
__________
Dekorasi mewah menghiasi ruangan yang digunakan sebagai tempat pesta oleh keluarga Sujatmiko. Dekorasi bernuansa putih dan emas nampak sangat elegan. Tamu-tamu undangan pun nampak glamor dan mencolok, terlihat sekali dari kalangan berada.
Hanya ulang tahun kantor sebenarnya, tapi mengapa terlihat seperti pesta pernikahan. Haha, tentunya mereka berpikir rencana mereka akan berhasil.
Tunggu dulu, jangan meremehkan Syarif. Rencana busuk mereka akan segera berakhir, dan dikuasai rencana Syarif.
Ah, kenapa Syarif malah terkesan sombong. Tapi biarlah, untuk orang-orang picik seperti itu memang harus sombong. Biar tau rasa!
"Pak, sepertinya mereka sudah merencanakan dengan matang." Bisik Syam di sebelah kiri Syarif ketika pandangannya menyapu ruangan tersebut.
Syarif berdehem membenarkan. "Yap, tapi kamu tidak lupa kan dengan rencana kita?"
"Tidak, Pak. Semua sudah beres," jelas Syam. Dan memang semuanya sudah beres.
"Pak, Tuan rumah ke arah kita." Peringat Syam ketika melihat Didik menuju ke arah mereka berdua.
Syarif hanya menanggapi dengan deheman. Ingin melihat sampai mana Sujatmiko bertindak.
"Selamat malam, Syarif, Syam." Sapa Didik seraya menjabat tangan mereka berdua.
"Malam, Om." Jawab Syarif seramah mungkin.
"Gimana kabar kamu, Nak? Sudah lama tidak bertemu."
Cih, baru juga seminggu yang lalu. Batin Syam dongkol, aih! Kenapa jadi dia yang dongkol sih?
"Baik, Om. Om sendiri bagaimana?"
"Haha, selalu baik."
"Kamu hanya datang sendiri? Em-maksud Om hanya dengan Syam."
__ADS_1
"Tidak, Ayah Bunda sama Dinda masih di perjalanan." Senyum kemenangan Syarif berikan.
Didik nampak gelagapan, astaga. Ia sebenarnya hanya berbasa-basi, tapi jawaban Syarif membuatnya sedikit cemas.
Malam ini ia akan membuat banyak hati terluka, hanya untuk memenuhi keinginan putri kesayangannya. Tuhan, maafkanlah aku. Batin Didik menjerit.
"Oh, iya."
Pandangan Syarif tertuju pada tiga orang terkasihnya yang sedang berjalan memasuki pintu utama. Tadi, ia sudah menyuruh Syam mengirim pesan pada Bundanya. Yah, hpnya ia berikan pada Syam, untuk memudahkan rencananya dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Syarif berjalan santai ke arah mereka, menyambut dengan binar penuh kasih sayang. Apalagi untuk wanita mungil di samping Bundanya, Dinda–istrinya.
Bocah mungil yang dulu menjadi tetangganya, gadis kesayangannya sejak kecil. Kini menjadi belahan jiwanya, penyempurna separuh agamanya.
"Ayah, Bunda." Syarif menyalami Ayah dan Bundanya dan mencium pipi.
Sedangkan untuk Dinda, ia berikan kecupan kasih sayang di dahinya. Dialah istrinya, wanitanya, dan akan menjadi satu-satunya. No other!
"Ayo, kita bertemu yang punya acara." Bimbing Syarif sambil menggenggam tangan istrinya.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Altama." Sambut Didik ketika Ayah dan Bunda menghampirinya.
"Malam Tuan Sujatmiko, bagaimana kabar anda?"
"Tentunya sangat baik, dan anda terlihat sangat baik, bukan? Hahah," sok dekat.
"Yah, seperti yang anda lihat."
"Haha, dan ini siapa?" Tanya Didik ketika pandangannya terarah pada perempuan di samping Syarif.
Deg.
Terkejut! Hal pertama yang Didik rasakan ketika pandangannya jelas pada perempuan mungil itu.
__ADS_1
Tuhan! Kenapa perempuan itu sangat mirip dengannya? Apalagi mata dan hidungnya, bibir itu milik istrinya. Sedangkan wajahnya perpaduan antara dia dan istrinya, tapi lebih dominan miliknya!
"Kenalkan Om, ini Dinda istri saya." Suara Syarif tidak membaut Didik tersadar dari keterkejutannya.
Tubuh mungil itu seperti Mamanya. Perpaduan yang pas, dia sangat cantik.
"Om!" Tegur Syarif ketika melihat Didik bergeming dan menatap Dinda terlalu lama. Apa-apaan pria tua itu. Apa ia juga menargetkan Dinda? Big no!
"Eh-eh! Maaf. Mari acara inti akan dimulai." Ajak Didik untuk menuju ke tempat keluarga besarnya.
Tuhan, kepalanya masih terbayang wajah manis Dinda–istri Syarif. Dadanya dipenuhi rasa aneh, entah perasaan apa itu. Yang pasti itu sangat mengganggunya.
Merak berjalan menuju kursi paling depan, dan wow! Keluarga Syarif mendapat penghormatan duduk di bangku depan.
Syam yang mendapat tugas untuk mengatur segalanya menyingkir dan pergi ke belakang. Tempat dimana rencananya akan di mulai.
Di sana, duduk dengan angkuhnya keluarga Sujatmiko. Meraka pikir segalanya bisa ia dapat dengan uang.
***
"Silahkan, duduk dan nikmati hidangannya." Ujar Didik mempersilahkan Syarif dan keluarga duduk.
"Terima kasih," sopan Bunda.
Didik pergi ke bangku tempat keluarganya duduk. Tapi pikirannya terarah pada Dinda, istri Syarif. Ia seperti melihat ia dalam versi perempuan! Tuhan, apa ini?
Tiba-tiba saja Didik di sengat perasaan bersalah. Ada yang mencengkeram di dadanya. Ia menoleh ke arah Dinda, diamatinya wajah yang ia klaim seperti miliknya.
Sedangkan Desti, pun tak luput memandang ke arah perempuan berhijab maroon yang ia lihat duduk bersebelahan dengan Syarif. Apa itu istrinya?
Tak bisa dipungkiri, Desti seperti ada ikatan batin dengan perempuan manis itu. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca, mengingat Putri kecilnya.
"Baiklah, hadirin sekalian! Kita akan memasuki acara inti...."
__ADS_1
________