Sah!

Sah!
Sah—Empat


__ADS_3

Assalamualaikum....


😁


Enghh, dalam tidurku, aku merasakan sesuatu yang berat menimpa perutku, apa aku kejatuhan pohon?


Aku merabanya, eh kok berotot? Apa ini? Apa sekarang batang pohon ada ototnya?


Tunggu-tunggu, deg.


"Aaaa!" Ibu, ini tangan manusia.


Mataku melotot sempurna, di sebelahku ada seorang pria yang tidur sambil menjadikanku guling. Apa aku diperkosa? Tidak! Ibu! Bapak! Anakmu sudah tidak perawan lagi, hiks ... hiks .... Tapi kenapa kok 'itu' nggak sakit ya? Kan pas aku baca novel itu katanya sakit.


Daripada menerka-nerka, aku membuka selimut yang menutupi tubuh bohayku, hihihi. Em.... utuh. Aku masih pakai baju, celana juga. Terus pria di sampingku ini siapa? Ketika sibuk dengan pradugaku, pria di sampingku menggeliat dan melenguh pelan. Kayaknya dia terganggu deh, sama gerakanku.


"Engh."


Kulihat dia mengucek mata, wajah sembab sehabis bangun tidur miliknya begitu menggoda. Hidung bangir-beuh, bibir seksi-uu, jambangnya-awuwu, slurp! Mantab jiwa Mak!


"Aku memang ganteng kok, lihatnya biasa aja." Eh, dia tau kalau aku lagi mandangin dia. Kok tau sih? Kan dia masih merem.


Cup. "Pagi, wife." Wait-wife?


Astaghfirullahaladzim, kok sampai lupa sih? Kan kemarin aku baru aja nikah. Ya Allah, kebangetannya aku.


"Ehm, pa-pagi." Aduh, kok jadi gugup gini sih?


Maklum ya gaes, selama ini aku nggak pernah-lebih tepatnya nggak boleh sama Ibu dan Bapak, apalagi duo Masku untuk pacaran.


"Ayo, sholat Subuh dulu. Udah jam lima ini."


Lah, udah subuh tho? Kirain masih bisa buat tahajud.


Aku mengguk dan merubah posisi menjadi duduk, "em A-abang duluan ke kamar mandinya. Nanti gantian."


Bang Syarif tersenyum kecil, "nggak mau bareng nih?" Godanya sambil bangun dari posisi tidurnya.


Aku menggeleng tegas, enak aja mau bareng. "No, aku mau siapin peralatan-eh emangnya di sini ada mukena sama koko?" Aku baru ingat, kan ini di hotel.


"Ada, itu di lemari udah di siapin." Tunjuknya pada lemari dua pintu di sebelah ranjang.


Bang Syarif sudah masuk kamar mandi, aku pun turun dari ranjang untuk menyiapkan peralatan sholat kami.


Baju koko putih dengan sarung senada terlipat rapi di lemari, di sebelahnya juga ada mukena berwarna putih juga dengan dua sajadah berwarna merah hati. Apa ini memang sudah di khususkan untuk kami? Entahlah, aku segera menatanya di lantai.

__ADS_1


Ceklek!


Suara pintu terbuka membuatku menoleh ke sumber suara, Bang Syarif sudah keluar dengan muka basah bekas wudhu. Awuwu, nambah seger aja Abangku ini.


"Udah Dik, sana cepet wudhu. Keburu sholat dhuha nanti." Suruhnya ketika sudah di samping ranjang.


aku berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukannya, bukan apa-apa gaes. Ini tadi aku nggak salah dengarkan? Bang Syarif panggil aku Dik? Amboy, apa ini pasangan dari panggilan Abangku. Ais, aku jadi malu sendiri. Cepat-cepat aku selesaikan hajatku di kamar mandi, supaya Bang Syarif tidak terlalu lama menungguku.


😙


"Bang, kapan kita pulang ke rumah?" Tanyaku pada Bang Syarif di sela-sela makan siang kami. Kami memilih rumah makan dengan menu yang Indonesia, takutnya kecewa seperti tadi pagi. Karena belum pernah mencoba makanan Jepang aku delivery sushi jumbo, yang nyatanya tidak sesuai dengan seleraku. Maklumlah, lidah ndeso, hihi. Seharian ini, kami-aku dan Bang Syarif hanya menghabiskan waktu di hotel-hanya tiduran ya, jangan pikir yang iya-iya haha dan belum ada tanda-tanda untuk kembali ke rumah.


Bang Syarif menelan kunyahannya, "nanti sore, kita ke rumah Mama sama Papa dulu ya? Besok baru ke rumah Bapak sama Ibu ngambil barang." Rencananya memang kami akan langsung tinggal di rumah yang sudah dipersiapkan Bang Syarif ketika sudah menikah.


Aku terdiam sejenak ingin menolak rasanya aku masih pengen di rumah Ibu, tapi ah kan memang seharusnya istri patuh pada suami. "Oke, Bang. Tapi sebelum pulang nanti ke super market dulu ya, beli oleh-oleh buat Mama sama Papa."


"Haha, ngapain bawa oleh-oleh. Deket juga ini, paling juga mau beli buah." Aku merengut mendengar tebakannya. Ih, kan biar keliatan mantu sayang mertua.


"Ish, masa ke sana nggak bawa apa-apa. Bapak lho kalau mau ke rumah Mbah bawa oleh-oleh." Protesku, mengingat Bapak dan Ibu ketika hendak berkunjung ke rumah Mbah.


Bang Syarif mengusap kepalaku yang tertutup hijab lembut, "kan Mbah jauh, Sayang. Tapi kalau mau tetep bawa ya nggak papa. Habis ini kita belanja." Suamiku ngalah, hehe.


Aku tersenyum lebar, dan langsung memeluknya. "Makasih Bang." Hem, tidak ada canggung-canggungan bikin lama cerita, hihi. Yang pasti yang menjadi suamiku sekarang ini idaman banget pokoknya.


"Bibirmu kenapa Dek?" Tanya Bang Syarif dengan tatapan mengarah ke bibirku.


"Bentar," katanya sambil merunduk melihat lebih jelas ke arah bibir ku.


Cup. "Pedas."


Astaghfirullah, apa tadi. Bang Syarif mengecup bibirku di depan umum. Oh no!


Plak! Aku pukul geram paha Bang Syarif, "Abang ih, malu tau." Protes ku malu campur sebal.


"Hehe, hidangan penutup." Cengirnya tanpa dosa.


Awas aja, aku bales pokoknya.


😋


Apel kesukaan Mama ada, martabak telor kesukaan Papa ada. Roti ada, susu ada, gula ada-eh kok kesannya kayak mau jenguk orang sakit sih.


Tapi ya, mau bagaimana lagi adanya. Jarak antara hotel tempat kami menginap dengan rumah mertua hanya butuh perjalanan sekitar satu jam kalau lancar.


"Assalamualaikum," salam kami bersama ketika sudah berada di depan rumah gede nan mewah milik mertuaku. Sepanjang jalan kenangan kami selalu bergandengan tangan. Ah, awalnya saja aku ogah-ogah, hehe jual mahal dikit lah.

__ADS_1


Lha wong sebenarnya aku pengen nikah muda dari dulu, lulus SMA lah. Tapi mana boleh sama Ibu dan Bapak.


Ceklek! "Wa'alaikumussalam. Ya Allah mantu Mama sudah datang." Mama Andin langsung memelukku erat.


"Ma, jangan lebay deh. Kayak nggak pernah ketemu aja." Sewot Bang Syarif yang tanpa sadar di cuekin oleh Mama.


Mama melepas pelukannya dan melotot garang, "lebay kamu bilang? Mama simpen mantu Mama dan nggak boleh ketemu kamu baru tau rasa kamu." Balas Mama, wanita paruh baya ini masih kelihatan muda. Sikapnya yang welcome membuatku cepat akrab dan menyayangi beliau seperti Ibu.


"Ya jangan lah Ma, Dinda istri aku."


Aku hanya tersenyum kecil mendengar perdebatan mereka.


"Ayuk Dinda kita masuk, tinggalin aja makhluk tak terlihat itu sendiri." Ajak Mama dengan mengapit lengan kananku dan meninggalkan Bang Syarif sendiri.


Lah kok julukan kita sama Ma, makhluk tidak terlihat. Aduh sehati deh mertua sama mantu, hihi.


"Papa mana Ma?" Tanyaku pada Mama ketika sepanjang perjalanan menyusuri rumah gede Mama, aku tidak melihat sosok Papa Hermawan, Papa mertuaku.


"Papa lagi ada meeting dadakan tadi. Kamu duduk sini dulu, Mama mau suruh bikin minum." Mama menyuruhku duduk di ruang keluarga dengan berbagai bingkai poto keluarga.


Aku langsung menolak usulan Mama, "eh nggak usah repot-repot Ma. Tadi udah mampir di jalan beli minum. Ini ada oleh-oleh dari Dinda." Aku mengulurkan tas belanja berisi oleh-oleh buat Mama sama Papa.


"Eh kok malah repot." Respon pertama Mama adalah terkejut selanjutnya Mama tersenyum haru.


"Nggak repot kok Ma."


"Makasih, mantu Mama yang cantik. Kalau gitu kamu bisa istirahat di kamar, mandi, terus nanti turun makan malam bareng." Tutur Mama.


Mama kok baik banget sih, "iya Ma. Kamarnya di mana ya?" Ku sapu sekeliling ruangan, kok Bang Syarif belum keliatan ya. Apa beneran ngambek tadi.


"Di lantai dua, sayap sebelah kanan. Pintu kamarnya warna hitam, itu kamar Syarif."


"Makasih Ma, aku ke kamar duluan ya." Aku pamit undur diri dari Mama menuju kamar Bang Syarif.


Rumahnya besar juga ternyata, wajar gaes keluarga sultan, hihi.


Sebelah kanan, warna hitam. Aha itu dia, bisa rebahan sebentar sebelum Maghrib.


Ceklek!


"Gitu ya, suami di tinggal sendiri di luar." Eh, tiba-tiba saja Bang Syarif sudah muncul di belakangku.


Kok kayak setan gitu, tiba-tiba muncul.


Vote and coment gaes...

__ADS_1


TBC...


😘


__ADS_2