi kembang desa. Makanya nular sama anak perempuan satu-satunya ini. Apalagi Bapak Widodo perjaka terganteng waktu muda dulu. So, Dinda Amelia adalah perpaduan yang pas, nggak terlalu matang juga nggak mentah. Hihihi.


Di ruang tamu, sudah ada Ibu dan Syarif. Pria yang dijodohkan denganku, acara lamaran pun dibarengkan dengan pertemuan pertama kami kemarin malam.


"Sini Sayang, duduk sini." Amboy Ibu, sekarang aja aku di panggil Sayang.


Aku duduk di sofa panjang bersebelahan dengan Ibu. Sedangkan Syarif berada di depanku, tersenyum kecil memperlihatkan lesung pipinya.


"Ya sudah, ibu tinggal dulu ya." Lah kok ibu pergi.


Haduh canggungnya, aku yang nggak pernah deket sama laki-laki, kecuali keluarga ku ya. Sekarang merasa mendidih, panas semua badan ku. Jangan sampai keringetan, kalau bau gimana. Image jatuh dongse.


"Ehemm." Kulirik Syarif juga sama gelisahnya denganku. Eh, apa dia juga nggak pernah deket sama cewek ya? Ah, bodo amat lah.


"Apa kabar Dinda?" Ugh, suaranya merdu gaes. Eh, kok malah terpesona sih.


"Ehm, Alhamdulillah baik." Oke, keep calm. Kata Ibu harus jaga image.


"Alhamdulillah, sudah siapkan?" Siapa apanya ini?


Aku memasang wajah bodoh, "siapa apa ya?"


Dia tersenyum, manis. Kayak gula dikasih madu. "Siap nikah lah. Kan dua Minggu lagi."


Mataku rasanya mau keluar, "apa? Yang bener aja? Kok Ibu sama Bapak nggak bilang sih?" Argh! Aku menggeram sebal, Ibu kok nggak ada ngomong sih? Kan aku yang mau nikah.


"Lah, kan itu kesepakatan semalam. Kamu aja sudah setuju?" Katanya heran.

__ADS_1


Iyakah? "Kapan aku setuju?" Tanyaku bertambah bodoh. Ya Allah, jangan sampai Syarif ilfeel.


"Kemarin, kamu ngangguk pas Ayah tanya?" Jelasnya, aku yang mendengar itu langsung memutar kejadian kemarin malam.


Eits, tunggu dulu. Jangan-jangan! Argh! Aku kemarin kenapa gaya-gayaan marah sih. Jadi gini kan mengangguk tanpa tahu arah.


Syarif menyeringai melihat ekspresi sedihku. Ya Allah, ampuni hamba.


"Udah inget?" Jahil wajahnya. Dasar.


Aku mengerucut sebal, "sudah."


"Haha, jadi mulai sekarang biasakan panggil aku Abang ya?"


Eih, Abang? Norak bener sih.


"Nggak mau, norak." Tolakku ketus.


"Norak? Terus yang nggak norak apa?" Syarif bertanya sambil menaikan alisnya, heh mau menggodaku ya?


"Nggak tau, pikir aja sendiri." Ujarku sambil melipat tangan di dada, tanda sebal.


"Heh, nggak boleh kayak gitu Dinda. Kamu ini calon istri, kalau ngomong yang sopan. Syarif ini nanti jadi suamimu, rendahkan suaramu."


Dan... Ibu datang dengan muka menyebalkan sambil membawa tiga gelas minuman, pastinya Syarif yang dapat spesial. Lah aku cuma di kasih teh, dia susu. Nggak adil, sebenarnya yang anak Ibu siapa sih?


"Nak Syarif, maafin anak Ibu ya? Masih labil orangnya. Ayo, diminum dulu susunya." Tutur Ibu sambil duduk di sebelahku lagi.


"Iya Bu, makasih. Malah merepotkan."


Dan makhluk tak terlihat itu gayanya tersenyum sok manis. Awas aja ya!


Tunggu aksi Dinda Amelia.


"Heleh, sama mantu ini." Ibu mengibaskan tangan, menandakan ini tidak merepotkan sama sekali. Tentunya kalau buat mantu.


Yah, Ibu mah gitu. Sama istri dari Mas-mas ku juga gitu. Baikkknya minta ampun. Di balik galakny, ternyata Ibu mertua yang baik gaes.


TBC....

__ADS_1


💋


__ADS_2